NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 **Hari ke 2 di sekolah**

"Sayang bangunn, "Zeline membangunkan Ila yang masih nyenyak dengan tidurnya. Zeline menarik gorden kamar Ila agar matahari masuk kekamar putrinya itu.

"Sayang wake up, udah siang lohh. "Zeline menepuk nepuk pelan pipi chubby Ila.

"Lima menit lagi bun, "tawar Ila kemudian dia meringkuk lucu membuat Zeline terkelkeh melihat Ila meringkuk itu.

"Udah jam enam lewat sayang, nanti kamu terlambat sekolahnya." beritahu Zeline.

"Enghh, "lenguh Ila lalu dia perlahan membuka matanya dan dia mengucek matanya dengan jari-jari mungilnya.

Zeline menahan pergerakan tangan Ila yang sedang mengucek mata itu, "jangan dikucek-kucek syang, nanti matanya merah dan sakit." ucapnya pada putri kecilnya itu.

"Hu'um, "Ila mengangguk lucu lalu dia bangun dari rebahan nya.

"Mandi gih, "titah Radella.

"Iya bunda,"jawab Ila dengan suara yang masih ngantuk.

Dengan sempoyongan Ila berjalan ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.

Melihat cara berjalan Ila membuat Bunda Zeline tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.

****************

Ceklek..

Dua puluh lima menit berlalu Ila sudah mandi dan sudah mengenakan seragam sekolah DHS di tubuh mungilnya, Ila berjalan ke arah meja rias untuk memoles wajahnya dengan hanya mengunakan bedak bayi dan pelembab bibir tak lupa mengoleskan sedikit minyak telon di kedua tangannya karena Ila sangat suka dengan aroma yang di hasilkan oleh minyak telon.

"Perfect... Ila makin cantik seperti mommy," Ucap Ila sambil menepuk pipi chubby nya dengan memandang dirinya di cermin meja rias. Ila segera turun kebawah untuk sarapan.

"Hallo.. Hallo.. Hallo... Ila yang cantik seperti mommy sudah datangg........ "Teriak Ila menghampiri meja makan.

"Ngak udah teriak teriak dek telinga abang masih normal" Ucap Elzion jengah karena adiknya selalu saja teriak-teriak.

"Ini masih pagi dek jangan teriak-teriak nanti tenggorokan kamu sakit." Nasehat Alzian, dan dibalas anggukan serta senyuman dari adiknya.

"Good Morning semua..." Sapa Ara.

"Morning too dek.." Jawab si kembar dan Ayahnya.

Cup..

Cup..

Cup..

Ara berjalan ke ara bangku abang dan ayahnya, memberikan kecupan pagi di pipi si kembar dan ayah, mereka yang mendapat kecupan dari adiknya tersenyum dan hatinya berbunga bunga.

Setelah itu Ara duduk di bangkunya.

Senyum Ara mengembang saat melihat makanan didepannya.

"Yeay makan banyak-banyak," girang nya lalu duduk disamping Alzian.

Semua terkekeh dan tangan Alzian terulur untuk mengelus surai lembut sang adek. "Cepat makan habis itu kita berangkat." titah Alzian lembut pada adeknya itu.

"Hu'um, "Ila dengan segera melahap makanan yang sudah disediakan bunda nya itu.

Mereka sarapan/ makan dengan tenang tapi sesekali terkekeh karena melihat cara makan Ila seperti anak-anak yang suka belepotan dan dengan sigap Bryan membersihkan sisa makanan yang ada.

"Perut Ila besar hihi. "Ila cekikikan sambil mengelus perut nya yang besar setelah selesai makan.

"Mau lebih besar gak dek?" tanya Elzion.

Ila menggeleng, "no, nanti perut Ila meletus huhu." ujarnya dan membuat yang lain terkekeh

"Udah bicara nya, berangkat gih nanti telat." ujar Zeline kepada anak-anak nya.

"Hu'um, ayo abangg kembar.." ajak Ila tidak sabaran.

Alzian dan Elzion segera beranjak dari duduknya.

Mereka mengalami Bryan dan Zeline secara bergantian.

"Bunda, ayah Ila sekolah dulu ya. Papayyyy... " pamit Ila setelah selesai mencium kedua orang tuanya itu. Bryan dan Zeline hanya melambaikan tangan sambil tertawa kecil.

***************

Mobil hitam milik si kembar Alzian dan Elzion berhenti mulus di area parkir sekolah DHS. Begitu pintu terbuka dan ketiganya turun, suasana yang tadinya biasa saja langsung berubah ricuh.

Para siswi langsung heboh, suara teriakan bersahut-sahutan memenuhi halaman sekolah.

“Ya ampun, Alzian makin hari makin ganteng aja.”

“Elzion tuh walau kelakuannya ngeselin, mukanya tetep nggak ketolong.”

“Eh, yang kecil itu murid baru ya? X IPA 2 kan?”

“Astaga, imut banget sih.”

“Pipinya gemoy parah, pengin cubit!”

“Duh, pengin punya adek kaya gitu.”

Bukan cuma kaum hawa, para siswa laki-laki juga ikut ribut. Mata mereka tertuju pada Ila yang berdiri di tengah-tengah kedua abangnya, menatap sekitar dengan wajah polos dan mata berbinar.

Ila mengernyit kecil, lalu menoleh ke Alzian dan Elzion bergantian.

“Bang… kenapa orang-orang di sini teriak semua?” tanyanya jujur tanpa beban.

Elzion menghela napas malas. “Karena kamu keliatan lucu, Ila. Itu aja.”

Ila langsung tersenyum lebar. “Oh gitu? Hehe.”

Ia pun melambaikan tangan kecilnya ke arah kerumunan. Reaksi yang didapat justru lebih heboh dari sebelumnya.

“YA ALLAH, DISENYUMIN!”

“Manisnya kebangetan.”

“Gue yang cewek aja ikutan gemes, sumpah.”

“Mak, aku pengin adek!”

Ila hanya nyengir sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya, senyum khas yang bikin siapa pun refleks ikut tersenyum.

Alzian menunduk sedikit, mendekat ke Ila. “Udah ya, nanti keburu telat.”

“Iyaaa,” jawab Ila ceria.

Alzian dan Elzion kemudian menggenggam tangan Ila dari kanan dan kiri. Mereka bertiga berjalan menyusuri lorong sekolah, meninggalkan para murid yang masih saja teriak-teriak dan berbisik penuh antusias.

Beberapa guru bahkan ikut melirik heran melihat kehebohan pagi itu.

Saat hampir sampai di gedung kelas, Elzion melirik Ila.

“Ila ikut ke kelas abang aja dulu, ya.”

“Why?”

Ila memiringkan kepala kecilnya, alisnya saling bertaut dengan ekspresi bingung yang begitu polos.

“Hari ini nggak belajar karena bakal nyambut kepala sekolah yang baru,” jelas Elzion santai. Informasi itu ia dapatkan dari grup WhatsApp sekolah yang isinya lebih sering penuh stiker dan gosip dibanding pengumuman resmi.

Ila langsung menatapnya dengan mata bulat.

“Kenapa nggak belajar? Kan belajar itu penting,” sahutnya jujur tanpa maksud apa-apa.

Elzion mendecak kecil, lalu menoleh ke arah adiknya.

“Buat nyambut kepala sekolah yang baru, dekkk,” katanya sambil menekankan kata dek, nada suaranya gemas tapi juga mulai lelah.

Ila mengangguk sebentar… lalu bertanya lagi.

“Kenapa disambut?”

Elzion menghela napas panjang. “Karena disuruh.”

“Siapa yang suruh?” tanya Ila cepat, seolah benar-benar ingin memahami semuanya sampai tuntas.

“Para guru-guru, adekk,” jawab Elzion, nadanya makin malas.

Ila mengernyit lagi, jelas belum puas.

“Guru siapa?”

Elzion akhirnya menyerah. Ia mengacak rambutnya sendiri

 frustrasi.

“Au ahh… capek gue ngomong sama makhluk astral,” gerutunya kesal sambil melangkah sedikit menjauh.

Ila berhenti berjalan. Wajahnya tampak bingung, lalu sedikit khawatir. Ia menoleh ke Alzian yang sejak tadi hanya memperhatikan sambil menahan senyum.

“Why dengan abang lan?” tanya Ila pelan pada Alzian, matanya menatap penuh rasa ingin tahu.

Alzian terkekeh kecil. Ia menunduk dan mengusap kepala Ila lembut.

“Dia nggak kenapa-kenapa, dek.”

Namun sebelum Alzian bisa melanjutkan, Ila sudah keburu menoleh cepat ke arah Elzion.

“Abang sick?” tanyanya panik, suara kecilnya terdengar cemas.

Elzion yang masih kesal refleks menjawab,

“Ck, sakit gara-gara lo.”

Kalimat itu keluar begitu saja tanpa dipikir panjang.

Detik berikutnya, wajah Ila langsung berubah. Bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca.

“Hikss… Ila minta maaf… udah buat abang lan sakit…” ucapnya lirih, air mata mulai jatuh satu per satu.

Tangis kecil itu langsung membuat Alzian dan Elzion terkejut.

“El—,” Alzian menatap Elzion tajam, jelas tak suka.

Elzion langsung panik. Ia berjongkok di depan Ila, kedua tangannya refleks mengusap pipi adiknya yang basah.

“Eh, eh, dek… enggak, enggak,” katanya gugup.

“Abang bohong, abang nggak sakit gara-gara Ila kok. Abang cuma bercanda.”

Ila masih terisak kecil, bahunya naik turun.

“Beneran?” tanyanya pelan, suaranya gemetar.

“Iya, beneran,” jawab Elzion cepat. “Abang sehat. Super sehat.”

Alzian ikut berjongkok di samping mereka. Ia menatap Ila dengan lembut.

“Kalau abang Elzion ngomong gitu lagi, bilang ke abang, ya.”

Ila mengangguk kecil sambil menyeka air matanya sendiri.

“Jangan bercanda gitu lagi…” gumamnya polos.

Elzion menghela napas lega, lalu tersenyum kecut.

“Iya, iya. Abang kapok.”

Alzian berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya ke Ila.

“Ayo, kita lanjut. Nanti makin rame.”

Ila menggenggam tangan Alzian, lalu meraih tangan Elzion juga. Wajahnya masih sedikit merah karena menangis, tapi senyumnya perlahan kembali.

Alzian membawa adiknya masuk ke dalam kelas begitu mereka sampai tepat di depan kelas XII IPA 1. Pintu kelas terbuka, dan suasana yang tadinya ramai obrolan langsung berubah heboh seketika.

Tanpa ragu, Alzian melangkah masuk dan duduk di bangkunya. Ia kemudian menarik Ila ke pangkuannya. Gadis kecil itu langsung memeluk Alzian erat, wajahnya disembunyikan di dada bidang sang kakak, tubuhnya sedikit bergerak-gerak kecil seperti mencari posisi paling nyaman.

Ila tampak begitu aman berada di sana—tangannya melingkar di pinggang Alzian, kepalanya bersandar tenang, sesekali mengusap dada kakaknya dengan gerakan manja khas anak kecil.

Pemandangan itu sukses membuat seisi kelas mendadak ricuh.

“Anjir, Alzian, adeknya gemesin banget sih.”

“Lucu banget, serius. Itu beneran adek lo?”

“Boleh dibawa pulang nggak tuh bocil?”

“Kenalin kek, siapa sih bocil imut itu?”

Beberapa siswa bahkan berdiri setengah dari kursinya hanya untuk melihat lebih jelas. Ila yang merasa diperhatikan mengintip sedikit dari dada Alzian, matanya membulat polos. Begitu sadar banyak mata tertuju padanya, ia langsung kembali menyembunyikan wajahnya, makin memeluk Alzian erat.

Refleks, Elzion melirik tajam ke arah teman-teman kelas yang terlalu ribut.

Tatapan dinginnya menyapu satu per satu.

Sekejap…

kelas langsung senyap.

Tak ada yang berani bersuara. Semua murid tahu betul reputasi si kembar BIHS itu. Sekali Elzion melotot, lebih baik diam daripada cari masalah.

Beberapa detik kemudian, pintu kelas kembali terbuka. Geng Alzian dan Elzion masuk satu per satu, langsung menuju kursi masing-masing.

Saat Liam melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada sosok kecil di pangkuan Alzian.

“Wehhh… bocil ada di sini,” serunya sambil mendekat.

“Abang… Ila ngantuk, huhu,” rengek Ila pelan.

Tubuh kecil itu kembali bergerak mendekat, wajahnya disembunyikan di dada Alzian, seolah mencari kenyamanan paling aman yang ia tahu. Tangannya mencengkeram seragam Alzian, napasnya perlahan mulai teratur.

Alzian langsung mengeratkan pelukannya dengan satu tangan, menjaga agar Ila tetap nyaman di pangkuannya. Tangan satunya lagi mengusap rambut Ila dengan gerakan pelan dan lembut, jemarinya menyusuri helai rambut itu berulang-ulang dengan ritme menenangkan.

“Tidur aja,” bisiknya pelan. “Abang di sini.”

Ila bergumam kecil, suaranya nyaris tak terdengar, lalu diam. Kepalanya semakin berat di dada Alzian, matanya terpejam perlahan. Bahunya yang sempat tegang kini mengendur, tubuhnya sepenuhnya bersandar.

Di sekeliling mereka, kelas XII IPA 1 mendadak jauh lebih sunyi dari biasanya.

Liam yang tadinya ingin bercanda, urung membuka mulut. Dian menutup mulutnya sendiri sambil menahan senyum. Bahkan Juna hanya melirik sekilas, lalu kembali duduk dengan ekspresi tak biasa—lebih kalem.

Di sudut kelas, Elzion menyandarkan punggung ke kursinya, matanya melirik ke arah adik kecil mereka. Tatapannya dingin seperti biasa, tapi jelas ada sesuatu yang berbeda di sana—protektif, waspada.

Tak jauh dari sana, Lanka memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Sejak tadi pandangannya tak lepas dari pemandangan itu—Alzian yang tenang, Ila yang tertidur, dan suasana kelas yang berubah total hanya karena satu bocah kecil.

"So cute, little girl," batinnya singkat.

Ia menghela napas kecil, nyaris tak terdengar, lalu tersenyum tipis—sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Untuk sesaat, waktu di kelas XII IPA 1 terasa berjalan lebih lambat.

...****************...

Terimakasih 🤗

1
Marsya
lupa namanya,tapi itu ketua dari abg2 ila klau gx slah,ampun dech bisa2nya lupa namanya🤣🤣🤣🤣
Little Girl ୭ৎ 。⁠*⁠♡.
maaf KA aku salah nulis tokoh harusnya Zeline bukan Radella.
Dewiendahsetiowati
Radella ini siapa Thor?
Dewiendahsetiowati
dapat ganti keluarga yang menyayangi
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!