Ketika semua hanya bisa di selesai dengan uang. Yang membuat ia melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan uang, juga termasuk menju*l tubuhnya sendiri.
Tidak mudah menjadi seorang ibu tunggal. di tengah kerasnya sebuah kehidupan yang semakin padat akan ekonomi yang semakin meningkat.
Ketika terkuaknya kebenaran jati diri putrinya. apakah semua akan baik-baik saja? atau mungkin akan bertambah buruk?
Ikuti kisahnya dalam. Ranjang Penyelesaian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam
"Lusia mana?" Tanya Dave pada pelayan setelah dia tiba di rumah dan tidak menemukan Lusia.
"Non Lusia tadi pergi, Den. Dan, tadi ada pelayan yang lihat non Lusia bisa berjalan," ucap pelayan terbata-bata menyampaikan apa yang mereka lihat.
Lusia benar-benar sudah berubah dan membohongi ku selama ini. Batin Dave.
Dave belum tahu kalau sebenarnya Lusia istrinya sudah lama meninggal. Dan yang bersamanya selama ini adalah Claudia yang sengaja operasi plastik demi menyamai Lusia untuk menutupi kematian Lusia.
Di rumah sakit. Perlahan Asya mulai membuka mata. Gadis kecil itu mulai tersadar dari tidur panjangnya.
"B-bunda... Asya takut...." Kalimat yang pertama gadis itu ucapkan saat matanya terbuka lebar.
Pembunuhan yang coba dilakukan oleh Claudia menciptakan trauma pada mental Asya.
"Kamu sudah sadar, Asya? Jangan takut. Ada bunda di sini," Aulia berusaha menenangkan putrinya.
"Bunda, tadi itu..."
"Ssstt semua sudah baik-baik saja. Tidak perlu di ingat lagi apa yang baru saja terjadi." Aulia tidak ingin putrinya bertambah trauma. Sehingga ia berusaha untuk membuat Asya melupakan kejadian barusan.
"Bunda, Asya melihat----"
Tok tok tok
Suara ketukan di pintu menghentikan ucapan Asya yang ingin bilang sesuatu pada Aulia.
"Masuk saja."
Saat pintu terbuka menampilkan sosok Zivia yang sengaja datang berkunjung untuk melihat keadaan Asya.
"Maaf karena aku baru datang, Aulia. Bagaimana kabar Asya? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Zivia sahabat Aulia.
"Iya, kak. Alhamdulillah Asya sudah keluar dari masa kritisnya,"
"Tega banget ya Lusia. Kok bisa-bisanya dia ingin membunuh putri kandungnya sendiri," ucap Zivia.
Aulia seperti memberi kode kepada Zivia untuk tidak mengatakan kebenarannya sekarang. Mengingat keadaan Asya yang belum membaik. Dan baru saja keluar dari zona kematian.
"Ah. Maaf aku lupa." Zivia merasa tidak enak hati.
"Dave mana?" Tanya Zivia.
"Katanya tadi mau pulang sebentar."
"Oh."
Asya yang sempat mendengar dan menyebut Lusia ibunya. Gadis itu terus berpikir, apa sebenarnya yang tidak dia ketahui. Dan apa yang orang-orang dewasa itu sembunyikan darinya?
Asya terlihat seperti ingin bertanya pada bundanya. Namun dalam bahasa yang sama dia tidak ingin membuat bundanya bersedih dengan pertanyaannya nanti.
Di lain tempat. Terdengar suara benda tumpul, dan suara-suara pedang menghiasi sebuah mansion mewah yang di huni oleh seorang pria paruh baya.
Di mana sebagian dari tubuh pria paruh baya itu di penuhi tato. Sementara sebelah dari matanya terdapat goresan pedang, seperti goresan lama yang tidak bisa hilang menjadi parut melekat di wajah laki-laki itu.
Laki-laki bernama Krisan itu terlempar jauh dengan mulutnya mengeluarkan darah segar usai ia mendapat tendangan maut dari seorang laki-laki bertubuh kekar yang tersenyum melihat kelumpuhan Krisan.
"Bagaimana? Apa rasanya sakit?" Tanya Vegam ternyata pelaku yang sudah datang membuat porak-poranda di kediaman Krisan.
Krisan memegang dadanya yang terasa sakit sembari melihat anak buahnya yang sudah hampir tewas semua.
"Kenapa kau datang kemari? Sudah beberapa bulan ini aku sering membayar hutang ku sesuai perjanjian! Kenapa kau berani melanggar perjanjian hutang piutang di antara kita!" Ucap Krisan terlihat sangat marah dengan Vegam.
Ternyata keduanya mempunyai perjanjian. Di mana Krisan berjanji akan membayar hutangnya dengan Vegam, dan Vegam tidak bisa melewati batasnya apalagi sampai menyerang ke kediaman Krisan selagi Krisan bisa memenuhi janjinya.
Namun yang tidak diketahui oleh Krisan. Dia sudah dikhianati oleh anak buahnya, dan hutang yang di bayar Krisan tidak pernah di sampaikan pada Vegam.
Dan ternyata. Krisan masih ada hubungannya dengan pembunuhan ibu Aulia.
"Sayangnya aku tidak pernah mendapat uang darimu sudah beberapa bulan ini. Kau lupa krisan, saat kau meminjam uang padaku. Kau akan membayarnya tepat waktu. Namun kau tidak pernah membayarnya sesuai dengan perjanjian kita," ucap Vegam menarik senjata api dari saku berniat ingin membunuh Krisan.
"Lebih baik kau mati saja. Aku benci melihat sampah yang suka berbohong!" Vegam melepas satu tembakan tepat di dahi Krisan.
Timah panas berjalan dengan lurus hampir saja tertanam di dahi Krisan, kalau tidak ada pedang yang menghalangi peluru itu.
Ting!
Suara nyaring peluru yang mengenai pedang seseorang.
Vegam menatap gadis bergamis dengan jilbab panjang memakai cadar dengan sorot mata penuh kebencian menatap Vegam.
"Ayahku berhutang uang pada mu. Tapi kau berhutang nyawa pada keluarga ku! Laki-laki iblis seperti mu! Sepantasnya sudah lama mati!" Ucap Zeena gadis bercadar yang mahir dalam ilmu bela diri. Namun sangat membenci Vegam sampai ke tulang-tulangnya.
"Zeena, ini urusan ayah dengan Tuan Vegam. Kamu jangan masuk campur!" Krisan memarahi putrinya.
"Dia hampir saja mengambil nyawa ayah! Dan ayah bilang tidak ada urusannya dengan ku? Kalau sampai dia berani membunuh ayah. Aku juga tidak akan segan-segan untuk membunuh ibunya!" Zeena menatap Vegam dengan pandangan menantang.
Vegam menyeringai saat nama ibunya di bawa-bawa oleh gadis itu.
"Saat kau berani menyentuh mama ku. Aku pastikan, kalau tidak ada satu keluarga mu pun yang bisa tersisa di muka bumi ini lagi," ucap Vegam masih dengan senyuman khasnya.
Zeena terlihat sangat marah. "Kau membunuh kakak ku tanpa belas kasihan! Dan kau tidak mau seseorang mengganggu ibu mu! Apa kau benar-benar manusia!" Zeena mengayun pedangnya ke arah Vegam dengan perasaan marah membara.
Srkk
Pedang Zeena berhasil melukai bahu Vegam.
Vegam kembali tersenyum dan membalas perbuatan Zeena yang melukainya.
Srkk
Vegam menusuk bahu Zeena menggunakan sebilah pisau beracun.
Zeena terjatuh di depan Vegam.
"Brengsek! Menjauh dari putri ku!" Krisan sangat marah melihat tindakan Vegam pada putrinya.
Vegam tidak peduli dengan teriakan Krisan. Ia menghampiri Zeena. Kemudian mengangkat dagu wanita itu.
"Jangan sentuh putri ku!"
"Bagaimana? Sakit? Kau tahu? Pisau itu beracun. Selama 2 bulan kalau kau tidak bisa menemukan penawarnya. Maka kau akan mati konyol." Ucap Vegam tersenyum miring melepas dagu Zeena yang di tutupi cadar.
"Laki-laki brengsek!" Umpat Zeena.
"Saat kau tidak ingin mati. Kau bisa datang mengemis padaku." Ucap Vegam senang melihat penderitaan Zeena.
"Dan saat kematianku tiba. Aku akan mati bersama mu. Karena nyawa ku, memang hanya untuk membunuh mu!" Ucap Zeena menatap mata Vegam sembari membalas senyuman miring pria itu dari balik cadarnya.