NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13 : Kejujuran yang tak diungkapkan

Alena terduduk diam di dalam sebuah ruangan dengan posisi yang agak menjauh dari Arinta dan Alea. Putrinya terlihat masih sesegukan dalam pangkuan Arinta.

"Aduh, lain kali hati-hati ya Pak, Bu..., tulang anak sekecil ini masih sangat rawan! Untung saja hanya terkilir ringan, kalau sampai sendinya bergeser atau patah, bagaimana?"

Dokter lelaki itu langsung saja memarahi Alena dan Arinta yang dianggapnya begitu ceroboh.

"Maafkan saya...," ucap Alena dengan suara pelan. Terlihat sekali ia tampak menyesal dan merasa bersalah karena tanpa sengaja telah menyakiti sang putri.

"Ini saya kasih resep salep sama obat untuk radang di bagian sendinya kalau Alea masih kesakitan, ingat ya, hanya kalau dia merasa sakit," ujarnya dengan penekanan. "Lalu sisanya vitamin...."

Ia menuliskan resep obat untuk Alea lalu diberikannya kepada Arinta.

"Makasih, Dok...," ujar Arinta setelah menerima resep itu.

Pria itu bangkit dari kursi sambil menggendong Alea berjalan keluar dan diikuti oleh Alena. Namun sesaat sebelum keluar, mereka sempat mendengar ucapan yang menohok dari sang dokter.

"Dasar orangtua jaman sekarang, kalau sudah bertengkar pasti anak yang dijadikan korban! Nanti giliran anaknya kenapa-kenapa, bingung sendiri," ujarnya yang mengeluhkan sikap beberapa pasangan yang sering dia lihat tanpa bermaksud sengaja menyindir keras.

Arinta dan Alena yang mendengar ucapan itu terpaku beberapa saat, seakan menyadari sesuatu. Namun, keduanya diam-diam menyembunyikan kecemasan itu satu sama lain tanpa diketahui.

Arinta segera menutup pintu ruangan kembali dan berjalan untuk menukarkan resep obat tadi sekaligus membayar administrasi. Alena masih mengikuti dalam diam dan berharap Alea mau memaafkannya.

"Alea..., Mamih minta maaf ya, sayang...." Alena mencoba mendekati Alea yang sedang dipeluk oleh Arinta. Ia mengusap kepala si kecil yang sedang bersandar pada pundak sang ayah. "Alea mau 'kan maafin, Mamih...?" Ucapnya dengan nada lembut.

"Tapi, Mamih janji jangan narik-narik Alea lagi...," balas gadis itu yang masih terdengar merengek dan tampak waspada.

"Iya, sayang Mamih janji, sekarang kita pulang ya, yuk...." Alena berusaha membujuk gadis kecilnya untuk ikut bersamanya.

"Gak mau! Alea mau sama Papih!" Tanpa diduga terjadi penolakan.

"Alea masih mau sama Papih!!!" Alea menjerit sambil mencengkram bahu Arinta kuat-kuat.

"Alea, jangan bandel! Mamih gak suka! Ayo pulang!" Alena terlihat kembali emosi. "Nanti Mamih kasih es krim, kita main sambil lihat ikan, ya?" Ia masih berusaha keras membujuk anak satu-satunya itu.

"Kamu kenapa sih, maksa banget?" Arinta yang agak kesal langsung menegur Alena. "Dia cuma kangen sama aku, wajar 'kan? Kenapa kamu kayak gini?" Ujarnya yang gak habis pikir dengan sikap Alena yang seolah berusaha sekali untuk menjauhkan Alea dari dirinya.

"Aku gak mau anakku kena pengaruh buruk kamu dan perempuan itu!" Balas Alena dengan sengit.

"Kamu masih gak percaya sama aku dan anggap aku selingkuh?!" Arinta menaikkan intonasi suaranya sedikit. Ada rasa geram yang berkecamuk. Kenapa sih, Alena harus membahas urusan pribadi mereka di tempat umum.

"Pembohong kamu! Aku udah punya buktinya, tau gak? Jangan ngeles terus!" Alena sudah tak sabar. Hatinya gemas melihat Arinta yang masih bersikap sok polos.

"Len, jangan keras-keras!" Arinta membentak pelan wanita itu agar diam. Mereka masih berada di dalam ruangan klinik dokter.

"Kenapa? Biar semua orang tau kalau kamu tukang selingkuh!" Alena sengaja meninggikan suaranya membuat beberapa orang sekitar mulai mengalihkan pandang ke arah mereka.

"Keterlaluan kamu!" Arinta menatap tajam wajah Alena, kemudian ia menarik tangan wanita itu.

Mereka berjalan keluar klinik dengan terburu-buru. Ketegangan jelas terpancar di wajah suami istri itu tanpa bisa disembunyikan.

Arinta yang masih menggendong Alea memasukkan putri kecilnya ke dalam mobil dan menutup pintunya.

"Mau kamu bawa kemana anak aku!" Alena panik, seketika ia histeris berusaha menggapai pintu mobil.

"Apa sih yang kamu pikirkan, Len? Kamu bahas soal itu di depan umum dan Alea dengar semua!" Arinta langsung menghadang. Emosi yang tadi ditahannya kini meluap.

"Kamu bohongin aku! Jawab jujur siapa Melinda sebenarnya dan sudah berapa lama kalian berhubungan?!!" Alena tak mau kalah. Ia pun langsung melontarkan pertanyaan dengan tajam.

Arinta sontak terdiam. Wajahnya menampakkan suatu dilemma berat. Ada suatu kepastian yang tak berani ia ungkap.

"Kamu gak bisa jawab 'kan?" Pandangannya tajam. Ia mendorong tubuh Arinta ke samping lalu berjalan membuka pintu mobil.

"Alea masih sayang sama Mamih?" Tanyanya tanpa memberi ruang kompromi dengan si kecil.

Alea yang tak mengerti apa-apa jelas saja mengangguk dan berkata, "Alea sayang sama Mamih," dengan wajah polos yang memancarkan kebingungan kenapa orangtuanya berkelahi cuma karena ingin mengajaknya pulang. Bukankah mereka bisa pulang sama-sama jadi gak perlu berantem?

"Kalau gitu Alea nurut ya, pulang dulu sama Mamih, ya?" Alena menatap sang anak, memastikan ucapannya tak dibantah.

"Iya, Mih..., Alea pulang sama Mamih, tapi nanti ajak Papih liat ikan ya...?" Anak itu memang menurut tapi tetap saja masih ada embel-embel untuk bermain dengan Arinta.

Alena menahan napasnya. Jujur, dia agak kesal karena Alea masih mengharapkan Arinta.

"Alea tolong ngertiin Mamih, buat sementara Papih gak bisa main sama Alea dulu...." Iya mengusap sayang pipi Alea berharap anak itu benar-benar mau melupakan keinginannya bermain atau bertemu dulu dengan Arinta.

"Len, kamu gak bisa maksa Alea seperti itu!" Arinta mencoba menghalangi usaha Alena kepada anak mereka.

"Diam kamu, ini urusan aku!" Balas Alena dengan dingin. Kemudian ia langsung menggendong Alea keluar dari dalam mobil.

"Kita pulang dulu ke rumah Tante Dini." Alena memeluk sang putri dengan erat seolah takut Arinta akan mengambilnya dan membawa Alea pergi jauh.

Wanita itu langsung melangkah cepat menjauhi mobil Arinta dan mendudukkan Alea di motor. Arinta tentu tak tinggal diam saat melihat keduanya hendak pergi. Ia dengan cepat menghampiri.

"Len, kamu gak bisa kayak gini sama aku!" Arinta melancarkan protes, tak terima. Ia merasa ditinggalkan dan dijauhkan terutama dari Alea. Dia gak sanggup membayangkan ketika gadis itu merengek memanggil namanya. Tapi Alena tak bergeming. Dia sudah bersiap untuk pergi.

"Tolong katakan, aku harus apa?? Mau sampai kapan kamu begini, Len!?" Tanyanya dengan nada frustasi.

"Kamu mau tau apa??" Alena menoleh ke samping, menatap tajam pria yang sudah hidup bersamanya selama 7 tahun terakhir ini. "Aku mau kamu jujur." Itu adalah ultimatum terakhir dari Alena sebelum akhirnya wanita itu pergi meninggalkan area klinik meninggalkan Arinta yang putus asa.

"ALENA!!!" Ia hanya mampu berteriak dalam udara kosong ketika motor itu sudah pergi menjauh.

Arinta akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam mobil dan melihat kerumunan kecil di belakang.

"Mas, Mas nya selingkuh ya?" Sebuah pertanyaan dengan berani dilontarkan oleh seorang wanita bertubuh agak gemuk dengan baju berwarna merah dan celana panjang hitam.

Arinta memilih tak menggubris pertanyaan itu dan langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.

"Huh, dasar laki-laki! Udah ketahuan selingkuh tapi masih gak mau ngaku!" Wanita itu mencibir sengaja dengan suara keras.

"Pantesan Istrinya sampai marah begitu, gak lama lagi pasti bakal minta cerai!" Timpal wanita lainnya.

Arinta yang mendengar percakapan para wanita itu langsung terdiam, seolah ada bongkahan es yang menusuk ke dalam ruang hatinya. Satu kata itu, akhirnya terlintas. Cerai.

Apakah Alena akan meminta cerai? Arinta menggeleng, menepis itu. Gak mungkin, dia tau Alena sangat mencintainya. Wanita itu gak akan mungkin meminta cerai 'kan...?

Entah kenapa keyakinannya pupus saat mengingat semua kejadian tadi. Bagaimana dinginnya sikap Alena dan pandangan matanya yang penuh luka.

Apa dia akan benar-benar meminta cerai? Batin Arinta langsung kalut.

Mobil itu langsung melaju pergi. Saat itu Arinta tidak tau kalau pertengkarannya dengan Alena direkam oleh seseorang di sana. Apa yang akan terjadi kalau sampai video pertengkaran itu bocor?

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!