NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:59.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Pagi itu datang dengan udara yang dingin dan bersih.

Kabut tipis masih menggantung di sela-sela pepohonan ketika Kiara membuka mata. Cahaya matahari masuk pelan dari celah jendela kayu, menyentuh wajahnya lembut.

Untuk sesaat, ia lupa di mana ia berada. Lalu, ingatannya kembali ke desa, rumah pak kades, pernikahan yang tak ia rencanakan dan percakapan semalam bersama Bu Sulastri.

Kiara duduk di tepi ranjang. Selimut yang digunakan pria itu terlipat rapi, tak bersisa jejak. Kiara menghela napas pelan, entah lega atau justru kecewa, ia sendiri tak tahu.

Ia bangkit dan keluar kamar.

Di dapur, suara wajan terdengar pelan. Aroma bawang putih dan nasi hangat menyambutnya.

Sulastri sedang memasak.

“Pagi, Bu…” sapa Kiara, suaranya masih serak.

Sulastri menoleh dan tersenyum.

“Pagi, bangunnya nggak kesiangan hari ini.”

Kiara tersenyum kecil.

“Mas Alvar…?”

“Sudah ke kebun,” jawab Sulastri.

“Tapi sebelum berangkat, dia nitip pesan.”

Kiara mengerjap.

“Pesan apa, Bu?”

Sulastri tertawa pelan.

“Katanya … jangan lupa sarapan. Dan minum obat vitamin yang dia taruh di atas meja.”

Kiara terdiam, matanya refleks mencari meja makan. Benar saja, segelas air hangat dan dua butir vitamin ada di sana, rapi, seolah sudah dipersiapkan dengan sangat hati-hati.

“Dia nggak mau bangunin kamu,” lanjut Sulastri.

“Katanya, kamu masih butuh istirahat.”

Kiara menggigit bibirnya pelan.

“Oh…”

Sulastri melirik Kiara sambil tersenyum penuh arti.

“Kalau sudah bangun, sarapan dulu. Nanti kalau mau ikut ke kebun, bilang ibu.”

Kiara terkejut.

“Ikut ke kebun?”

“Iya, Alvar nggak keberatan.”

Kiara menatap piring nasi hangat di depannya. Entah sejak kapan, keinginan untuk ikut muncul begitu saja.

“Kalau … Kiara ikut,” katanya pelan,

“nggak apa-apa, kan, Bu?”

Sulastri menepuk bahu menantunya lembut.

“Pelan-pelan saja. Nggak ada yang memaksa.”

Kiara tersenyum.

Udara kebun masih dingin, tapi sinarnya sudah mulai menghangatkan kulit. Pepohonan mangga berdiri rapi, daunnya basah oleh sisa embun malam.

Kiara berhenti di batas kebun. Di sana, Alvar berdiri membelakanginya.

Pria itu hanya mengenakan singlet putih yang sudah sedikit basah oleh keringat. Otot lengannya terlihat jelas saat ia mengangkat galah panjang, menarik buah mangga yang menggantung tinggi. Setiap gerakannya tegas, terlatih, kulitnya mengilap tersapu cahaya pagi.

Kiara menelan ludah, dia tidak melangkah lebih dekat. Entah sejak kapan matanya begitu betah mengikuti setiap gerakan Alvar tarikan otot bahu, urat di lengan, punggung yang mengembang saat pria itu menghela napas.

Kiara tersenyum sendiri, pikirannya melayang terlalu jauh. Dia buru-buru mengalihkan pandangan ke tanah, tapi bayangan Alvar sudah terlanjur memenuhi kepalanya.

“Lagi ngapain?” Suara itu datang tiba-tiba.

Kiara tersentak, dia mendongak dan mendapati Alvar sudah berdiri tepat di depannya, galah mangga kini bersandar di bahunya. Wajah pria itu setengah tertutup bayangan topi caping, tapi sorot matanya jelas menangkap keterkejutan Kiara.

“Mas—” Kiara refleks mundur setengah langkah.

“A-aku… ngelamun.”

Alvar mengangkat satu alis.

“Kelihatan.”

Nada suaranya datar, tapi ada gurat geli yang tak ia sembunyikan. Kiara memalingkan wajah, pipinya menghangat.

“Maaf … aku cuma nunggu.”

Alvar melirik Kiara dari ujung kepala sampai kaki, kemeja panjang, celana yang lebih sopan dari biasanya, rambut diikat rapi.

“Capek berdiri?” tanyanya.

Kiara menggeleng cepat.

“Nggak, aku cuma … lihat-lihat.”

Alvar mengangguk pelan, lalu mengambil satu mangga dari keranjang kecil di dekat kakinya. Dia mengelapnya asal dengan kausnya sendiri, lalu menyodorkan pada Kiara.

“Pegang ini.”

Kiara menerima mangga itu refleks.

“Buat apa?”

“Biar kamu ada kerjaan,” jawab Alvar singkat.

“Daripada melamun lagi.”

Kiara mendengus kecil, tapi tersenyum.

Di sekitar mereka, suara burung dan angin yang menyentuh daun mangga terdengar jelas. Dari kejauhan, beberapa warga yang lewat di pematang sawah melirik ke arah kebun, melihat anak pak kades dan istrinya berdiri berdekatan di bawah matahari pagi.

Setelah itu, Alvar mengajaknya ke petak kangkung. Mereka memanen bersama, lalu menyiram kangkung-kangkung kecil yang masih segar. Kiara merasa senang, bukan hanya karena ikut membantu, tapi karena melihat sisi lain dari Alvar. Dia penyayang, telaten, dan penuh perhatian, bahkan pada hal-hal kecil. Namun, tiba-tiba air dari selang tak mau keluar.

Kiara mengernyit, lalu tanpa berpikir panjang ia mengarahkan ujung selang ke wajahnya sendiri, seketika air muncrat deras.

“Ah!” Kiara menjerit kaget, tubuhnya langsung basah kuyup.

Alvar yang melihat itu langsung panik, tapi kepanikannya berubah menjadi tawa lepas saat melihat wajah Kiara yang terkejut dan bajunya yang basah. Tawa itu begitu jujur, begitu ringan, hingga Kiara ikut tersenyum.

“Mas Alvar!” protes Kiara sambil mengarahkan selang ke arah suaminya.

Air menyembur ke tubuh Alvar. Pria itu reflek berlari menghindar, tertawa keras. Kejar-kejaran pun terjadi di antara barisan kangkung. Tawa mereka bercampur dengan suara air dan dedaunan yang bergoyang.

Saat Alvar berusaha merebut selang, tanpa sengaja tangannya melingkar di pinggang Kiara. Tubuh mereka bertabrakan, langkah keduanya terhenti. Kiara terdiam, begitu juga Alvar.

Tatapan mereka bertemu, jarak yang terlalu dekat membuat napas mereka saling bersentuhan. Tanpa sengaja, bibir mereka menempel, hanya sebentar, sekadar sentuhan, tapi cukup untuk membuat jantung keduanya berdetak keras, seakan bisa terdengar jelas di telinga masing-masing.

“Eh!”

Suara Sulastri mendadak terdengar dari arah rumah. Wanita itu berdiri sambil membawa keranjang sayur, menatap kebun yang sedikit berantakan. Namun, alih-alih marah, Sulastri justru tertawa melihat Alvar dan Kiara yang basah kuyup dan kaku di tempat.

“Ya ampun, kebun ibu jadi kolam,” ujarnya sambil menggeleng, senyumnya hangat. “Sudah, sudah. Kalian mandi dulu, nanti masuk angin.”

Kiara dan Alvar saling berpandangan, lalu tersenyum malu.

Sulastri membereskan kebunnya sambil memetik sayur yang masih bisa dibawa pulang, meninggalkan dua insan yang hatinya diam-diam mulai saling menghangat di bawah matahari pagi.

Siang itu, matahari tepat di atas kepala ketika Pak Yono pulang dari balai desa. Wajahnya tampak bersemangat. Baru saja ia meletakkan jas kerjanya, ia langsung memanggil Alvar yang sedang duduk di teras.

“Var, nanti malam kita diundang ke acara pembukaan pasar malam,” kata Pak Yono.

Alvar menoleh sekilas, lalu menghela napas pelan.

“Aku nggak ikut, Pak. Malas ketemu keluarga juragan sama Supradi.”

Nada suaranya datar, tapi jelas ada penolakan keras di sana. Pak Yono tak langsung menanggapi, sementara Sulastri yang mendengar dari dapur keluar sambil mengelap tangan.

“Alah, Var,” ujar Sulastri sambil tersenyum. “Pergilah, ajak Kiara sekalian. Biar dia jalan-jalan. Kasihan, sejak di desa belum pernah ke pasar malam.”

Alvar melirik Kiara yang berdiri tak jauh dari mereka. Gadis itu tampak ragu, seolah tak ingin merepotkan. Namun, entah kenapa, ucapan ibunya membuat Alvar terdiam sejenak dan dia menghela napas, lalu akhirnya mengangguk kecil.

“Ya sudah, kami akan datang sebentar saja.”

Malam pun tiba.

Sulastri tampak anggun mengenakan kebaya sederhana, sementara Pak Yono rapi dengan kemeja panjangnya. Kiara keluar dari kamar dengan dress bermotif bunga-bunga, jatuh lembut di tubuhnya. Rambutnya tergerai rapi, membuat Alvar yang sedang memakai jaketnya sempat terdiam beberapa detik terlalu lama.

“Sudah siap?” tanya Pak Yono.

“Sudah pak,” jawab Kiara pelan.

Mereka hendak berangkat dengan satu mobil, namun tiba-tiba Alvar meraih kunci motornya.

“Aku sama Kiara naik motor saja, Pak,” katanya santai.

“Kalau Bapak sama Ibu lama di sana, kami bisa pulang duluan.”

Pak Yono mengangguk tanpa curiga. “Ya sudah, hati-hati di jalan.”

Sulastri hanya tersenyum tipis, seakan paham betul akal anaknya.

Kiara menoleh ke Alvar. “Aku nggak keberatan kok naik motor,” katanya jujur.

Alvar mengangguk, menyembunyikan senyum kecil di balik sikap datarnya. Padahal itu hanya alasan semata, cara sederhana agar malam itu bisa ia lewati berdua dengan Kiara, tanpa banyak suara, tanpa banyak mata yang memperhatikan.

1
hasatsk
setelah di simak,, seru juga ceritanya
Ni'mah azzahrah Zahrah
Kiara yg enak, aku yg tegang thor
Lilis Yuanita
aduh keringetan😄😄
Gadis misterius
Ini nanti darius yg jd duri liht dech krn klu setiap hr bertmu bklan ada rs nyaman
Eva Karmita
orang yang kalem ternyata bisa agresif juga ya 😅😅
biby
POV alvar : siapa sih.. ganggu aja, g tau apa org lg berusaha baikan
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng
Aisyah Alfatih: sabar ya kak 🤭 kasih bonus deh nanti bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta juga cemburu ahir nya keluar dri hti alvar yg berahir dgn ciuman yg mungkin awal dri kebahagiaan kalian ,
Ika Wahyuni
wah itu pasti mamanya Kiara yg datang disaat tidak tepat 🤭
iza
up lgi thor
Naufal Affiq
dengar kan omongan orang tua mu kiara,jangan dengar cakap orang belum tentu benar
Nar Sih
hamil di luar nikah kok bangga ,🤣
Naufal Affiq
kau tau lala,pembantu lebuh tinggi lagi di banding kan kau,yang gak ada harga diri,yang hamil di luar nikah,bangga banget kamu,gaya manusia gak berpendidikan kalau ngomong
Teh Euis Tea
yeyyy nganggu aj deh yg ketuk pintu🤭
Ariany Sudjana
betul kata ibumu Kyara, kalau kamu bercerai dengan dokter Alvar, dimana lagi kamu akan menemukan suami seperti dokter Alvar? sudahlah lupakan semua masa lalu kalian, mulai dengan lembaran baru, dan jangan kasih celah buat Darius masuk Kyara, juga Hesty jufa jangan pak dokter Alvar
Wiwi Sukaesih
ahh ganggu aj sgla ad iklan ngetok pintu🤭
Resa05
up kayak gini terus yah min
dyah EkaPratiwi
maaf ya pak dr diganggu sebentar
iqha_24
Ternyata Alvar agresif juga, kira orangnya pendiam malu2 🤭
Lilis Yuanita
mmh...🤭🤭
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!