NovelToon NovelToon
Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Azalea : Aku Menjadi Karakter Teman Tokoh Utama Perempuan Yang Mati Di Ending Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai / Masuk ke dalam novel / Menjadi NPC / Fantasi Wanita
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azalea Rhododendron

Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'

Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.

Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 : Kenangan Masa Kecil

.....Happy Reading^^...

...💮...

Beberapa hari ke depannya, aku kembali melanjutkan belajar berjalan dengan dibimbing oleh orang lain.

Dua langkah berubah menjadi empat langkah, empat langkah berubah menjadi delapan langkah. Dan seterusnya.

Selain terapi berjalan, Bibi Edel masih melanjutkan pengobatan menggunakan sihir penyembuhnya dan dia masih membuatkanku obat herbal.

Matahari bersinar cerah hari ini, membuatku memiliki semangat untuk kembali belajar berjalan lagi!

Tapi sayangnya, Bibi Edel tengah sibuk membuatkanku obat herbal hari ini. Jadi Papa dan Mama yang bergantian untuk menemaniku berlatih berjalan. Kedua orangtuaku itu tampak bersemangat ketika Bibi Edel memerintahkan mereka untuk membantuku belajar berjalan, karena Bibi Edel akan sibuk membuat obat herbal untukku.

"Bagus Aza!" puji Papa yang menuntun tubuhku untuk melangkah, sementara Mama berdiri tiga langkah di depanku. Tiap aku melangkah, Mama akan berjalan mundur persis ketika seorang orangtua menuntun anaknya yang berjalan melangkah untuk pertama kalinya.

"Ayo Putri Mama! Kamu pasti bisa!" seru Mama menyemangatiku dengan senyuman lebarnya.

Aku pun jadi bersemangat untuk melangkah karena pujian Mama.

Satu langkah...

Dua langkah...

Tiga langkah...

Empat langkah...

Tapi tentu saja langkah yang aku ambil ini masih terbilang kecil, berbeda dengan langkah orang normal pada umumnya. Papa dengan setia memegang punggung dan salah satu tanganku untuk menuntunku berjalan.

Aku sekilas memperhatikan sekitar di mana hanya ada aku, Papa, Mama, satu dayang Mama dan Asisten Papa yang menunggu disudut Ruangan dekat pintu keluar dan masuk kamarku.

Tidak ada Kak Asher.

Dia masih tidak mau untuk bertemu denganku?

Sampai kapan!

Papa bilang pekerjaan Asher sangat banyak sekarang, ditambah Papa juga memberikan sebagian pekerjannya agar dikerjakan oleh Kak Asher, karena beliau ingin selalu ada saat aku belajar berjalan seperti sekarang.

Aku melihat Papa berkaca-kaca matanya membuatku bingung. "Papa kenapa?" dia melepas satu tanganku yang dia pegang untuk mengelap air matanya yang hampir jatuh.

"Tidak apa-apa, Papa cuman tiba-tiba teringat satu kenangan saja..." jawab Papa sambil tersenyum lalu menatap Mama yang juga tersenyum.

Mengingat satu kenangan? Kenangan apa?

"Saat kamu masih kecil dan baru pertama kali belajar berjalan," jawaban Papa ini membuatku sedikit tertawa.

"Posisi sekarang ini persis posisi kamu belajar jalan waktu kecil dulu,"

"Kedua tangan Papa persis di punggung sama satu tangan kamu. Hanya saja, dulu Papa rasakan punggung dan tangan ini kecil sekali," Papa membuatku dan Mama tertawa. Bahkan Asisten Papa dan Dayang Mama yang menunggu di sudut Ruangan sekilas terlihat menahan tawa bagiku.

Sebuah memori tiba-tiba terlintas di penglihatanku. Terlihat seorang pria yang mirip Papa tapi lebih muda, lalu ada wanita cantik yang mirip Mama tapi dengan versi lebih muda. Lalu ada gadis kecil berambut merah muda pendek tampak belajar berjalan dipimpin oleh pria itu, lalu wanita dan seorang anak laki-laki kecil yang lebih besar dari gadis kecil itu menyemangati mereka. Tangan besar sang pria memegang pundak kecil dan satu tangan kecil gadis itu dengan lembut membantunya berjalan.

Aku pun mengedipkan mataku berkali-kali setelah sadar dari ingatan itu, tampaknya itu kenangan yang dimaksud Papa Alder. Kenangan di mana Azalea pertama kali belajar berjalan waktu kecil.

"Tapi sekarang berbeda, karena Putri Papa telah tumbuh dewasa!" seruan Papa membuatku kembali fokus.

Lalu dengan perlahan, Papa melepas tangannya dari punggung dan tanganku. Untungnya aku sekarang bisa berdiri dengan sempurna, aku melihat Papa yang tersenyum lalu mundur beberapa langkah dan berdiri di samping Mama.

Apa maksudnya ini?

"Ayo, Putri Papa! Jalan kemari! Nanti Papa kasih hadiah!" ucapannya membuatku teringat mendiang Papa di duniaku. Mataku langsung berkaca-kaca, lalu aku mulai melangkahkan kakiku untuk melaksanakan perintah Count Alder.

Satu langkah...

Dua langkah...

Tiga langkah...

Empat langkah...

Lima langkah...

Dan akhirnya Enam langkah!

Aku memegang kedua tangannya yang terulur untukku.

"Putri Papa yang pintar!" Papa lalu dia menarikku untuk memeluknya dari samping, lalu Papa merentangkan tangan untuk mengundang Mama agar ikut berpelukan juga.

Aku merasakan kehangatan orangtuaku dari mereka berdua.

"Seharusnya kak Asher juga ada di sini berpelukan bersama kita," celetukku secara tiba-tiba.

"Kakakmu sedang sibuk, sayang." jawab Mama dan aku hanya menganggukkan kepalaku.

...💮...

Keesokan harinya, aku bangun dari tidurku dan langsung dimandikan oleh para pelayan yang telah menunggu di depan kamarku, mereka belum masuk sebelum aku bangun dan membolehkan mereka masuk. Aku masih belum diperbolehkan untuk mandi di kamar mandiku, karena tubuhku masih lemah sedikit karena Bibi Edel takut aku terpeleset di lantai kamar mandi.

Setelah selesai mengganti pakaianku mereka segera pergi. Sementara aku tetap duduk di kasurku dan melamun, entah kenapa aku seperti tidak ingin melakukan apapun hari ini.

Cip! Cip! Cip

Kicauan burung di luar jendela menarik perhatianku. Keinginanku untuk melihat pemandangan burung-burung membuatku memiliki niat kuat untuk bangkit dari kasur dan berjalan menuju jendela. Kini aku bisa berjalan dengan baik, tanpa oleng, tanpa rasa sakit dan tanpa otot yang lemah. Aku berjalan biasa layaknya orang berjalan pada umumnya.

Dari jendela yang terbuka sedikit itu, aku melihat pemandangan luar kastil Lorienfield. Jalan bebatuan yang rapi, beberapa tanah yang masih ditanami rumput, beberapa taman bunga kecil serta terlihat banyak prajurit dan pelayan berlalu lalang di bawah sana. Kedua tangan yang kini kurasakan kuat mendorong jendela yang cukup besar itu agar terbuka lebih lebar lagi.

Lalu aku bukan hanya melihat pemandangan di bawah, tapi juga pemandangan langit yang cerah berwarna biru dengan awan-awan meneduhkan. Tidak lupa dengan burung-burung yang terbang di langit, mereka berkicau dengan suara yang merdu di telingaku.

Lalu aku menoleh pada bunga Azalea yang tertanam di dekat jendelaku. Aku tersenyum melihat betapa segarnya bunga itu.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan membuatku menoleh. Aku tidak menjawab ketukan itu, tapi langsung berjalan ke arah pintu untuk membukanya.

Begitu pintu terbuka, terlihat Papa dan Asistennya berdiri di depan pintu.

"Aza! Jawab saja ketukan Papa, tidak perlu berjalan sampai membuka pintu!" omel Papa padaku.

Aku tersenyum pada Papa. "Tidak bisa, Papa. Aku kini sudah mulai pulih dan bisa berjalan dengan normal. Bibi Edel juga menyarankanku untuk sering berjalan-jalan dengan kakiku sendiri, tanpa bantuan orang lain. Itu bisa membantu penyembuhan," jawabku dengan jelas agar Papa mengerti.

"Ya, baiklah. Ayo! Kita sarapan bersama dengan yang lain." ucap Papa sambil mengulurkan tangan padaku. Aku pun mengulurkan tangan juga.

...💮...

Sesampainya di Ruangan makan. Sudah ada Mama, Asher dan Bibi Edel yang duduk di masing-masing kursi sesuai etika makan ala kerajaan yang suka aku baca di novel-novel.

Papa menuntunku untuk duduk ke salah satu kursi yang berada dekat Bibi Edel. Beliau menarikkan kursi untukku dan menunggu diriku duduk. Lalu Papa duduk di meja Kepala Keluarga sebagai Count Lorienfield.

Mataku bertabrakan dengan mata Asher, ini pertama kalinya aku berada dekat kakak yang telah mengetahui penglihatanku akan masa depan dengan beberapa bumbu kebohongan.

Lalu sebuah steak yang tampaknya lezat diletakkan di depanku.

"Itu steak panggang yang benar-benar matang. Kehilangan ingatan tidak membuat dirimu kehilangan kebiasaan makanmu, bukan?" aku mengangkat kepalaku pada Mama yang menjelaskan makanan kesukaan Azalea.

"Kamu tidak suka makanan mentah kecuali sayuran." sambung Asher yang ikut menjelaskan.

Tampaknya makanan kesukaanku dan Azalea sama. Aku tidak bisa makan makanan mentah selain sayuran dan tidak menyukai organ hewan.

...💮...

...Bersambung....

...Thanks For Reading My Story^^...

...Dipublikasikan pada tanggal: 5 Febuari 2026....

1
Alishe
masi kaku dia wkwk menanti gebrakannya deh😘
Azalea Rhododendron: oke siap^^
total 1 replies
Alishe
w demen nih kluarga bucin bontot gini🤣🤣🤣
Azalea Rhododendron: iya, nantikan terus keluarga cemara ini ya^^
total 1 replies
Alishe
mampirrr
Azalea Rhododendron: Terima kasih sudah menyempatkan ke cerita ini😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!