NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

"Mobil hitam itu sudah mengikuti kita sejak dari lobi kantor, Lan."

Maya berbisik sambil melirik kaca spion taksi daring yang mereka tumpangi menuju bandara. Arlan tidak menoleh sama sekali dan tetap fokus menatap layar tablet yang menampilkan grafik pergerakan saham Mitra Desa.

"Biarkan saja, Mbak Maya, mereka tidak akan berani melakukan apa-apa di tempat umum," jawab Arlan dengan nada suara yang sangat tenang.

{Aku tahu itu orang suruhan Wirawan, tapi sistem sudah mengunci jalur pelarian jika terjadi sesuatu.}

"Kamu terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru saja diancam oleh paman Tegar," sahut Maya sambil meremas tali tasnya dengan sangat kuat.

"Ketakutan hanya akan membuat analisis kita menjadi kacau, Mbak," balas Arlan sambil menutup aplikasi sahamnya.

[Peringatan: Kendaraan di belakang teridentifikasi milik perusahaan keamanan swasta 'Black Shield'] [Saran: Tetap di dalam taksi hingga mencapai zona pengamanan ketat bandara]

"Arlan, kenapa kamu mendadak meminta sopir ini melaju lebih cepat?" tanya Maya saat merasakan guncangan mobil yang meningkat.

"Hanya ingin memastikan kita tidak tertinggal pesawat ke desa, Mbak," jawab Arlan singkat tanpa memberikan penjelasan tambahan.

Sesampainya di bandara, Arlan segera menarik koper kecilnya dan memandu Maya menuju pintu keberangkatan VIP. Siska sudah berdiri di sana dengan dua buah tiket di tangannya dan wajah yang terlihat sangat cemas.

"Syukurlah kalian sampai juga, Pak Pratama sudah menyiapkan semuanya," ucap Siska sambil menyerahkan tiket tersebut kepada Arlan.

"Mbak Siska tidak ikut bersama kami ke desa?" tanya Arlan sambil memeriksa detail penerbangan tersebut.

"Aku harus tetap di sini untuk memantau pergerakan audit internal, Lan," jawab Siska dengan suara yang sangat pelan.

"Hati-hati, Siska, Wirawan sudah bebas dan dia terlihat sangat marah," potong Maya sambil memeluk rekan kerjanya itu.

"Dia tidak akan menyentuhku di divisi HRD, tapi kalian yang berada di lapangan harus sangat waspada," balas Siska dengan nada penuh peringatan.

Arlan melangkah masuk ke dalam pesawat kecil khusus yang telah disewa oleh Megantara Group. Di dalam kabin, dia duduk bersandar sambil kembali membuka panduan sistem di depan matanya.

[Misi Dimulai: Penyelamatan Mitra Desa] [Target Utama: Bertemu dengan CEO Mitra Desa, Pak Haris] [Status Perusahaan: Hutang 2 Miliar Rupiah, Aset Teknologi Tersembunyi senilai 10 Miliar Rupiah]

"Mbak Maya, apa Mbak tahu kenapa Mitra Desa sampai hampir bangkrut?" tanya Arlan saat pesawat mulai lepas landas.

"Manajemen yang buruk dan sabotase dari kompetitor lokal, Lan," jawab Maya sambil membuka laptopnya sendiri.

"Siapa kompetitor lokal yang Mbak maksud itu?" tanya Arlan lagi dengan rasa penasaran yang besar.

"Logistik Nusantara, sebuah perusahaan yang ternyata juga memiliki keterkaitan dengan keluarga Wirawan," jelas Maya dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

{Ternyata akar masalahnya tetap tertuju pada orang yang sama, Wirawan tidak akan membiarkan aku mengambil Mitra Desa begitu saja.}

Dua jam kemudian, pesawat mendarat di bandara kecil di daerah asal Arlan. Udara panas langsung menyambut mereka saat mereka menuruni tangga pesawat menuju mobil jemputan.

"Selamat datang kembali, Mas Arlan," sapa seorang pria paruh baya dengan pakaian sederhana yang berdiri di samping mobil operasional Mitra Desa.

"Pak Haris? Terima kasih sudah menjemput kami secara langsung," ucap Arlan sambil menyalami pria tersebut dengan hormat.

"Kami sudah tidak punya sopir lagi, Mas, semua karyawan sudah berhenti karena gaji menunggak tiga bulan," jawab Pak Haris dengan senyum yang sangat getir.

"Jangan khawatir, Pak, Megantara Group datang ke sini untuk memberikan solusi," sahut Arlan sambil masuk ke dalam mobil.

"Bukan Megantara yang saya harapkan, Mas, tapi kejujuran Anda seperti yang diceritakan Pak Pratama," balas Pak Haris sambil mulai menjalankan mobilnya.

Di sepanjang jalan menuju kantor Mitra Desa, Arlan melihat banyak spanduk bertuliskan 'Dijual' di depan gudang-gudang logistik kecil.

"Daerah ini sudah dikuasai oleh Logistik Nusantara dengan cara yang sangat kotor, Mas Arlan," ucap Pak Haris sambil menunjuk ke arah sebuah gudang besar dengan logo burung garuda biru.

"Cara kotor seperti apa yang Bapak maksudkan itu?" tanya Maya yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka.

"Mereka mengintimidasi para pemilik lahan jalur pintas dan menaikkan tarif sewa secara sepihak," jelas Pak Haris dengan nada suara yang penuh dengan kekecewaan.

[Analisis Lokasi: Terdeteksi blokade jalan pada koordinat 500 meter di depan] [Status: Upaya pencegatan oleh preman lokal suruhan Logistik Nusantara]

"Pak Haris, tolong berhenti di depan warung itu sekarang juga!" perintah Arlan dengan nada yang sangat tegas.

"Ada apa, Lan? Kita belum sampai di kantor," tanya Maya dengan wajah yang bingung.

"Ada yang sedang menunggu kita di depan sana, dan saya tidak ingin mobil ini hancur," jawab Arlan sambil menunjuk ke arah sekumpulan pria berbadan besar yang menutupi jalan dengan kayu-kayu besar.

"Itu orang-orang suruhan Logistik Nusantara!" teriak Pak Haris sambil menginjak rem dengan sangat mendadak.

Arlan membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan sangat tenang, meskipun Maya mencoba menahannya.

"Arlan, jangan gila! Mereka membawa senjata tumpul!" teriak Maya dari dalam mobil yang masih terkunci.

Arlan tetap berjalan mendekati sekumpulan preman itu sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya.

"Siapa bos kalian? Katakan padanya bahwa Arlan Dirgantara ingin bicara," ucap Arlan dengan suara yang sangat lantang dan penuh percaya diri.

Salah satu preman yang paling besar maju dan meludah ke tanah tepat di depan sepatu Arlan.

"Kami tidak butuh bicara, kami hanya butuh kamu pergi dari daerah ini sekarang juga!" teriak preman itu sambil mengangkat balok kayu.

"Bagaimana kalau saya tawarkan uang sepuluh kali lipat dari apa yang diberikan Logistik Nusantara kepada kalian hari ini?" tanya Arlan sambil menunjukkan saldo rekening di layar ponselnya.

Para preman itu mendadak terdiam dan saling berpandangan satu sama lain dengan wajah yang ragu.

"Sepuluh kali lipat? Kamu jangan membual, bocah!" sahut preman lain yang berdiri di belakang.

"Cek ponsel kalian masing-masing dalam sepuluh detik, saya sudah mengirimkan uang muka melalui dompet digital untuk kalian semua," ucap Arlan sambil tersenyum tipis.

[Sistem: Transfer Berhasil Dikirim ke Seluruh Nomor Aktif di Area Ini menggunakan Dana Taktis Megantara]

Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar secara serempak dari saku celana para preman tersebut. Mereka semua segera mengeluarkan ponsel dan mata mereka terbelalak melihat nominal yang masuk ke dalam saldo mereka.

"Gila! Ini beneran uang asli!" teriak salah satu dari mereka dengan wajah yang sangat kegirangan.

"Buka jalannya sekarang, atau saya batalkan sisa pembayarannya," ucap Arlan dengan nada yang sangat dingin dan mengintimidasi.

Tanpa banyak bicara lagi, para preman itu segera menyingkirkan kayu-kayu besar yang menutupi jalan dan memberikan jalan bagi mobil Arlan.

"Luar biasa... bagaimana kamu bisa tahu nomor ponsel mereka semua, Arlan?" tanya Maya saat Arlan kembali masuk ke dalam mobil.

"Teknologi analis data Megantara sangat canggih, Mbak, saya hanya memanfaatkan apa yang ada," jawab Arlan berbohong untuk menyembunyikan peran sistemnya.

Pak Haris menatap Arlan dari kaca spion dengan tatapan yang sangat kagum sekaligus takut. "Anda benar-benar bukan orang biasa, Mas Arlan."

Sesampainya di kantor Mitra Desa yang tampak sangat kusam, Arlan langsung menuju ke ruang server utama yang berdebu.

"Pak Haris, tunjukkan kepada saya di mana Bapak menyimpan kode enkripsi jalur darat yang belum dipublikasikan itu," ucap Arlan tanpa basa-basi lagi.

Pak Haris terkejut dan wajahnya mendadak menjadi sangat pucat. "Bagaimana Anda bisa tahu soal kode rahasia itu? Hanya saya dan almarhum pendiri yang tahu soal itu!"

"Saya sudah katakan, Pak, saya datang ke sini untuk menyelamatkan aset yang paling berharga milik Bapak sebelum Wirawan mengambilnya secara paksa," jawab Arlan sambil menyalakan komputer utama.

Tiba-tiba, suara sirine polisi terdengar mendekat ke arah kantor Mitra Desa. Maya berlari menuju jendela dan wajahnya berubah menjadi sangat tegang.

"Arlan! Itu bukan cuma polisi, ada Pak Wirawan juga di dalam salah satu mobil mewah itu!" teriak Maya dengan suara yang sangat gemetar.

"Tenang, Mbak Maya, mereka tidak punya surat izin untuk masuk ke area pribadi ini," jawab Arlan sambil terus mengetik kode di layar komputer.

Pintu kantor digedor dengan sangat keras dari luar. Suara Pak Wirawan yang sangat dikenali Arlan terdengar berteriak dengan penuh amarah.

"Buka pintunya, Arlan! Saya tahu kamu sedang mencoba mencuri rahasia dagang di dalam sana!"

Arlan tidak menoleh sedikit pun. Jarinya bergerak sangat cepat di atas keyboard.

[Proses Pemindahan Paten Teknologi: 90%... 95%... 99%...]

"Pak Haris, tanda tangani dokumen digital ini sekarang juga, atau semuanya akan hilang selamanya!" perintah Arlan sambil menunjuk ke arah layar monitor.

Tepat saat Pak Haris menekan tombol konfirmasi, pintu depan kantor hancur berkeping-keping akibat hantaman benda keras.

"Selesai," bisik Arlan sambil mencabut flashdisk-nya dan berdiri menghadapi Pak Wirawan yang baru saja melangkah masuk dengan wajah yang merah padam.

"Kamu terlambat, Pak Wirawan, teknologi ini sekarang sudah sah menjadi milik Arlan Corp," ucap Arlan sambil mengangkat flashdisk hitamnya tinggi-tinggi.

"Arlan Corp? Apa maksudmu, Arlan?" tanya Maya dengan ekspresi yang sangat tidak percaya.

"Selamat datang di era baru bisnis logistik, Mbak Maya," jawab Arlan dengan senyum yang sangat penuh arti.

Wirawan tampak ingin menerkam Arlan saat itu juga, namun langkahnya terhenti ketika Arlan menunjukkan sesuatu di layar ponselnya lagi.

"Jangan bergerak lebih dekat, Pak Wirawan, atau rekaman suara Bapak saat memerintahkan penyerangan di koridor kantor akan terunggah secara otomatis ke media sosial," ancam Arlan dengan nada yang sangat tenang.

Wirawan membeku di tempatnya, kepalan tangannya bergetar hebat menahan amarah yang meledak-ledak.

"Kamu pikir kamu sudah menang, Arlan? Ini baru awal dari kehancuranmu yang sebenarnya!" desis Wirawan sebelum berbalik pergi dengan langkah yang sangat kasar.

Arlan menatap punggung Wirawan yang menjauh dengan tatapan yang sangat dingin.

{Gunung ini memang licin, tapi aku baru saja memasang paku bumi yang paling kuat di sini.}

[Status Kekayaan: Meningkat Menjadi 250 Juta Rupiah (Estimasi Aset Teknologi)] [Misi Utama: Berlanjut ke Tahap Ekspansi Pasar]

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!