NovelToon NovelToon
Hanya Wanita Pelarian

Hanya Wanita Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan rahasia / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.

Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.

Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.

Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?

Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecewa

Rama spontan kikuk. Ia sendiri bingung dengan apa yang dia rasakan. Entah mungkin karena ia juga baru saja kecewa melihat foto yang dikirim seseorang soal Amel di luar negri, tapi tak mampu mengekspresikan kekesalannya. Ia menahan diri supaya rencana resepsinya tak kacau.

Melihat kedekatan Aya dengan adiknya tentu memancing kecewa dan kesalnya lagi, akhirnya ia bersikap posesif pada Aya dan dingin pada adiknya sendiri.

Melihat Rama yang lagi-lagi tak menjawab, Aya memilih tak memperpanjang soal itu. Ia juga tahu diri, tak ada gunanya mengkonfirmasi pertanyaan itu lagi. Jawabannya sudah jelas, tak ada dia di hati Rama. Ia hanya pelampiasan kekesalan Rama. Ia hanya.. pelarian.

Rama membelokkan stir mobil ke parkiran dealer. Keluar dari mobil, tanpa sikap romantis seperti yang ia lakukan saat dihadapan Raka semalam.

Aya menarik nafas panjang, dan keluar dari mobil. Ia berusaha bersabar dan bersyukur, ocehannya tadi tak membuat Rama berubah pikiran membelikannya motor. Bagaimana pun juga, ia tak mungkin diantar jemput terus oleh Rama, apalagi oleh Bayu.

"Pilih, mau yang mana, " titah Rama dingin.

"Aku terserah Abang aja, " sahut Aya singkat.

"Selamat Pagi, Pak. Mau cari motor yang bagaimana? "

"Yang bagus dan aman untuk perempuan, " sahut Rama sambil berjalan melihat motor-motor yang tertata di showroom.

"Oh, untuk adiknya ini ya. Mari ikut saya, " sahut pekerja dealer itu.

Rama tersentak mendengar sebutan pria itu untuk Aya, tapi hanya bisa terdiam. Aya memang seusia adiknya, mau dibantah bagaimana lagi.

Aya menahan tawa dibelakang melihat ekspresi Rama yang mendadak jelek.

Setelah hampir satu jam, memilih, berdiskusi soal keunggulan dan mengurus pembayaran lunas di tempat, mereka akhirnya pamit pergi setelah berterima kasih pada pekerja itu.

"Kamu nggak lihat sepanjang kalian ngobrol tadi suaminya terlihat dingin? " tanya rekan pekerja itu.

"Suami? Aku kira kakaknya. Pantas saja ekspresinya mendadak bad mood gitu."

"Makanya, lain kali perhatikan jari mereka, ada cincinnya nggak," ujar rekannya lagi.

Pekerja itu hanya mampu menggosok tengkuknya karena menahan malu.

***

Perjalanan menuju rumah sakit terasa makin panjang. Sepanjang jalan mereka hanya diam. Canggung.. kesal.. jadi satu.

Sesekali terdengar helaan nafas dari mulut Aya. Rama melirik sekilas. Helaan penuh beban, tapi juga tak ingin ia sembunyikan.

"Besok, kita cari rumah di area perumahan yang sama, " ujar Rama tiba-tiba.

"Rumah? Kenapa? "

"Raka akan tinggal lama disini, karena tesisnya sudah selesai. Dia baru kembali enam bulan lagi ke Brunei untuk wisuda. Aku mau kamu leluasa di rumah. Kalau ada dia, gerakmu terbatas kan? "

"Tapi, bukannya Mama justru mau aku dirumah nemenin Mama? "

"Kamu bisa PP ke rumah Mama, kan masih dalam satu perumahan. Mama juga bisa main-main ke rumah kita."

"Ya sudah, aku ikut Abang aja."

Tak lama, mereka akhirnya sampai di rumah sakit.

TOKTOKTOK

"Assalamu'alaikum, " sapa Aya seraya masuk ke dalam.

" Walaikumsalam. Sayang, akhirnya sampai, " sambut Harum.

Aya menghampiri keduanya lalu bersalaman.

Kelihatan sekali ia sangat menyayangi Aya seperti putrinya sendiri. Itu yang membuat Aya merasa tak tega membuat hati wanita itu terluka.

Aya berulang kali hendak meminta cerai dari Rama, terutama saat Rama mengatakan ia tak berhasil membujuk Amel. Aya juga sempat berniat membantu Rama untuk membujuk kedua orangtuanya untuk mau menerima Amel sebelum ia tahu siapa Amel dari Bayu waktu lalu. Namun, hingga saat ini ia akhirnya lebih banyak menuruti kemauan mereka soal pernikahannya.

"Rama mana? " tanya Harum.

"Abang sholat dzuhur di masjid rumah sakit, Ma."

"Mama Papa belum sholat kan? Mau berjamaah? "

Harum menatap Jaka tersenyum lalu keduanya mengangguk.

Aya membantu Jaka berwudhu, dan membantu Harum ber tayamum. Mereka sholat berjamaah di ruangan itu, diimami Jaka.

Ada rasa syukur dihati keduanya, mendapat menantu setaat Aya, bahkan bisa mengajak putranya kembali ke jalan Allah. Namun sayang, Rama belum bisa membuka hati sepenuhnya untuk Aya.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi. "

TOKTOKTOK

CEKLEK

"Wa'alaikumsalam, " ujar Aya.

Rama tertegun, "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " sahut ketiganya.

Harum tersenyum, ia tahu Aya sedang menyindir Rama sebelumnya. Sikap Aya yang keras, justru lebih sering membuat Rama luluh.

"Aya, barang-barang sudah di pindah ke rumah, kan? " tanya Harum kemudian seraya melipat mukena.

Aya menatap Rama, Rama mengerti.

"Emm... Ma, rencananya. Rama dan Aya mau cari rumah di perumahan kita. Biar Aya leluasa. Kalau di rumah, Ada Raka Ma."

"Kalian mau tinggal di rumah sendiri?"

Rama mengangguk.

"Padahal kan ketemunya juga cuma malam, Rama. Aya kerja, adikmu rencana mau mulai magang sebelum wisuda. Harusnya nggak masalah kalian tinggal di rumah. Kenapa harus buru-buru sih? Apa Aya sudah hamil jadi kamu merasa Raka membuat Aya kurang nyaman?"

Rama dan Aya terpaku.

"Oh bukan, Ma. Maksud Rama... "

"Maksud Abang, biar Aya leluasa dalam berpakaian. Nggak harus pakai jilbab terus di rumah. Nggak harus hati-hati mau pakai baju apa. Gitu Ma."

"Ooh gitu. Ya sudah, kalau memang itu membuat kalian nyaman. Tapi kalian kalau weekend wajib ke rumah ya."

Aya dan Rama akhirnya mengangguk. Rama bernafas lega, alasan Aya bisa diterima. Padahal alasan utamanya karena Rama cemburu melihat Aya akrab dengan Raka. Nampak egois memang, tapi itulah yang ia rasakan. Dan itu.. masih tak membuatnya memutuskan untuk melepaskan Amel.

Saat perjalanan pulang dari rumah sakit, ponsel Rama berdering. Amel menelponnya. Rama meminggirkan mobilnya dan keluar untuk menjawab telpon itu.

Aya hanya diam, ia sempat melirik ke arah ponsel Rama tadi tertulis My Love. Aya bisa menebak dari siapa itu. Aya menatap kaca spion di samping kursi pengemudi. Nampak Rama terlihat marah dari ekspresinya saat berbicara di telpon.

CEKLEK

BRAKK

Rama tersengal duduk di kursi pengemudi. Rahangnya mengeras, jelas dia sedang menahan emosi.

Aya membuka botol air mineral yang dia ambil dari tasnya. Lalu menyerahkannya pada Rama.

Rama menatap botol itu, mengambil dan meminumnya.

"Terima kasih," ujarnya sambil menyerahkan kembali.

Rama menarik nafas panjang, menyalakan mobil dan menginjak pedal gas.

"Aya, " panggil Rama.

Aya menoleh, melihat Rama yang masih menatap ke arah jalan.

"Aku sudah putus dengan Amel, " ujarnya lagi.

Aya mengangguk mengerti, tapi tak bertanya lebih jauh. Tak ada ekspresi bahagia, bingung atau terkejut. Hanya diam dan menerima informasi itu dengan baik.

"Kamu, tak mau tahu kenapa?" tanya Rama.

Aya menggeleng, "itu bukan urusanku. Kalau abang sudah memutuskan begitu, aku hanya berharap Abang komitmen dengan keputusan itu."

"Apa kamu masih tak percaya? "

"Bukan tak percaya, hanya saja... hati mudah berubah. Apalagi keputusan yang diambil saat emosi."

Rama terdiam. Saat ini, perkataannya memang tak sepenuhnya meyakinkan. Ia harus memikirkan cara untuk membuktikannya pada Aya.

Suasana sore itu terasa dingin. Sedingin hati keduanya yang dipenuhi rasa kesal, amarah dan canggung.

Rama hanya berharap hubungannya membaik dengan Aya. Karena saat ini...hanya Aya yang bisa memberikan ketenangan untuknya. Ketenangan yang sesungguhnya disematkan oleh Allah lahir dari lafal ijab qobul yang diucapkannya beberapa waktu lalu.

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: masih review ya kak🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: masih direview sistem kak.. ditunggu ya🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. on progress🙏😁
total 1 replies
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!