NovelToon NovelToon
Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Anime / Harem / Action / Romantis / Fantasi
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Langit sore berwarna jingga ketika Wakasa berdiri di depan tiga orang perwakilan desa. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah dan tanaman yang hampir matang, namun di balik ketenangan itu tersimpan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.

"Jadi, Wakasa-kun…"

Hamada membuka percakapan dengan nada hati-hati. Wajahnya terlihat lelah, jelas menunjukkan tekanan yang ia rasakan selama beberapa hari terakhir.

"Apa yang membuatmu bersedia datang ke desa kami? Maaf jika pertanyaan ini terdengar aneh… mengingat upah yang bisa kami berikan sangat kecil."

Wakasa menatap Hamada sejenak, lalu tersenyum lembut. Tidak ada keraguan di wajahnya.

"Aku tidak merasa ini hanya sekadar misi untuk mencari uang," jawabnya tenang.

"Jika panen di desa ini gagal total, penduduk yang tinggal di sini pasti akan mengalami kesulitan yang jauh lebih parah. Ini adalah misi saling tolong-menolong."

Slich dan Demian saling berpandangan. Ekspresi mereka berubah—dari waspada menjadi lega.

"Terima kasih banyak…"

ucap Slich dengan suara lirih namun tulus.

"Kalau begitu," lanjut Wakasa sambil meluruskan sikapnya,

"bisakah kalian menjelaskan secara detail apa yang sebenarnya terjadi? Aku memang sudah mendengar sebagian ceritanya, tapi aku ingin mendengarnya langsung dari kalian."

Demian mengangguk. Ia menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.

"Desa ini sebelumnya tidak pernah mengalami kejadian seperti ini. Lima belas hari sebelum panen, tiba-tiba saja hama itu muncul dari dalam tanah. Jumlahnya tidak banyak, jadi warga masih bisa mengatasinya dengan perburuan sederhana."

Ia mengepalkan tangannya, nada suaranya sedikit bergetar.

"Namun sepuluh hari kemudian… mereka muncul lagi, kali ini jauh lebih banyak. Kami mencoba melawan, tapi jumlahnya terlalu banyak. Beberapa ladang yang hampir siap panen rusak parah."

"Itulah alasan kami akhirnya mengajukan misi ke guild," sambung Hamada.

Wakasa mengangguk pelan.

"Berapa hari lagi sampai panen?"

"Lima hari lagi," jawab Slich cepat.

(Lima hari…)

Wakasa berpikir dalam hati.

(Jika ini berlanjut, desa ini benar-benar bisa hancur.)

"Kalau begitu, izinkan aku melihat langsung ladangnya."

Investigasi di Ladang

Mereka berempat berjalan menuju ladang yang membentang luas di pinggir desa. Tanaman padi dan jagung terlihat menguning, tanda bahwa panen sudah dekat—namun di beberapa bagian terlihat rusak parah.

Wakasa berjongkok dan memperhatikan lubang-lubang di tanah.

"Ukurannya sama…" gumamnya.

Ia menyentuh tanah dengan ujung jarinya.

"Dan masih ada sisa energi sihir."

Ia lalu berpindah ke tanaman yang rusak. Beberapa hanya digigit sedikit, sementara sisanya hancur seolah diinjak-injak.

"Ini aneh."

"Kenapa?" tanya Demian.

"Jika ini hewan biasa, mereka akan memakan hasil panen sampai habis. Tapi ini… lebih mirip perusakan."

Wakasa berdiri, matanya menyipit.

"Aku pernah membaca tentang makhluk ini. Mouse Black adalah makhluk nokturnal, pemakan daging, dan hidup berkoloni kecil—maksimal sepuluh ekor per kelompok."

Ia menunjuk ladang.

"Tapi ini padi, jagung, dan bumbu dapur. Bukan makanan mereka."

Hamada menelan ludah.

"Jadi… maksudmu…?"

"Makhluk ini tidak bergerak berdasarkan insting."

Wakasa menjawab tegas.

"Mereka dikendalikan oleh seseorang."

Keheningan menyelimuti ladang.

(Jika dugaan ini benar…)

Wakasa mengepalkan tangan.

(Ini bukan sekadar masalah hama.)

Serangan Mendadak

Tiba-tiba—

"ITU DIA!"

Teriakan warga memecah suasana. Tanah bergetar, lalu puluhan bayangan hitam keluar dari dalam tanah.

"Jumlahnya… terlalu banyak!"

teriak Demian panik.

"Seratus ekor… mungkin lebih!"

Hamada berseru dengan wajah pucat.

Warga desa mulai berlarian, beberapa mengangkat alat pertanian sebagai senjata seadanya.

"Tenang,"

Wakasa melangkah maju, suaranya tetap tenang.

"Double Knife."

Sing—sing—sing—!

Dalam sekejap, tubuh Wakasa menghilang. Cahaya berkilat menari di udara. Suara tebasan dan jeritan monster terdengar bertubi-tubi.

Tidak sampai dua menit, semuanya berakhir.

Ladang kembali sunyi.

Tubuh monster berserakan di tanah.

"Siapa… siapa dia…?"

bisik salah satu warga dengan mata membelalak.

"Dia Wakasa," jawab Slich dengan suara penuh kagum.

"Petualang yang datang untuk membantu desa kita."

Sorak sorai pun pecah.

"Hebat!"

"Luar biasa!"

"Terima kasih, Wakasa-san!"

Wakasa berdiri di tengah ladang, sedikit terdiam.

(Jadi… beginilah rasanya dihargai.)

Skill Baru

Setelah mengumpulkan batu kristal monster, Wakasa membuka statusnya.

Deteksi Sihir 50/100 (Baru)

"Skill baru…"

gumamnya.

"Mungkin ini bisa membantuku menemukan dalangnya."

Ia kembali ke warga dan menjelaskan dugaannya.

"Monster ini dikendalikan. Energi sihir di lubang bukan milik mereka."

Warga mulai berbisik-bisik, wajah mereka dipenuhi kecemasan.

"Apakah kau sudah tahu siapa pelakunya?"

tanya Demian.

"Belum,"

jawab Wakasa jujur.

"Tapi aku punya cara untuk menemukannya."

Malam dan Perburuan

Malam tiba. Di kamar yang dipinjamkan, Wakasa menata batu kristal.

"Detection Maho."

Gelombang sihir menyebar—namun tak menemukan apa pun.

"Begitu ya…"

Wakasa tersenyum kecil.

Lalu bagaimana jika aku menambahkan kulit monster dan tanah bekas lubang ini.

"Kontrak sihir selalu meninggalkan jejak."

"Detection Maho."

Sebuah titik cahaya muncul di kejauhan.

"Ketemu."

ucap wakasa sambil tersenyum lebar

Sudut Pandang Pelaku

"Chih…"

Pelaku memukul pohon dengan kesal.

"Siapa orang itu… monster kontrakku dibunuh semudah itu."

Ia berbalik—

Shing.

Katana sudah berada di lehernya.

"Sate sate sate…jadi bagaimana kau akan membayar semua ini"

suara Wakasa terdengar ringan , dengan senyuman yang lebar mengintimidasi

Hutan malam menjadi sunyi.

Dan konflik baru pun dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!