Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 **Ratu bully**
"Abang look, Ila beli HP!" seru Ila dengan mata berbinar-binar, memperlihatkan ponsel pintarnya yang masih mulus ke hadapan Galenio.
Setelah selesai makan di kantin tadi, Ila memang sempat meminta izin untuk mampir ke ruangan Galenio. Meski hal itu sempat membuat Alzian dan Elzion serta teman-temannya bingung, mereka tetap mengizinkan. Lagipula, mereka sudah mengenal baik Galenio dan tahu betapa pria itu sangat menyayangi Ila.
Galenio tersenyum tipis, menatap ke arah Ila yang kini sudah duduk dengan nyaman di pangkuannya. Ia mengusap rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Kemarin beli HP-nya? Dan... sudah ketemu Daddy, hm?" tanya Galenio dengan nada hati-hati.
Seketika, keceriaan di wajah Ila mendadak sirna. Ekspresinya berubah muram dalam sekejap. "Hu'um," sahutnya dengan suara sendu yang nyaris berbisik.
"Hey, kenapa sayang?" tanya Galenio lembut saat menyadari perubahan suasana hati sang adik.
Ila tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke dada Galenio dan memeluk kakaknya itu dengan sangat erat. Bahunya mulai bergetar. "Ila rindu Daddy, hiks... Ila mau peluk Daddy. Selama ini Ila tidak pernah peluk Daddy, hiks... tapi Ila takut Daddy marah," tangis Ila pecah di dalam pelukan Galenio.
Melihat adiknya menangis tersedu-sedu, Galenio merasa dadanya seolah dihantam benda tumpul. Sesak sekali. Meskipun secara fisik tubuh Ila tampak berbeda dari ingatan masa kecilnya, rasa sayang Galenio tidak pernah berubah sedikit pun. Ia terus mengelus punggung Ila, mencoba menyalurkan ketenangan.
"Sstt... tenang sayang. Nanti kalau ketemu Daddy lagi, peluk saja. Tidak apa-apa," bisik Galenio menenangkan.
Ila perlahan mengangkat wajahnya yang sudah sembap. Dengan mata bulat yang masih basah oleh air mata, ia menatap Galenio dengan tatapan polos. "Daddy tidak marah?"
Galenio tersenyum tulus, jempolnya bergerak lembut menyapu sisa-sisa air mata yang membasahi pipi chubby adiknya itu. "Tidak akan marah, Sayang. Percaya sama Abang," ucap Galenio dengan suara yang menyejukkan hati.
Ila memiringkan kepalanya bingung. Sejauh yang ia ingat, Daddy-nya dulu sangat membencinya. Jangankan untuk memeluk, mendekat sedikit saja ia pasti akan dibentak dengan keras.
Galenio terkekeh kecil melihat ekspresi bingung yang terlihat sangat lucu itu. "Daddy sudah berubah, Sayang. Sekarang Daddy tidak suka marah-marah lagi seperti dulu." Ia mengacak gemas rambut Ila untuk mengembalikan suasana ceria.
Mendengar hal itu, senyum Ila kembali mengembang. "Ila mau ketemu Daddy!" serunya senang sambil menggoyang-goyangkan kepalanya dengan gerakan yang sangat menggemaskan.
Galenio hanya bisa terkekeh, meski dalam hati ia membatin miris. 'Kamu masih terlalu polos untuk mengetahui apa itu kebencian, Dek. Jika orang lain berada di posisimu, mungkin mereka sudah sangat membenci orang tuanya sendiri. Tapi kamu... hatimu terlalu baik.' Galenio teringat betapa dulu Ila terus ditolak dan dimarahi, namun kini dengan mudahnya ia memaafkan.
"Gak mau kembali ke kelas, hm?" tanya Galenio. Sejujurnya, ia masih ingin berlama-lama dengan Ila, namun ia tidak boleh egois. Pendidikan Ila tetap yang utama.
Bukannya beranjak, Ila malah menyodorkan ponselnya ke arah Galenio, membuat pria itu mengernyit heran. "Apa? HP baru ini buat Abang?" goda Galenio.
Ila menggeleng kuat-kuat. "Minta nomor Abang, biar nanti malam Ila bisa telepon-telepon Abang!" ucapnya dengan semangat.
Tawa Galenio pecah. Ia mengambil ponsel itu dan dengan cepat mengetikkan nomor pribadinya. "Nih. Jangan lupa telepon Abang terus ya, princess," ucapnya sembari mengembalikan ponsel tersebut.
"Pasti, Abang!" seru Ila riang.
"Yaudah, ke kelas gih. Atau mau Abang yang antarkan?" tawar Galenio.
"No, Ila bisa sendiri!" jawab Ila mantap, menunjukkan kemandiriannya.
Galenio hanya bisa terkekeh bangga. "Yaudah, hati-hati di jalan ya."
Cup!
Ila mengecup pipi Galenio dengan sayang. "Ila ke kelas dulu, Abang. Papayyy!" pamitnya lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah ringan.
Galenio terus menatap punggung kecil itu sampai menghilang di balik pintu. Ia tersenyum sendirian. Ia ingat betul, dulu setiap kali ia akan pergi keluar rumah, Ila selalu berpamitan dengan cara manis seperti tadi. Ternyata, kebiasaan itu tidak pernah hilang.
...****************...
Ila berlari kecil dengan riang menyusuri koridor menuju kelasnya. Rambutnya yang terkuncir bergoyang ke kanan dan ke kiri seirama dengan langkah kakinya. Semua pasang mata yang melihat wajah ceria Ila hanya bisa menahan gemas; mereka ingin sekali mencubit pipi chubby yang tampak kenyal itu. Namun, nyali mereka ciut seketika. Siapa yang berani menyentuh adek dari si kembar Al El? Apalagi keluarga Weylin sudah seperti saudara kandung dengan keluarga Diaskara, sang pemilik sekolah DHS ini. Salah sedikit menyentuh Ila hingga ia menangis, taruhannya adalah surat drop out (DO) yang melayang ke meja mereka. Terlalu berisiko, guys!
Brukkk!
Kegembiraan Ila terhenti saat tubuh kecilnya ditabrak oleh seseorang. Ila meringis pelan saat pantatnya mencium lantai koridor yang dingin. Dengan perlahan, ia berdiri sembari menepuk-nepuk roknya yang kotor, lalu mendongak melihat siapa yang telah menabraknya.
"Why tabrak Ila?" tanya Ila pada seorang perempuan yang berdiri di depannya dengan wajah angkuh.
Perempuan itu tersenyum sinis, menatap Ila dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Lo yang tadi pagi berangkat dengan Lanka, kan?" tanyanya sembari menunjuk wajah Ila tepat di depan hidung gadis itu.
Ila seketika tersenyum malu-malu saat mengingat perjalanannya bersama Lanka tadi pagi. "Iya..." sahutnya sangat polos.
Bianka, nama perempuan itu, seketika meradang. Ia kesal karena Ila sama sekali tidak menunjukkan raut ketakutan, padahal Bianka dikenal sebagai ratu bullying di DHS. Ia juga merupakan penggemar berat yang sangat terobsesi pada seorang Lanka Adhiyaksa.
"Lo jauhin Lanka, karena Lanka punya gue!" bentak Bianka.
Bukannya gemetar ketakutan, Ila justru menatap Bianka dengan rasa ingin tahu yang besar. "Nama Kakak siapa?" tanya Ila polos.
Bianka terperangah. "Lo gak kenal gue, hah?! Gue primadona sekolah ini! Nama gue Bianka Dinara," ucapnya dengan nada sombong yang luar biasa.
Ila mengangguk-angguk lucu, membuat kuncir rambutnya bergoyang lagi. "Primadona sekolah apa?" tanyanya tanpa maksud mengejek, murni karena tidak tahu.
"Gak usah pura-pura polos depan gue, anjing!" umpat Bianka yang sudah habis kesabaran.
Para siswa yang menyaksikan interaksi itu mulai was-was. Mereka tahu Bianka tidak mengenal ampun jika sudah mem-bully, apalagi ayahnya adalah seorang menteri, membuat posisinya di sekolah terasa tak tersentuh.
"Kakak bicara sama anjing? Mana anjingnya?" tanya Ila sembari celingak-celinguk mencari keberadaan hewan yang disebutkan Bianka tadi.
"Lo anjingnya!" murka Bianka. Harga dirinya serasa jatuh ke lantai karena intimidasi yang ia lakukan tidak mempan pada gadis kecil di depannya ini.
"Ila? Ila manusia, Kak," sahut Ila bingung. Sejak kapan spesiesnya berubah?
Karena terlampau kesal, Bianka mencengkeram pergelangan tangan mungil Ila lalu menyeretnya dengan kasar. "Loh, mau ke mana Kak? Jalan pelan-pelan dong, kaki Ila lelah kalau jalan cepat gini," keluh Ila yang bersusah payah menyeimbangi langkah lebar Bianka.
"Diam dan ikut gue! Kita bermain-main sebentar, gadis polos," Bianka menyeringai jahat, menekankan kata 'polos' dengan nada menghina.
"Bentar lagi masuk Kak, gak belajar?" tanya Ila lagi.
"Gak! Kita bermain saja!" ketus Bianka.
"Kalau begitu kita izin dulu ke guru kalau gak ikut belajar dan ingin bermain. Ila suka bermain..." Ila tersenyum senang karena mengira ia benar-benar diajak bermain.
Bianka mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan gudang kosong yang sepi. Ia menoleh ke arah Ila dengan tatapan tidak percaya. Masa iya dia harus izin guru untuk mem-bully murid lain?
"Ck, gadis bodoh," cibir Bianka.
"No, Ila pinter!" bantah Ila tidak terima disebut bodoh.
"Kalau lo pinter, jauhin Lanka!"
"Ila udah jauh kok, sekarang gak dekat-dekat Bang Lanka," sahut Ila jujur, karena memang Lanka sedang berada di kelasnya sendiri saat ini.
"Selamanya! Bukan sekarang aja!" teriak Bianka yang sudah naik darah.
"Why?" Ila memiringkan kepalanya dengan sangat lucu.
"Lanka punya gue, bangsat!" teriak Bianka yang sudah meledak amarahnya.
"Bangsattt!" Ila dengan polosnya ikut berteriak mengikuti kata yang baru saja ia dengar.
Orang-orang yang berada di sekitar area gudang (diam-diam mengikuti) seketika menahan tawa. Mereka tidak menyangka Ila akan mengumpat balik sang ratu bully dengan wajah sebersih malaikat.
"Lo...!" Bianka semakin meradang mendengarnya.
Ila mengerjap polos. Ia merasa tidak melakukan kesalahan. Bukankah ia hanya mengikuti apa yang diucapkan Kakak kelasnya itu? "Bangsat," ucap Ila lagi, seolah sedang mengetes bunyi kata baru yang terdengar unik di telinganya.
Bianka benar-benar meledak. Ia sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap untuk menampar pipi Ila. Namun, gerakan tangan Bianka terhenti di udara saat melihat Ila juga ikut mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas.
"Lo ngapain angkat tangan juga?!" tanya Bianka heran, urung melayangkan tamparannya karena bingung dengan tingkah aneh korbannya.
...****************...
Aku udah up 2 bab yah semoga kalian suka maaf kalau ada yang typo 😁