"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Darah yang Tak Terduga
Aula The Fortress berubah menjadi medan perang dalam hitungan detik. Suara dentuman artileri di luar sana menggetarkan pilar-pilar marmer yang kokoh, membuat debu-debu kuno berjatuhan dari langit-langit. Paman Eros segera dikawal pasukan elitnya menuju ruang bawah tanah, sementara Arkan, yang ketakutan tapi tetap keras kepala, mencoba menarik paksa lengan Elena.
"Ikut aku, Elena! Hukum ada di pihakku! Kamu masih istriku yang sah, dan aku tidak akan membiarkan bajingan ini membawamu lagi!" teriak Arkan di tengah kebisingan alarm.
Eros tidak bicara banyak. Dengan satu gerakan cepat, ia menghantamkan pangkal pistolnya ke pelipis Arkan hingga pria itu tersungkur. "Hukum mu tidak berlaku di sini, Arkan. Di dunia ini, hukum adalah siapa yang terakhir bertahan hidup."
Eros merangkul Elena, melindunginya dari reruntuhan kaca yang pecah akibat ledakan di dekat pintu masuk utama. Vanya berdiri di samping mereka, senjatanya sudah terkokang.
"Kita harus keluar sekarang! Jika artileri itu terus menghantam, tempat ini akan jadi kuburan kita semua!"
"Ayah! Aku tidak pergi tanpa Ayah!" Elena menunjuk ke arah kursi roda ayahnya yang ditinggalkan begitu saja oleh para penjaga yang panik.
Eros mengangguk. Ia menerjang maju, mengangkat tubuh Ayah Elena yang lemas ke atas bahunya. Mereka berlari menembus lorong-lorong gelap The Fortress yang kini dipenuhi asap. Namun, saat mereka mencapai pintu keluar samping yang menuju ke arah taman salju, langkah mereka terhenti.
Sekelompok pria berpakaian serba hitam—bukan tim Vanya, bukan pula tim dewan—telah mengepung area tersebut. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria muda dengan wajah yang sangat mirip dengan Elena. Garis rahangnya, bentuk matanya, bahkan cara dia menatap... itu seperti melihat versi pria dari Elena.
"Siapa kalian?" geram Eros, senjatanya terarah pada pria itu.
Pria muda itu menurunkan senjatanya. Ia menatap Elena dengan tatapan yang sangat dalam, penuh kerinduan sekaligus rasa bersalah. "Namaku Liam. Dan aku di sini untuk mengambil adikku dan Ayahku."
Elena membeku. "Adik? Aku... aku anak tunggal. Ayah bilang ibuku meninggal saat melahirkanku dan aku tidak punya siapa-siapa."
Liam tersenyum pahit, ia melirik ke arah Ayah Elena yang masih setengah sadar di bahu Eros.
"Ayah berbohong padamu selama dua puluh tahun, El. Ibu tidak meninggal saat melahirkanmu. Ibu melarikan diri bersamaku karena dia tahu siapa Ayah yang sebenarnya. Ayah kita bukan sekadar petani desa, El. Dia adalah mantan accountant untuk mafia Rusia yang melarikan diri dengan membawa setengah dari aset dewan."
BOOM!
Satu ledakan lagi menghantam tembok dekat mereka.
"Cerita sejarahnya nanti saja!" teriak Vanya.
"Liam, jika kau benar kakaknya, bantu kami keluar dari sini! Pasukan cadangan dewan sedang menuju ke sini!"
Mereka bergerak dalam formasi tempur. Liam dan pasukannya—yang ternyata adalah faksi pemberontak Moskow Selatan—membuka jalan. Mereka berhasil mencapai kendaraan taktis yang sudah menunggu di balik tembok luar.
Selama perjalanan yang guncang menembus jalanan bersalju Moskow, Elena duduk di antara Eros dan Liam. Ayahnya dibaringkan di kursi belakang, masih terus meracau dalam igauan nya.
"Kenapa Ayah membuangmu?" tanya Elena pada Liam, suaranya bergetar.
"Dia tidak membuangku. Ibu yang membawaku pergi karena Ayah menjadi terlalu berbahaya setelah mencuri aset itu. Ayah ingin melindungimu dengan cara menyembunyikanmu di desa terpencil di Indonesia, sementara dia membiarkan dunia mengira aku dan Ibu sudah mati," Liam menjelaskan sambil terus memantau radar di tangannya. "Aku menghabiskan sepuluh tahun mencari kalian. Dan baru sekarang aku punya kekuatan untuk melawan dewan."
Elena menoleh ke arah Eros. Eros hanya diam, tapi Elena bisa melihat bahwa Eros sudah tahu sebagian dari rahasia ini. "Eros... kamu tahu?"
Eros menarik napas panjang. "Aku curiga sejak awal kenapa dewan begitu terobsesi mengejarmu lewat Arkan. Bukan cuma karena aku, El. Tapi karena kamu adalah kunci untuk menemukan aset yang dicuri Ayahmu dua puluh tahun lalu. Arkan... dia hanya pion yang digunakan dewan karena dia punya akses legal untuk menikahimu secara hukum, sehingga secara otomatis semua aset yang atas namamu bisa jatuh ke tangannya—dan kemudian ke tangan dewan."
Logika pernikahan Arkan akhirnya terungkap. Pernikahan itu bukan sekadar obsesi gila Arkan, tapi rencana besar dewan mafia untuk melegalkan pencurian kembali aset mereka melalui "maskapai pernikahan" yang sah secara hukum. Itulah kenapa Arkan tidak pernah menceraikan Elena; dia butuh status suami itu untuk mencairkan harta karun yang tersembunyi.
"Lalu sekarang apa?" tanya Elena hampa.
"Sekarang, kita harus menghapus Arkan dari surat nikahmu selamanya," ucap Liam dingin. "Dan hanya ada satu cara untuk menghapus pernikahan tanpa pengadilan di dunia ini."
"Apa?"
"Kematian sang suami," jawab Liam tanpa keraguan.
Tiba-tiba, mobil mereka dihantam dari samping oleh truk besar. Mobil berguling beberapa kali di atas salju yang membeku. Elena berteriak saat dunianya berputar. Kesadarannya mulai memudar saat ia melihat pintu mobil yang ringsek ditarik paksa dari luar.
Sesosok pria dengan wajah yang separuh hancur karena ledakan di aula tadi muncul di bingkai pintu. Arkan.
Arkan memegang peluncur granat di satu tangan dan pisau di tangan lainnya. "Tidak ada yang bisa menceraikan kita, Elena... hanya maut. Dan maut itu adalah aku!"
Arkan menarik Elena keluar dari mobil yang terbalik, menyeretnya ke tengah padang salju yang luas sementara Eros dan Liam masih terjebak di dalam sabuk pengaman yang terkunci di dalam mobil.
Arkan menodongkan pisau ke leher Elena, wajahnya yang berlumuran darah mendekat ke telinga Elena. "Kamu lihat, Sayang? Pada akhirnya, hanya kita berdua. Bukan pahlawan mafia mu, bukan juga kakak barumu. Hanya kau dan aku di atas salju ini. Katakan padaku... apakah kau siap menjadi janda malam ini, atau kita mati bersama sebagai suami istri?"
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya