NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 : Kenangan indah nasi goreng di masa lalu

Arinta tampak melamun dalam senyap malam, bahkan tak sadar kalau sudah beberapa kali sang penjual nasi goreng memanggil namanya.

"PAK!" Pundaknya ditepuk keras dan Arinta dapat mendengar pria itu berteriak ke arah dirinya.

"Ya??" Arinta kebingungan saat melihat beberapa orang di sekitar melihatnya.

"Eling, Pak! Bengong aja, kesambet ntar saya yang ngeri!" Ujar lelaki itu setengah bercanda. "Nasi goreng seafood-nya habis, tinggal ayam, gimana?" Tanyanya menegaskan soal menu pesanan Arinta.

"Ya udah, ayam juga boleh," balas Arinta tanpa masalah.

.

.

Tukang nasi goreng itu memainkan wajan dengan lincah seperti sebuah atraksi yang memukau mata dengan kobaran api di bawahnya meningkatkan ketegangan bagi yang melihat. Lelaki itu kemudian meracik bumbu andalannya untuk nanti dicampur ke dalam nasi.

"Saya jadi ingat dulu Pak Arinta hampir tiap malam beli nasi goreng satu porsi untuk dua orang," ucap sang penjual tiba-tiba. Ia tersenyum tipis dari balik keremangan cahaya api yang membias pada wajah tuanya. "Sekarang, udah lama gak ketemu, ehh..., langsung pesan dua porsi jumbo seafood!" Ada nada kekaguman tersirat pada suara dan cara bicara lelaki itu.

"Hahaha..., masih ingat aja si Bapak...." Arinta tertawa kecil sambil mengenang kehidupannya dulu saat masih susah.

Saat awal dia pertama kali pindah, ia masih mengontrak satu petak rumah sederhana. Alena masih bekerja karena Arinta masih menganggur. Untuk menghemat biaya makan malam mereka biasanya beli nasi goreng untuk dibagi dua, atau nasi padang kalau ada sisa lebih. Semua makanan apapun itu harus dibagi dua dan Alena lah yang mengatur keuangan, smpai Arinta mendapat pekerjaan dan kehidupan mereka perlahan berubah, ditambah Alena hamil anak pertama membuat Arinta semakin bertekad untuk mendapat kehidupan yang lebih baik.

"Nih, Pak...." Pria itu menyerahkan bungkusan plastik itu kepada Arinta. "Semuanya jadi 50.000," ucapnya dengan senyuman tulus.

"Oh ya...." Arinta mengambil bungkusan itu lalu merogoh saku celananya, "ini, Pak," ujarnya sambil menyerahkan satu lembar uang berwarna merah, "kembalian untuk Bapak saja," sambungnya dengan cepat.

"Wah, makasih Pak. Salam buat istrinya!" Senyuman lelaki itu langsung merekah.

Arinta kembali berjalan pulang sambil membawa tentengan, dua bungkus nasi goreng. Kepalanya menunduk, pandangan matanya tertuju pada jalan di bawah kakinya. Ia seperti merasakan nostalgia kembali saat membeli nasi goreng tadi. Momen sulit kehidupannya dahulu menciptakan kenangan manis dibalik pahitnya perjuangan yang harus ia lalui. Lalu tiba-tiba saja ia kepikiran sama Alena.

Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya panjang. Mulai ada sedikit rasa sesal menghantui karena perbuatannya. Tapi Arinta belum sanggup untuk mengakui dan memilih untuk menutupi sementara ini.

.

.

Ia kembali pulang, berjalan santai membuka gerbang dan menutupnya. Suara besi yang bergesekan menarik perhatian Alena dari dalam kamar. Wanita itu keluar. Bukan untuk menyambutnya, tapi dengan sebuah keputusan.

"Besok aku mau kembalikan cincin yang kamu beli itu ke tokonya." Kalimat retoris yang seolah ia tak membutuhkan persetujuan Arinta mengenai hal itu langsung diucapkan dengan dingin.

Arinta yang baru berdiri di ambang pintu menatap lelah pada Alena. Dia tau istrinya itu tipe yang sulit dibujuk kalau sudah mempunyai keputusan, bahkan hal kecil pun bisa membuat Alena bereaksi keras kalau dalam perspektifnya itu tak sejalan dengan keinginannya yang selalu dikatakan oleh Alena sebagai prinsipnya hidup.

"Ya, aku ambil struk pembelian dan garansinya dulu," ucap Arinta dengan nada datar. Pria itu memasuki rumah dan langsung berjalan ke kamar masih dengan membawa bungkusan plastik nasi goreng yang dibelinya.

Pria itu kembali berjalan keluar dan memberikan dua lembar kertas kecil ke Alena yang berdiri di ruang tamu menunggu.

"Uang nya nanti mau langsung aku masukin tabungan untuk Alea," tandasnya yang kemudian berjalan pergi meninggalkannya. Alena masuk ke kamar sang putri.

Arinta menatap punggung Alena yang menjauh dengan rasa emosi. Ada gejolak amarah yang tertahan sejak tadi dan berhasil membuatnya lelah. Begitu sulit kah bagi Alena untuk menerima kebahagiaan darinya? Tidak, itu bukan hanya untuk Alena, tapi juga demi Arinta sendiri.

Wanita itu keras seperti batu karang..., ujarnya dalam hati menyadari sikap Alena yang memang sudah seperti itu sejak awal mereka menikah.

Pria itu menggeleng lemah dan pergi ke kamar. Di dalam sana ia hanya berdiri sendiri tanpa Alena karena wanita itu memilih untuk tidur di kamar Alea. Lagi-lagi ia harus menahan lonjakan amarah yang harus direndam nya sendiri. Tangannya mengepal kuat.

BRAKKH!

Arinta menutup pintu kamarnya dengan kasar hingga membuat gaduh akibat suara yang ditimbulkan. Alena yang mendengar bantingan pintu itu hanya diam, bahkan seperti tak peduli. Biarlah, apapun yang dilakukan Arinta ia tak peduli sebelum kebenarannya jelas dan untuk sementara ia memilih untuk tak berada dalam satu kamar dengan pria itu.

.

.

Keesokan harinya Arinta pergi lebih awal. Ia bahkan tak berpamitan kepada Alena dan Alea yang membuat gadis kecil itu kebingungan, bertanya-tanya kenapa sang ayah pergi tanpa bicara.

"Mamih!!! Papih gak ada!" Gadis itu tampak terkejut dengan suatu hal yang tak biasa, padahal hari masih sangat pagi, tapi pria itu sudah pergi tanpa jejak. Ia berlari dari arah ruang tamu ke arah Alena yang baru saja keluar dari kamar sang putri.

Alena menatap jam dinding yang masih menunjukkan 05:00 pagi. Ini memang di luar kebiasaan Arinta. Pria itu paling pagi juga pergi jam 06:00 pagi, itu pun selalu dengan pemberitahuan.

"Mamih, Papih kemana? Kok gak bilang sama kita?? Papih marah ya, Mih?" Alena dapat menangkap kecemasan pada wajah polos Alea. Ia seperti memikirkan kekosongan sang ayah.

Melihat sikap Alea yang begitu takut kehilangan Arinta membuatnya berpikir, apa yang terjadi nanti kalau mereka benar-benar harus berada jauh dari Arinta atau berpisah...? Apa reaksi Alea kalau sang ayah sudah bukan lagi dari bagian mereka?

"Mamih kenapa diam saja??" Tangan mungilnya menarik tangan Alena.

"Papih buru-buru ke kantor Alea, jangan takut ya..., nanti juga ketemu lagi 'kan?" Alena berusaha menenangkan si kecil.

"Nanti telepon Papih ya, Mih? Alea mau marah pokoknya!" Ia bertolak-pinggang dengan gaya marah yang dibuat-buat membuat Alena sedikit tertawa dan merasa terhibur.

"Iya, nanti telepon dan marahin Papih. Sekarang Alea mandi sama Bibi, Ibu mau buatkan sarapan sama bekal Alea, yah?" Ia menepuk sayang ke kepala sang anak.

"Oke, Mih!" Alea berlari kecil menuju dapur.

Alena berjalan menuju ke kamar mereka, untuk mengecek.

Ruangan itu masih sama, bersih dan rapih karena Arinta memang biasanya yang merapihkan tempat tidurnya sendiri kecuali saat sprei itu ingin diganti, baru Alena yang mengerjakan. Namun, pandangannya teralih pada sebuah bungkusan plastik hitam yang berada di atas laci.

Merasa penasaran ia pun memutuskan untuk memeriksa kantong plastik itu, yang ketika dibuka isinya seperti dua bungkus nasi porsi besar. Alena gak tau apa isi dari bungkusan itu tapi ia berpikir kalau sudah disimpan semalaman kemungkinan bisa basi kalau isinya makanan, jadi ia berinisiatif membawanya keluar rumah lalu membuangnya ke tong sampah.

Tak lama sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Alena merogoh benda dari dalam saku bajunya dan memeriksa. Ternyata itu dari Andini.

Len, nanti gue ke rumah lu pagi jam berapa nih? Jadi gue bisa siap-siap!

Alena mengetikkan beberapa kata balasan dan langsung ia kirimkan ke Andini.

Kita berangkat dari rumah gue jam 9. Lu berangkat dari sana lebih awal.

Hanya sebentar Alena sudah mendapat balasan lagi yang bertuliskan. Oke.

Ia menggenggam ponsel itu dengan erat, seperti tekadnya yang sudah kuat untuk mengungkap kebenaran meski pahit tapi itu lebih baik daripada kebohongan semu yang digunakan untuk sebuah ketenangan sementara.

Akankah kebenaran akhirnya terungkap bagi Alena?

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!