NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"BISMILLAHIRROHMANIRROHIM"

Lalu Ustadz Furqon menghela napas sesaat, dan berkata, "Ya sudah, kalo emang kamu bisa, bagaimana caranya Nis?"

Pak Hasan, Bu Wati, dan semua yang hadir tampak memandangiku lebih serius.

"Em, bolehkah saya minta bantuan Ustadz, Mas Iko, dan Mas Ahmad?" tanyaku.

"Tentu Mbak Nisa... Apa yang bisa kami bantu?" tanya Mas Ahmad.

"Tapi sebelum itu, saya juga mau minta tolong sama Ibu..." kataku sambil mengalihkan pandanganku ke arah Bu Wati.

"Bu, bisa gak Ibu dan Pak Hasan, menunggu di rumah saja? Tolong sediakan mainan yang paling disukai sama Farhan. Tolong taruh di dalam kamarnya ya Bu..." kataku.

Pak Hasan dan Bu Wati saling bertukar pandangan. Kebingungan.

"Bisa... Tapi, buat apa?" tanya Pak Hasan.

"Sebagai media untuk menuntun Farhan pulang Pak." jawabku.

Lalu aku menatap ke Mas Ahmad, "Dan saya minta tolong sama Mas Ahmad, untuk temani Pak Hasan dan Bu Wati di rumahnya."

Mas Ahmad tampak sedikit heran. Lalu bertanya padaku, "Mbak Nisa, saya masih bingung sama cara yang mau dilakukan sama Mbak, bisa jelasin dulu maksudnya?"

"Terlalu lama kalau saya harus jelasin dulu Mas..." kataku.

Tiba-tiba Mas Iko, menyela, "Mbak Nisa, kayaknya Mas Ahmad ini belum bisa kalau diminta bantuan seperti itu. Biar saya aja ya yang nemenin Bu Wati dan Pak Hasan di rumahnya. Insyaa Alloh, saya bisa dan sudah paham apa maksud Mbak Nisa."

Dalam hati, aku sedikit heran dengan perkataan Mas Iko itu. Namun aku tak mempermasalahkan. Segera aku menganggukkan kepala saja sebagai tanda setuju dengan ucapan Mas Iko itu.

"Terus, saya ngapain Nisa?" tanya Ustadz Furqon.

"Saya minta tolong sama Ustadz, temani saya ke tempat di mana saya terakhir anter Farhan pulang..." jawabku.

"Tapi... Boleh saya minta beberapa bunga kantil di samping pendoponya Ustadz?" tambahku.

"Boleh Nis. Boleh." jawab Ustadz Furqon. Tapi masih dengan ekspresi heran dan bingung. Mungkin dirinya merasa ada yang aku sembunyikan. Terlebih lagi dengan niatku untuk membantu Farhan pulang. Dan aku menyadari apa yang dirasakan olehnya.

"Ustadz, bisa kita mulai sekarang? Sudah hampir maghrib." pintaku agar tak terlalu lama lagi.

Akhirnya Ustadz Furqon, mengiyakan permintaanku. Lalu ia beranjak berdiri, berbicara kepada para tetangga orang tua Farhan yang ada di teras rumahnya untuk segera pulang.

"Ya sudah, ayok kita lakukan. Semoga apa yang Nisa rencanakan ini bisa membantu menemukan keberadaan Farhan. Mudah-mudahan juga Farhan bisa pulang." jelas Ustadz Furqon.

Lalu, Mas Iko pun mengajak Pak Hasan dan Bu Wati untuk segera pulang ke rumahnya.

"Mbak Nisa, nanti mainannya itu di taruh di mana?" tanya Mas Iko sambil bersiap untuk menemani kedua orang tua Farhan untuk pulang.

"Taruh aja di dalam kamarnya ya Mas." jawabku.

"Oh, iya Mbak." dan Mas Iko pun bergegas bersama Pak Hasan dan Bu Wati pulang.

"Oh iya, gimana sama Mas Ahmad?" tanya Ustad Furqon.

"Mas Ahmad boleh bersama Ustadz Furqon buat temani saya." jawabku.

Mas Ahmad mengangguk. Dan disusul Ustadz Furqon berpamitan dengan istrinya. Lantas kami bertiga pun segera menuju ke tempat di mana terakhir kali aku mengantar Farhan pulang dari mengaji.

Selama di perjalanan, aku sedikit mengobrol dengan Ustadz Furqon dan Mas Iko.

"Ustadz, maaf, saya boleh tanya?" kataku.

"Tanya apa?" jawabnya.

"Em, saya ingin tahu sedikit tentang Mas Iko..."

"Boleh Nis..."

"Kenapa, Mas Iko tadi pas saya jelaskan tentang cara saya, dia kayak langsung paham Ustadz?"

"Oh itu... Sebenarnya Mas Iko itu alumni salah satu pondok pesantren di Jawa Timur Nisa. Dan dia sebenarnya juga gak polos tentang dunia ghoib. Malah saya juga banyak dikasih tau sama dia." jelas Ustadz Furqon.

"Oh begitu ya Ustadz..." aku langsung bisa memahami, kenapa Mas Iko tampak berbeda dengan Mas Ahmad.

"Nah, kalau Mas Ahmad ini, sama-sama alumni pondok pesantren juga. Tapi beda tempat sama Mas Iko." tambah Ustadz Furqon. Disusul anggukan kepala Mas Ahmad ke arahku.

"Saya juga kenal sama mereka berdua, ya karena saya suka ziarah ke daerah Jawa Timur. Kami bertiga ketemu waktu ada acara ziarah ke salah satu makam wali di Jawa Timur." jelas Ustadz Furqon lagi.

"Maaf Ustadz, bukan di Jawa Timur, tapi di Jawa Tengah waktu pertama kita ketemu." sanggah Mas Ahmad.

"Oh iya, maksud saya di Jawa Tengah... Hehehe..." respon Ustadz Furqon saat salah mengingat tempat awal pertemuan mereka bertiga.

"Oh begitu ya..." jawabku.

"Terus, rumah Mas Ahmad dan Mas Iko, di mana?" tanyaku.

"Sebenarnya rumah mereka berdua di Jawa Timur Nisa." jawa Ustadz Furqon.

"Wah, jauh banget. Kok bisa sering ke desa kita Ustadz?" tanyaku lagi.

"Ya begitulah namanya silaturrahmi Nisa. Walau jauh, tapi tetep mengusahakan buat ketemu dan main ke rumah saya. Ditambah juga sebenarnya saya ada rencana buat membangun pondok pesantren di Jawa Timur. Saya punya warisan tanah keluarga di sana." jelas Ustadz Furqon.

"Masyaa Alloh, Alhamdulillah, semoga bisa terwujud ya Ustadz." jawabku.

"Aamiin..." jawab Ustadz Furqon disusul juga oleh Mas Ahmad.

Selama kami bertiga berjalan dan mengobrol itu, aku melihat ada beberapa warga yang kebetulan masih di luar rumah, dan juga berpapasan dengan kami di jalan, memandang Ustadz Furqon dan Mas Ahmad dengan tatapan penuh hormat.

Namun ketika mereka melihatku, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Tampak tatapan mereka seperti ada ketakutan bercampur heran.

Mungkin ketakutan mereka berdasarkan berita hilangnya Farhan sejak tiga hari lalu. Dan aku yang menjadi topik utama berita saat kehilangan Farhan itu.

Mungkin juga keheranan mereka karena... Sedang apa Ustadz Furqon dan Mas Ahmad bersamaku. Untuk apa kami bertiga berjalan saat menjelang maghrib begini. Dan aku pun menyadari hal itu.

Selang beberapa saat, akhirnya aku, Ustadz Furqon, dan Mas Ahmad, sampai di tikungan tempat terakhir aku mengantar Farhan.

Sebuah tikungan yang tak ada lampu penerang jalan. Ada banyak pohon cukup besar di sekitarnya.

Seketika itu juga, aku mengingat jelas semuanya. Kembali teringat sosok Farhan yang berlari meninggalkanku untuk pulang ke rumahnya.

Sambil aku menatap lurus ke arah jalan setapak di hadapan kami bertiga. Dengan pohon-pohon cukup besar di kanan kirinya. Tanpa adanya lampu penerang jalan. Tampak semakin gelap jalan setapak itu saat menjelang maghrib begini.

"Ustadz, Mas Ahmad, boleh saya minta bunga kantil yang tadi udah dibawa?" kataku.

"Oh, iya Mbak, ini bunganya..." Mas Ahmad mengeluarkan tiga buah bunga kantil putih dari dalam saku bajunya. Dan menyerahkannya padaku.

Sejenak aku memandang jalan setapak yang lurus itu, lalu menatap Ustadz Furqon dan Mas Ahmad lagi.

"Ustadz, Mas, saya akan duduk di tengah jalan itu. Dan Ustadz sama Mas Ahmad, cukup mengawasi saya aja di sini. Oh ya, sambil bantu saya, baca surat Al Fatihah selama saya masih duduk nanti ya." jelasku.

Sontak, Ustadz Furqon dan Mas Ahmad saling bertukar pandang keheranan.

"Apa gak kami temenin aja Mbak? Jalanannya udah lumayan gelap itu." kata Mas Ahmad.

"Iya Nisa, gak apa-apa emang kamu sendirian di tengah sana?" tambah Ustadz Furqon.

"Gak apa-apa... Cukup awasi saya aja dari sini, sambil terus baca Al Fatihah." jawabku.

"Ya sudah, kami tunggu di sini. Dan, kamu hati-hati ya Nisa... Teriak aja kalau ada apa-apa nanti." kata Ustadz Furqon.

Aku mengangguk. Dan segera berjalan perlahan...

Menuju ke tengah jalan setapak yang semakin gelap karena waktu maghrib sudah tiba.

Aku melangkah perlahan...

"Bismillahirrohmanirrohim..." ucapku pelan.

Lalu...

Wuuussshhh...

Angin berhembus secara tiba-tiba menerpa tubuhku perlahan. Dengan hawa dingin yang terasa berbeda di tubuhku...

Semakin aku berjalan, terdengar lagi di telingaku...

"Hahaha... Haha... Hihihihi..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!