NovelToon NovelToon
Ditempat Dimana Salju Berhenti

Ditempat Dimana Salju Berhenti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Yuh! No!

Sinopsis


Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.


Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.


Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.


Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Hal-Hal yang Mulai Dihitung

(POV: Noah)

Ada kebiasaan baru yang muncul tanpa pernah kami sepakati.

Aku mulai bangun lebih pagi.

Bukan karena pekerjaan, tapi karena vila di bukit itu membutuhkan waktu tambahan jika aku ingin mampir sebelum bengkel. Alice tidak memintaku datang. Ia bahkan tidak pernah menyinggung soal itu. Tapi setiap pagi, ada secangkir kopi yang dibuat dengan takaran yang pas, dan seseorang yang duduk diam di meja dapur sambil membaca, seolah kehadiranku sudah dimasukkan ke dalam jadwalnya sejak awal.

Pagi itu, ia menoleh saat aku masuk.

“Kau terlambat lima menit,” katanya datar.

Aku mengangkat alis. “Kau menghitung?”

“Tidak,” jawabnya cepat. Lalu berhenti sejenak.

“Mungkin sedikit.”

Aku menuang kopi dan duduk di seberangnya.

Kami tidak membicarakan apa pun yang besar.

Cuaca. Kapal yang akan masuk siang ini. Atap vila yang masih bocor di sudut barat.

Hal-hal kecil.

Dan justru itu yang membuatku sadar: aku mulai menghitung hari dengan mempertimbangkan keberadaannya.

Di bengkel, aku bekerja lebih fokus dari biasanya.

Tapi di sela-sela suara mesin, pikiranku terus kembali pada satu pertanyaan yang belum terjawab.

Jika aku tinggal, apa bentuk “tinggal” itu?

(POV: Alice)

Aku mulai mengatur ulang vila.

Bukan renovasi besar—hanya memindahkan kursi, membuka tirai, membersihkan ruang yang selama ini kuabaikan. Seolah dengan mengubah posisi benda-benda, aku juga menggeser posisiku sendiri di tempat ini.

Noah datang hampir setiap hari. Kadang hanya sebentar. Kadang membawa alat. Kadang hanya duduk dan minum kopi sebelum pergi.

Kami tidak menyebutnya kebiasaan.

Tapi aku mulai tahu jam berapa ia biasanya muncul, dan kapan ia tidak akan datang karena kapal besar masuk pelabuhan.

Siang itu, aku pergi ke kota sendiri untuk membeli beberapa kebutuhan. Di toko kecil dekat alun-alun, aku bertemu seseorang yang mengenalku.

“Kau yang tinggal di vila Blackwood, ya?”

Aku mengangguk.

“Berani sekali,” katanya sambil tertawa kecil.

“Sendirian pula.”

“Tidak sendirian,” jawabku tanpa berpikir.

Kalimat itu membuatku terdiam sesaat setelahnya.

Aku tidak berbohong. Tapi aku juga tidak menjelaskan.

Saat kembali ke vila, Noah sudah ada di sana, sedang memperbaiki engsel jendela.

“Aku beli cat,” kataku. “Untuk dapur.”

Ia menoleh. “Kau berencana tinggal lama.”

Aku meletakkan kantong belanja di meja. “Aku berencana tinggal cukup lama untuk membuatnya layak ditinggali.”

Ia mengangguk pelan. Tidak berkomentar. Tidak mengoreksi.

Dan aku tahu: itu penerimaan yang disengaja.

(POV: Noah)

Sore itu, aku menerima telepon dari ayah.

Jarang sekali ia menelepon kecuali ada masalah.

“Aku dengar kau sering ke vila itu,” katanya tanpa basa-basi.

“Ya.”

“Orang-orang mulai bicara.”

Aku menutup mata sejenak. “Dan?”

“Tidak apa-apa,” katanya cepat, seolah ingin terdengar tidak peduli. “Aku hanya mengingatkan.

Kota kecil. Kau tahu sendiri.”

Aku tahu.

Di Norden, perubahan kecil selalu terlihat besar.

“Aku baik-baik saja,” kataku.

“Aku harap begitu,” jawabnya, lalu menutup telepon.

Aku duduk lama setelah itu.

Bukan karena takut pada omongan orang.

Tapi karena aku sadar—keputusanku tidak lagi hanya berdampak pada diriku sendiri.

Malamnya, aku naik ke bukit tanpa alasan jelas.

Alice membuka pintu dengan tatapan heran.

“Kau tidak biasanya datang malam,” katanya.

“Aku tahu.”

Kami duduk di ruang tamu. Lampu redup. Angin menggoyang jendela.

“Ada yang ingin kau katakan?” tanyanya.

Aku menatap lantai sejenak sebelum mengangkat kepala.

“Orang-orang mulai menganggap kita sesuatu,” kataku.

Ia mengangguk. “Aku menduganya.”

“Dan kau tidak keberatan?”

Ia berpikir lama. “Aku keberatan jika kita membiarkan orang lain mendefinisikan kita. Tapi aku tidak keberatan dengan apa yang sebenarnya terjadi.”

Jawaban itu jujur. Dan menantang.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku.

Ia menatapku. Tidak menghindar.

“Kita saling mempertimbangkan,” katanya pelan.

“Dan itu baru bagiku.”

Aku mengangguk. “Bagiku juga.”

(POV: Alice)

Setelah percakapan itu, tidak ada perubahan besar.

Kami tidak menyentuh. Tidak mengucapkan janji.

Tidak menamai apa pun.

Tapi Noah mulai tinggal sedikit lebih lama setiap kali datang.

Dan aku mulai menyiapkan dua piring tanpa berpikir.

Malam itu, kami makan sederhana—sup hangat dan roti. Di luar, angin membawa sisa-sisa dingin musim yang enggan pergi.

“Kau akan memberi jawaban kapan?” tanyaku tiba-tiba.

Ia berhenti makan. “Besok.”

Dadaku mengencang, tapi aku menjaga suaraku tetap stabil. “Dan apa pun jawabannya?”

“Aku akan mengatakannya padamu dulu,” katanya.

Aku tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Setelah makan, kami berdiri di dapur, mencuci piring berdampingan. Tangannya bergerak hati-hati agar tidak menyentuhku—dan justru itu yang membuat jarak terasa jelas.

“Alice,” katanya tiba-tiba.

“Ya?”

“Jika aku tinggal,” katanya perlahan, “aku tidak ingin kita berjalan ke sesuatu yang setengah-setengah.”

Aku mematikan keran dan menoleh. “Aku juga tidak.”

Keheningan menyelimuti kami. Tapi kali ini, keheningan yang penuh kemungkinan.

(POV: Noah)

Aku pulang malam itu dengan kepala penuh.

Di rumah, aku membuka laptop lagi. Email dari perusahaan itu masih terbuka. Kursor berkedip, menunggu.

Aku tidak langsung mengetik.

Aku memikirkan bengkel. Laut. Vila di bukit. Cara Alice berdiri di dapur seolah tempat itu memang miliknya.

Aku menyadari sesuatu yang sederhana dan menakutkan:

Aku tidak lagi membayangkan masa depan hanya sebagai tempat lain.

Aku mulai membayangkannya sebagai keadaan.

Dan keadaan itu—entah bagaimana—melibatkan dia.

Aku mengetik jawaban.

Bukan ya.

Bukan tidak.

Sebuah pertanyaan balik. Tentang kemungkinan kerja jarak jauh sementara. Tentang fleksibilitas.

Aku menekan kirim.

Lalu aku menutup laptop dan mematikan lampu.

Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak dikejar waktu.

(POV: Alice)

Aku berdiri di jendela kamar malam itu, menatap jalan kecil yang sepi.

Lampu vila menyala stabil. Tidak berkedip. Tidak ragu.

Aku tidak tahu apa jawaban Noah besok.

Tapi aku tahu ini: aku tidak lagi menunggu seseorang untuk memutuskan hidupku.

Aku memilih tinggal hari ini. Dan besok, aku akan memilih lagi—dengan atau tanpa siapa pun.

Namun jika Noah tinggal, aku ingin itu karena kami saling menghitung keberadaan satu sama lain.

Bukan sebagai beban.

Melainkan sebagai alasan untuk bertahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!