Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, Gilang, suaminya justru membawa Lila, istri kedua yang juga tengah hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Ketika Almira Mengembalikan Kendali
.
“Bu… beras habis.”
Suara laporan dari Rini yang berdiri tepat di samping meja Almira, membuat gerakan sendok semua orang menggantung di udara. Mulut-mulut yang terbuka siap menyantap kembali terkatup. Hanya Almira yang tetap mengunyah dengan tenang.
“Hanya tersisa untuk hari ini, untuk besok pagi sudah tidak ada." Rini melanjutkan laporannya dengan tenang seolah tak terusik oleh perubahan raut dari seluruh anggota keluarga.
Semua mata menatap ke arah Rini, lalu beralih pada Almira.
Almira yang ditatap dengan tenang melanjutkan kunyahannya, menelan pelan-pelan lalu menatap ke arah Gilang. "Kamu sudah dengar kan, Gilang?”
Gilang terdiam. Moodnya untuk menikmati sarapan dengan tenang kini terganggu.
"Bukan hanya beras, Bu,” potong Rini. "Minyak, gula, dan semua stok belanjaan juga habis.”
“Kalau belanjaan habis, kenapa kamu harus bilang sama Gilang!" Ibu mertua menyahut tidak suka. "Seharusnya kamu sebagai istri yang berpikir."
“Ibu mertua yang terhormat…coba tanya pada anak laki-lakimu, apakah dia memberikan uang belanja padaku bulan ini?” Almira berbicara tenang bahkan sambil menyangga dagu.
Gilang menelan ludahnya kasar. Ia lupa. Semua gaji bulan ini sudah ia berikan pada Lila dan ibunya. Itu karena ibunya yang terus membujuk, mengatakan dia yang akan mengatur keuangan.
"Bu, berikan uang pada Mbak Rini untuk belanja, ya,” punya Gilang menatap ke arah ibunya.
Yang ditatap mendelik tidak suka. "Kok ibu?"
“Ya kan jatah belanja bulanan ibu yang pegang?" Gilang menatap ibunya dengan mata menyipit.
"Kan bukan cuma ibu saja? Lila juga! Harusnya Lila juga ikut memberikan uang belanja!" Bu Rosidah merasa tak rela, uang yang masuk ke dalam dompet ya harus dikeluarkan lagi.
“Kok Lila juga sih Bu?” Lila tidak suka namanya disebut. “Uang yang Lila pegang itu kemarin sudah habis buat periksa ke dokter sama perawatan.” mencengkeram sendok dengan erat. Walaupun masih, uang yang sudah masuk dalam dompetnya tak boleh dikeluarkan lagi.
"Habis?”
"Habis?”
Gilang dan Bu Rosidah terseru bersamaan.
“Itu 5 juta, Lila!” Gilang melotot tak percaya. "Masa sudah habis? Itu baru 5 hari!?"
Otak yang tiba-tiba terputar ke masa lalu. Dulu… uang dua juta dalam genggaman Almira, Kenapa bisa cukup sampai satu bulan? Bahkan mereka masih punya tabungan hingga akhirnya bisa membeli mobil meskipun secara kredit.
Tangan Almira terkepal. Lima juta? Selama ini Gilang hanya memberinya uang dua juta sebulan. Lalu sekarang, Lila yang baru saja masuk ke dalam rumah mereka mendapatkan jatah lima juta? Belum lagi ibunya, juga adiknya. Berapa sebenarnya gaji Gilang sebulan? Pria itu tak pernah mengatakan secara transparan.
Riana menunduk pura-pura tidak mendengar, tidak ingin uang tiga juta yang diberikan oleh kakaknya diminta kembali.
“Jadi gimana? Saya belanja apa tidak?" Rini menyela dengan tenang.
“Kalau nggak belanja kan malah enak, Mbak?” sahut Almira dengan kepala mendongak menatap pada Rini. "Mbak Rini bisa agak santai nggak harus repot memasak,” lanjutnya dengan wajah polos.
"Iya juga sih ya?" Rini terlihat begitu senang.
“Enak saja!" Ibu mertua spontan berdiri sambil berkacak pinggang dengan mata melotot marah. "Kalau dia tidak masak, kita makan apa?! Kamu mau kita semua kelaparan?!”
"Kalian aja kali.” Almira mengangkat dua bahunya acuh. “Aku punya teman kaya!” Bergerak memasukkan suapan terakhir mengunyah pelan, menelan, kemudian meminum teh hangat yang disediakan oleh Mbak Rini.
Tidak lagi memikirkan besok bikin lauk apa benar-benar membuat pikiran tenang.
"Dasar menantu tidak berguna!” Ibu mertua menatap sengit. "Kalau kamu bisa minta sama temanmu, seharusnya bisa minta juga untuk kita semua!"
Almira melongo, sejenak kemudian tertawa tergelak. "Serius ibu ngomong gitu? Putra ibu itu bekerja di perusahaan besar, katanya juga punya gaji besar, sudah jadi orang sukses, bisa nambah istri. Masa minta? Sama temanku lagi. Apa kata dunia?!"
“Bu, sudah!" Gilang mencoba meredakan suasana. “Berikan uang belanja pada Mbak Rini atau kita semua kelaparan!”
“Kamu kan juga masih punya uang? Kenapa tidak uangmu saja yang diberikan pada Rini?!" Ibu mertua masih ingin mempertahankan isi dompetnya.
“Uang yang aku pegang itu tinggal pegangan sehari-hari buat beli bensin." Gilang menggeram frustasi. “Kalau aku nggak pegang uang, aku pergi kerja pakai apa? Ibu mau aku tidak bisa berangkat kerja lalu dipecat?!”
Ibu mertua menggeleng cepat begitu pula dengan Lila dan Riana. Jika Gilang tidak bekerja, mereka mau makan apa? Mereka juga tidak akan bisa shopping-shopping lagi. Akhirnya, suara kursi terdorong dengan kasar, ibu mertua berdiri dari duduknya dan pergi ke kamar untuk mengambil dompet.
“Ini catatan yang harus dibeli, Bu." Rini menyodorkan kertas catatan pada Bu Rosidah begitu wanita itu kembali.
“Sebanyak ini?!" Ibu mertua melotot tak percaya.
“Ibu bisa lihat sendiri!” ucap Rini tanpa segan. "Harga beras satu kilo saja, saat ini sudah 15.000. untuk makan enam orang satu hari satu kilo itu sudah irit. Dikalikan tiga puluh untuk stok selama satu bulan. Itu baru berasnya, belum yang lain. Kalau ibu ragu dengan hitungan saya, ibu bisa ambil kalkulator!!"
Mata Bu Rosidah bergetar, Gilang memijat pelipisnya. Dulu dia tak pernah mendengar laporan seperti ini. Semua diatasi dengan rapi oleh Almira, lebih atau kurang dia tidak tahu, lebih tepatnya tidak peduli.
"Oh iya, Mbak Rini. Tolong ambilkan catatan yang ada di atas kulkas di dapur ya?" pinta Almira.
Mbak Rini mengangguk, berlalu pergi dan kembali sesaat kemudian. Tangannya memegang beberapa lembar kertas yang disodorkan kepada Almira.
Almira meraih kertas-kertas itu membaca perlahan kemudian menyodorkannya kepada Gilang. "Ini,” ucapnya. "Karena sekarang kamu sudah memiliki orang baru yang bertanggung jawab atas kebutuhan rumah, semuanya aku kembalikan padamu. Terserah kamu mau hibahkan pada siapa!"
Gilang menerima dan meneliti kertas itu dengan kening berkerut. Ludahnya bagai tercekat di tenggorokan. Semua tagihan ada di sana. PDAM, iuran kompleks, iuran kebersihan, iuran keamanan, pajak bangunan, dan pajak kendaraan. Semua hal yang selama ini tak masuk dalam perhitungannya, kini ada di depan matanya.
"Dan lima hari lagi,” ucap Almira. "Sepertinya waktunya membeli pulsa listrik!”
Duar!
Ternyata masih belum cukup kejutan yang ia terima.
semangat thor