Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Kabut malam belum sepenuhnya sirna, namun kabut duka jauh lebih pekat menyelimuti hati Liang Shan. Pondok kayu tempat ia banyak tahun menimba ilmu kini tinggal puing-puing.
Tubuh Tuan Agung Jin terbujur kaku di atas tanah dingin, wajahnya yang tua telah kehilangan sinar kehidupan. Hanya bekas senyum samar terakhir yang tersisa, seakan hendak menguatkan muridnya untuk melangkah ke jalan penuh duri.
Liang Shan duduk bersila di samping jasad gurunya. Api kecil yang ia nyalakan berkedip-kedip, menerangi halaman penuh darah.
Tangan kanannya memegang golok, tangan kirinya terkepal hingga urat-uratnya menonjol. Air matanya telah kering, digantikan oleh tatapan kosong yang seolah menembus kabut malam.
Ia tidak menangis lagi. Tangisannya telah terkubur bersama gurunya. Yang tersisa hanyalah hening—hening yang lebih mematikan daripada jeritan dendam.
Menjelang dini hari, Liang Shan menggali tanah dengan kedua tangannya. Tanah itu keras, dipenuhi akar dan batu, namun ia tak peduli. Jari-jarinya berdarah, kuku-kukunya patah, tapi ia terus menggali.
Hingga akhirnya sebuah liang sederhana terbentuk di bawah pohon pinus tua, tempat Tuan Agung Jin biasa duduk merenung.
Dengan hati-hati, ia mengangkat jasad gurunya dan meletakkannya di dalam liang. Sebelum menutup tanah, ia menyelipkan pipa tua yang masih berbau tembakau. Peninggalan terakhir itu harus menyertai gurunya ke alam baka.
"Guru," gumam Liang Shan dengan suara parau, "aku tidak bisa membalas budi seperti seorang murid sejati. Yang bisa aku lakukan hanyalah memastikan darahmu tidak tumpah sia-sia. Aku bersumpah, setiap nama yang kau sebut, setiap wajah yang menjadi penyebab derita ini, akan aku temukan. Dan bila mereka memang biang kehancuran, maka golok ini akan menjadi saksi bisu!"
Segenggam tanah terakhir menutupi liang itu. Liang Shan duduk lama sekali di hadapan makam sederhana. Saat fajar muncul, ia menyalakan tiga batang dupa, menusukkannya ke tanah, lalu bangkit berdiri.
Hari itu, untuk pertama kalinya, ia menuruni gunung bukan sebagai murid, tapi sebagai seorang pemburu!
Jalan setapak yang sama, yang kemarin ia lalui untuk membeli arak, kini terasa berbeda. Setiap batu dan akar pohon seakan memandangnya dengan tatapan dingin. Burung-burung pun enggan berkicau.
Liang Shan berjalan dengan langkah ringan, tapi dadanya sesak. Racun dalam tubuhnya bergetar, mungkin karena gejolak amarah. Namun ia berusaha untuk menahannya.
Ia menuruni lembah dan memasuki desa kecil. Penduduk menatapnya dengan rasa ingin tahu. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya pucat, sorot matanya menyimpan sesuatu yang membuat orang enggan mendekat. Seolah mereka tahu pemuda itu membawa badai di pundaknya.
Di kedai tua tempat ia membeli arak kemarin, pemilik botak itu menegurnya.
"Sobat muda, kau kembali begitu cepat. Arak kemarin belum habis, bukan?"
Liang Shan menatapnya sekilas. "Arak itu bukan untukku. Tapi untuk guruku."
Pemilik kedai terdiam. Ia menatap mata pemuda itu, lalu mendesah pelan. "Aku mengerti. Kau sudah kehilangan segalanya,"
Liang Shan tidak menjawab. Ia hanya meletakkan sekeping perak di meja, lalu memesan semangkuk mi.
Saat makan, telinganya menangkap bisik-bisik para tamu kedai.
"Dengar-dengar, tiga hari lagi di Kota Heiyun akan ada pertemuan para tokoh besar."
"Ya, terutama dari tiga keluarga besar: Klan Xu, Klan Murong, dan Klan Zhao. Katanya mereka sedang membicarakan aliansi baru."
"Aliansi atau bukan, yang jelas dunia persilatan akan berguncang lagi."
Nama-nama itu menusuk telinga Liang Shan. Xu, Murong, Zhao, tiga nama yang disebut gurunya sebelum menghembuskan napas terakhir.
Tangannya yang memegang sumpit bergetar. Mi di hadapannya terasa hambar, seakan ia sedang mengunyah darah.
###
Perjalanan menuju Kota Heiyun membutuhkan tiga hari. Liang Shan tidak terburu-buru. Ia tahu dendam adalah api yang harus dijaga, bukan dibiarkan membakar seketika.
Hari pertama, ia berjalan melewati hutan bambu. Suara desir dedaunan seolah menjadi bisikan jiwa-jiwa yang hilang. Ia berlatih jurus-jurus di tengah hutan, goloknya menari di antara batang-batang bambu dan menghasilkan suara serak seperti ratapan.
Hari kedua, ia melewati padang rumput yang luas. Angin bertiup kencang, membawa bau tanah dan bunga liar. Di sana ia duduk merenung, mencoba mengendalikan racun dalam tubuhnya.
Sesekali Liang Shan memuntahkan darah hitam, namun tetap memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan.
Hari ketiga, ia mulai melihat bayangan tembok Kota Heiyun dari kejauhan. Kota itu tampak besar, dikelilingi tembok batu kelabu, dengan gerbang tinggi menjulang. Asap tipis mengepul dari atap-atap rumah, tanda kehidupan yang ramai.
Namun bagi Liang Shan, kota itu bukan sekadar tempat keramaian. Kota itu adalah medan pertempuran pertama.
Sore harinya, sebelum memasuki kota, Liang Shan berhenti di sebuah kedai jalan raya. Kedai itu penuh oleh para pengembara dan pendekar muda yang hendak menghadiri pertemuan di Heiyun.
Liang Shan duduk di sudut dan memesan arak. Dari sudut matanya, ia memperhatikan wajah-wajah di dalam ruangan. Ada yang sombong, ada yang pendiam, ada pula yang penuh ambisi.
Pemuda itu menyadari, dunia persilatan ternyata tidak hanya berisi jurus, tapi juga topeng yang bermacam-macam.
Tiba-tiba, keributan terjadi di meja tengah. Seorang pemuda berbaju biru, tampan tapi arogan, menghempaskan cangkir ke meja.
"Kalian berani menghalangi jalan Murong Feilong?" serunya.
Nama itu membuat Liang Shan tertegun. Murong. Salah satu dari tiga nama itu.
Tiga pria kasar yang duduk di depannya berdiri. "Kau pikir hanya karena kau bawa nama Murong, kami akan mundur? Dunia persilatan bukan milik keluargamu saja"
Pertarungan pecah seketika. Kursi terlempar, meja terbalik. Arak tumpah ke lantai.
Liang Shan duduk diam, matanya tajam memperhatikan. Jurus-jurus yang dipakai kasar, tapi cukup mematikan. Namun Murong Feilong jelas lebih unggul. Dengan pedang tipisnya, ia menumbangkan tiga orang itu dalam lima jurus saja.
Orang-orang bertepuk tangan, sebagian kagum, sebagian lagi merasa takut.
Murong Feilong menyapu pandangan ke seisi kedai, lalu berhenti pada Liang Shan.
"Kau," katanya dingin. "Kenapa dari tadi menatapku?"
Liang Shan meneguk araknya, lalu meletakkan cangkir di atas meja. "Aku hanya melihat seekor naga yang lupa kalau ia baru belajar terbang."
Suasana kedai seketika membeku.
Mata Murong Feilong menyipit. "Berani sekali bicaramu."
Liang Shan bangkit perlahan, tubuhnya tegap meski wajahnya pucat.
"Bukan soal berani. Hanya mengingatkan. Dunia persilatan penuh naga. Kadang naga itu bahkan tidak terlihat, karena ia memilih berdiam di dalam kabut."
Keduanya saling menatap. Tegangan menebal, seolah udara ikut berhenti.
Tapi Murong Feilong hanya tertawa kecil. "Baiklah. Aku tidak akan mengotori pedangku dengan darah orang asing hari ini. Tapi ingat, jika kau masuk ke Kota Heiyun, jangan sampai kau menyesal."
Ia berbalik, lalu keluar bersama pengikutnya.
Malam itu, Liang Shan bermalam di penginapan dekat gerbang kota. Ia tidak bisa tidur. Nama-nama yang disebut gurunya terus terngiang: Xu, Murong, Zhao.
Ia menatap golok di samping ranjang. Bilahnya berkilau dingin di bawah cahaya lampu minyak.
"Golok Sunyi," bisiknya, "kau akan kembali bernyanyi. Bukan hanya untuk keluargaku, tapi juga untuk guruku."
Di luar jendela, angin malam berembus. Kota Heiyun berkilau dengan lampu-lampu, seakan menyimpan ribuan rahasia.
Di dalam dada Liang Shan, racun berdetak, seakan ikut menunggu.
Besok, langkah pertamanya benar-benar akan dimulai.