NovelToon NovelToon
Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Ditakdirkan Menjadi Ratu Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Manusia Serigala / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”

“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.

“Sebagai manusia.”

“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”

“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”

999 tahun pencarian....

“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”

PLAK!

“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.

Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Tugas Khusus Untuk Denzel

“Jadi biar aku pastikan,” kata Ragnar. “Kemungkinan reinkarnasi pemimpin murni sihir hitam dan reinkarnasi Ratu… memalak tangan kanan sang Raja vampire hanya karena kau merusak ponselnya?”

Dorian menutup mulutnya, gagal menahan senyum. “Dengan segala hormat, Tuanku, ini jauh lebih menarik daripada klaim reinkarnasi yang dilakukan para sisa pengikut sihir hitam. Hahaha….”

“Diam kau, Dorian?” sembur Denzel yang semakin kesal karena menjadi bahan tertawaan.

Tingg….

Sebuah notifikasi pembayaran dari kartu blackcard nya yang terhubung dengan email miliknya tiba-tiba masuk memecah keheningan. “Lihatlah? Mereka bahkan membeli ponsel dengan harga lumayan fantastis. Aku rasa dia memanfaatkan situasi dengan membeli ponsel dengan keluaran terbaru.”

Bukti pembayaran itu Denzel perlihatkan secara bergantian kepada Ragnar dan Dorian. Awalnya Ragnar tak bereaksi apapun, mengingat Denzel tidak akan langsung jatuh miskin hanya karena uangnya digunakan untuk membeli sebuah ponsel. Sampai tiba-tiba sebuah ide berlian terlintas di benaknya.

“Denzel, sepertinya aku memiliki tugas baru lagi untukmu,” ujar Ragnar dengan senyuman penuh makna dibaliknya. “Sebuah tugas yang hanya bisa dilakukan oleh dirimu saja.”

Dorian terkekeh. “Sepertinya aku bisa tebak bahwa tugas itu akan membuat Denzel berakhir sepertiku.”

“A-apa?” tanya Denzel dengan perasaan tidak enak yang tiba-tiba muncul di hatinya.

“Buat reinkarnasi pemilik murni sihir hitam berada di pihak kita,” kata Ragnar menggantung. “Dengan cara… kau mendekatinya.”

“A-APA?!”

“Apa kau sudah gila? Mengawasinya saja aku sebenarnya tidak sudi. Lalu sekarang… kau menyuruhku mendekatinya? Jangan harap aku akan melakukan itu,” tolak Denzel mentah-mentah.

Dorian tertawa lagi, lalu beranjak dari posisi duduknya menghampiri Denzel yang masih berdiri kesal ditempatnya. “Keputusan yang tepat, Yang Mulia. Kita gunakan Denzel saja untuk membuat Elena berada di pihak kita.”

“Lebih baik kau tutup mulutmu itu, sebelum aku menggunakan kekuatan sihirku untuk menutup mulutmu selamanya,” ancam Denzel.

“Ck, galak sekali. Berakhir bucin baru tahu rasa,” gumam Dorian sinis.

“Apa katamu?!” Denzel semakin geram.

“Sudahlah, Denzel! Untuk kali saja aku mohon padamu untuk berkorban sedikit saja. Tidak perlu sampai dia jatuh cinta padamu, hanya sebatas dia mau berdiri di pihak kita saja agar peperangan di kehidupan selanjutnya tidak terulang lagi,” pinta Ragnar dengan wajah memohon yang tidak pernah ia lakukan selama ini.

“Aish, Sial sekali! Kenapa aku yang selalu kena ‘sih? Dulu digosipkan sebagai kekasihmu, sekarang harus mendekati musuhku sendiri,” gerutu Denzel yang hanya bisa pasrah, tak mampu menolak permintaan rajanya jika sudah seperti ini.

“Terima saja, mungkin memang dia sudah ditakdirkan menjadi jodohmu di kehidupan ini,” celetuk Dorian seolah menyiramkan bensin di atas bara api.

“Diam kau!” bentak Denzel dengan tatapan sengitnya.

...****************...

Pintu geser perusahaan itu terbuka dengan desis halus, seolah menyambut kepulangan dua orang yang seharusnya tak pernah pergi atau mungkin, pulang membawa kekacauan baru. Ivory melangkah lebih dulu, ponsel keluaran terbaru masih hangat di genggaman, kilau layarnya memantulkan cahaya lampu kristal di lobi.

Di belakangnya, Elena berjalan santai, senyum kecil tersungging seakan dunia baru saja memberinya lelucon paling mahal dan mereka memenangkannya. Uang hasil “palak” dari Denzel, orang kepercayaan Bos gilanya terasa seperti dosa yang dibungkus kotak elegan.

Namun begitu kaki mereka menyentuh marmer hitam berukir lambang perusahaan, udara berubah. Sunyi menjadi terlalu sunyi. Para pegawai menunduk lebih cepat dari biasanya. Bisikan-bisikan yang biasa berani melintas kini lenyap, seperti disedot sesuatu yang tak kasatmata. Ivory jelas merasakan tengkuknya meremang sebelum ia sempat mengangkat kepala.

Siapa sangka Bos Gilanya—Tuan Rowan bersama Denzel dan Dorian kini sudah berdiri di ujung lobi… seolah menunggu kedatangan mereka berdua. Matanya seolah terlihat merah gelap, tenang, dan berbahaya yang tak lagi menyapu ruangan.

Tatapan itu terkunci padanya. Bukan tatapan penguasa yang menilai bawahan, melainkan sesuatu yang lebih personal, lebih lama, seolah setiap tarikan napasnya dicatat dan disimpan. Sudut bibir Bos Gila itu terangkat tipis, senyum yang tidak dimaksudkan untuk siapa pun selain dirinya.

“Kalian sudah kembali,” ucapnya pelan. Terlalu pelan untuk disebut formal, terlalu dekat untuk sekadar basa-basi.

Ivory hanya mampu menelan ludah. Ada sejuta hal ingin ia katakan, tapi perhatian itu menekannya seperti bayangan panjang yang tak bisa dihindari, tak bisa dilangkahi. Dalam hatinya berkata, “Kali ini apalagi yang akan Bos Gila itu lakukan?”

Di sisinya, Denzel yang merupakan orang kepercayaan Ragnar sekaligus korban palak mereka beberapa saat yang lalu tengah berdiri dengan tubuh tegang. Jasnya rapi, wajahnya datar namun mata itu, mata yang sama yang tadi diperas tanpa ampun, kini tertuju pada kakaknya—Elena. Perhatiannya jelas. Terlalu jelas. Dan terlalu dipaksakan. Ada sesuatu yang mengekang sikapnya seperti mantra, perintah, atau hutang yang tak terlihat.

Elena langsung menangkap maksud tatapan itu dalam satu detik.

“Oh?” katanya ringan, melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya sejengkal. “Apakah kau baru saja mengadu padanya bahwa kau baru saja dipalak oleh kami berdua? Tapi kau tidak lupa, bukan? Bahwa kau yang merusak ponsel milikku duluan.”

Denzel menghela napas perlahan. Urat di rahangnya menegang. “Jangan mulai,” ucapnya lirih, seperti peringatan untuk dirinya sendiri. “Kau sudah mendapatkan ponselmu kembali, jadi… kembalikan kartuku sekarang.”

Elena tersenyum lebih lebar. “Mulai apa? Nih, aku kembalikan padamu.” Ia mengangkat alis, pura-pura polos. “Sebaiknya mulai sekarang kau menjaga jarak dariku atau… lain kali aku tidak hanya menggunakan kartumu ini hanya untuk membeli sebuah ponsel. Tapi aku akan mengurasnya sampai tak tersisa sepeser pun.” Bisiknya.

Jari-jari Denzel mengepal di balik saku celananya. Aura sihir berdesir, tipis namun tajam, cukup untuk membuat lampu di sekitar mereka bergetar halus. “Berani kau melakukannya, maka aku tidak segan membunuhmu.”

“Lakukan saja… itupun kalau kau memang bisa melakukannya.” balasnya cepat, condong sedikit ke depan. “Kau menahan diri dengan sangat manis, Tuan Denzel Hetherington.”

Setelah mengatakan itu, Elena berlenggang pergi begitu saja menuju ruangan tempat kerjanya berada. Seketika, udara di sana menegang seperti senar yang ditarik terlalu jauh. Ragnar yang menyadari perubahan energi itu segera melirik sekilas, senyum di wajahnya semakin dalam, seakan menikmati simfoni ketegangan yang Denzel ciptakan tanpa perlu mengangkat tangan.

“Kalian melihatnya sendiri bagaimana kelakuannya, bukan? Lalu kau ingin aku….”

“Kau apa?” Potong Ivory yang masih berada di sana. “Kalian tidak sedang merencanakan sesuatu terhadap kakakku, bukan?”

“Mana mungkin,” jawab Ragnar dengan cepat.

“Aku sudah mendengar seluruh cerita tentang kejadiannya. Dan memang benar, itu kesalahan Denzel. Sudah sepantasnya dia mengganti rugi ponsel milik kakakmu yang sudah dirusaknya.”

“Yang mulia kau—”

“Denzel, tahan dirimu. Sebaiknya kau pikirkan cara untuk mendekati wanita itu. Aku rasa tugasmu kali ini cukup berat,” Dorian langsung membungkam mulut Denzel agar tidak mengatakan apapun.

Bersambung ….

1
Fahmi Ardiansyah
ku tunggu kelanjutannya kak semangat terus ya
Desyi Alawiyah
Lanjut kak Author.. Semoga sehat selalu.. 🙏🥰
Fahmi Ardiansyah
iya terserah kmu ivori
Desyi Alawiyah
Sangat menarik dan luar biasa.. 😇
Desyi Alawiyah
Lanjut kak Author, makasih udah up.. 🙏
Desyi Alawiyah
Aku juga nurut kamu Ivory, terserah kamu mau melakukan apapun... Yang penting kamu dan Elena baik-baik saja...

Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..

Iya ngga sih... 😩
Desyi Alawiyah
Lanjut lagi dong kak...

Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋

Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Desyi Alawiyah
Oh, begitu ceritanya...

Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Fahmi Ardiansyah
lanjut kak.
Cindy
lanjut kak
Desyi Alawiyah
Update lagi dong Kak.. 🤭🙏
Fahmi Ardiansyah
tu ratumu LG marah Ragnar n susah di redamkan.
Desyi Alawiyah
Nggantung lagi ceritanya..

Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔
Desyi Alawiyah
Nah loh Ragnar, reinkarnasi Ratu mu marah tuh... Kamu sih pake bohong segala... 🤭
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Fahmi Ardiansyah
ya tunggu aja bentar LG pulng kok adkmu.tpi jgn kaget entar klu nyampek rumah cemberut n marah.
Fahmi Ardiansyah
ya iyalah seharusnya lukanya yg lebih parah LG n pertahankan agar lukanya gak hilng Ragnar skrg ivory merasa tertipu aku pastikan besok ivory pasti masih kecewa n marah.
Fahmi Ardiansyah
yaelah Ragnar caper bisa2 ivory malah merasa bersalah tu.
Fahmi Ardiansyah
aku senang cerita nya tambah seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!