Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Masa lalu John.
John mencerna semua cerita Zach. Seperti menyatukan potongan puzzle yang berserakan supaya membentuk gambar yang utuh. Menyusun keping demi keping cerita biar saling terhubung. Tapi apa benar cerita Zach dengan mimpi-mimpinya saling terhubung?
"Zach, kenapa kedua tangan dan kakiku diikat?" seru Carol tiba-tiba yang sudah tersadar dari pingsannya.
"Kamu sudah sadar, Carol?" Zach menghampiri Carol yang sudah terlihat tenang.
Carol terlihat kebingungan. "Apakah aku barusan pingsan? Sebenarnya apa yang terjadi denganku Zach?" Carol meronta dari ikatan di tangannya.
"Tenang Carol. Kamu beneran tidak ingat kejadian tadi? Kamu mengamuk tanpa sebab. Itu sebabnya kamu diikat."
Carol berusaha mengingat kejadian tadi, saat bangun pagi. Dia shock saat melihat ada bulu melekat di kedua lengannya. Hanya itu. Selebihnya Carol tidak ingat apa-apa. Spontan dia melihat kedua lengannya. Tidak ada lagi ada tumbuh bulu yang membuatnya merasa jijik dan geli.
"Zach, lepaskan tali ini. Kakiku sakit." ucap Carol lirih. Zach memandang ke arah John.
"Tunggu sebentar. Om pastikan dulu kalau Carol tidak berbahaya." bisik John di telinga Zach. John mengambil botol kecil berisi air suci. Memercikinya ke wajah Carol seraya merapal doa.
Carol menatap John kebingungan. Dia ingin protes kenapa tubuhnya diperciki air? Namun, Carol diam saja karena benar-benar tidak mengerti.
"Baiklah, kita lepas saja ikatannya. Carol sudah aman." Zach dan Mang Karsa melepas tali di kedua lengan dan kaki Carol. Karena takut dan bingung, Carol memeluk Zach kuat. Mohon perlindungan.
Zach menepuk-nepuk bahu Carol, menenangkannya. "Jangan takut. Kamu aman." bisiknya lirih. Perlahan Carol melepas pelukannya. Tapi tangannya tidak lepas memegangi lengan Zach.
"Sejak kapan kamu berubah Zach ?" selidik John mengabaikan Carol yang masih ketakutan.
"Sebelum kebakaran itu. Pak Edward menyuntikkan sesuatu padaku dan dirinya. Tetapi Pak Edward berakhir dengan tubuhnya meledak. Kami tidak tau apa penyebabnya. Tapi sebelum meledak beliau berubah wujud menjadi kera. Aku juga berubah saat kebakaran itu ketika menolong Carol."
"Bagaimana dengan ketiga teman kalian? Apakah mereka juga berubah sebelum kebakaran atau setelahnya?" seperti seorang detektif saja, John menanyakan kronologi kejadian yang menimpa mereka.
Zach menarik nafas panjang. Mengingat nasib ketiga temannya. "Setelah kejadian itu kami belum pernah bertemu mereka. Mereka diisolasi di rumah sakit. Aku sudah menyelidikinya. Ternyata mereka berubah juga. Mungkin saat mereka di rumah sakit, mereka berubah. Itulah sebabnya mereka ditahan disana." ucap Zach dengan wajah sedih.
"Mungkin itu yang terbaik karena mereka sangat berbahaya. Lalu Carol sejak kapan berubah?"
"Baru tadi Om. Setelah dia minum sesuatu di rumah Pak Edward yang dikiranya air mineral. Carol sakit"
John menghela nafas panjang. Menatap Zach dan Carol bergantian. " Hidup kalian memang sudah tidak sama lagi sejak kejadian itu. Bahkan kota ini juga sudah dianggap mati. Om tidak menyangka kalau Om akan terlibat lagi dengan hal seperti ini. Semenjak Om pernah terjebak di daerah konflik dua puluh tahun yang lalu.
"Skema ini terulang lagi. Hanya saja tokoh dan pelakunya yang berubah. Atau memang tetap sama saja, tapi bereinkarnasi. Meskipun kasusnya berbeda, tapi alurnya tetap saja.
"Ini bukan kebetulan. Tetapi memang ada seseorang yang merencanakan semua ini. Dan kota kecil ini menjadi target mereka."
"Maksud Om?" Zach kebingungan.
"Jangan khawatir. Kalian akan aman disini bersama Om. Om akan mendampingi kalian mulai saat ini. Asalkan kalian mau bekerja sama dengan Om.
"Sebenar Om siapa? Kenapa Om sampai terlibat dengan situasi di kota kami ini. Ini bukan kebetulan ya? Jadi benar kalau kota kami menjadi basis percobaan?" John berjalan ke arah jendela kamar. Memandang panorama indah dengan latar hutan pinus. Alam yang sebentar lagi akan musnah oleh keserakahan segelintir orang yang sudah kehilangan hati nurani.
"Dua puluh tahun lalu ...." John memulai kisahnya. "Setelah ditahbiskan sebagai Imam di salah satu biara, Om ditugaskan di daerah konflik. Sebagai Imam tentara Om mengemban misi menyelamatkan putri seorang pejabat dari penculikan. Mengeluarkannya dari daerah konflik.
"Misi berhasil. Gadis itu selamat. Pejabat itu mengundang Om, dalam sebuah perjamuan sebagai ucapan syukur dan terimakasih. Tapi seseorang berhasil menjebak Om. Seseorang yang menginginkan karir kemiliteran Om dan sebagai seorang Imam hancur."
"Om menikahi gadis itu sebagai bentuk tanggung jawab dan memilih keluar sebagai Imam. Tetapi penculik masih memburu Om dan istri Om. Tiga tahun kemudian mereka membunuh istri dan anak Om. Mereka dijadikan sebagai persembahan oleh sekte sesat ...." beberapa saat ruangan hening mencekik.
Zach dan Carol bahkan menahan nafas. Takut kalau desahan nafas mereka malah berbalik mencekik.
"Om terpuruk! Om bahkan kehilangan arah sejak kematian anak dan istri Om. Dan beberapa tahun belakangan ini, Om dihantui mimpi yang sama. Berulang terus. Bahwa akan ada seseorang yang darahnya ditumpahkan, untuk membuka portal iblis berkuasa.
Om telah menyelidikinya hingga sejauh ini. Om malah bertemu dengan kalian. Entah ini karena kebetulan atau kita memang ditakdirkan. John menghela nafas panjang.
"Pertanyaan Om, adakah hubungannya dengan kalian? Darah siapa diantara kalian yang diburu pimpinan sekte itu. Apakah itu darah kalian?" John menatap Zach dan Carol bergantian. Yang ditatap bergidik ngeri mendengar pernyataan itu.
"Yang jelas darah kalian sudah tidak murni lagi. Dalam tubuh kalian ada kekuatan gelap, yang akan menguasai dunia ini. Mungkin kalian adalah target dari mereka. Percobaan DNA yang sempurna. Karena hanya kalian berdua yang terlihat normal. Dan bisa berubah wujud jika kalian bisa mengontrol emosi."
"Om, kenapa Om begitu yakin. Om membuat kami takut." sela Carol mencengkram lengan Zach kuat.
"Kalian harus tau hal ini. Karena percaya atau tidak kalian sudah menjadi target. Tinggal menemukan kalian saja. Om tidak bermaksud menakut-nakuti. Om hanya mengungkap fakta. Supaya kalian siap sejak ini."
"Apa yang harus kami lakukan Om?" seru Zach sudah muali bisa menguasai diri.
"Pertama. Jangan gunakan lagi ponsel kalian. Benda itu harus dihancurkan. Karena mereka bisa melacak keberadaan kalian lewat satelit."
"Ta-tapi bagaimana kami berhubungan dengan keluarga kami, Om." protes Carol.
"Orang tua kalian sudah tidak selamat."
"Maksud Om?"
"Brakk!" suara gaduh tiba-tiba terdengar dari arah dapur. Spontan John menutup pintu kamar. Zach dan Carol berlari ke arah jendela.
"Awas! Tutup jendelanya Zach!" seru John berusaha menahan pintu yang didobrak dari luar.
"Apa yang terjadi Om?" teriak Zach setelah berhasil menutup jendela.
"Om tidak tau. Tapi sepertinya Mang Karsa dan istrinya sudah tidak selamat."
"Astaga!"
John mencoba mengintip dari lubang kunci. Keadaan dalam rumah sudah kacau balau. "Zach dorong meja kesini. Untuk menahan pintunya!" ***