Andini wulandari mempunyai mata yang indah dengan warna kecoklatan. Datang ke ibukota untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kedatanganya ke ibu kota membuat hidupnya berubah saat pertemuan tidak sengajanya dibandara dengan seorang pria bernama Bima. Bima mulai jatuh cinta kepadanya saat pandangan pertama tetapi ada hal lain yang Andini tidak ketahui tentang Bima. Hal lain apakah itu? Bagaimana kisah selanjutnya? silahkan membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvani Rosita Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Setelah mengantarkan bi Marni kedokter untuk konsultasi masalah penyakitnya, Andini dan Bisma langsung kembali kerumah. Bi Marni harus istirahat total dari pekerjaannya karena keluhan pada pinggangnya yang menjalar ke tulang belakangnya bertambah parah. Bi Marni tidak mempunyai keluarga karena dia tidak menikah. Sudah bertahun-tahun dia menjadi pelayan dirumah Bisma dan itu membuatnya lupa untuk mencari cintanya.
Bi Marni sudah seperti ibu bagi Bisma, orang yang selalu merawatnya dari kecil itu selalu setia mendampingi si kembar hingga mereka tumbuh dewasa. Kebaikan orang tua Bisma membuatnya selalu merasa sedih jika harus meninggalkan Bisma dan kakaknya dalam pengasuhan orang tua angkat Bisma. Walaupun ibu angkat Bisma adalah sepupu ibunya, bu Marni tidak bisa percaya sepenuhnya kepada mereka. Diam-diam ibu Marni menjadi mata-mata untuk melindungi si kembar jika terjadi sesuatu pada mereka.
Didalam kamar bi Marni berbaring, Andini menyelimuti bi Marni lalu duduk disampingnya.
"Bibi harus istrirahat total, biar aku yang mengurus masalah pekerjaan rumah." Ucap Andini sambil memegang tangan bi Marni.
"Tapi non, itu tugasku sebagai ART dirumah ini." Sahut bi Marni.
"Pak Bisma juga telah mempekerjakan orang untuk merawat bi Marni. Bi Marni hanya perlu istirahat dan jangan memikirkan masalah pekerjaan rumah tangga."
"Tolong sampaikan kepada tuan Bisma atas kebaikannya kepada bibi. Tetaplah bersama tuan Bisma walaupun bibi tahu ini berat bagi non Dini. Bibi tahu non Dini tidak menyukai tuan Bisma tetapi bibi mohon jangan tinggalkan dia karena hanya non Dini keluarga yang dia miliki sekarang. Bibi merasa bersalah karena menyembunyikan kebenaran ini darinya tetapi itu semua karena bibi takut tuan Bisma tidak mampu menghadapi ini sendirian. Apakah non Dini tidak ingin tahu mengapa tuan Bima menikahkan adiknya dengan non Dini dengan terburu-buru?" Kata bi Marni dengan tetesan bening mengalir dari sudut matanya.
"Kenapa bi?" tanya Andini.
"Dia ingin kamu selalu mendampingi Bisma saat dia berada dalam kesedihan. Tuan Bima ingin ada seorang yang benar-benar tulus berada disamping Bisma saat dia sedang terpuruk dengan keadaan. Non Dini terlihat sangat tulus dan baik. Perjanjian itu hanya sebuah alasan agar nyonya Maryam mau menikahkan Bisma dengan non Dini. Karena dia serakah maka dia tidak ingin harta kekayaan orang tua kandung Bisma jatuh kepada orang yang baru dan dengan terpaksa pernikahan itu dia setujui. Rencana ini telah lama di susun oleh tuan Bima, dia tidak ingin adiknya hidup seorang diri didunia ini. Dia tidak ingin Sarah yang mendampingi adiknya karena dia telah mengamati Sarah dengan cukup lama." Kata Bi Marni.
"Terimakasih telah mengatakan aku baik bi, tapi aku dan pak Bisma tidak saling mencintai. Aku tidak tahu akan kemana arah pernikahan ini. Aku takut mengatakan jika kami harus berpisah karena memang pernikahan ini bukan atas dasar cinta bi."
"Bibi hanya minta satu kepada kamu nak, kali ini bibi menasehati kamu sebagai anak bukan sebagai majikan. Bibi mohon tetaplah berada disamping tuan Bisma walaupun kamu ingin berpisah tetapi bibi yakin kamu wanita yang tegar dan bisa melewati ini semua. Jika kamu meninggalkan dia maka dia akan hidup sebatang kara didunia ini. Bibi tidak bisa terus mendampingi tuan Bisma karena bibi rasa umur bibi tidak akan lama lagi."
"Bi jangan berkata seperti itu."
"Kamu harus janji kepada bibi untuk tetap berada disamping tuan Bisma. Kamu maukan berjanji?"
"Bi apakah itu harus?" Andini menundukkan kepalanya. Hatinya merasa takut jika keputusannya itu salah.
"Bibi tidak bisa hidup dengan tenang jika tuan Bisma harus hidup seorang diri lagi. Bisma sudah cukup menderita kehilangan orang tuanya, kini dia kehilangan kakaknya dan akan lebih menyakitkan lagi jika dia harus kehilangan non Dini."
"Bi aku tidak yakin dengan janjiku tetapi selama aku masih bisa bertahan aku akan tetap berada disamping pak Bisma."
Bi Marni tersenyum seraya mengelus lengan Andini. "Kamu wanita yang baik, pergilah temui suamimu dikamar. Jangan khawatirkan bibi karena aku akan tetap hidup untuk melihat anak kalian lahir kedunia ini."
"Bibi apaan sih." Andini terlihat sangat malu.
Andini keluar dari kamar dan membiarkan bi Marni istrirahat. Didalam hatinya dia terkadang merasa sedih dengan Bisma akan tetapi apa dia akan terus hidup dalam kebohongan dengan berpura-pura bahagia bersama lelaki yang tidak dia cintai.
Tujuannya datang ke ibukota untuk merubah nasib agar lebih baik akan tetapi takdir berkata lain. Kita tidak bisa merubah apapun jika itu sudah menjadi takdir kita, walaupun kita sudah berusaha sekuat mungkin untuk merubahnya dan jika itu bukan takdir kita semua akan tetap sama.
Kerinduan Andini kepada keluarganya yang jauh membuatnya terkadang ingin menyerah dengan pernikahan mereka. Di umurnya yang masih muda begitu banyak mimpi yang ingin dia capai tetapi itulah takdirnya yang harus dia jalani. Apapun yang kalian impikan jangan pernah menyerah pada takdir tetapi teruslah berusaha sampai takdir yang menentukan kamu akan menjadi seperti apa.
momen yg sudah lama di tunggu oleh Bisma...
rajin ibadah tp tidak tahu aturan agama terhadap pernikahan.
lucu sekali kau Andini
baru nyaho kmu, nt bisma 😅