Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Seperti sebelumnya, Wakasa masih berada di satu kereta kuda bersama Albert.
Beberapa saat kemudian, Wakasa membuka percakapan.
“Tuan Albert,” ucapnya pelan,
“apa anda yang sengaja memesan satu kamar untuk kami bertiga kemarin?”
Albert terdiam sesaat… lalu tiba-tiba tertawa lepas.
“Hahahahaha!”
“Aku kira mereka berdua itu istrimu,” katanya santai sambil menyeka sudut matanya.
“Haaah?!”
Wakasa langsung terkejut.
“Kenapa kau bisa berpikir mereka berdua istriku?!”
Albert tidak menjawab.
Ia hanya tertawa semakin keras, sementara kereta kuda terus melaju menembus jalanan panjang.
—
Malam pun tiba.
Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan mulai jarang terlihat.
Wakasa kembali membuka suara.
“Tuan Albert… apa sebentar lagi kita akan sampai?”
“Eem,” jawab Albert sambil menatap ke depan.
“Sekitar tiga puluh menit lagi.”
Wakasa mengangguk kecil, lalu tersenyum tipis.
“Kalau nanti ada perampok,” katanya santai,
“aku harus membunuh mereka… atau menangkapnya hidup-hidup?”
Albert terkejut sesaat, lalu tertawa.
“Mana mungkin kau bisa menangkap perampok hidup-hidup.”
Ia lalu menambahkan,
“tapi kalau kau benar-benar bisa, kota itu akan membayarmu untuk tiap perampok yang tertangkap.”
Wakasa tersenyum lebih lebar.
—
Tak lama setelah itu—
Sekitar seratus meter di depan mereka,
sepuluh orang bersenjata tiba-tiba menghadang jalan.
Albert langsung panik.
“T-tunggu… itu—!” ia melihat sebentar ke depan lalu menundukkan kepalanya
Sementara itu, Wakasa hanya memasang wajah datar, lalu menoleh ke arah Albert.
“Baiklah,” katanya tenang sambil berdiri dari duduknya.
“Kalau begitu, aku akan menangkap mereka semua… dan menukarnya dengan uang.”
Dalam satu kedipan mata—
Wakasa menghilang dari tempatnya.
Albert refleks menoleh ke arah para perampok…
dan seketika matanya membelalak.
Kesepuluh perampok itu sudah tergeletak di tanah.
Wajah mereka babak belur, tubuh terikat rapat dengan tali, tak satu pun mampu bergerak.
“E-eh?!”
Albert ternganga.
“Sejak kapan dia melakukan itu?!”
Belum sempat ia mencerna apa yang dilihatnya—
Tiba-tiba saja, para perampok itu sudah berada di atas kereta kuda mereka.
Dan di saat yang sama—
Wakasa sudah kembali duduk di tempatnya semula, seolah tidak pernah pergi.
Albert menoleh cepat ke sampingnya.
“Mmana mungkin…!”
“Eh?! Kenapa kau tadi ada di depan, dan sekarang sudah di sini?!
Dan… perampok itu dari mana?!”
Albert menatap Wakasa dengan wajah pucat penuh keterkejutan,
sementara Wakasa hanya tersenyum kecil, tetap tenang seperti biasa.
Dan perjalanan mereka pun berlanjut, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
— 30 menit kemudian —
Kereta kuda akhirnya memasuki kota tujuan mereka.
Meski sudah malam, kota itu masih sangat ramai. Lampu-lampu sihir menerangi jalanan lebar, suara langkah kaki, dan obrolan para pedagang yang terdengar dari berbagai arah.
Ternyata selama perjalanan, Starla dan Diana tertidur pulas di kereta belakang.
Mereka baru terbangun ketika suara keramaian kota mulai terdengar jelas.
Kereta kuda berhenti di depan sebuah jalan utama yang cukup lebar.
Mereka pun turun.
Wajah Starla dan Diana masih terlihat mengantuk. Keduanya mengusap mata sambil menguap kecil.
“Eeeh… kita sudah sampai ya?” ucap Diana setengah sadar.
“Em, sudah kok,” jawab Wakasa santai.
Saat itu, Wakasa langsung menurunkan para perampok dari atas kereta kuda.
Melihat pemandangan itu, Albert kembali terkejut.
“Eh?! Jadi kau menaruh mereka semua di atas sana?” ucapnya tidak percaya.
Wakasa hanya tertawa kecil.
Di sisi lain, Starla dan Diana saling berpandangan.
Raut wajah mereka perlahan berubah dari mengantuk menjadi bingung.
“…Perampok?” gumam Diana.
Starla menoleh ke arah Wakasa.
“Wakasa-kun… sejak kapan kau menangkap mereka semua?”
Wakasa tidak menjawab.
Ia hanya tertawa kecil sambil menarik tali panjang yang mengikat para perampok itu.
Melihat sikapnya, kebingungan Starla dan Diana semakin menjadi.
Sejak kapan ada perampok?
Dan kenapa mereka sama sekali tidak mendengar apa pun selama perjalanan?
Wakasa lalu menoleh ke arah Albert.
“Jadi… ke mana aku harus membawa mereka?”
“Kau bisa membawa mereka ke kantor asosiasi pedagang,” jawab Albert cepat.
“Baik.”
Mereka pun mulai berjalan mengikuti Albert.
Wakasa menarik tali panjang itu, membuat para perampok berjalan tertatih-tatih di belakangnya, menarik perhatian orang-orang di sekitar.
Sorot mata warga kota langsung tertuju pada mereka.
Beberapa berbisik, beberapa terkejut, dan beberapa lainnya menatap Wakasa dengan rasa penasaran.
Sementara itu, Starla dan Diana berjalan di sisi kanan dan kiri wakasa , masih berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi—
Mereka tiba di sebuah bangunan besar dengan lambang timbangan emas di atas pintunya.
Itulah Asosiasi Pedagang, pusat pengelolaan perdagangan kota itu.
Begitu para perampok itu dilempar ke lantai aula Asosiasi Pedagang, suasana yang semula riuh mendadak membeku.
Salah satu petugas menatap wajah-wajah mereka… lalu pucat.
“Ini… tidak salah lagi,” gumamnya. “Kelompok Black Fang.”
Ruangan langsung gempar.
“Itu perampok paling dicari di seluruh kota!”
Seorang petinggi asosiasi melangkah maju dengan wajah serius. “Kelompok ini sudah merampok puluhan pedagang dan membuat banyak pedagang bangkrut karena mereka.”
Ia menatap Wakasa tajam. “Kau yang menangkap mereka semua?”
Wakasa mengangguk ringan. “Iya.”
Hening sesaat.
Lalu petinggi itu berkata pelan namun tegas, “Hadiah untuk mereka semua adalah… lima juta koin emas.”
Starla refleks menahan napas.
Diana membelalakkan mata.
“…Lima juta?”
Sebuah peti besar dibawa ke tengah aula.
Saat dibuka, kilauan emas memenuhi ruangan, membuat semua orang terdiam.
“Ini Hadiahmu,” ucap petinggi asosiasi. “Dan mulai hari ini, nama Wakasa akan diumumkan ke seluruh kota sebagai petualang yang menangkap Black Fang.”
Bisik-bisik langsung menyebar cepat.
“Itu dia…” “Petualang itu…” “Sendirian pula…”
Albert tertawa puas. “Hahaha, sepertinya kota ini berhutang besar padamu.”
Wakasa hanya tersenyum kecil, sedikit menggaruk pipinya. “Iyaaaah...hahahaha.”
Keesokan paginya, begitu mereka bertiga melangkah keluar dari penginapan, suasana di depan langsung riuh.
“Itu dia pahlawannya!” “Pahlawan!” “Terima kasih!” “Terima kasih banyak!”
Sorakan para pedagang menggema di sepanjang jalan. Beberapa bahkan membungkuk dalam-dalam.
Wakasa berhenti melangkah, terpaku. Ia hanya berdiri diam, menatap kerumunan itu tanpa tahu harus bereaksi bagaimana.
Seorang pedagang dari tengah kerumunan maju dengan wajah penuh haru, lalu tanpa ragu menggenggam tangan Wakasa erat-erat. “Tuan pahlawan… terima kasih banyak karena sudah menolong kami.”
“E-eh… anu… itu…”
Wakasa menjawab terbata-bata, jelas kebingungan menghadapi antusiasme sebesar itu.
Beberapa menit berlalu, sorakan itu perlahan mereda. Para pedagang satu per satu kembali ke toko mereka, meninggalkan jalan yang akhirnya kembali tenang.
Wakasa menghembuskan napas panjang. “…Akhirnya.”
Diana yang sejak tadi memperhatikan hanya tersenyum lebar. “Belum satu hari, tapi sudah jadi pahlawan ya, Wakasa,” ucapnya dengan nada menggoda.
Wakasa meliriknya sekilas, wajahnya kembali datar. “Berisik.”