NovelToon NovelToon
The Broken Ring

The Broken Ring

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Tamat
Popularitas:4.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Tiwie Sizo

Di ulang tahun pernikahannya yang kedua, Lalita baru mengetahui kenyataan menyakitkan jika suaminya selama ini tidak pernah mencintainya, melainkan mencintai sang kakak, Larisa. Pernikahan yang selama ini dia anggap sempurna, ternyata hanya dia saja yang merasa bahagia di dalamnya, sedangkan suaminya tidak sama sekali. Cincin pernikahan yang yang disematkan lelaki itu padanya dua tahun yang lalu, ternyata sejak awal hanya sebuah cincin yang rusak yang tak memiliki arti dan kesakralan sedikit pun.
Apa alasan suami Lalita menikahi dirinya, padahal yang dicintainya adalah Larisa? Lalu akankah Laita mempertahankan rumah tangganya setelah tahu semua kebenarannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiwie Sizo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin Kacau

Dua hari Erick berusaha mencari tahu keberadaan Lalita dengan berbagai cara, termasuk dengan mencari informasi lewat teman-teman Lalita yang nomor kontaknya diberikan oleh Bu Risnah tempo hari. Tapi tetap saja, keberadaan istrinya itu tidak dia temukan. Lalita seakan menutup semua akses agar Erick tak menemukannya. Nomor kontaknya juga tetap tak bisa Erick hubungi.

Perasaan Erick menjadi semakin tak menentu. Pekerjaan di hotel juga ikut terbengkalai karenanya. Padahal dia dan Larisa dijadwalkan untuk pergi ke luar kota untuk menyurvei langsung kota yang akan menjadi tempat dibangunnya cabang hotel terbaru, tapi hal tersebut mesti tertunda karena dia masih belum menemukan keberadaan Lalita. Tentu saja Erick menjadikan kondisi tubuhnya yang sedang tidak fit sebagai alasan supaya tak menimbulkan kecurigaan.

Erick bertekad mesti bertemu dan berbicara dengan Lalita dulu sebelum sidang pertama dilaksanakan. Tapi sayangnya, sampai tersisa satu hari lagi sebelum jadwal panggilan dari Pengadilan Agama, Lalita masih belum juga diketahui keberadaannya.

"Pak Erick. Bapak baik-baik saja?" Pertanyaan Rima, sekretaris Erick, membuyarkan lamunan lelaki itu.

Erick sedikit tergagap dan buru-buru mengusap wajahnya yang terlihat kusut.

"Saya tidak apa-apa," sahutnya kemudian.

"Muka Bapak pucat sekali, Pak. Bapak sepertinya sedang tidak enak badan," ujar Rima dengan nada khawatir.

"Saya cuma agak mengantuk saja. Tolong buatkan saya kopi," perintah Erick.

Rima pun bangkit dari duduknya, tapi dia tak yakin mau membuatkan Erick kopi. Lelaki itu jelas terlihat lebih membutuhkan obat ketimbang kopi.

"Yakin Bapak cuma mau kopi?" tanya Rima.

"Iya." Erick menyahut sembari kembali melihat ke layar laptopnya.

Mau tak mau, Rima pun akhirnya berlalu untuk membuatkan apa yang Erick minta. Beberapa saat kemudian, perempuan itu kembali dengan membawa sebuah nampan berisi secangkir kopi dan sepiring biskuit.

"Silakan, Pak." Rima menghidangkan kopi dan biskuit tersebut di meja kerja Erick.

"Terima kasih." Erick menanggapi.

Rima mengangguk sopan dan kembali ke meja kerjanya, sedangkan Erick langsung menyeruput kopi yang dihidangkan oleh Rima barusan. Biasanya lelaki itu akan merasa segar kembali setelah menikmati minuman berkafein tersebut, tak peduli selelah dan semengantuk apapun dirinya. Tapi kali ini, kopi hangat tak mampu membuat tubuhnya menjadi segar. Yang ada, perutnya malah jadi terasa mual.

Ah, Erick baru ingat jika terakhir kali dia makan adalah siang kemarin, itu pun karena kebetulan dia mesti bertemu dengan seorang klien di sebuah restoran, sehingga mau tak mau dia mesti makan bersama klien tersebut.

"Pak Erick. Kelihatannya Bapak tidak baik-baik saja." Suara Rima kembali terdengar di telinga Erick.

Erick menyeka keringat dingin yang tiba-tiba saja memenuhi dahinya. Kini rasanya dia benar-benar akan tumbang setelah sejak dua hari sebelumnya juga tidak tidur sama sekali.

"Sudah saya bilang, saya tidak apa-apa. Lanjutkan saja pekerjaanmu." Erick menyahut.

Rima hendak menjawab lagi, tapi urung dia lakukan. Erick adalah tipe orang keras kepala yang tak akan mudah mendengarkan orang lain. Percuma saja Rima mengingatkan tentang kondisi lelaki itu.

"Baik, Pak," gumam Rima. Perempuan itu pun tak protes lagi.

Erick sendiri tampak memejamkan matanya yang terasa begitu lelah. Sejak Lalita pergi, tak sedetik pun dia bisa beristirahat dengan benar di rumah. Yang dilakukannya adalah terus mencari keberadaan Lalita meski hasilnya nihil. Entahlah, tak pernah dia sekacau ini sebelumnya.

Tiba-tiba saja pintu masuk ruang kerja Erick didorong dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.

"Risa?" Erick sedikit terkejut saat mendapati Larisa menerobos masuk ke dalam ruangannya dengan memasang ekspresi wajah yang sangat tidak bagus.

"Rima, saya mau bicara dengan Erick berdua saja sebentar. Kamu bisa keluar dulu?" Larisa neminta sekretaris Erick tersebut keluar.

Rima yang masih terkejut dengan kedatangan Larisa, justru menoleh ke arah Erick untuk meminta persetujuan.

"Tinggalkan kami berdua, Rima. Sepertinya ada hal penting yang mesti kami bicarakan." Erick berujar pada Rima.

Rima pun mengangguk patuh, lalu bangkit dari tempat duduknya. Sedetik kemudian, Erick dan Larissa tinggal berdua saja di ruangan tersebut.

"Ada apa?" Erick bertanya pada Larisa setelah Rima keluar dari ruangannya.

Larisa tak menjawab. Perempuan itu justru mendekat ke arah meja kerja Erick, lalu mengeluarkan selembar kertas dan menaruhnya ke hadapan lelaki itu sembari sedikit menggebrak meja.

"Jelaskan padaku, Erick. Apa ini?" tanya Larisa.

Erick membeku layaknya patung. Surat panggilan atas gugatan dari Lalita, bagaimana Larisa bisa menemukannya?

"Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya Erick sembari meraih kertas tersebut dan menyembunyikannya.

"Tidak penting aku dapat dari mana? Sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi? Kamu dan Lita mau bercerai?"

Erick menghela napas panjang. Padahal dia ingin menemukan Lalita terlebih dahulu, tapi malah sudah ketahuan sebelum istrinya itu berhasil dia temukan.

"Dia yang menggugat ke pengadilan, bukan aku," ujar Erick akhirnya.

Larisa tampak mengembuskan nafas kasar. Raut cemas langsung terlihat di wajahnya, seakan gugatan cerai dari Lalita untuk Erick adalah kiamat baginya.

"Kamu gila, Erick? Bukankah sudah aku katakan sebelumnya kalau kamu mesti membujuk Lita. Memangnya apa yang kamu lakukan sampai Lita menggugat cerai?" tanya Larisa dengan emosional.

"Apa yang aku lakukan? Kamu bertanya apa yang aku lakukan?" Erick juga terpancing emosinya.

"Aku sudah bilang berulang kali padamu, perlakukan Lita dengan baik. Kalau sudah begini, habislah kita semua."

"Terserah, Risa. Aku tidak peduli lagi! Kenapa kamu terus menyalahkanku setelah memdikteku ini dan itu? Memangnya kamu pikir aku ini robot? Bukan hanya aku yang membohongi Lita dan memperlakukannya dengan buruk, tapi kamu dan kedua orang tuamu juga. Kenapa dari awal mesti ada sandiwara? Apa yang terjadi sekarang ini, semua bukan hanya salahku, tapi salah kalian semua juga!" Erick akhirnya meledak.

Larisa membeliak ke arah Erick dengan tatapan tak percaya. Sejak dia mengenal lelaki itu, tak pernah sebelumnya Erick membentaknya seperti barusan.

"Sekarang di mana Lita?" tanya Larisa kemudian.

Tadi Larisa mampir ke rumah adiknya itu sehabis bertemu dengan klien, tapi Lalita tak ada di rumah. Larisa malah menemukan surat panggilan dari Pengadilan Agama untuk Erick secara tidak sengaja.

"Jawab, Erick. Di mana Lita?" ulang Larisa lagi.

"Aku tidak tahu." Erick menyahut dengan nada lirih.

"Apa?" Larisa menautkan kedua alisnya.

"Aku tidak tahu dia pergi kemana. Dia kabur dan meninggalkan surat dari pengadilan untukku. Aku sudah berusaha mencarinya, tapi belum berhasil."

"Apa maksudmu, Erick? Lita pergi sendirian dan kamu tidak tahu kemana dia berada?" tanya Larisa lagi.

"Sudah kubilang, dia kabur! Aku tidak tahu dia pergi kemana," ulang Erick sekali lagi.

"Apa katamu, Erick? Lita kabur?" Sebuah suara dari arah ambang pintu ruang kerja ikut menyela.

Sontak Erick dan Larisa menoleh ke arah sumber suara. Mereka berdua sama-sama terkesiap saat mendapati Arfan sudah berada di sana dengan wajah mengeras.

Bersambung ....

1
KimYoona
dalam kasus Larisa tidak sepenuhnya salahnya Erick karna mereka melakukan dosanya atas mau sama mau, dan juga sejak awal Larisa yg memaksa Erick menikahi Lalita.. dan dia juga yg mengambil keputusan untuk aborsi.. sedangkan kasus Lalita itu murni kesalahan Erick yg menyakiti hati istrinya... ya walaupun awalnya memang bapak Arfan yg memaksakan semua..
KimYoona
bertambah panjanglah keruwetan.. tidak hanya untuk hati mereka kita yg baca pun hatinyanya sungguh amat butek.. bisa2nya takdir mereka sekejam ini..
KimYoona
selalu ada hikmah disetiap peristiwa bukan... hikmahnya untuk Lalita dia tidak harus menjalani pernikahan yg penuh kepura2an. dia memberi jeda hatinya sejenak agar lbh iklas mendewasakan diri juga memberi kesempatan dirinya untuk lbh mengekspor diri misalkan dgn meraih mimpi yg sebelumnya sempat tertunda karna pernikan
dan tentu untuk Erick juga, bisa merenungi sikapnya yg selama ini tidak baik pada istrinya tentu dgn rasa penyesalan yg sangat besar
untuk Riani dan Larisa skg mereka jadi lbh bisa mencurahkan kasih sayangnya satu sama lain apalagi selama ini Larisa harus melerakan kasih sayang ibunya dgn Lalita,..
dan unutuk bapak Arfan, sebaiknya anda introspeksi diri bagaimanapun Anda pemegang kuncinya, dan semoga anda lbh bijak lagi kedepannya...
Dessy Rinda
emng enk loe rik
Tengku Nafisa
sudah pergi baru terasa...
Nina Rochaeny
sy sm suami juga beda 15 THN...org pikir istri simpanan 🤭🤭
Niswa
jiji banget
Niswa
Thor ih tega bangeet😭
Niswa
Damnn
Niswa
Sedih banget gak KUAT
Niswa
Damnnn, nyess bangett
Niswa
Halahh
Niswa
SAKITTT!
Dewa Nara
keren Lita
Dewa Nara
baca lagi Thor, suka ceritanya
Dewa Nara
Riani apa Rania
Endang Supriati
aneh siapa yg zinah siapa yg disalahin.
Endang Supriati
ganjaran buat pezinah
Endang Supriati
penulis baca undang2 pernikahan dan pembagian harta.
suami istri menikah sah dan resmi,bila salah satu nya meninggal, harta jatuh ke pasangannya. baru setelah pasangannya pun meninggal jatuh ke tangan anak kandungnya. haloooooo lita bukan anak kandung riana.
Endang Supriati
lalita anak bodoh, klu tiba2 bpkmu si arfsn meninhgal dan bolom sempat buat wasiat. semua harta jatuh ketangan Riana sbg istri sah. yg bahagia siapa Larisa ibunya kaya mendadak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!