Rahasia Sang Wanita Besi
Sebagai sekretaris pribadi, Evelyn dikenal sempurna—tepat waktu, efisien, dan tanpa cela. Ia bekerja tanpa lelah, nyaris seperti robot tanpa emosi. Namun, di balik ketenangannya, bosnya, Adrian Lancaster, mulai menyadari sesuatu yang aneh. Semakin ia mendekat, semakin banyak rahasia yang terungkap.
Siapa sebenarnya Evelyn? Mengapa ia tidak pernah terlihat lelah atau melakukan kesalahan? Saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, misteri di balik sosok "Wanita Besi" ini pun perlahan terkuak—dan jawabannya jauh lebih mengejutkan dari yang pernah dibayangkan Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Melawan Bayangan Masa Lalu
Langkah-langkah cepat terdengar di koridor apartemen yang sepi. Adrian dan Evelyn bergerak dengan kecepatan penuh, meninggalkan tempat itu sebelum musuh mereka tiba.
Evelyn tidak perlu berpikir dua kali. Jika Damian mengatakan bahwa mereka menemukannya, itu berarti dia tidak punya banyak waktu.
Adrian berjalan di depannya, dengan tubuh tegap dan waspada. Meskipun dia tidak tahu siapa musuh yang mereka hadapi, dia tahu satu hal—dia tidak akan membiarkan mereka menyentuh Evelyn.
Mereka sampai di tempat parkir. Adrian menekan tombol kunci mobilnya, dan dalam sekejap, lampu mobilnya menyala.
“Masuk,” katanya cepat.
Evelyn tidak membantah. Dia membuka pintu dan masuk ke kursi penumpang, sementara Adrian segera masuk ke balik kemudi dan menyalakan mesin.
Saat mereka mulai melaju keluar dari gedung, Evelyn melirik ke kaca spion.
Dan di sanalah mereka.
Dua mobil hitam tanpa plat nomor.
Jantung Evelyn berdebar. “Kita diikuti.”
Adrian sudah menyadarinya. Dia menekan pedal gas lebih dalam. Mobil mereka melaju lebih cepat, melintasi jalanan kota yang mulai lengang.
Tetapi musuh mereka tidak tinggal diam.
Mobil-mobil hitam itu mengejar, menjaga jarak tetapi tidak berusaha menyerang—belum.
Evelyn mengeluarkan pistol kecil yang tadi ia bawa dari apartemen. Adrian meliriknya sekilas.
"Kau benar-benar sudah siap untuk ini, ya?"
Evelyn tidak menjawab. Matanya fokus ke belakang.
Adrian memperhitungkan situasi. Jika mereka terus seperti ini, mereka bisa menarik perhatian polisi—sesuatu yang tidak mereka inginkan.
Dia melihat sebuah gang kecil di depan, lalu tanpa ragu, dia membelokkan mobilnya dengan tajam. Ban mobil berdecit saat mereka masuk ke dalam gang sempit itu.
Salah satu mobil hitam di belakang mereka tidak sempat menghindar dan menabrak tembok beton.
Sementara itu, Adrian melajukan mobilnya ke jalan belakang yang lebih gelap.
“Kau tahu ke mana kita pergi?” tanya Evelyn.
Adrian mengangguk. “Aku punya tempat aman.”
Evelyn tidak bertanya lagi.
Lima belas menit kemudian, mereka sampai di sebuah gudang tua yang tampaknya sudah lama tidak digunakan.
Adrian memarkir mobilnya, lalu turun. Evelyn mengikutinya dengan pistol masih tergenggam di tangannya.
Saat mereka masuk, Evelyn langsung menyadari bahwa tempat ini lebih dari sekadar gudang kosong. Ada peralatan komunikasi, senjata, bahkan monitor yang menunjukkan berbagai titik di kota.
Dia berbalik menatap Adrian.
“Sepertinya ini bukan pertama kalinya kau harus bersembunyi dari seseorang.”
Adrian tidak menjawab langsung. Dia berjalan menuju salah satu meja dan mengaktifkan komputer.
“Kita tidak bisa terus berlari,” katanya akhirnya. “Kalau mereka mencarimu, kita harus tahu siapa mereka dan apa yang mereka inginkan.”
Evelyn mendekat.
“Mereka menginginkanku mati,” katanya dengan nada datar. “Dan jika mereka benar-benar tahu bahwa aku masih hidup, berarti mereka tahu apa yang kutahu.”
Adrian mengangkat alis. “Apa yang kau tahu?”
Evelyn terdiam sejenak.
Lalu akhirnya, dia berkata pelan, “Aku tahu siapa pengkhianat itu.”
Adrian menatapnya tajam. “Siapa?”
Evelyn mengepalkan tangannya. “Aku tidak yakin. Lima tahun lalu, aku hanya mendapatkan sekilas bukti. Tetapi seseorang di dalam operasi kami menjual informasi ke pihak lain, dan itu menyebabkan timku dihancurkan.”
Adrian berpikir cepat. Jika Evelyn benar, maka musuh mereka bukan sekadar kelompok bayangan. Ini bisa jadi permainan yang jauh lebih besar.
“Kita harus menemukan Damian,” kata Adrian. “Kalau dia masih hidup, dia bisa memberitahu kita lebih banyak.”
Evelyn menggigit bibirnya.
Damian adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa dia percayai. Jika dia tertangkap, maka dia dalam bahaya besar.
“Kita tidak punya pilihan,” katanya akhirnya. “Kita harus menemukannya sebelum mereka melakukannya.”
Adrian tersenyum tipis.
“Kupikir kau akan mengatakan itu.”
Dia menekan beberapa tombol di komputernya, dan di layar, muncul peta kota dengan titik-titik yang menunjukkan lokasi terakhir dari berbagai sinyal ponsel.
“Kita akan mulai dari sini.”
Dan dengan itu, mereka bersiap untuk langkah berikutnya—menyerang sebelum diserang.
Gudang tua itu terasa sunyi, hanya terdengar suara dengungan alat komunikasi yang baru saja diaktifkan oleh Adrian. Evelyn mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Meskipun tampak seperti tempat kumuh dari luar, di dalamnya terdapat peralatan yang tidak bisa dianggap remeh—komputer dengan sistem keamanan canggih, kamera pemantau, dan berbagai senjata yang tersusun rapi di rak baja.
Evelyn menoleh ke arah Adrian yang sedang sibuk meneliti data di layar komputer. “Berapa lama kau sudah menyiapkan tempat ini?” tanyanya, masih memegang pistol erat di tangannya.
Adrian menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke layar. “Cukup lama untuk tahu bahwa dunia ini tidak seaman kelihatannya.”
Jawaban itu tidak sepenuhnya memuaskan Evelyn, tetapi untuk saat ini, dia punya prioritas lain.
Dia menarik napas dalam, lalu berjalan mendekat. “Apa kau bisa melacak Damian?”
Adrian mengetik cepat di keyboard, lalu layar komputer menampilkan serangkaian data lokasi. Sebagian besar adalah sinyal ponsel, tetapi beberapa di antaranya tampaknya berasal dari perangkat khusus yang hanya digunakan oleh orang-orang seperti mereka.
“Aku bisa mencoba,” kata Adrian. “Tapi jika dia dalam bahaya, kemungkinan besar dia sudah membuang atau menonaktifkan semua perangkatnya.”
Evelyn mengernyit. “Lalu bagaimana kita menemukannya?”
Adrian menatapnya dengan ekspresi serius. “Kita harus pergi ke tempat terakhir di mana dia terlihat.”
Evelyn terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Kalau begitu, kita tidak bisa membuang waktu.”
Mereka meninggalkan gudang dengan cepat, kembali ke jalanan kota yang kini mulai sepi karena larut malam. Adrian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan stabil, sementara Evelyn duduk di kursi penumpang dengan pistol yang masih tergenggam di tangannya.
Damian adalah salah satu orang yang paling bisa dia percayai. Jika benar dia dalam bahaya, maka tidak ada waktu untuk ragu-ragu.
Adrian melihat peta digital di layar mobilnya. “Tempat terakhir di mana sinyalnya terdeteksi adalah sebuah gudang di kawasan industri tua.”
Evelyn mendengus. “Tentu saja. Mereka selalu memilih tempat seperti itu.”
Adrian meliriknya sekilas. “Ini bukan pertama kalinya kau menghadapi situasi seperti ini, bukan?”
Evelyn tersenyum tipis. “Kalau ini yang pertama, aku mungkin sudah mati sejak lama.”
Adrian tidak menanggapi lagi.
Saat mereka sampai di area yang dimaksud, Adrian mematikan lampu mobil dan berhenti di kejauhan. Mereka tidak bisa langsung masuk begitu saja.
Evelyn menajamkan pandangannya. Gudang itu tampak gelap, tetapi ada dua mobil hitam terparkir di luar—mobil yang sama yang mengejar mereka tadi.
“Itu mereka,” bisik Evelyn.
Adrian mengangguk. “Kalau mereka ada di sini, berarti Damian juga masih ada di dalam.”
Evelyn mengecek senjatanya. “Bagaimana kita masuk?”
Adrian mengamati sekitar. “Aku bisa menarik perhatian mereka di sisi utara, sementara kau menyelinap masuk dari sisi timur.”
Evelyn menatapnya dalam diam selama beberapa detik, lalu mengangguk. “Baiklah.”
Tanpa banyak bicara lagi, mereka berpisah.
Evelyn bergerak cepat di antara bayangan. Dia sudah terbiasa dengan kegelapan—itu adalah sekutu terbaiknya dalam misi seperti ini.
Saat dia sampai di sisi timur gudang, dia melihat sebuah jendela kecil yang sedikit terbuka. Dengan cekatan, dia naik ke atas peti kayu yang tergeletak di dekatnya, lalu melompat ke dalam.
Dia mendarat tanpa suara.
Di dalam, suasana lebih hening daripada yang dia perkirakan. Tapi ada sesuatu yang tidak beres.
Tiba-tiba—
Braak!
Terdengar suara benturan keras dari arah utara. Adrian sudah mulai menjalankan rencananya.
Evelyn tidak membuang waktu. Dia bergerak cepat melewati lorong-lorong sempit, sampai akhirnya dia mendengar suara seseorang berbicara.
“Dia masih belum mau bicara?”
“Belum. Tapi kalau kita tekan sedikit lagi, dia pasti akan menyerah.”
Suara itu berasal dari ruangan di ujung lorong. Evelyn mendekat dengan langkah hati-hati, lalu mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Di dalam, Damian duduk di kursi dengan tangan terikat di belakang. Wajahnya lebam, jelas dia sudah dipukuli beberapa kali.
Dan di depannya, ada dua pria berpakaian hitam yang tampak sedang berdiskusi.
Evelyn mengepalkan tangannya.
Dia mengangkat pistolnya, mengambil napas dalam, lalu—
Dor!
Satu tembakan tepat mengenai kepala salah satu pria itu sebelum dia sempat bereaksi.
Pria yang satunya langsung berbalik, tetapi Evelyn lebih cepat.
Dor!
Peluru kedua menembus dadanya, membuatnya terjatuh seketika.
Evelyn segera masuk dan mendekati Damian. “Kau baik-baik saja?”
Damian mendongak dengan lemah, lalu tersenyum tipis meskipun darah mengalir dari sudut bibirnya. “Kau selalu datang di saat yang tepat.”
Evelyn segera melepaskan ikatannya. “Kita harus pergi sekarang.”
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat dari luar. Evelyn segera bersiap dengan pistolnya, tetapi sebelum dia bisa menembak—
Dor! Dor!
Dua pria yang baru saja masuk langsung roboh.
Di belakang mereka, Adrian berdiri dengan pistolnya yang masih berasap.
“Aku harap kalian tidak berencana pergi tanpaku,” katanya santai.
Evelyn hanya mendengus. “Ayo pergi.”
Setelah berhasil keluar dari gudang, mereka kembali ke tempat persembunyian Adrian. Damian masih terlihat lemah, tetapi setidaknya dia selamat.
Saat mereka duduk di sekitar meja, Adrian menatap Damian dengan serius.
“Kau harus memberitahu kami semuanya.”
Damian menghela napas panjang, lalu menatap Evelyn. “Apa kau benar-benar ingin tahu kebenarannya?”
Evelyn mengangguk tanpa ragu.
Damian terdiam sejenak, lalu berkata, “Seseorang dari dalam tim kita mengkhianati kita lima tahun lalu. Dan aku tahu siapa dia.”
Evelyn merasakan jantungnya berdegup lebih kencang.
“Apa maksudmu?” tanyanya.
Damian menatapnya dengan ekspresi berat. “Orang yang kita cari selama ini… dia lebih dekat dari yang kau kira.”
Evelyn merasa tubuhnya menegang.
Jika Damian benar, maka musuh mereka bukan hanya orang asing—tetapi seseorang yang pernah mereka percayai.
Dan itu berarti…
Pertarungan baru saja dimulai.