Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 : Perjalanan
Tiga hari berlalu dalam ketegangan yang sunyi. Kediaman Jenderal Wu berubah menjadi tempat yang mencekam bagi sebagian orang, namun bagi Qinqin, ini adalah waktu yang sempurna untuk mempersiapkan diri. Nyonya Besar Wu kini jarang keluar dari paviliunnya; lingkaran hitam di bawah matanya dan wajahnya yang pucat pasi menjadi bukti betapa efektifnya "Bunga Pemutus Mimpi" karya Qinqin.
Pagi itu, di depan gerbang kediaman, dua kuda hitam yang gagah sudah disiapkan. Wu Lian berdiri dengan baju zirah ringan, sementara Huo Lu sibuk memastikan perbekalan di atas pelana.
Qinqin muncul dengan pakaian petualang yang ringkas---setelan kain katun tebal berwarna biru gelap, dengan celana yang memudahkan gerak dan ikat pinggang kulit tempat belati perak pemberian Wu Lian tersampir rapi.
"Wah, Jenderal, kau terlihat sangat serius. Kita mau mencari obat atau mau menaklukkan negara tetangga?" canda Qinqin sambil mendekati kudanya.
Wu Lian menoleh, matanya memindai penampilan istrinya dari atas ke bawah. "Gunung Qingyun tidak mengenal candaan, Xu Qinqin. Jika kau tertinggal, aku tidak akan menoleh ke belakang. Kau setidak nya harus berpengalaman sepertiku atau seperti Huo Lu yang mampu bertahan dari serangan hewan buas atau pertapa muda."
"Dih, galak sekali. Tenang saja, kaki ini sudah tidak gemetar lagi kok," sahut Qinqin sambil melompat ke atas pelana dengan lincah, membuat Huo Lu sedikit terperangah melihat kemajuan Nyonya Mudanya.
Mereka---Qinqin, Wu Lian, dan Huo Lu--- pun memacu kuda meninggalkan ibukota Gozuang, menuju ke arah utara di mana puncak-puncak Gunung Qingyun menusuk langit dengan kabut abadi yang menyelimutinya.
Setelah menempuh perjalanan setengah hari, pepohonan rindang mulai berganti dengan hutan bambu yang rapat. Udara menjadi dingin dan lembap, membawa aroma tanah basah dan lumut yang tajam.
"Hati-hati, kita sudah memasuki wilayah luar Gunung Qingyun," bisik Wu Lian. Tangannya sudah siaga di hulu pedang.
Tiba-tiba, kuda-kuda mereka meringkik cemas dan berhenti mendadak. Dari balik rimbunnya bambu, muncul kabut putih yang sangat tebal secara tidak wajar. Jarak pandang mereka berkurang drastis hanya dalam hitungan detik.
"Jangan berpencar!" perintah Wu Lian tegas.
Qinqin menajamkan pendengarannya. Instingnya yang baru saja dilatih menangkap suara gemerisik halus dari atas pohon bambu. Srak! Srak!
"Jenderal, di atas!" teriak Qinqin.
Sesaat kemudian, beberapa sosok berpakaian hijau lumut meluncur turun dari puncak bambu. Mereka bukan pembunuh biasa; gerakan mereka sangat ringan dan sunyi, khas para pertapa penjaga gunung yang tidak menyukai kedatangan orang asing.
"Hanya orang gila atau orang putus asa yang berani menginjakkan kaki di tanah suci ini!" seru salah satu dari mereka sambil mengayunkan tongkat kayu panjang.
Wu Lian melompat dari kudanya, pedangnya berdenting saat berbenturan dengan tongkat kayu tersebut. Pertarungan pecah di tengah kabut. Qinqin juga tidak tinggal diam. Seorang pertapa muda menyerangnya dengan gerakan cepat.
Qinqin tidak menggunakan tenaga dalam yang besar karena ia tahu kapasitasnya, namun ia menggunakan kelincahannya. Ia merunduk, menghindari ayunan tangan lawan, lalu dengan teknik yang ia pelajari dari Huo Lu, ia memutar tubuh dan menghantam pergelangan tangan lawan menggunakan gagang belatinya hingga tongkat pertapa itu terlepas.
"Maaf ya, Bro, aku cuma butuh obat, bukan masalah!" ujar Qinqin sambil memberikan tendangan kecil ke arah perut lawan hingga sang pertapa mundur beberapa langkah.
Wu Lian yang sedang menghadapi dua orang sekaligus, sempat melirik ke arah Qinqin. Ia sedikit terkesan melihat istrinya tidak berteriak ketakutan, melainkan membalas serangan dengan taktik yang efisien.
"Berhenti!" sebuah suara berat dan menggelegar terdengar dari balik kabut.
Suara itu memiliki tekanan tenaga dalam yang sangat kuat, hingga membuat dedaunan bambu bergetar dan kabut perlahan menipis. Para pertapa muda itu segera mundur dan memberikan hormat.
Muncul seorang pria paruh baya dengan rambut yang dibiarkan terurai, mengenakan jubah abu-abu sederhana. Matanya yang tajam menatap ke arah Wu Lian, lalu beralih ke Qinqin.
"Seorang Jenderal dari Barat dan seorang wanita dengan jiwa yang unik," gumam pria itu. Dia adalah Guru Baiyun, salah satu penjaga lereng gunung. "Untuk apa kalian mengotori ketenangan gunung ini?"
Qinqin melangkah maju sebelum Wu Lian sempat bicara. Ia melepas tudungnya dan menatap Guru Baiyun dengan tulus namun tetap dengan gaya bicaranya yang santai.
"Guru, maafkan gangguan kami. Aku tidak butuh ketenanganmu, aku butuh Akar Naga Putih untuk menyelamatkan ayahku yang sedang sekarat . Jika Guru butuh bayaran, katakan saja. Tapi tolong jangan biarkan aku pulang dengan tangan kosong," ujar Qinqin.
Guru Baiyun terdiam, memperhatikan keberanian di mata emas Qinqin. "Akar Naga Putih tumbuh di Tebing Jiwa, tempat di mana ilusi paling gelap seseorang menampakkan diri. Jika kau bisa melewatinya, kau boleh mengambilnya. Tapi ingat, Jenderal tidak bisa membantumu di sana. Ini adalah ujian bagi jiwamu sendiri."
Qinqin menoleh ke arah Wu Lian, lalu kembali ke Guru Baiyun. "Tebing Jiwa? Kedengarannya seperti tempat yang asyik untuk menguji nyali. Aku terima tantangannya."
Wu Lian memegang bahu Qinqin, wajahnya tampak cemas. "Qinqin, itu berbahaya. Kau tidak tahu apa yang akan kau lihat."
Qinqin menepuk tangan Wu Lian dengan lembut, memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Tenang saja, Jenderal. Aku sudah pernah mati sekali, apa lagi yang harus kutakuti dari sebuah ilusi?"
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂