Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hari Senin ini terasa lebih berat dari biasanya bagi Gita. Langkah kecilnya menuju gerbang TK melambat, seolah kakinya enggan melangkah masuk ke dunia yang pagi ini tidak ramah bagi perasaannya. Tangannya menggenggam tas kecil bergambar kelinci dengan kuat, sementara matanya menunduk, menghindari siapa pun yang lewat.
Kirana memperhatikan putrinya dari kejauhan. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Gita berjalan hari ini. Bahunya terlihat sedikit turun, punggungnya tidak lagi tegap. Sebagai ibu, Kirana tahu, luka di hati anak tidak selalu terlihat dari tangis. Kadang, ia hadir dalam diam yang terlalu panjang.
“Gita,” panggil Kirana lembut.
Gita menoleh sebentar, memaksakan senyum kecil. “Mama pulangnya hati-hati, ya.” Gadis kecil itu melambaikan tangan.
Kirana ingin memeluk anaknya, ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun, terdengar suara panggilan dari gurunya dan Gita berlari kecil masuk ke halaman TK, meninggalkan perasaan cemas yang menggantung di dada ibunya.
Di halaman TK, suara tawa dan jeritan anak-anak bersahutan. Ayunan besi berderit pelan, dipenuhi anak-anak yang berlomba siapa yang bisa melaju paling tinggi.
Gita duduk di salah satu ayunan, berhadapan dengan Ara. Dua anak lain—Rara dan Adel—duduk di ayunan sebelah.
Ara tampak ceria. Dia selalu tersenyum lebar, matanya berbinar, dan pipinya memerah penuh semangat.
“Gita,” ucap Ara tiba-tiba, suaranya lantang. “Kemarin aku naik kuda-kudaan! Terus naik komedi putar sama Om Rafka. Seru banget!”
Kata-kata itu seperti batu kecil yang dilemparkan ke permukaan air tenang, sehingga menimbulkan riak kecil, tetapi menyentuh dasar yang paling dalam.
Gita mengencangkan genggaman tangannya pada besi ayunan. “Aku tidak peduli,” jawabnya singkat, tanpa menoleh.
Ara terdiam sejenak, lalu mendengus. “Kenapa sih kamu jutek banget?”
Rara yang duduk di samping, menoleh cepat. “Gita, tidak boleh begitu,” katanya ragu, mencoba menengahi.
Namun Adel yang sejak dulu selalu berdiri di sisi Gita langsung menyahut, “Ara juga salah. Dia suka pamer. Itu, kan, enggak baik.”
Ara mendengus kesal. Kakinya menghentak keras, membuat ayunan berderit keras.
“Aku kan cuma cerita!”
“Cerita atau pamer, beda tipis,” balas Adel ketus.
"Kamu, kan, masih, saudara sama Gita, kenapa kamu tidak ajak Gita juga buat pergi bersama ke wahana bermain," lanjut Adel lagi. Dia memang bestie-nya Gita sejak masuk TK.
Ara memalingkan wajah. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tetapi karena marah.
“Kalian iri!”
Gita tetap diam. Ia memilih menatap ujung sepatunya sendiri. Dalam kepalanya, terngiang suara papanya yang dulu sering berjanji. Janji-janji yang kini terasa kosong.
Putri pasangan Kirana dan Rafka itu tidak mau bercerita bahwa kemarin ia tetap pergi ke Timezone. Gita tidak mau memberi Ara kepuasan. Lagipula, pergi tanpa papanya bukanlah sesuatu yang ingin ia banggakan.
Nasihat mamanya terngiang jelas. “Jangan bertengkar dengan Ara. Kamu selalu jadi pihak yang salah di mata mereka—keluarga Kirana.”
Gita menghela napas pelan. Ia memilih diam. Diam yang terasa seperti menelan luka sendiri.
Sepulang sekolah, Kirana sudah menunggu di luar gerbang. Ia menjemput dua anak sekaligus, Gita dan Ara.
Begitu Gita naik ke becak, Kirana langsung menyadari perubahan di wajah putrinya. Senyum itu tidak ada. Mata Gita terlihat kosong, lelah oleh sesuatu yang tidak ia ceritakan.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Kirana lembut.
Gita menggeleng. “Enggak apa-apa, Ma.”
Ara ikut naik, wajahnya masih cemberut.
“Tante, apa kita akan mampir ke minimarket dulu?” pintanya tiba-tiba.
Kirana menoleh, lalu menggeleng pelan. “Tidak, Ara. Kita langsung ke rumah nenek.”
“Aku mau es krim,” ucap Ara lirih, suaranya dibuat-buat.
“Nanti kamu bisa minta dibelikan sama mamamu,” jawab Kirana singkat, tapi tidak kasar.
Ara mendengus, menyandarkan tubuhnya dengan kesal.
Sesampainya di rumah Pak Darma, Kirana menurunkan Ara. Wanita itu memastikan Ara masuk ke rumah sebelum kembali menaiki becak bersama Gita.
“Gita, kita ke minimarket sebentar, yuk!” ujar Kirana tiba-tiba.
Gita menoleh, matanya sedikit berbinar. “Beli es krim, Ma?”
“Boleh,” jawab Kirana sambil tersenyum kecil.
Di dalam minimarket, Kirana membiarkan Gita berjalan di depannya. Gadis kecil itu berhenti di depan freezer es krim, menatap lama.
“Ma ....” Gita mengangkat satu es krim boks ukuran sedang. “Boleh beli yang ini?”
Biasanya mereka membeli es krim cup kecil. Itu pun jarang.
Kirana menatap es krim itu, lalu mengangguk. “Kita makan berdua, ya?”
Wajah Gita langsung cerah. “Boleh, Ma!”
Di rumah, mereka duduk berdampingan di ruang tamu. Es krim dibuka perlahan, dimakan bergantian. Tawa kecil muncul, meski singkat.
Namun, keheningan kembali datang.
“Ma ....” panggil Gita dengan suara lirih, hampir tenggelam.
“Iya, Sayang?”
“Apa papa sudah enggak sayang lagi sama aku, ya?”
Sendok Kirana berhenti di udara. Dadanya langsung sesak.
“Kenapa Gita mikir begitu?”
Gita menunduk. “Papa sekarang lebih sering sama Ara. Papa beliin Ara es krim yang besar. Papa sering ajak Ara main. Tapi ke aku, Papa sering lupa.”
Kirana mengusap kepala putrinya perlahan.
“Papa masih sayang sama Gita,” ucapnya pelan. “Hanya saja sekarang kita bukan lagi prioritas utama Papa.”
Kata-kata itu pahit. Bahkan di lidah Kirana sendiri.
“Makanya Papa lebih suka sama Ara,” gumam Gita.
Hati Kirana seperti diremas. Ia ingin menyangkal, tetapi kenyataan terlalu kejam untuk ditutupi.
“Yang penting,” Kirana tersenyum, meski matanya basah, “Gita selalu jadi prioritas utama bagi Mama.”
Gita memeluk Kirana erat. Tubuh kecil itu bergetar, menahan tangis. Dia enggak mau Mama sedih.
“Aku sayang sama Mama," bisik Gita dengan suara bergetar.
Kirana memejamkan mata. Air matanya jatuh ke rambut Gita.
Lalu, sebuah pertanyaan keluar pelan, tetapi menghantam keras.
“Ma. Apa Mama sama Papa juga sudah enggak saling cinta lagi?”
Kirana terkejut. Napasnya tertahan. Ia tidak menyangka putrinya memikirkan sejauh itu.
“Anakku sudah terlalu cepat dewasa karena luka yang bukan salahnya.”
Kirana menguraikan pelukan mereka. Ia menatap mata Gita, mata kecil yang terlalu paham akan kesedihan.
“Gita ....” panggil Kirana, suaranya bergetar. “Kalau suatu hari Mama dan Papa tidak bersama-sama lagi, bagaimana?”
Gita terdiam. Bibirnya bergetar.
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏