Kos-kosan Sus Banget!

Kos-kosan Sus Banget!

Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama

Fandi menatap langit senja yang mulai memudar. Warna oranye yang tertutup mendung seolah mengolok-oloknya. Dia mendesah panjang, langkah kakinya terhenti di depan sebuah bangunan tua yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk beberapa waktu ke depan.

Kos-kosan murah ini adalah satu-satunya pilihan masuk akal di tengah kondisi keuangannya yang sedang kacau.

Sebagai anak kuliahan, Fandi sibuk dengan tugas kuliah dan pekerjaan paruh waktunya. Belum lagi permintaan keluarganya akan uang yang datang akhir-akhir ini. Dompetnya yang tipis tidak dapat digunakan untuk menyewa Kos lamanya sehingga, mau tidak mau, dia harus pindah.

Dan tempat ini, kos-kosan yang terlihat cukup menyeramkan ini adalah kos dengan biaya paling murah yang dapat ditemukan Fandi.

'Ya Allah, kenapa tidak ada yang ngasih tau gue kalau kosan yang bakal gue tinggali kayak gini,' pikirannya penuh penyesalan, matanya memandangi cat tembok yang mulai mengelupas. Dan pepohonan rindang dibelakang kos tersebut.

Fandi mengawasi tempat yang akan dia tinggali mulai sekarang. Lalu dia melihat bayangan hitam melintas diantara dedaunan pohon yang menutup atap kos. Tubuhnya bergetar karena terkejut.

'.... Itu nggak mungkin,' pikir Fandi dengan tidak percaya.

Masalah finansial mungkin berat, tetapi itu bukan satu-satunya beban yang Fandi tanggung. Dia punya rahasia yang jarang dia ceritakan pada siapa pun.

Dia bisa melihat hantu.

Bagi sebagian orang, kemampuan itu mungkin terdengar luar biasa, tetapi bagi Fandi, tidak sama sekali.

Sejak kecil, dia sudah terbiasa melihat hal-hal yang orang lain tidak bisa lihat. Bayangan hitam yang melayang, suara-suara aneh di malam hari, bahkan wajah-wajah pucat yang tiba-tiba muncul di kaca jendela. Fandi benar-benar terganggu dan ketakutan karena mereka.

Yang paling membuat Fandi merasa berat, saat dipandang aneh oleh orang lain.

"Apa yang kamu lakukan, kemana kamu mau bawa kakek," dia pernah bertanya seperti itu kepada sosok dengan jubah hitam dan sabit besar, yang berdiri di ujung ruang tamu bersama arwah kakeknya saat Fandi kecil dulu. Membuat kedua orang tua dan tamu yang sedang melakukan takziah kematian kakeknya ketakutan dan berlari berhamburan.

Semakin bertambah dewasa, semakin Fandi menyadari bahwa dia... Abnormal.

Awalnya, Fandi masih penuh ketakutan dengan mereka. Untung kakek dan beberapa paman di desa yang membantunya setiap kali dia menemukan hal-hal aneh itu. Membuat banyak ketakutan Fandi mereda.

Namun tidak ada hal yang tidak memiliki akhir. Kehidupan remaja SMP yang seharusnya menyenangkan dilalui Fandi dengan kesepian dan kesendirian. Banyak anak yang menjauhinya karena dia dapat melihat dan berkomunikasi dengan 'hantu'.

Tanpa pilihan lain, Fandi memutuskan untuk menjauhi hal-hal gaib. Dia menarik diri, berpura-pura tidak melihat hantu dan mencoba menjadi remaja pada umumnya.

Itu berhasil, Fandi benar-benar mendapatkan teman saat SMA. Dia mulai tumbuh menjadi remaja yang bahagia meski terkadang bersikap aneh di depan teman-temannya. Tentu saja itu karena hal aneh yang tiba-tiba muncul di depannya.

Fandi menjalani kehidupan normal hingga lulus dan masuk ke perguruan tinggi. Selama dua tahun kuliah, meski Fandi melihat hal-hal aneh itu, dia bisa mengabaikannya.

Baginya sekarang, melihat hantu adalah seperti mendengar suara nyamuk. Menjengkelkan, tapi tidak berbahaya selama dia tidak memperhatikan mereka.

Namun, kos-kosan ini...

Fandi tertawa getir dalam hatinya. Kos ini entah bagaimana memberinya perasaan familiar. Hawa dingin menyusup melalui retakan tembok, membuat bulu kuduk Fandi berdiri. Sekali lagi Fandi menghela nafas, mencoba mengusir pikirannya yang mulai tidak karuan.

Tidak lama, seorang wanita paruh baya yang masih memiliki bentuk tubuh indah datang perlahan-lahan.

"Nak Fandi?" Panggilnya dengan suara tenang.

Fandi melihat wanita itu dengan mata lebar, terkejut, tidak bisa berkata-kata. Fandi menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Ibu kos-nya terlihat sangat cantik.

Fandi menarik nafas dalam-dalam, memenangkan dirinya.

Baik, sekarang dia tidak memiliki masalah dengan penampilan tempat ini. Kalau disuruh memberi rating, dia akan memberinya bintang lima!

"Nak." Panggil wanita itu lagi.

"Oh, iya, mbak. Saya Fandi." Jawab Fandi gelapan.

"Mbak apa, panggil aja Bu Asti seperti yang lain. Ini kunci kamarnya, Nak. Kamar kamu ada di pojokan sana ya, nomor 5." Kata Bu Asti dengan senyum kecil. Wanita mana yang tidak suka di sebut muda.

Fandi mengangguk sopan. "Baik Bu, makasih."

"Sama-sama. Selain kamu ada lima orang yang tinggal disini. Tapi dua dari mereka sepertinya lagi KKN. Nanti kamu kenalan sendiri saja, Ibu tinggal ya, mau angkat jemuran." Jelas Bu Asti dengan lembut sambil menunjuk beberapa pintu yang tertutup.

Fandi sekali lagi mengangguk. "Iya Bu, Sekali lagi makasih." Kemudian Bu Asti pergi. Fandi memandang punggung Bu Asti hingga menghilang sebelum menghela nafas.

Gila, pantesan masih ada yang mau nyewa.

Tapi aneh, sepertinya Fandi ingat orang yang menjawab panggilannya itu laki-laki.

Fandi menggelengkan kepala, menyingkirkan hal-hal tidak penting dan mendekati ruang nomor 5 perlahan-lahan.

Fandi membuka pintu kayu tua itu dengan pelan. Suara derit yang keras membuatnya berhenti.

Fandi tiba-tiba ingin menangis.

Keluarga Fandi tidak tahu seberapa besar beban yang dia pikul. Mereka selalu menganggap Fandi sebagai anak yang kuat, anak lelaki yang bisa diandalkan. Mungkin karena melihat Fandi menyelesaikan hal-hal aneh dengan baik sejak kecil, mereka tidak begitu mengkhawatirkan Fandi.

Tapi....

'Kemana semua hasil begadang gue bantu dosen. Kenapa gue harus pindah ke kos kosan ini!' pikir Fandi penuh keluhan.

Sebenarnya uang yang dikirim keluarganya selalu cukup untuk menyewa Kos sebelumnya. Tapi keluarganya mengalami gagal panen berturut-turut dua tahun terakhir. Hasil sawahnya hampir tidak cukup untuk menjadi modal awal. Karena itu, mereka mulai meminta kiriman uang dari Fandi. Memang tidak seberapa, tapi cukup untuk menggarap sawah tahun itu.

Kekurangan uang Fandi juga dikarenakan biaya kuliah dan membeli buku untuk pelajarannya yang tidak murah. Untung saja biaya kuliah telah sedikit dikurangi melalui program bidik misi, namun Fandi masih merasa ingin menangis jika mengingat dompet kosong di sakunya sekarang.

Fandi menghela nafas untuk kesekian kalinya hari ini. Ruangan kos itu kecil, hanya cukup untuk satu tempat tidur, meja belajar, dan lemari reyot di pojok. Namun harus diakui tempat ini bersih, terlihat terawat.

Namun, Fandi masih merasa tidak nyaman. Dia meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah sementara.

Fandi meletakan tas di atas tempat tidur yang berderit, lalu duduk sambil memijat pelipisnya. Kelelahan mulai menyergap, tetapi matanya tertuju pada sudut ruangan yang gelap. Matanya segera melayang ke gantungan baju yang ada di sebelahnya.

“Wah, ada gantungan baju. Lumayan lah.” katanya pada diri sendiri. Namun jika diamati lebih dekat, seseorang pasti bisa melihat tangan Fandi yang gemetar.

Fandi sendiri menangis keras dalam hatinya. 'Seharusnya gue nggak liat kesana!'

Fandi coba mengalihkan perhatiannya dengan menata pakaian dan barangnya agar tidak memikirkan hal-hal itu.

Tiba-tiba, dia mendengar suara pelan, seperti seseorang yang berbisik di telinganya.

"Selamat datang," suara itu terdengar serak, tetapi entah kenapa seperti sedang menahan tawa.

"Wah, udah!" Fandi langsung bangkit dari tempat tidur, dia mengambil ponsel dan pergi ke luar. Suara yang menyambutnya tidak melihat mata Fandi yang bergetar karena takut. Fandi menggigit bibirnya, mencoba mengontrol rasa takut yang mulai merayap.

"Hei." Fandi mengangkat kepalanya dan melihat seorang pemuda datang. Dia sepertinya pernah melihat orang ini. Tapi dia tidak bisa mengingatnya.

Setelah mendapat sambutan yang cukup mendebarkan, Fandi melirik pemuda yang datang dari ujung rambut ke ujung kaki. Dia memastikan tidak ada bercak darah, penampilan yang hidup, dada bergerak ke atas dan bawah yang menunjukkan kalau orang itu masih bernafas dan paling penting kaki yang menginjak tanah.

Fandi menghela nafas. Untungnya itu manusia. Fandi mengangguk sebagai balasan.

Pemuda itu berdiri di depan Fandi. "Penghuni baru, ya. Dari mana?" Katanya dengan ceria.

"Iya, Bang. Dari kota J." Kata Fandi tenang.

Pemuda itu menepuk tangannya. "Wah, jauh juga. Gue dari kota M. Ngomong-ngomong kenalin, Nama gue Arief, jurusan Pendidikan Olahraga semester 4 di UB . Lo diruangan mana?"

"Gue di ruangan 5, bang" Kata Fandi dengan canggung. Dia benar-benar kesulitan berhubungan dengan orang ceria dan memiliki jiwa sosial tinggi seperti ini.

Fandi juga mengenali Arief sekarang. Fandi satu kampus dengan Arief meski jurusan mereka berbeda. Fandi telah sering melihat Arief. Arief terkadang bermain basket atau sepak bola, yang membuatnya terkenal dan menjadi idola banyak perempuan.

Di saat yang sama, sebuah suara berat muncul dari belakangnya. "Jangan panik, bocah. Aku di sini."

Fandi tiba-tiba merasa leher belakangnya dingin. Dia menoleh dan melihat sosok seorang pria berjubah panjang dengan kumis melintang berdiri di ambang pintu. Mata pria itu tajam, tetapi ada senyuman hangat di wajahnya.

"Siapa Lo?" tanya Fandi, suaranya serak karena terkejut.

"Hah? Apa? Gue Arief. Bukannya Gue baru bilang." Kata Arief dengan bingung. Kenapa anak ini tiba-tiba berbalik dan berteriak seperti itu.

Aneh.

Kesan pertama Arief pada Fandi adalah anak aneh!

"Oh, iya, Bang." Fandi sendiri terdiam karena dia sebenarnya tidak bertanya pada Arief. Tapi dia hanya tersenyum minta maaf sambil menjelaskan, "Gue Fandi. Maaf tadi agak nggak fokus."

Arief juga mengangguk seolah mengerti. Dia ingin mengatakan sesuatu yang lain. Ketika dia melihat ponsel di tangan Fandi, dan sepertinya mengingat sesuatu, "Oh iya, Gue lupa HP Gue mati. Bentar, Gue masuk cas dulu."

Ketika Arief tidak terlihat. Pria paruh baya dengan tongkat panjang dan baju tradisional mendekati Fandi. "Aku Kyai Jagakarsa, Penjaga mu," jawab pria itu dengan nada santai. "Aku dipercaya Nuhdin menjaga Kamu, cucunya. Jadi, jangan khawatir dengan mereka."

Fandi hanya bisa melongo.

Penjaga?

Khodam maksudnya?

Tidak, yang lebih penting itu 'jangan khawatir dengan mereka'.

'MEREKA'!!

Kata itu berputar di kepalanya, seperti sebuah kaset rusak. Hidupnya sudah cukup rumit, dan sekarang dia harus berurusan dengan penjaga gaib yang mengaku-ngaku melindunginya.

'Lagi-lagi, masalah baru,' pikirnya sambil mengusap wajah.

Pada hari pertama, Fandi menyadari sebuah fakta mengerikan di tempat barunya: kos ini lebih buruk dari kos yang dia tempati sebelumnya.

Jauh lebih buruk.

Terpopuler

Comments

DeanPanca

DeanPanca

Hai Thor aku mampir, jangan lupa main ketempat ku juga. ingat folback ya, biar bisa saling support 😁

2025-02-04

1

DeanPanca

DeanPanca

si Fandi punya khodam, habis tu hantu jail dibabat.

2025-02-04

1

DeanPanca

DeanPanca

1 iklan buat mu thor biar semangat berkarya

2025-02-04

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2 Chapter 2 : Penghuni Lain
3 Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4 Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5 Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6 Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7 Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8 Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9 Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10 Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11 Chapter 11 : Ritual Dimulai
12 Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13 Chapter 13 : Bersikap Aneh
14 Chapter 14 : Pena Antik
15 Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16 Chapter 16 : Dua Penjaga
17 Chapter 17 : Dikejar-kejar
18 Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19 Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20 Chapter 20 : Berhasil Lolos
21 Chapter 21 : Parti atau Parto?
22 Chapter 22 : Bagian Tengah
23 Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24 Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25 Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26 Chapter 26 : Calon Suami
27 Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28 Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29 Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30 Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31 Chapter 31 : Keberangkatan
32 Chapter 32 : Permisi, Paket...
33 Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34 Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35 Chapter 35 : Senior
36 Chapter 36: Kenan Anji
37 Chapter 37 : Keanehan Kenan
38 Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39 Chapter 39 : Mimpi Buruk
40 Chapter 40 : Bangun
41 Chapter 41 : Tayangga
42 Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43 Chapter 43 : Penawaran
44 Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45 Chapter 45 : Nuhdin
46 Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47 Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48 Chapter 48 : Dimas Kembali
49 Chapter 49 : Jayden
50 Chapter 50 : Tawaran
51 Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52 Chapter 52 : Kunti Nangis?
53 Chapter 53 : Latihan Jayden
54 Chapter 54 : Wilhelmina
55 Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56 Chapter 56 : Terror Night
57 Chapter 57 : Noni Belanda
58 Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59 Chapter 59 : Lolos
60 Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61 Chapter 61 : Parto In Action
62 Chapter 62 : Di mata Jayden
63 Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64 Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65 Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66 Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67 Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68 Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69 Chapter 69 : Ryan
70 Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71 Chapter 71 : Bu Asti?
72 Chapter 72 : Mantra Jawa
Episodes

Updated 72 Episodes

1
Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2
Chapter 2 : Penghuni Lain
3
Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4
Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6
Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7
Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8
Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9
Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10
Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11
Chapter 11 : Ritual Dimulai
12
Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13
Chapter 13 : Bersikap Aneh
14
Chapter 14 : Pena Antik
15
Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16
Chapter 16 : Dua Penjaga
17
Chapter 17 : Dikejar-kejar
18
Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20
Chapter 20 : Berhasil Lolos
21
Chapter 21 : Parti atau Parto?
22
Chapter 22 : Bagian Tengah
23
Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24
Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25
Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26
Chapter 26 : Calon Suami
27
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29
Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30
Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31
Chapter 31 : Keberangkatan
32
Chapter 32 : Permisi, Paket...
33
Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34
Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35
Chapter 35 : Senior
36
Chapter 36: Kenan Anji
37
Chapter 37 : Keanehan Kenan
38
Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39
Chapter 39 : Mimpi Buruk
40
Chapter 40 : Bangun
41
Chapter 41 : Tayangga
42
Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43
Chapter 43 : Penawaran
44
Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45
Chapter 45 : Nuhdin
46
Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47
Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48
Chapter 48 : Dimas Kembali
49
Chapter 49 : Jayden
50
Chapter 50 : Tawaran
51
Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52
Chapter 52 : Kunti Nangis?
53
Chapter 53 : Latihan Jayden
54
Chapter 54 : Wilhelmina
55
Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56
Chapter 56 : Terror Night
57
Chapter 57 : Noni Belanda
58
Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59
Chapter 59 : Lolos
60
Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61
Chapter 61 : Parto In Action
62
Chapter 62 : Di mata Jayden
63
Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64
Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65
Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66
Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67
Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68
Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69
Chapter 69 : Ryan
70
Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71
Chapter 71 : Bu Asti?
72
Chapter 72 : Mantra Jawa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!