NovelToon NovelToon
Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Status: tamat
Genre:Misteri / Bad Boy / Romansa / Tamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Mahkota Tak Kasat Mata

Sisa-sisa aroma mesiu dan debu pelabuhan masih terasa di paru-paru Lia saat ia duduk di markas utama Black Roses. Tempat ini bukanlah gudang kotor seperti yang ia bayangkan, melainkan sebuah bengkel modifikasi besar yang bagian atasnya disulap menjadi ruang santai yang luas dengan sofa-sofa kulit dan meja biliar.

Malam itu, suasana markas yang biasanya bising dengan suara tawa kasar dan musik rock, mendadak senyap. Puluhan anggota geng, pria-pria bertato dengan tampang garang yang dulu membuat Lia gemetar, kini berdiri berjajar di sepanjang dinding. Mata mereka semua tertuju pada satu titik: Lia yang sedang duduk di sofa, sementara Devan berlutut di depannya.

"Tahan sebentar, ini akan sedikit perih," bisik Devan lembut.

Ia menggunakan kapas yang sudah dibasahi alkohol untuk membersihkan goresan di pipi Lia akibat serpihan kaca di gudang tadi. Tangan Devan yang biasanya digunakan untuk menghantam musuh, kini bergerak dengan ketelitian seorang pemahat. Ia sangat berhati-hati, seolah-olah kulit Lia terbuat dari porselen yang bisa retak kapan saja.

Lia meringis kecil, dan secara otomatis, beberapa anggota geng di belakang Devan ikut mengernyitkan wajah seolah mereka juga merasakan sakitnya.

"Selesai," kata Devan. Ia menempelkan plester kecil bergambar kartun—entah dari mana ia mendapatkannya—ke pipi Lia.

Devan kemudian berdiri dan berbalik menghadap anak buahnya. Auranya berubah seketika; dari pria yang penuh kasih menjadi pemimpin yang tak terbantahkan.

"Dengarkan semuanya!" suara Devan menggelegar. "Malam ini, kalian melihat sendiri. Gadis ini, yang kalian anggap lemah, yang kalian sebut culun... dia datang ke neraka pelabuhan hanya untuk memastikan kita semua selamat. Dia memanggil polisi di saat yang tepat dan menyabotase musuh. Tanpa dia, mungkin aku tidak akan berdiri di sini sekarang."

Baron maju ke depan, ia melepas rompi kulitnya yang penuh emblem dan membungkuk hormat di depan Lia. Tindakan itu diikuti oleh anggota lainnya.

"Maafkan kami karena sempat meragukanmu, Nona Lia," kata Baron tulus. "Mulai hari ini, kamu bukan hanya pacar ketua kami. Kamu adalah bagian dari keluarga ini. Siapa pun yang berurusan denganmu, berarti menantang seluruh mawar hitam."

Lia merasa tenggorokannya tercekat. Ia yang selama ini selalu merasa terasing di kampus, kini justru merasa diterima di tempat yang paling tidak terduga. Ia melihat ke arah Devan, yang sedang menatapnya dengan bangga.

Namun, ketenangan itu terusik saat Lia teringat sesuatu. "Devan... bagaimana dengan ayahku?"

"Dia aman, Lia," jawab Devan sambil duduk di sampingnya, merangkul bahu Lia dengan posesif.

"Anggotaku sudah mengantarnya ke hotel yang dijaga ketat. Dia hanya tahu ada gangguan keamanan di lingkungannya dan polisi sedang menanganinya. Dia tidak tahu tentang keterlibatan The Vipers... atau aku."

Lia menghela napas lega. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Devan. Kelelahan yang luar biasa mulai menyerangnya. "Aku ingin semuanya kembali normal, Devan. Aku ingin kembali ke perpustakaan."

Devan terdiam sejenak. Ia mencium pelipis Lia.

"Besok, aku akan mengantarmu. Tapi jangan harap kamu bisa duduk sendirian lagi. Aku akan ada di sana, di kursi seberangmu, meski aku harus berpura-pura membaca buku sejarah yang membosankan itu."

Lia tertawa kecil. "Kamu benar-benar akan membaca?"

"Mungkin aku hanya akan melihat gambarnya saja," goda Devan.

Malam semakin larut. Satu per satu anggota geng mulai membubarkan diri untuk beristirahat atau kembali bekerja di bengkel bawah. Devan membawa Lia ke balkon markas yang menghadap ke jalanan kota. Cahaya lampu neon berwarna-warni memantul di mata Devan.

"Lia," panggil Devan pelan. Suaranya terdengar berbeda, lebih berat dan penuh keraguan.

"Ya?"

"Terima kasih sudah menyelamatkanku. Bukan hanya di pelabuhan, tapi... menyelamatkanku dari diriku sendiri." Devan menatap tangan Lia yang masih memegang gantungan kunci motor pemberiannya. "Aku tahu aku bukan pria ideal untukmu. Aku punya masa lalu yang kelam dan masa depan yang tidak pasti."

Lia menatap Devan lekat-lekat. Ia melihat kerentanan di balik mata hitam yang tajam itu. "Aku tidak mencari pria yang sempurna, Devan. Aku mencari seseorang yang membuatku merasa berani menjadi diriku sendiri. Dan orang itu adalah kamu."

Devan mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Lia. Lia bisa merasakan napas hangat Devan yang berbau kopi. Jantungnya berpacu lebih cepat dari deru mesin motor. Ia mengira Devan akan menciumnya, namun Devan justru menjauhkan wajahnya sedikit, tampak berperang dengan pikirannya sendiri.

"Istirahatlah, Lia. Besok adalah hari yang besar," kata Devan sambil mengusap rambut Lia.

Lia merasa ada sesuatu yang tertahan. Ia tahu Devan ingin mengatakan sesuatu yang lebih, namun pria itu tampaknya masih ragu. Apakah Devan takut jika ia melangkah lebih jauh, ia akan benar-benar mengikat Lia dalam dunianya yang berbahaya selamanya?

Lia masuk ke kamar tamu yang sudah disiapkan dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, esok hari, segalanya akan berubah. Status mereka yang selama ini menggantung di antara "pelindung" dan "gadis yang dilindungi" harus segera menemukan jawabannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!