Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"INGAT DENGAN SOSOK MAKHLUK HALUS KECIL ITU?"
Aku melangkah maju perlahan. Dan aku menoleh ke belakang sebelum mengetuk pintu kamar Risa. Bu Rahayu sudah menuju ke dapurnya.
Tok tok tok... Suara pintu kamar Risa yang kuketuk pelan...
"Risa..." ucapku dari luar. Tapi tak ada jawaban darinya.
"Nisa, langsung buka aja pintunya. Gak apa-apa kok." suara Bu Rahayu dari arah dapur.
Walau sudah dipersilahkan oleh sang ibu, aku tetap harus menjaga sopan santun. Karena ini bukan rumahku, bukan juga kamarku.
"Risa... Mbak masuk ya..." ucapku sekali lagi dari luar kamar.
Dan kali ini, terdengar suara Risa dari dalam kamarnya itu, "Mbak Nisa ya...?"
"Iya, ini Mbak..."
"Masuk aja Mbak..."
Aku membuka pintu yang memang tak dikunci dari dalam. Terlihat Risa sedang terbaring di atas kasur berwarna putih dengan motif bunga mawar merah. Menggunakan selimut yang berwarna putih juga, motif bunga mawar merah pun menghiasi selimutnya itu.
Dan langsung tercium aroma minyak angin dari dalam kamarnya. Mungkin minyak angin itu digunakan oleh Mbok Yayuk ketika memijat dirinya.
Dan... Jujur...
Aku agak heran dengan suasana kamar Risa ini. Cat dindingnya dominan berwarna hitam, dengan motif bunga mawar berwarna putih di beberapa bagiannya. Ada juga lampu meja yang berwarna merah terang. Dan juga lampu atas kamarnya berwarna putih cerah. Di salah satu sudut kamar, terlihat sebuah rak buku empat tingkat, penuh dengan beragam buku.
Sungguh, suasana kamar yang tak lazim untuk seorang gadis berusia dua puluh tahun seperti dirinya...
Aku tersenyum padanya sambil menutup pintunya lagi. Dan dia membalas senyumanku. Tapi, aku seperti merasakan sesuatu yang berbeda dari senyumnya itu. Terasa seperti berat senyumnya, seperti ada sebuah energi yang lain. Energi yang berbeda dari apa yang kurasakan darinya saat malam itu ia main ke rumahku.
Aku berjalan mendekat, "Kamu kenapa Ris?"
"Hehe..." dia hanya terkekeh kecil.
"Udah enakan badannya Ris?" ucapku sambil mulai duduk di pinggir kasurnya.
"Alhamdulillah Mbak, udah agak enakan sih." jawabnya.
"Mbak kok tau kalo aku sakit?" tanyanya.
"Soalnya tadi pagi Mbak ke pasar, lapakmu tutup. Terus Mbak tanya sama pedagang sebelah, dia bilang kamu sakit. Udah tiga hari."
"Oh gitu... Hehe... Terus Mbak kok tau rumahku di sini?"
"Ya gimana gak tau coba? Kan dikasih tau juga sama pedagang sebelah lapakmu itu Ris."
"Hehehe... Iya juga ya..."
Sejenak aku memperhatikan wajahnya. Tampak sedikit pucat. Lalu kucoba memegang tangannya. Terasa... Dingin. Tapi dinginnya itu tak seperti dingin layaknya orang yang sedang sakit normal.
Rasa dingin itu... Aku langsung paham... Ada sesuatu yang janggal terjadi pada Risa. Tapi aku tak berani langsung menebak atau bicara padanya. Aku tahan.
"Awalnya gimana Ris? Kok bisa sakit kamu?" tanyaku.
"Em..." Risa tampak sedikit ragu untuk menjawab.
"Jangan ragu Ris, coba cerita sama Mbak."
"Hehehe... Mbak nih, masa jengukin aku langsung interogasi gitu?"
" Ya maaf, bukan interogasi. Tapi kan wajar toh kalo Mbak nanya..."
"Iya sih Mbak... Hehehe..."
"Gimana ceritanya?"
Risa mulai bangun, posisi duduk sekarang di depanku. Setengah badannya masih tertutup selimut. Aroma minyak angin semakin kuat tercium dari tubuhnya.
"Kayaknya Mbak bisa tau deh, aku kenapa..." ucapnya.
"Eh, jangan gitu. Mbak nanya karena gak tau kan." jawabku mencoba menepis prasangka dirinya itu. Ya meskipun aku bisa merasakan ada kejanggalan dibalik sakitnya itu.
"Emangnya gak ada yang kasih petunjuk ke Mbak?"
"Maksudnya Ris?"
"Ah, Mbak Nisa nih, masih aja canggung sama aku."
"Hehehe... Ada kok yang kasih tau Mbak tentang sakitmu."
"Kakek-kakek di pos ronda itu kan yang kasih tau?"
"Em... Iya..." aku teringat dengan perkataan si kakek-kakek yang kutemui di pos ronda pertigaan jalan tadi sebelum ke rumahnya ini.
"Hehehe... Ya begitulah Mbak sakitku."
"Ini kita jadi mau adu kemampuan, apa gimana sih?" tanyaku bercanda, sambil mencubit pelan tangan kanannya itu.
"Hahaha... Ya gak gitu Mbak... Hahaha... Uhuk uhuk..."
"Nah kan... Batuk jadinya..."
Aku inisiatif mengambilkan air minum yang ada di atas meja di sebelah kasurnya.
"Ini, minum dulu..."
Segera ia minum, "Glek glek glek glek, Alhamdulillah..."
Kutaruh lagi gelasnya di atas meja.
"Ayok cerita Ris, gimana awalnya kamu sakit? Ada apa? Atau kamu habis ngapain?"
"Em... Iya deh, aku cerita sama Mbak aja ini ya."
"Iya... Mbak dengerin."
"Em, Mbak, tau kan sosok Gilang?"
Pertanyaan awal sebelum ia bercerita itu, membuatku terkejut, sekaligus heran.
"Em, i-iya... Mbak tau. Kenapa? Kok tanya sosok dia ke Mbak?"
"Sebenarnya... Waktu aku pulang dari rumah Mbak itu---"
"Kamu liat sosok Gilang?" tanyaku memotong.
"Iya Mbak..." jawabnya singkat sambil mengangguk pelan.
Aku langsung bergumam sendiri dalam hati, "Aduh, ternyata Gilang masih ada."
Risa melanjutkan ceritanya, "Aku ketemu sama sosok ghoib kecil itu di area makam yang aku lewatin pas jalan pulang."
"Pasti dia manggil-manggil kamu kan?"
"Iya Mbak. Malah aku sempet berhenti, ngobrol sama dia di depan makam."
"Aduh, Risa... Kenapa kamu malah ngobrol?"
"Gak tau juga aku Mbak, aku kayak ngerasa kasihan sama dia."
"Hmmm..." aku menghembuskan napas agak berat. Karena aku juga sangat ingat saat pertama kali bertemu sosok Gilang itu pertama kali.
"Terus Mbak... Dia..." Risa kembali tertahan ucapannya sambil menatapku. Seolah seperti takut untuk bilang. Seolah sedang menebak bagaimana reaksiku selanjutnya.
"Apa Ris? Dia ngapain?"
"Dia mau ikut sama aku. Karena dia bilang suka sama auraku."
"Terus? Kamu izinin sosok Gilang itu buat ikut?" tanyaku dengan nada agak menekan Risa.
"Eh, enggak kok, aku gak izinin dia ikut aku. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Gilang itu selalu dateng dalam mimpi aku Mbak. Hampir tiap malam."
Aku tak merespon, menunggu supaya dia teruskan ceritanya.
"Karena itu, aku jadi terganggu tidurnya Mbak. Aku jadi sering kebangun tengah malam. Malah beberapa hari sebelum aku sakit ini, semakin sering dia dateng ke mimpiku. Aku sampe beberapa malam itu gak bisa tidur sama sekali. Karena terganggu." jelasnya.
"Terus?"
"Akhirnya... Aku izinin aja dia buat ikut sama aku Mbak."
"Hah? Apa Ris?"
"Aku izinin sosok Gilang itu buat ikut aku. Soalnya dia bilang gak akan ganggu aku tidur lagi kalo aku izinin."
"Hmmm..." responku sambil menggigit bibir bawahku. Aku menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya dengan berat.
Aku memandang sesaat ke sekitar kamar Risa. Terlintas dalam pikiranku. Risa memang punya kemampuan yang sama seperti diriku, bisa melihat dan mengobrol dengan bangsa lelembut atau makhlus halus.
Tapi aku jadi tahu sesuatu. Dirinya belum bisa kuat menghadapi sosok yang seperti Gilang itu. Hatinya masih terlalu polos dan mudah dijerat dengan ucapan-ucapan bangsa lelembut yang dia lihat.
Tapi, tiba-tiba...
Risa berubah pandangan matanya. Seperti nampak sebuah ekspresi takut dari balik tatapannya itu. Dia memandang ke sebuah arah di belakangku.
"Kamu kenapa Risa?"
Dia tidak menjawab. Justru tangan kanannya terangkat. Dan menunjuk ke arah di belakangku.
Lantas, aku reflek menoleh ke belakang. Ke arah tunjukan tangan Risa itu.
Dan... Aku melihat... Sosok Gilang sudah hadir, dan ia berdiri tepat di sudut kamar tepat di sebelah pintu kamar Risa.
Masih dengan kondisi yang sama...
Tubuhnya dengan darah kering di kedua tangan dan kakinya, bajunya yang sobek di beberapa bagian...
Wajahnya yang pucat pasi, tatapan kedua matanya yang menghitam kosong...
Seketika itu juga tercium aroma anyir darah kering dari tubuhnya itu...