“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Kekhawatiran Seorang Kakak
“Tidak bisa, Yang mulia! Skenario ini tidak bisa kita gunakan lagi. Namun kita masih memiliki banyak scenario lain yang bisa digunakan ke depannya.”
Dorian memperlihatkan kumpulan kertas berisi scenario cara mendekati reinkarnasi ratu ala Dorian yang berhasil membuat Ragnar kembali tersenyum bangga padanya.
“Kau memang yang terbaik, Dorian! Aku akan mengandalkan mu kedepannya,” puji Ragnar.
“Ngomong-ngomong, kau sudah menempatkan seseorang untuk mengikutinya secara diam-diam, bukan?”
“Tenang saja, Theron pasti sudah mengurusnya,” balas Dorian.
...****************...
Di luar, Ivory berjalan di bawah hujan sambil mengomel, sepatu menghantam tanah dengan kesal. Tapi di balik kekesalannya, jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Dan itu yang paling membuatnya kesal. Padahal dirinya baru saja ditipu mentah-mentah olah Bos gilanya, tetapi perasaan khawatir itu masih jelas ia rasakan.
Gerbang besi mansion itu menutup di belakangnya dengan dentang berat, seolah menjadi penanda akhir dari kebodohannya sendiri. Sungguh Ivory menyesal karena telah mengkhawatirkan orang yang seharusnya tidak perlu dikhawatirkan.
“Sialan,” umpatnya lirih, namun penuh tekanan.
Langkahnya cepat, nyaris menghentak jalanan berbatu yang diterangi lampu taman redup. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku-kukunya menekan telapak sampai nyeri. Setiap langkah menjauh dari mansion itu justru membuat kemarahannya semakin menggila.
“Dia menipuku.”
Kata itu berulang di kepalanya, bercampur dengan wajah pria itu yang tenang, meyakinkan, dan sekarang terasa menjijikkan. Semua ringisan penuh kesakitan, raut wajah pucat yang terasa begitu lemah, rupanya hanya bagian dari sandiwara rapi yang sudah dipersiapkan hanya untuk mempermainkannya. Ia tertawa pendek, pahit merutuki kebodohannya.
“Bodoh,” gumamnya lagi, entah pada pria itu atau pada dirinya sendiri.
Ia terus berjalan, melewati jalan utama yang lengang. Ponselnya sudah ia genggam sejak tadi, jari siap memesan taksi. Satu aplikasi dibuka, lalu ditutup. Tidak ada kendaraan tersedia, bahkan tidak ada sinyal sama sekali. Ia mencoba lagi. Tetap nihil. Baru Ivory menyadari… keberadaan mansion ini jauh dari jalan umum ataupun pemukiman warga.
Lampu jalan memantulkan bayangannya yang tampak kecil dan sendirian. Angin malam menusuk kulit, tapi ia terlalu marah untuk peduli. Kini yang harus ia pikirkan adalah bagaimana caranya ia bisa pulang ke rumahnya.
“Lengkap sudah,” desisnya kesal. “Dipermainkan, dibohongi, sekarang ditelantarkan.”
Langkahnya mulai melambat, bukan karena lelah, tapi karena kesadaran bahwa ia benar-benar sendirian di jalan asing ini. Mansion itu sudah jauh di belakang, tapi gengsi menahannya untuk menoleh, apalagi kembali.
Tiba-tiba, suara mesin pelan terdengar dari belakang. Ia berhenti. Bahunya menegang. Sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter darinya. Kaca jendela diturunkan perlahan, memperlihatkan wajah pria yang tak asing—salah satu anak buah Bos gilanya. Ia ingat tatapan itu. Tajam, waspada, tapi kini berusaha terlihat netral.
“Maaf, Yang mul—maksud saya Nona,” katanya sopan, namun berhati-hati. “Malam sudah larut. Jalanan di sini tidak aman. Tuan Rowan meminta saya untuk mengantarkan anda dengan aman sampai tujuan.”
Ivory berbalik cepat, mata menyala tajam seolah bisa melubangi wajah pria itu yang tak lain adalah Theron. Seperti yang sudah Dorian perkirakan, begitu melihat Ivory keluar dari Mansion langsung mengikutinya diam-diam. Sampai akhirnya Sang Raja memberinya perintah untuk mengantarnya pulang dengan aman.
“Kalau kau datang atas perintahnya,” katanya dingin, “bilang padanya aku tidak butuh belas kasihan.”
Theron terdiam, menatap Ivory penuh ragu. “Baik… tapi apakah anda yakin tidak mau saya antar. Tempat ini sangat sulit mendapatkan kendaraan umum. Tuan memerintahkan saya untuk mengantar anda karena tahu tentang hal ini.”
Kalimat itu justru membuatnya semakin kesal.
“Jadi sekarang aku diawasi?”
“Dijaga,” koreksi Theron singkat. “Setidaknya sampai Nona tiba di rumah dengan selamat.”
Ivory terdiam. Amarah masih ada, tapi logika perlahan menyusup di sela emosi. Jalanan kosong, ponsel tak berguna, dan rasa marah tidak akan mengantarkannya pulang. Ditambah lingkungan itu seperti hutan yang terbelah, seakan sosok menyeramkan bisa muncul kapan saja dibalik pepohonan tinggi yang ada di sana.
Setelah beberapa detik yang terasa panjang, Ivory mendecak pelan. Ia tidak memiliki banyak pilihan, bersikeras sama saja mempersulit diri sendiri. Sebaiknya ia meredakan amarah dan bisa dilanjut nanti atau besok.
“Hanya sampai rumah,” katanya tegas. “Dan jangan bicara apa pun tentang malam ini.”
Pria itu mengangguk, membukakan pintu belakang mobil. Ivory masuk tanpa menoleh ke mansion yang telah ditinggalkannya. Tempat di mana kepercayaannya runtuh, dan malam ini berubah menjadi sesuatu yang tak akan mudah ia lupakan.
...****************...
Pukul sepuluh malam.
Jarum jam di dinding bergerak pelan, seolah sengaja mengejek kecemasan yang semakin menyesakkan di ruang keluarga. Lampu belum ada yang dipadamkan. Televisi menyala tanpa suara. Elena tampak berdiri di dekat jendela sejak lima belas menit lalu, mondar-mandir dengan ponsel yang tak lepas dari genggaman.
“Belum juga?” gumamnya untuk kesekian kali.
Tak ada jawaban. Yang ada hanya derit jam dan firasat buruk yang terus tumbuh. Seharusnya, adiknya sudah pulang sebelum matahari benar-benar tenggelam. Karyawan tidak pernah pulang selarut ini, kecuali ada sesuatu yang salah. Ia bahkan tidak melihat keberadaan sang adik di perusahaan setelah jam makan siang itu.
“Jangan-jangan bajingan vampire itu yang menculiknya.” Elena mulai berpikiran negative.
“Apa yang harus aku lakukan untuk menemukan Ivory? Aku tidak tahu alam tempat tinggalnya, bahkan nomor pribadinya juga tidak punya.”
“Benar, Penyihir menyebalkan itu pasti tahu sesuatu. Aku harus menghubunginya.”
Hanya satu nama yang terlintas dibenak Elena saat itu yaitu Denzel Hetherington. Beruntung, ia sudah mendapatkan nomor telepon pribadinya untuk pekerjaan yang mengikat mereka di perusahaan. Tanpa buang waktu Elena segera menelponnya untuk menanyakan keberadaan sang adik.
Drrrttt …
Ponsel itu bergetar untuk keempat kalinya dalam lima menit.
Nama yang sama kembali muncul di layar, menyala di antara cahaya redup restaurant yang berantakan. Darah masih mengalir tipis di lantai marmer, bercampur dengan sisa makanan dan bau wine yang menyengat. Beberapa tubuh tergeletak tak bergerak, sementara Denzel tampak berdiri di tengah kekacauan, membuka sarung tangannya dengan ekspresi dingin.
Getar lagi.
“Sial, kenapa dia terus menghubungiku? Pasti mencari keberadaan adiknya. Lebih baik aku abaikan saja.”
"Tidak tahu apa... penyihir agung ini sedang sibuk membangun ulang sebuah restaurant."
Denzel melirik layar sekilas… hanya sekilas, lalu meletakkan ponsel itu di atas meja besi tanpa berniat menyentuhnya. Fokusnya kembali pada pekerjaannya. Memastikan tak ada yang bangun, tak ada yang melapor, tak ada jejak yang tertinggal. Malam ini seharusnya bersih.
Namun di sisi lain kota, kesabaran seseorang mulai runtuh.
Elena menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras. Panggilan tak terjawab. Pesan-pesan yang hanya dibaca sepihak, bahkan mungkin tak dibaca sama sekali. Jam di dinding kini menunjukkan pukul sepuluh lewat dua belas menit. Namun ia masih tidak mengetahui keberadaan adiknya.
Bersambung….
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔