"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20 - Pria Gila
Maura belum sempat melihat balasan dari Setya saat ponselnya kembali bergetar, namun kali ini bukan pesan singkat, melainkan panggilan internal dari staf dekanat.
"Bu Maura, Pak Dekan baru saja sampai di ruangannya. Beliau meminta Ibu segera menghadap untuk melaporkan hasil penyerahan undangan anniversary ke Pradana Group kemarin," suara di seberang telepon terdengar formal.
Maura menarik napas panjang. Inilah momen yang ia nantikan sekaligus ia hindari. Maura bangkit dari kursinya, merapikan blusnya, meninggalkan kotak makanan mewah yang masih hangat di bawah meja dan melangkah menuju gedung dekanat.
Di sepanjang koridor, sisa-sisa aroma kopi mahal yang dikirim Setya seolah mengejeknya. Pria itu benar-benar tahu cara mengacaukan konsentrasinya.
Ruang Dekan
Pak Hamdani, sedang menyesap kopi yang Maura yakin juga berasal dari kiriman Setya saat Maura mengetuk pintu.
"Ah, Bu Maura! Masuk, silakan duduk," sapa Pak Hamdani dengan nada yang jauh lebih ramah dari biasanya.
"Bagaimana? Saya dengar kamu sudah mengantarkan undangan itu ke kantor pusat Pradana Group kemarin siang?"
Maura mengangguk sopan. "Benar, Pak. Saya baru saja ingin melaporkan bahwa pihak Pradana Group telah menerima undangan tersebut secara resmi."
Pak Hamdani mencondongkan tubuh, matanya berbinar penuh harap, seolah menunggu hadiah apa yang akan didapatkannya.
"Dan? Apakah ada konfirmasi mengenai kehadiran Pak Setya Pradana? Kamu tahu sendiri, kehadiran beliau adalah kunci utama bagi kesuksesan acara kita tahun ini. Apalagi tahun ini memang secara khusus saya ingin anniversary ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.”
Maura terdiam sejenak. Kembali mengingat bahwa sejak dulu acara anniversary hanya dihadiri oleh para dosen dan orang-orang penting saja. acara mahasiswa? Ada tapi memiliki waktu dan tempat yang berbeda karena mahasiswa cenderung pada acara sporty dan bersenang-senang.
Tahun ini, Pak Hamdani selaku dekan berniat menggabungkan dua acara dosen dan mahasiswa agar lebih meriah.
"Pak Setya menyatakan bahwa beliau akan hadir, Pak," jawab Maura tenang.
Pak Hamdani hampir saja menjatuhkan bolpoinnya. "Hadir? Kamu yakin? Secara personal beliau yang mengatakannya?"
"Iya, Pak. Beliau memberikan konfirmasi langsung saat saya menyerahkan map undangannya."
"Luar biasa!" Pak Broto memukul meja pelan dengan ekspresi puas.
"Ini rekor. Biasanya kami harus menunggu berminggu-minggu hanya untuk mendapatkan jawaban 'mungkin' dari sekretarisnya. Bu Maura, kamu benar-benar punya cara komunikasi yang efektif."
Maura hanya bisa tersenyum kecut. Cara komunikasi yang efektif? Jika Pak Hamdani tahu bahwa cara efektif itu melibatkan insiden muntah di dalam mobil dan makan siang berdua, mungkin sang Dekan akan terkena serangan jantung.
"Karena kamu yang berhasil mengamankan konfirmasinya, maka saya memutuskan sesuatu," lanjut Pak Broto sembari membuka jadwal acara. "Kamu akan menjadi pendamping protokol utama untuk Pak Setya selama acara berlangsung. Kamu yang akan menyambutnya di lobi, menemaninya di kursi VVIP, hingga mengantarnya kembali ke mobil."
Mata Maura membelalak. "Maaf Pak, tapi bukankah biasanya itu tugas tim Humas atau mahasiswa berprestasi?"
Maura paham bagaimana senangnya beliau akan kabar tersebut, tapi kalau Maura harus menemani pria sombong itu lagi rasanya tidak siap. Maura saja sudah hampir menangis saat menemani Setya di acara donasi tempo lalu.
Kenapa sekarang harus diminta lagi?
"Pak Setya adalah tamu yang sangat... luar biasa. Beliau orang penting yang jelas tidak akan nyaman kalau harus berurusan dengan orang baru. Apalagi kamu kan sudah pernah menemani beliau pada acara donasi minggu lalu. Jadi, seharusnya tidak akan sulit kan kalau harus menemani lagi. Apalagi saya yakin, Pak Setya akan lega kalau melihat kamu lagi yang menemaninya," jelas Pak Hamdani tegas.
"Tapi, Pak," Maura mencoba mencari celah untuk membantah, suaranya sedikit tertahan di tenggorokan.
“Tolong sekali, Bu. Saya yakin Bu Maura sudah sangat familiar dengan karakter Pak Setya. Kalau saya meminta yang lain, takutnya mereka harus beradaptasi dan agak cukup sulit. Lagipula, Bu Maura hanya menamani saja dan acaranya juga kan masih 2 mingguan lagi.”
Benar-benar sial. Maura merutuk dalam hati.
"Baik, Pak Hamdani. Kalau itu memang sudah menjadi keputusan Bapak dan universitas, saya akan berusaha profesional," jawab Maura akhirnya.
Tidak ada gunanya mendebat tembok. Apalagi tembok yang sudah disemen dengan dana hibah dari Pradana Group. Pak Hamdani mengangguk puas, matanya berbinar seolah baru saja memenangkan lotre.
"Bagus! Saya tahu saya bisa mengandalkanmu. Tolong pelajari detail protokol VVIP kita, dan pastikan tidak ada kesalahan sekecil apa pun. Pak Setya itu... ya kamu tahu sendiri, kesempurnaan adalah nama tengahnya."
Maura keluar dari ruangan Dekan dengan bahu yang terasa berat, seolah baru saja memikul seluruh beban anggaran universitas di pundaknya. Ia berjalan kembali ke ruang dosen, melewati rekan-rekan yang masih asyik menikmati camilan kiriman Setya. Ironis. Mereka berpesta di atas penderitaannya.
Sesampainya di meja, Maura segera merogoh ponsel dan melihat ada balasan dari pria yang membuat harinya semakin buruk.
Setya: Jam 20:00, Lau Che Restourant. Mari bertemu di sana, Maura.
Apa maksudnya ini? Bukannya menjawab pertanyaannya, pria itu justru mengirimkan pesan yang semakin membuat Maura geram.
Maura menatap layar ponselnya dengan mata membelalak. Ia baru saja keluar dari ruang Dekan dengan beban tugas protokol yang dipaksakan, dan sekarang pria itu tanpa rasa bersalah sedikit pun mengirimkan pesan sepihak yang terdengar seperti perintah mutlak.
Lau Che Restaurant? Jam 8 malam?
Maura menarik napas tajam, jempolnya bergerak cepat di atas layar.
Maura: Pak Setya, saya baru saja keluar dari ruang Dekan dan saya diberi untuk kembali menjadi pendamping Bapak. Bapak tahu? Sekarang saya seperti terperangkap dalam radar yang sudah Bapak ciptakan. Jadi, tolong jangan memerintah saya akan hal lain yang semakin membuat hari saya menjadi semakin buruk.
Balasan masuk tidak sampai satu menit. Sepertinya pria itu memang sedang sengaja menunggu reaksinya.
Setya: Kalau begitu, anggap makan malam ini sebagai bentuk tanggung jawab saya karena sudah memperburuk hari kamu. Saya tidak menerima penolakan, Maura. Datang atau kamu mau saya menjemputmu?
Maura menggeram tertahan, hampir saja ia melempar ponselnya ke atas tumpukan berkas mahasiswa yang belum dikoreksi. Pria ini tidak hanya keras kepala, tapi juga memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat berbahaya.
"Tanggung jawab?" gumam Maura sinis.
Maura: Jangan berani-berani datang ke rumah saya. Saya akan ke sana. Sendiri.
Tidak ada balasan lagi setelahnya dan Maura bersumpah bahwa pria itu sedang mencoba mempermainkannya. Hanya Maura, orang yang berani membantah manusia sombong itu dan sepertinya Setya ingin melunakkannya.
Pria itu hanya merasa tertantang.
“Kalau begitu, mari kita lihat sampai sejauh mana manusia seperti ini akan terus merasa tertantang,” Maura serius dan benar-benar akan meladeni pria gila ini.