Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Sekte Awan Putih (Jalur lurus tapi sombong dan buta) vs Sekte Iblis Langit (Jalur sesat tapi menghargai kekuatan).
Lin Xiao menyeringai. Pilihan yang menarik.
"Maaf, Senior Cantik," kata Lin Xiao, membuat semua orang ternganga karena keberaniannya menggoda penyihir iblis. "Tapi aku punya urusan di Sekte Awan Putih. Ada 'sesuatu' di sana yang harus aku ambil."
(Sesuatu itu adalah pecahan peta lain yang pernah dia dengar di kehidupan masa lalunya).
Tetua Mo mendengus. "Bagus kau masih punya otak. Menolak jalan sesat."
Wanita berbaju merah itu tidak marah. Dia malah terkikik geli.
"Menarik. Kau menolakku? Baiklah. Tapi ingat wajahku, Adik Kecil. Namaku Ji Rou. Suatu hari nanti, kau akan datang mencariku ketika kau bosan dengan kemunafikan 'jalan lurus' mereka."
Dengan satu kibasan tangan, wanita itu berubah menjadi kepulan asap merah dan menghilang tanpa jejak, meninggalkan aroma bunga yang memabukkan.
Lin Xiao kembali menatap Tetua Mo.
"Tetua, saya terima posisi Murid Luar Sekte Awan Putih."
Tetua Mo mengangguk acuh tak acuh. "Naik ke atas Bangau. Kita berangkat sekarang."
Lin Xiao berbalik. Dia melihat ayahnya di kejauhan. Lin Hai mengacungkan jempol dengan mata berkaca-kaca.
Lin Xiao mengangguk. Dia melompat naik ke punggung Bangau Raksasa itu, berdiri di samping Su Mei yang akan pergi ke arah berbeda (Istana Bunga Es).
"Sampai jumpa di Puncak, Lin Xiao," kata Su Mei, mengulurkan tangannya.
"Sampai jumpa," Lin Xiao menjabat tangan gadis itu.
Bangau Raksasa itu mengepakkan sayapnya. Angin kencang menderu. Dalam hitungan detik, Kota Batu Hijau menjadi titik kecil di bawah mereka.
Lin Xiao menatap awan yang berlalu.
Arc Kota Batu Hijau telah berakhir. Kini, dia menuju Sekte Awan Putih. Tempat di mana persaingan sesungguhnya, intrik politik tingkat tinggi, dan para jenius sejati berkumpul.
Sang Naga telah meninggalkan kolam kecilnya. Samudra luas menanti untuk diobrak-abrik.
Angin kencang menderu di telinga, namun pemandangan yang terhampar di bawah membuat siapa pun lupa untuk bernapas.
Sekte Awan Putih tidak terletak di atas tanah biasa. Sekte ini dibangun di atas gugusan pegunungan yang puncaknya menembus awan. Yang paling menakjubkan, beberapa puncak gunung itu melayang di udara, terikat oleh rantai-rantai besi raksasa yang dialiri energi formasi bercahaya biru.
Air terjun jatuh dari pulau-pulau melayang itu, berubah menjadi kabut sebelum menyentuh tanah ribuan meter di bawahnya. Burung-burung bangau terbang beriringan, dan suara lonceng kuil terdengar sayup-sayup membawa kedamaian.
"Ini... ini tempat tinggal para Dewa?" gumam salah satu murid baru dengan mata berkaca-kaca.
Bagi mereka yang berasal dari kota kecil seperti Kota Batu Hijau, pemandangan ini melampaui imajinasi terliar mereka. Energi spiritual di sini begitu padat hingga setiap tarikan napas terasa menyegarkan paru-paru.
Lin Xiao berdiri di punggung Bangau Raksasa, tangannya bersedekap. Wajahnya tenang, namun matanya mengamati struktur pertahanan sekte.
"Formasi Awan Pengunci Langit," analisis Lin Xiao dalam hati. "Tingkat 4. Cukup kuat untuk menahan serangan ahli Ranah Jiwa Nascent (Nascent Soul). Tidak buruk untuk sekte kelas menengah."
Bangau Raksasa itu mulai menukik turun, mendarat di sebuah alun-alun batu putih yang luas di kaki gunung utama.
"Turun!" perintah Tetua Mo.
Lin Xiao dan sembilan murid baru lainnya melompat turun. Begitu kaki mereka menyentuh tanah, mereka langsung merasakan tekanan berat. Di alun-alun itu, ratusan murid berseragam abu-abu (Murid Luar) sedang berlatih pedang. Teriakan mereka serempak, menciptakan gelombang suara yang menggetarkan.
Tetua Mo tidak membuang waktu. Dia menoleh ke arah seorang pria paruh baya bertubuh gemuk dengan kumis tipis yang sedang menunggu sambil tersenyum menjilat.
"Diaken Zhao, ini kumpulan sampah... maksudku, murid baru tahun ini. Urus pendaftaran mereka. Aku harus melapor ke Ketua Sekte."
"Siap, Tetua Mo! Serahkan pada saya!" Diaken Zhao membungkuk dalam-dalam.
Setelah Tetua Mo pergi terbang dengan bangaunya, senyum ramah di wajah Diaken Zhao seketika lenyap. Dia menegakkan tubuh, menatap sepuluh murid baru itu dengan tatapan meremehkan, seperti pedagang yang melihat barang cacat.
"Dengar baik-baik, tikus-tikus kecil!" suara Diaken Zhao melengking. "Di kota asal kalian, mungkin kalian dianggap genius. Tapi di Sekte Awan Putih, kalian adalah kasta terendah. Di sini, naga harus melingkar, harimau harus mendekam!"
Dia berjalan mondar-mandir di depan barisan.
"Langkah pertama: Pendaftaran dan Pembagian Tugas. Ingat, Sekte tidak memelihara pemalas. Setiap Murid Luar wajib bekerja untuk mendapatkan 'Poin Kontribusi'. Tanpa poin, kalian tidak dapat sumber daya kultivasi, tidak dapat teknik baru, dan tidak dapat makan!"
Diaken Zhao berhenti, lalu menggosok-gosokkan jari telunjuk dan jempolnya—gestur universal meminta uang.
"Nah, tugas di sekte bermacam-macam. Ada tugas 'basah' yang santai dan menghasilkan banyak poin, ada tugas 'kering' yang berat dan berbahaya. Sebagai Diaken yang baik hati, aku bisa membantu kalian memilih tugas yang... cocok... jika kalian mengerti maksudku."
Para murid baru itu bukan orang bodoh. Mereka segera mengerti.
Lin Hong, sepupu Lin Xiao, adalah yang pertama bergerak. Dia maju selangkah dengan senyum lebar, lalu menyelipkan sebuah kantong berat ke tangan Diaken Zhao.
"Diaken Zhao, ini sedikit oleh-oleh dari kampung halaman saya. Mohon bimbingannya."
Diaken Zhao menimbang kantong itu. Bunyi gemerincing emas terdengar. Senyumnya kembali merekah.
"Bagus! Kau punya masa depan cerah, Nak. Siapa namamu? Lin Hong? Baiklah, Lin Hong ditugaskan di Paviliun Penukaran Harta. Tugasmu mencatat inventaris. Tempatnya sejuk, aman, dan poinnya tinggi."
Murid-murid lain menelan ludah iri. Paviliun Penukaran Harta adalah tempat terbaik! Bisa melihat banyak senjata hebat dan menjalin koneksi dengan murid senior.
Melihat itu, murid-murid lain buru-buru merogoh saku mereka, memberikan apa pun yang mereka punya. Ada yang memberi uang, perhiasan, bahkan pusaka keluarga.
Satu per satu mendapat tugas yang layak: Penjaga Perpustakaan, Pengawas Dapur, Pengurus Kandang Bangau.
Akhirnya, giliran Lin Xiao.
Diaken Zhao berdiri di depan Lin Xiao, menengadahkan tangannya dengan angkuh. "Giliranmu. Apa yang kau bawa?"
Lin Xiao menatap tangan gemuk itu, lalu menatap wajah Diaken Zhao.
"Aku tidak bawa apa-apa," jawab Lin Xiao datar.
Hening. Lin Hong di barisan belakang menahan tawa mengejek. Dasar bodoh. Masih saja sombong di kandang singa.
Alis Diaken Zhao berkedut. "Tidak bawa apa-apa? Atau tidak mau memberi apa-apa?"
"Sekte Awan Putih adalah sekte lurus," kata Lin Xiao dengan suara cukup keras. "Saya yakin pembagian tugas didasarkan pada kemampuan, bukan suap. Benar kan, Diaken?"
Wajah Diaken Zhao memerah padam. Bocah ini baru saja menampar wajahnya secara halus di depan banyak orang. Mengatakan itu suap secara terbuka sama saja menuduhnya korupsi (meskipun itu rahasia umum).
"Bagus... Bagus sekali," Diaken Zhao tertawa dingin, matanya memancarkan kebencian. "Kau benar. Sangat lurus. Karena kau memiliki 'kemampuan' fisik yang kuat—kudengar kau pengguna pedang berat—aku punya tugas spesial untukmu."
Diaken Zhao mengambil token kayu hitam yang terlihat kusam dan melemparnya ke dada Lin Xiao.
"Puncak Obat Spirit - Kebun Herbal Nomor 9."