Fandi, seorang mahasiswa jurusan bisnis, memiliki kemampuan yang tak biasa—dia bisa melihat hantu. Sejak kecil, dia sudah terbiasa dengan penampakan makhluk-makhluk gaib: rambut acak-acakan, lidah panjang, melayang, atau bahkan melompat-lompat. Namun, meskipun terbiasa, dia memiliki ketakutan yang dalam.
BENAR! DIA TAKUT.
Karena itu, dia mulai menutup matanya dan berusaha mengabaikan keberadaan mereka.
Untungnya mereka dengan cepat mengabaikannya dan memperlakukannya seperti manusia biasa lainnya.
Namun, kehidupan Fandi berubah drastis setelah ayahnya mengumumkan bahwa keluarga mereka mengalami kegagalan panen dan berbagai masalah keuangan lainnya. Keadaan ekonomi keluarga menurun drastis, dan Fandi terpaksa pindah ke kos-kosan yang lebih murah setelah kontrak kos sebelumnya habis.
Di sinilah kehidupannya mulai berubah.
Tanpa sepengetahuan Fandi, kos yang dia pilih ternyata dihuni oleh berbagai hantu—hantu yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga sangat konyol dan aneh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Berhasil Lolos
Mbah Semi tiba-tiba berhenti di tengah langkahnya. Tubuhnya membeku, dan hawa di sekitar mereka berubah drastis. Udara yang semula sejuk kini terasa menekan, seolah-olah ada sesuatu yang besar sedang mengawasi mereka dari kegelapan.
Fandi dan yang lain otomatis ikut berhenti. Tak ada yang berani bersuara, bahkan nafas mereka pun terdengar terlalu kencang di tengah sunyi yang mendadak menyelimuti hutan.
Lalu, dari balik pepohonan raksasa, sebuah cahaya keemasan menyilaukan mata mereka. Perlahan, sosok raksasa berwarna emas muncul dari kegelapan. Tingginya hampir menyentuh puncak pohon, tubuhnya kekar dengan otot yang menonjol di bawah kulit berkilau seperti emas cair. Matanya merah menyala, taring panjang mencuat dari mulutnya, dengan bercak darah kering yang menempel di sana.
Makhluk itu mendengus kuat, mengendus-endus udara seperti sedang mencari sesuatu.
"Wah, bau makanan…" suaranya berat, menggema di seluruh hutan. Dia menggerakkan kepala besarnya ke segala arah, seolah mencari sumber aroma yang tercium olehnya. "Apa ada manusia yang tersasar?"
Raka, Arief, dan Alya langsung merasakan lutut mereka melemas. Wajah mereka yang sebelumnya penuh canda kini memucat, mulut mereka terkunci rapat.
Fandi menelan ludah, tangannya mengepal kuat untuk menahan gemetar. Buto Emas. Makhluk gaib yang jarang muncul, tapi begitu dia menampakkan diri, jarang ada makhluk hidup dengan darah yang bisa lolos darinya.
Di saat ketegangan memuncak, Blue bergerak cepat. Dalam sekejap, sosoknya berubah menjadi kucing oren. Tubuhnya membesar dengan corak oranye-hitam yang khas. Dalam bentuk harimaunya, dia mengitari mereka dengan perlahan, melangkah tanpa suara seperti bayangan.
Fandi merasakan hawa di sekitar mereka berubah. Sesuatu yang tak kasatmata mulai menyelimuti tubuhnya dan teman-temannya. Perlahan, aroma manusia mereka memudar, tertutup oleh aura harimau yang kuat dari Blue.
"Terimakasih." Bisik Fandi yang mendapat anggukan dari Blue.
Mbah Semi tetap tak bergerak, matanya tajam menatap Buto Emas yang masih mengendus udara.
Detik-detik terasa berjalan lambat. Napas mereka tertahan.
Mbah Semi tiba-tiba melayang perlahan ke atas, meninggalkan Fandi dan yang lainnya yang masih menahan napas. Dengan tenang, dia berdiri di hadapan Buto Emas yang mengendus-endus udara.
"Hei, Giwang! Lama tidak bertemu," sapanya dengan suara seraknya yang khas.
Buto Emas itu, Giwang, berhenti mengendus dan menatap Mbah Semi. Matanya yang merah menyala menyipit sedikit, lalu bibirnya menyeringai, menampakkan taring panjangnya.
"Lama sekali tidak bertemu dengan mu, Semi," jawab Giwang dengan suara beratnya. "Aku hampir mengira kau sudah bosan dengan tempat ini dan pergi ke bawah."
Mbah Semi tertawa pelan. "Heh, aku masih betah di sini. Lagipula, aku ini penjaga Hutan Bayangan. Kalau aku pergi, siapa yang akan mengawasi bagian barat tempat ini?"
Giwang mengangguk kecil. "Hm… memang benar." Dia melirik ke sekeliling, mengendus-endus lagi. "Tapi aku mencium bau yang berbeda dari biasanya. Bukan makhluk halus, bukan roh. Ini… manusia? Kamu membawa manusia? Bisa aku cicipi?"
Mbah Semi terkekeh. "Kau memang masih tajam, Giwang. Tapi aku tidak bisa memberikannya padamu. Mereka semua tamu."
Giwang menoleh dengan ekspresi tertarik. "Tamu?"
"Iya," kata Mbah Semi santai. "Mereka perlu melewati hutan ini, dan aku yang bertanggung jawab memastikan mereka sampai dengan selamat."
Giwang menggeram rendah, tapi bukan dengan nada marah. Lebih seperti berpikir.
"Begitu, ya…" dia mengangguk pelan dan mulai melangkah pergi.
Namun, sebelum benar-benar menghilang ke dalam kegelapan hutan, dia tiba-tiba berhenti.
"Siapa tamu itu? Apa yang selalu aku cari?" tanyanya, kali ini suaranya terdengar lebih tajam.
Fandi dan yang lainnya langsung menegang. Blue, yang masih dalam wujud harimau, merendahkan tubuhnya, siap berjaga.
Mbah Semi tetap diam sejenak, lalu perlahan menoleh ke arah mereka.
Mbah Semi terkejut. Matanya yang redup tiba-tiba membesar, dan tubuhnya yang biasanya melayang anggun kini tampak sedikit kaku.
“Eh… ehehe…” Mbah Semi mendadak ragu-ragu.
Giwang menunggu dengan ekspresi serius, kepalanya sedikit miring seolah sedang mengingat sesuatu. Mbah Semi menoleh sedikit ke belakang, melihat Fandi yang berdiri di depan teman-temannya wajah pura-pura polos.
Oh, sial.
Fandi memang sering bikin masalah di dunia gaib, dan sayangnya, salah satu korbannya adalah Giwang sendiri.
...--- FLASHBACK ---...
Dulu, saat Fandi berusia 13 tahun, Dia tidak sengaja melihat Giwang yang sedang beristirahat. Fandi menemukan sesuatu yang sangat menarik. Rambut emas Giwang yang tebal, panjang, dan berkilauan. Fandi merasa rambut itu cocok digunakan sebagai bahan kuasnya. Selama dia membersihkan dosa dan karma jahat yang ada di sana, itu pasti akan berguna. Fandi mencoba mengambil sehelai untuk dibawa pulang.
Tapi yang terjadi malah di luar dugaan.
Ketika dia menarik satu helai, yang tercabut justru banyak. Sehelai yang dia pikir akan dia ambil ternyata menyangkut di beberapa helaian lainnya, membuat bagian kepala Giwang yang seharusnya dipenuhi rambut emas menjadi botak di satu sisi.
Giwang yang dikenal sebagai Buto pemakan manusia, terbangun dan menggeram.
“KAMU APA-APAAN?!” teriaknya sambil memegangi kepalanya yang botak sebelah dengan rasa sakit dan kemarahan.
Fandi juga menyadari kalau dia dalam masalah besar, hanya bisa tertawa gugup.
“Ehehe… uhm… anggap aja ini tren baru?” katanya mencoba menenangkan situasi. Tapi dia tau kalau dia bukan lawan Giwang. Fandi menggunakan beberapa trik untuk lolos dari Giwang.
Giwang tidak bisa menerima kenyataan bahwa rambut emasnya, sesuatu yang selama ini dia banggakan sebagai simbol ketampanannya, tiba-tiba botak seperti tambalan sawah yang kering.
Apalagi rambutnya tidak pernah tumbuh lagi!
Sejak hari itu, Giwang menaruh dendam pada Fandi.
...--- FLASHBACK END ---...
Sekarang, Mbah Semi harus menghadapi kenyataan: Giwang masih tidak tahu siapa ‘tamu’ yang sedang dia antar.
Tapi Fandi langsung merinding. Dia tau Buto Emas ini.
Dan lebih buruknya lagi, Buto ini mengenalnya juga.
Fandi dulu pernah mencabut rambut emas Giwang untuk dijadikan kuas menggambar jimat. Saat itu, dia hanya bermaksud mengambil sedikit, tapi tanpa sengaja malah mencabut banyak, meninggalkan botak besar di kepala Buto Emas yang sangat bangga dengan rambutnya. Sejak saat itu, Giwang selalu mencari berita tentangnya dan akan menghampirinya saat dia masuk ke dunia ghaib.
Untung dia tidak membawa kuas itu, atau Giwang akan menemukannya. Kerena kuas emas yang dia gunakan untuk menggambar jimat berasal dari bagian tubuh Giwang, jika ada padanya sekarang, Giwang akan langsung menyadarinya.
Fandi segera berbisik ke Arief dan Raka.
“Bro, kita harus pura-pura jadi perempuan.”
Arief hampir tersedak ludahnya. “Apaan?! Gue nggak bakal bisa! Suara gue berat!”
Raka mendesis pelan. “Fandi, lo gila, ya? Emangnya kita bisa nipu makhluk beginian?”
"Denger, gue kenal makhluk itu dan dia juga kenal gue. Tapi kami saling kenal karena kebencian. Maksud gue, si Giwang itu benci banget sama gue." Fandi tetap memaksa. “Tapi tenang, Giwang itu rada bego. Dia cuma mengandalkan hidungnya, bukan otaknya. Dia nggak suka sama perempuan karena kadang cerewet. Kalau kita ngobrol pakai suara perempuan kencang, dia nggak bakal sadar ada gue disini.”
Arief masih tampak ragu, tapi sebelum dia bisa menolak lagi, Fandi lanjut.
“Ayo dong, ini demi nyawa kita! Lo mau jadi makanan Buto setelah gue?”
Raka melirik ke arah Giwang yang masih mengendus-endus udara, mencari bau manusia untuk dijadikan santapan.
“…Oke, tapi kalau kita selamat, lo harus traktir kita nasi padang.” kata Raka. Lagipula berpura-pura menjadi perempuan sangat menggelikan dan tidak bisa diterima oleh laki-laki tulen sepertinya.
Fandi mengangguk cepat. “Setuju. Sekarang, ikuti gue!”
Fandi yang berdiri di belakang tiba-tiba membuka mulutnya dan mengubah suaranya menjadi suara perempuan.
“Mbah Semi, ayoo cepat jalan, aku takut~!” katanya dengan suara manja dan melengking.
Arief, Alya, dan Raka langsung memandang Fandi dengan ekspresi campuran antara kagum dan jijik.
“Bro… itu suara lo?” bisik Raka.
“Sumpah, kalau merem gue kira cewek beneran…” tambah Alya, menahan tawa.
Fandi tetap fokus pada aktingnya. “Mbaaah~ ayo buruannn~!”
Mbah Semi hampir tersedak mendengar Fandi bertingkah seperti itu, sementara Giwang masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi curiga.
Dia melirik ke arah Mbah Semi. “Siapa tadi yang ngomong?”
Mbah Semi menggeleng cepat. “B-bukan siapa-siapa! Itu hanya salah satu tamu, seorang gadis yang ketakutan. Biasa, manusia lemah.”
Giwang menggeram pelan, matanya masih menyipit. “Tapi aku seperti pernah mendengar suara itu…”
Fandi langsung mengalihkan pandangan pada teman-temannya dan berbisik. "Kalian ikutan lah."
Raka dan Arief saling memandang. Lalu mereka meninggikan suara dan mulai bersuara keras-keras dengan suara perempuan.
Fandi memanggil Mbah Semi dengan nada manja, “Mbaaah~ ayo buruaaaan, aku takut~!”
Arief mencoba mengubah suaranya, meski terdengar seperti pria yang kena flu berat. “I-ih, iya, Mbah, cepetan dong!”
Alya juga akhirnya ikut, suaranya sedikit lebih meyakinkan. “Huhuhu… aku nggak mau jadi makanan Buto… Ayah... Ibu...”
Mbah Semi memandang mereka dengan ekspresi ‘serius kalian?’, tapi dia cepat tanggap. Mbah Semi segera memikirkan alasan.
Dia berdeham dan menoleh ke Giwang dengan santai. “Oh, benar, Giwang. Tamu-tamuku ini, mereka perempuan-perempuan muda yang mengenal cicitku dengan cukup baik. Kamu tau cicit ku bukan, Vanesa yang pernah kesasar disini. Anak-anak ini, mereka salah naik bus hantu sehingga tersesat dan masuk ke dekat sini. Ini aku akan mengantar mereka kembali ke dunia manusia lewat Bagian Tengah.”
Giwang tampak berpikir. “Hmm… perempuan semua?”
Fandi buru-buru menambahkan dengan suara yang dibuat semanis mungkin, “I-iyah, Mas Buto~ Mbah Semi baik banget udah nolongin kami~!” Dia langsung merinding setelah mengatakannya.
Arief dan Raka ikut menambahkan, walau terdengar agak maksa.
"Seperti yang kamu dengar." Kata Mbah Semi meyakinkan.
Giwang kembali mengendus. Dia tidak mencium bau yang familiar lagi, hanya aroma samar Blue yang menutupi mereka semua. Akhirnya, dia mengangguk.
“Hmm… ya udah. Kalau itu teman cucu perempuan mu, bukan urusanku,” katanya sambil menguap, kehilangan ketertarikan. “Pergi saja.” lalu dia juga melangkah pergi.
Harus dikatakan bahwa Mbah Semi masih memiliki beberapa bobot akan statusnya yang membuat bahkan Giwang tidak berani mengganggunya.
Fandi dan yang lainnya hampir bersorak lega, tapi mereka menahannya.
Begitu Giwang benar-benar pergi, mereka semua langsung jatuh terduduk, keringat dingin bercucuran.
Raka menoleh ke Fandi dengan wajah sengsara. “Gue nggak mau tau, lo harus traktir kita nasi padang pake rendang dan gulai!”
Arief mengangguk kuat. “Tambah es teh manis!”
Fandi hanya bisa memutar matanya. "Oke, oke! Yang penting kita selamat dulu!"
Tapi dia juga berpikir. Apa kesalahannya hingga harus mentraktir mereka seperti ini, jelas mereka yang seenaknya mengikuti dia menyelamatkan Dimas.
maaf jika selama ini ada komen aku yg ga berkenan 🙏🙏🙏
cerita dr kak oThor bagus banget, cuma belom sempet buat baca kisah yg lain🙏🙏🙏 so sorry
eh mbak parti kmrn udh belom ya, sama.yg dia berubah punya sayap hitam 🤔...
Fandy dan yg lainnya msh jomblo, emang sengaja ga dibuatin jodohnya ya kak oThor?
kutunggu sll lanjutan ceritanya 😍🙏🙏
pemilik kos biasanya menyimpan rahasia yg tak terduga... apa iya Bu Asti bukan mnausia?
sosok ini berhubungan dg kehadiran dek Anis jg tayangga ...
siapakah sosok itu? apakah musuh Fandy dr dunia goib?
maaci kak oThor
normal nya liat Kunti ga sampai sedetik udh pingsan ato ga kabur duluan 😀 sereeemmm
tp Krn Arif gengnya Fandy jd beda
sehat-sehat ya kak,🤗
selama ini taunya Kunti itu mm perempuan, dan ada yg bilang ga punya muka...
selama ini jg taunya cuma Kunti bjau putih sama Kunti merah...