Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Kabut tipis bergulung-gulung di lereng gunung itu, seolah hendak menyembunyikan rahasia yang tidak boleh diketahui manusia biasa.
Gunung itu tidak tercatat dalam peta resmi dunia persilatan. Orang-orang hanya menyebutnya dengan nama samar: Bukit Kabut Sepanjang Hari.
Sebutan yang lahir dari kenyataan bahwa matahari jarang sekali menembus puncaknya. Bahkan burung-burung pun jarang bertahan lama di sana.
Di situlah, pada suatu pagi kelabu, seorang anak kecil terbaring dengan tubuh kurus pucat. Wajahnya masih menyisakan air mata, matanya memerah karena terlalu banyak menangis. Dialah Liang Shan, pewaris terakhir Keluarga Liang.
Di sisinya berdiri seorang pria berjubah abu-abu dengan rambut panjang berwarna perak yang jatuh terurai hingga punggung.
Dia adalah orang yang di dunia persilatan dikenal dengan banyak nama: sebagian menyebutnya Tuan Agung Jin, sebagian lain menyebutnya Pendekar Tanpa Bayangan. Namun, tidak ada yang benar-benar tahu siapa dia sebenarnya.
Ketenarannya bagaikan kabut—ada, tetapi sukar digenggam. Nama itu cukup untuk membuat banyak tokoh dunia persilatan bergetar, tetapi wujudnya jarang sekali dilihat manusia.
"Mulai hari ini, hidupmu akan berbeda," ucap pria tua itu, suaranya datar dan dingin, tetapi mengandung kewibawaan yang membuat dada bergetar.
Liang Shan menunduk, bibirnya bergetar. Kata-kata itu lebih menusuk dari gigitan racun yang masih bersarang di nadinya.
Ia tahu, hidupnya memang tidak akan pernah sama. Ayah, ibu, keluarga—semua telah lenyap dalam satu malam penuh darah.
Yang tersisa hanyalah sebilah Golok Sunyi dan sebuah kitab tua yang dibungkus kain kusam.
Hari-hari pertama di bukit itu lebih mirip hukuman daripada keselamatan. Liang Shan tidak hanya harus menerima kenyataan pahit kehilangan keluarganya, tetapi juga racun yang menggerogoti tubuhnya.
Kadang tubuhnya panas membara, membuat keringat bercucuran seolah ia terbakar dari dalam. Kadang tubuhnya dingin membeku, bibirnya membiru, giginya gemetar hingga berdenting.
Sering kali ia memuntahkan darah hitam pekat, bercampur dengan lendir yang bau menyengat.
Tuan Agung Jin tidak pernah menolong secara langsung. Ia hanya meletakkan sebuah kendi kecil berisi ramuan pahit di samping anak itu. Tidak ada kata-kata penghiburan, tidak ada belaian. Seolah-olah berkata:
"Kalau kau ingin hidup, bertahanlah sendiri. Kalau kau tidak sanggup, mati pun tidak ada yang menyesal."
Pada suatu malam, ketika racun menyerang terlalu hebat, Liang Shan hampir kehilangan kesadaran. Dengan suara parau ia berbisik:
"Kenapa tubuhku begini, guru? Kenapa aku tidak mati saja?"
Orang tua itu menatapnya dengan sorot mata yang dalam dan dingin. Jawabannya singkat, tetapi seperti cambuk yang menghantam hati anak kecil itu.
"Karena dendam tidak boleh tumbuh dalam tubuh yang sehat. Racun itu adalah pengingatmu. Kalau ia tidak membunuhmu sekarang, berarti ia akan hidup bersamamu. Seumur hidupmu, kau tidak boleh lupa hal ini."
Liang Shan menggigit bibirnya hingga berdarah. Air mata mengalir di wajahnya, bukan semata karena sakit, tetapi karena kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada bisa racun.
Pada hari ketujuh, kabut turun lebih pekat dari biasanya. Tuan Agung Jin memanggil Liang Shan ke sebuah pelataran batu. Di sana, ia meletakkan kitab tua dengan sampul kusam. Tulisan kuno yang samar tergores di permukaannya:
Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit
"Kau tahu apa ini?" tanya Tuan Agung Jin, suaranya setenang kabut yang menyelimuti lereng.
Liang Shan mengangguk lemah. "Ini kitab milik ayah,"
"Kitab ini bukan milik ayahmu," koreksi orang tua itu. "Kitab ini tidak pernah menjadi milik siapa pun. Ia hanyalah pengembara, berpindah tangan, mencari siapa yang berani menanggung kutukan dan rahasianya."
Anak itu terdiam. Tangannya gemetar.
"Mulai malam ini, kau akan membaca. Kau mungkin tidak mengerti dan akan tersiksa. Tapi kau harus terus membaca. Satu halaman saja cukup untuk membuat banyak orang gila. Kau masih anak-anak. Kalau kau bisa menanggung isinya, berarti langit benar-benar memilihmu."
Liang Shan meraih kitab itu dengan perasaan bercampur aduk. Takut, rindu, marah, sekaligus harapan samar yang tak berani ia ucapkan. Tangannya menekan sampul itu erat-erat, seakan takut kitab itu akan lenyap begitu saja.
Malam-malam berikutnya diisi keheningan yang berat. Liang Shan membuka halaman demi halaman kitab itu. Tulisan-tulisannya aneh, kadang seperti puisi yang tidak selesai, kadang seperti mantra.
Salah satu kalimat berbunyi:
"Golok adalah sunyi. Sunyi adalah jurang. Jurang adalah langit yang retak."
Anak itu membaca berkali-kali dan mencoba mencerna maknanya, namun yang ia rasakan hanyalah hawa dingin yang merayap di tulangnya.
Di sela-sela bacaan, wajah ayah dan ibunya selalu muncul. Kadang samar, kadang begitu jelas hingga ia ingin menjerit.
Suatu pagi, ketika kabut tersibak sedikit dan cahaya matahari samar menembus lereng, Tuan Agung Jin melemparkan sebilah ranting ke arah Liang Shan.
"Pegang!"
Liang Shan menyambutnya dengan kikuk.
"Golok bukan hanya besi. Bahkan ranting pun bisa menjadi golok kalau kau tahu caranya. Tunjukkan padaku apa yang sudah kau pelajari dari halaman pertama kitab itu."
Anak itu menggenggam ranting itu erat. Ia teringat kalimat pertama: "Golok adalah sunyi."
Tangannya bergetar, tubuhnya masih lemah, namun ia mencoba mengayunkan ranting itu perlahan.
Angin tipis berdesir. Udara seolah ikut terbelah.
Tuan Agung Jin menatap dengan mata yang redup namun tajam. Ia mengangguk pelan.
"Itu baru awal. Ingat, jurus pertama saja sudah cukup untuk membuat banyak orang mengorbankan nyawa. Jangan pernah main-main dengan kitab itu."
Hari-hari berikutnya Liang Shan mulai berlatih. Tubuhnya memang lemah karena racun, tetapi entah bagaimana setiap kali ia membaca kitab itu, ada kekuatan samar yang mengalir.
Namun racun tetaplah racun. Kadang di tengah latihan ia roboh, muntah darah, atau pingsan berjam-jam. Setiap kali sadar, ia kembali meraih ranting pohon, mencoba mengulangi jurus pertama yang disebut Tebasan Luka di Ujung Senja.
Jurus itu sederhana: sebuah ayunan yang tampak biasa. Tetapi semakin sering ia mencoba, semakin terasa ada sesuatu yang berbeda.
Angin di sekitarnya berubah arah, suara dunia terasa hilang sejenak. Seakan benar-benar ada kesunyian yang bisa menebas apa saja.
Pada suatu malam, ketika bulan setengah tersembunyi oleh kabut, Liang Shan memberanikan diri bertanya:
"Guru, mengapa tidak ada orang lain yang mengajarkan kitab ini? Mengapa hanya aku?"
Tuan Agung Jin menatapnya lama, lalu berkata pelan.
"Karena setiap orang yang mencoba memahaminya, pada akhirnya hancur oleh dirinya sendiri. Kitab ini tidak hanya mengajarkan jurus, ia mengajarkan jalan sunyi. Kau sudah kehilangan segalanya, maka sunyi adalah temanmu. Itu sebabnya kau mungkin akan sanggup."
Liang Shan terdiam dan merasakan kata-kata itu menusuk jantungnya.
Waktu berjalan lambat di bukit itu. Hari berganti malam, malam berganti hari. Liang Shan belajar memukul udara dengan ranting, berjalan di antara kabut tanpa suara, dan belajar menahan sakit dari racun yang tak pernah berhenti menggerogoti nadinya.
Tuan Agung Jin jarang berbicara. Kadang berhari-hari tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tetapi setiap tatapan matanya cukup menjadi pengingat bagi Liang Shan bahwa ia tidak boleh menyerah.
Secara perlahan, di balik tubuh kecil yang sakit-sakitan itu, mulai tumbuh sebuah keteguhan yang kelak akan membuat dunia persilatan bergetar.