"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."
Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.
"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."
Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.
Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.
"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"
Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Tamu Tak Diundang
Suara hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer menggema di seluruh ruang tamu, bersahutan dengan isak tangis yang terdengar sangat dibuat-buat. Aroma parfum mawar yang menyengat langsung memenuhi ruangan, menabrak sisa aroma antiseptik yang biasa menempel di tubuh Ziva.
Sienna, model papan atas yang wajahnya sering menghiasi sampul majalah mode, kini duduk bersimpuh di samping kursi roda Elzian. Dia mengenakan gaun mini ketat yang memamerkan kaki jenjangnya, kontras sekali dengan ekspresi wajahnya yang seolah sedang melayat.
"Elzian... ya Tuhan... aku tidak sanggup melihatmu seperti ini," isak Sienna sambil menyeka ujung matanya dengan sapu tangan sutra, hati-hati agar maskaranya tidak luntur. "Dulu kamu begitu gagah, begitu kuat. Kenapa nasib jahat sekali padamu?"
Elzian duduk diam, wajahnya datar tanpa ekspresi. Dia membiarkan wanita itu bermonolog.
"Aku masih hidup, Sienna. Simpan air matamu untuk pemakamanku nanti," jawab Elzian dingin. Matanya tetap fokus pada layar tablet di pangkuannya, enggan menatap mantan kekasihnya itu.
Sienna tidak menyerah. Dia justru semakin mendramatisir keadaan. Tubuhnya condong ke depan, sengaja memamerkan belahan dadanya. Tangan lentiknya yang berhias manikur mahal terulur perlahan, hendak meraih tangan Elzian yang tergeletak di sandaran kursi roda.
"Aku cuma rindu, Elzian. Aku menyesal meninggalkanmu. Biarkan aku menyentuhmu, sekali saja..."
Tangan Sienna tinggal satu senti lagi menyentuh kulit Elzian.
TAK!
Bunyi benturan keras terdengar.
Sienna memekik kaget dan menarik tangannya. Sebuah nampan perak berisi gelas air dan beberapa butir obat mendarat dengan kasar di meja kecil tepat di samping tangan Elzian, nyaris menjepit jari sang model.
Ziva berdiri di sana, menjulang tinggi dengan tatapan tajam. Dia mengenakan pakaian santai rumahannya, tapi auranya jauh lebih mengintimidasi daripada Sienna yang berbalut barang branded.
"Ups. Maaf," ucap Ziva tanpa nada penyesalan sedikit pun. "Tadi ada lalat besar mau hinggap di tangan suami saya. Refleks saya sebagai dokter kadang terlalu cepat."
Sienna berdiri tegak, wajahnya memerah menahan marah. Dia menatap Ziva dari ujung rambut sampai kaki dengan pandangan merendahkan.
"Kau siapa? Pelayan baru?" sembur Sienna ketus. "Tidak punya sopan santun! Kau hampir mematahkan kuku seharga sepuluh juta rupiah!"
Ziva tidak menjawab. Dia mengambil gelas air dari nampan dan menyodorkannya pada Elzian. "Waktunya minum vitamin, Elzian. Dan sepertinya kau butuh suplemen tambahan untuk menahan mual melihat drama murah ini."
Elzian menerima gelas itu, menyembunyikan senyum tipis di balik bibir gelas. Dia menikmati ini.
Sienna melotot. "Heh! Aku bicara padamu! Kau tuli ya?"
"Aku istri Elzian. Ziva Magdonia," jawab Ziva tenang, lalu menoleh pada Sienna dengan senyum miring. "Dan kau pasti Sienna. Mantan pacar yang kabur saat Elzian kecelakaan, lalu sekarang datang lagi seperti pahlawan kesiangan saat melihat Elzian masih kaya raya."
Wajah Sienna pucat sejenak, tapi kemampuan aktingnya sebagai model segera mengambil alih. Dia tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat palsu.
"Oh, jadi kau istri 'pengganti' itu? Yang dibeli dari paman penjudi?" Sienna mengibaskan rambutnya angkuh. Dia kembali duduk di sofa tamu, menyilangkan kakinya dengan anggun seolah dia adalah nyonya rumah yang sebenarnya.
"Baiklah, Ziva. Karena kau sudah di sini, sekalian saja. Tolong ambilkan aku smoothie mangga. Rendah gula, pakai susu almond. Tenggorokanku kering setelah menangis tadi."
Sienna menjentikkan jarinya ke arah Ziva, persis seperti memanggil pelayan restoran.
Elzian meletakkan gelasnya, hendak membuka mulut untuk mengusir Sienna, tapi Ziva mengangkat tangan, memberinya kode untuk diam. Ziva tidak butuh bantuan laki-laki untuk mengurus hama.
Ziva berjalan mendekati sofa tempat Sienna duduk. Sienna tersenyum menang, mengira Ziva akan menurut.
Namun, Ziva justru melewati Sienna begitu saja dan berjalan menuju panel interkom di dinding. Dia menekan tombol panggil.
"Pelayan, tolong ke ruang tamu. Ada tamu yang kehausan dan tidak punya tangan untuk mengambil minum sendiri," ucap Ziva lantang lewat pengeras suara.
Sienna ternganga. Dia langsung berdiri, wajahnya merah padam karena dipermalukan. "Kau... berani sekali kau! Aku tamu kehormatan Elzian! Kau seharusnya melayaniku!"
Ziva berbalik, bersedekap dada dengan santai.
"Koreksi, Nona Sienna. Kau tamu tak diundang. Dan di rumah ini, aku Nyonya Drystan," suara Ziva tegas, penuh penekanan di setiap kata. "Tugas istri adalah menemani suami, bukan melayani mantan pacar suami. Kami menggaji pelayan untuk pekerjaan kasar. Kalau kau mau dilayani secara personal oleh pemilik rumah, silakan pulang ke rumahmu sendiri."
Sienna mengepalkan tangannya erat-erat. Dia menatap Elzian, mencari pembelaan. "Elzian! Lihat istrimu! Dia kasar sekali padaku! Dulu kamu tidak pernah membiarkan orang bicara seperti itu padaku!"
Elzian menatap Sienna datar, lalu beralih menatap Ziva.
"Ziva benar," jawab Elzian singkat. "Dia Nyonya di rumah ini. Apa yang dia katakan adalah hukum."
Dada Sienna naik turun menahan emosi. Dia sadar dia tidak bisa menang berdebat sekarang. Strateginya salah. Dia harus main lebih halus.
Sienna menarik napas panjang, lalu memaksakan senyum manis yang mengerikan. Dia merapikan tas tangannya.
"Baiklah. Mungkin aku datang di waktu yang salah. Suasana hati kalian sedang buruk," ucap Sienna dengan suara lembut yang dibuat-buat. Dia berjalan mendekati pintu keluar, melewati Ziva.
Saat posisinya tepat di samping Ziva, dan punggungnya membelakangi Elzian sehingga pria itu tidak bisa melihat wajah aslinya, Sienna berhenti sejenak.
Sienna memiringkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Ziva. Senyum manisnya lenyap, digantikan tatapan ular berbisa.
"Jangan senang dulu," bisik Sienna pelan, suaranya mendesis penuh racun. "Nikmati fasilitas mewah ini selagi bisa. Elzian cuma butuh mainan sementara karena dia kesepian dan cacat. Begitu dia bosan, kau akan dibuang ke tong sampah."
Ziva tidak bergeming, tapi matanya menyipit waspada.
"Kau cuma pengganti sementara, Ziva," lanjut Sienna, menepuk bahu Ziva seolah membersihkan debu, padahal itu adalah gestur penghinaan. "Sadar dirilah."