Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Wusss!
Tanpa aba-aba lebih lanjut, ketiga pembunuh itu bergerak serentak.
Kiri, kanan, dan depan.
Pembunuh di kiri menggunakan gada berduri, pembunuh di kanan menggunakan rantai besi, dan si pemimpin di depan menggunakan belati ganda.
Koordinasi mereka sempurna. Mereka bukan petarung arena yang kaku, mereka adalah pembunuh yang terbiasa bertarung di medan liar. Serangan mereka mengunci semua jalur pelarian Lin Xiao.
"Mati!" teriak pembunuh bersenjata gada. Dia melompat, menghantamkan gadanya ke kepala Lin Xiao. Aura Tingkat 6 Puncak (yang ditekan) meledak, menciptakan tekanan angin yang berat.
Lin Xiao tidak bergerak. Matanya tenang seperti air danau.
Saat gada itu hampir menghancurkan tengkoraknya, tangan kanan Lin Xiao bergerak ke punggung.
Bukan untuk mencabut pedang. Kain pembungkus pedang itu belum dibuka.
Dia memegang gagang pedang Xuan yang masih terbungkus, lalu menghantamkannya ke atas dengan gerakan uppercut sederhana.
DANG!
Suara logam bertemu logam yang sangat nyaring.
Gada besi itu terpental. Tangan si pembunuh gemetar hebat hingga kulit di antara ibu jari dan telunjuknya robek.
"Apa?!" Pembunuh itu terbelalak. Kekuatan fisiknya diadu dengan Lin Xiao dan dia kalah telak?
Sebelum dia sempat pulih dari rasa kaget, Lin Xiao sudah berputar. Kaki kirinya melayang, mendarat telak di rusuk pembunuh itu.
KREK!
Suara tulang rusuk patah terdengar renyah. Pembunuh bertubuh kekar itu terlempar menabrak tebing batu, memuntahkan darah segar bercampur pecahan organ dalam. Satu serangan, lumpuh!
"Satu," hitung Lin Xiao dingin.
Dua pembunuh lainnya tidak berhenti. Justru kematian rekannya membuat mereka semakin ganas.
"Jerat dia!" teriak si pemimpin.
Pembunuh di kanan melemparkan rantai besinya. Rantai itu bergerak seperti ular hidup, melilit kaki dan tangan kiri Lin Xiao dalam sekejap.
"Dapat!" seru si pembunuh rantai. "Sekarang, Bos!"
Si pemimpin menyeringai kejam. Lin Xiao terikat. Ini adalah momen eksekusi. Dia melesat maju, dua belati beracunnya mengincar mata dan jantung Lin Xiao.
"Tamat riwayatmu!"
Lin Xiao menatap rantai yang membelenggunya. "Rantai Baja Hitam? Lumayan kuat. Tapi..."
Otot-otot di tubuh Lin Xiao menegang. Teknik Naga Surga Purba aktif. Di bawah kulitnya, aliran Qi mengalir deras seperti sungai yang banjir.
"Pecah!"
Lin Xiao menghentakkan tubuhnya.
TRANG!
Rantai besi setebal lengan bayi itu putus berkeping-keping! Pecahan rantainya meledak ke segala arah karena tenaga dalam yang mengerikan.
Si pembunuh rantai tersentak mundur, muntah darah karena backlash (serangan balik) energinya yang terhubung dengan senjata itu.
Saat itu, si pemimpin sudah berada tepat di depan wajah Lin Xiao. Belatinya tinggal satu inci dari mata Lin Xiao.
Waktu seolah melambat.
Lin Xiao menatap mata si pemimpin. Tidak ada rasa takut. Hanya ada tatapan seorang predator yang melihat mangsanya melakukan kesalahan fatal.
Tangan kanan Lin Xiao akhirnya menarik kain pembungkus pedangnya. Kain itu hancur menjadi serpihan debu.
Pedang hitam Xuan terhunus sepenuhnya.
Bukan tebasan cepat. Bukan tusukan. Lin Xiao memegang pedang itu dengan satu tangan, lalu melakukan gerakan menyapu horizontal yang pelan namun berat.
Teknik Pedang Naga Langit: Ombak Pasang.
Energi pedang (Sword Qi) berwarna biru gelap terbentuk di bilah pedang hitam itu, menciptakan ilusi suara deburan ombak laut.
CLANG!
Dua belati si pemimpin hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan energi pedang itu.
"Tidak mungkin!" teriak si pemimpin. Belatinya adalah senjata Spirit Grade tingkat rendah! Hancur begitu saja?
Gelombang energi pedang itu tidak berhenti. Ia menghantam dada si pemimpin.
BUM!
Si pemimpin merasa seperti ditabrak dinding air raksasa. Tubuhnya terlempar ke belakang, berguling-guling belasan meter di tanah berbatu. Jubah hitamnya robek-robek, dadanya berdarah hebat, tapi dia masih hidup berkat Baju Zirah Dalam yang dia kenakan.
Lin Xiao berdiri tegak, pedang hitam di tangan kanannya menunjuk ke tanah. Tidak ada setetes darah pun di pedangnya.
"Hanya segini kemampuan 'Tiga Tengkorak'?" tanya Lin Xiao, nada suaranya penuh kekecewaan. "Kalian bahkan tidak layak menjadi batu asahan pedangku."
Si pemimpin batuk darah, mencoba bangkit dengan susah payah. Matanya dipenuhi teror. Informasi intelijen salah total! Ini bukan domba! Ini adalah Naga yang menyamar menjadi manusia!
"K-kau... kau menyembunyikan kultivasimu! Kau pasti Tingkat 7... tidak, Tingkat 8!" tuduh si pemimpin.
"Kultivasiku hanya Tingkat 5," jawab Lin Xiao jujur. Dia berjalan perlahan mendekati si pemimpin. "Tapi pemahamanku tentang pedang berada di alam yang tidak bisa kau bayangkan."
Si pemimpin melihat ke arah dua rekannya. Satu sudah mati dengan dada amblas, satu lagi pingsan dengan luka dalam parah akibat rantai putus.
Dia sendirian.
"Tunggu! Jangan bunuh aku!" Si pemimpin membuang senjatanya yang hancur, berlutut memohon. "Aku hanya dibayar! Wang Tian yang menyuruh kami! Aku... aku punya harta! Aku punya peta rahasia!"
Langkah Lin Xiao terhenti. "Peta?"
Si pemimpin buru-buru merogoh jubahnya yang robek, mengeluarkan selembar kulit binatang tua yang tampak lapuk. "Ini... ini peta peninggalan kuno yang kami temukan saat menjadi bandit. Lokasinya ada di dalam hutan ini! Kami berencana menjelajahinya setelah membunuhmu. Ambil ini! Ampuni nyawaku!"
Lin Xiao mengulurkan tangan kiri, energi Qi menyedot peta itu ke tangannya. Dia melirik sekilas. Peta itu menggambarkan struktur bawah tanah di area "Lembah Kabut Beracun"—zona terlarang di Hutan Belantara Selatan.
"Peta Makam Kuno?" gumam Lin Xiao. Matanya menyipit. Simbol di peta itu... simbol Teratai Api Biru.
Itu adalah lambang dari seorang Grandmaster Alchemist dari 300 tahun lalu, "Master Gu", yang menghilang misterius.
Jika ini benar makam Master Gu, maka di dalamnya pasti ada Api Spiritual (Spirit Fire). Bagi seorang Alkemis, Api Spiritual lebih berharga daripada nyawa.
"Barang bagus," komentar Lin Xiao, menyimpan peta itu ke dalam sakunya.
"Jadi... kau melepaskanku?" tanya si pemimpin penuh harap.
Lin Xiao menatapnya datar.
"Aku menerima petamu sebagai kompensasi atas waktuku yang terbuang. Tapi untuk nyawamu..." Lin Xiao mengangkat pedangnya. "...itu adalah harga yang harus dibayar karena berniat membunuhku."
"KAU IBLIS PEMBOHONG!" Si pemimpin meraung putus asa, mencoba meledakkan dirinya sendiri (Self-Destruction). Energi di tubuhnya membengkak tak terkendali.
"Tidak ada kesempatan."
Lin Xiao mengayunkan pedangnya.
Teknik Pedang Naga Langit Bab 1: Naga Membelah Laut.
Kali ini, Lin Xiao menggunakan 30% kekuatannya.
Sebuah sinar pedang biru berbentuk bulan sabit melesat. Sinar itu begitu tipis, begitu indah, dan begitu cepat.
Sinar itu melewati leher si pemimpin.
Tubuh si pemimpin yang sedang menggembung tiba-tiba kempis. Kepalanya perlahan meluncur jatuh dari lehernya. Potongan yang sangat rapi, darah bahkan baru menyembur satu detik kemudian.
Di belakang mayat itu, sebuah batu besar setinggi tiga meter terbelah menjadi dua bagian yang presisi.
Lin Xiao menyarungkan kembali pedang Xuan ke punggungnya.
Dia berjalan menghampiri dua bandit lainnya, memastikan mereka benar-benar mati dengan satu tusukan cepat di jantung. Tidak boleh ada kesalahan. Di dunia kultivasi, kebaikan hati pada musuh adalah kebodohan.
Dia menggeledah tubuh mereka.
"Hmm, lumayan." Lin Xiao menemukan total 3000 koin emas, beberapa pil pemulihan, dan... tiga botol kecil berisi cairan bening.
"Penawar Pil Pengecil Tulang," tebak Lin Xiao. Dia membuangnya. Tidak berguna baginya.
Kini, hutan kembali sunyi. Hanya ada bau darah yang mulai menyengat.
Lin Xiao mengeluarkan peta kulit binatang tadi.
"Lembah Kabut Beracun," gumamnya. "Lokasinya sekitar sepuluh mil ke arah timur. Turnamen ini berlangsung 3 hari. Aku punya cukup waktu untuk memeriksanya."
Jika benar ada warisan Grandmaster Alchemist di sana, itu akan menjadi dorongan besar baginya. Dia butuh tungku alkimia yang bagus dan api yang kuat untuk mulai membuat pil tingkat tinggi.
Namun, sebelum Lin Xiao beranjak pergi, tanah di bawah kakinya tiba-tiba bergetar pelan.
Dug... Dug... Dug...
Getaran ritmis. Seperti langkah kaki raksasa.
Burung-burung di kejauhan terbang panik. Suara auman binatang buas terdengar bersahut-sahutan, namun bukan auman marah... melainkan auman ketakutan.
Lin Xiao melompat ke atas pohon tertinggi untuk melihat situasi.
Di kejauhan, di arah barat, debu mengepul tinggi ke langit. Ribuan pohon tumbang.
Mata Lin Xiao membelalak.
"Gelombang Binatang (Beast Tide)?"
Ratusan, mungkin ribuan Binatang Iblis sedang berlari gila-gilaan dari arah barat menuju ke timur—tepat ke arah lokasi peserta turnamen berada.
"Tidak wajar," analisis Lin Xiao cepat. "Binatang Iblis tidak bermigrasi massal tanpa sebab, kecuali ada sesuatu yang menakutkan yang muncul di wilayah mereka, atau... ada sesuatu yang menarik mereka."
Dia melihat arah lari binatang-binatang itu. Mereka menuju ke... Lembah Kabut Beracun. Lokasi di peta itu.
"Sepertinya makam kuno itu akan segera terbuka, dan aura yang bocor memancing kegilaan para monster," simpul Lin Xiao.
Ini berbahaya. Sangat berbahaya. Berada di tengah gelombang monster adalah bunuh diri.
Tapi Lin Xiao justru menyeringai lebar. Adrenalin di darahnya bergejolak.
"Kekacauan adalah tangga," bisiknya. "Di tengah kekacauan ini, aku bisa membunuh lebih banyak musuh dan mengambil harta karun tanpa dicurigai."
Dia melompat turun dari pohon, bayangannya melesat menuju arah datangnya bahaya.
Sementara peserta lain mungkin akan lari ketakutan, Sang Kaisar Naga justru berlari menuju pusat badai.