Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Desa Sunyi
Aspal mulus Astinapura telah berganti menjadi jalan tanah berbatu yang seolah tanpa ujung. Mobil cadangan yang membawa Arkananta dan Nayara berguncang hebat setiap kali melintasi lubang sedalam mata kaki. Di balik jendela, gedung-gedung pencakar langit High Tower telah lenyap, digantikan oleh jajaran pohon jati yang meranggas dan kabut tipis yang menyelimuti wilayah Forgotten Zone. Udara di sini terasa berbeda; tidak ada aroma parfum amber Nyonya Besar yang menyesakkan, hanya bau tanah basah pasca hujan dan aroma kayu bakar yang terbakar di kejauhan.
"Kita hampir sampai di titik koordinat pengasingan," Arkananta memecah keheningan, suaranya terdengar lebih berat dalam ruang kabin yang sempit.
"Tempat ini... mengingatkan saya pada jalan menuju panti, tapi jauh lebih sunyi. Udara di sini terasa jujur," bisik Nayara sambil merapatkan jemarinya pada tasbih kayu di saku gamisnya.
Arkan melirik tangan Nayara yang sedikit gemetar. Ia merasakannya—resonansi itu. Telapak kaki Arkan terasa nyeri berdenyut, sebuah pantulan fisik dari rasa pegal yang diderita Nayara akibat perjalanan panjang tanpa henti sejak pengusiran paksa setelah sidang keluarga tadi. Arkan mengencangkan rahangnya, otot pipinya berkedut menahan amarah yang membara pada High Council yang tega membuang mereka ke titik buta peradaban ini.
Tiba-tiba, mobil berhenti mendadak. Di depan mereka, sekelompok pria dengan pakaian kumal dan wajah kasar berdiri melintang di tengah jalan. Salah satu dari mereka membawa balok kayu, menatap mobil mewah cadangan Arkan dengan tatapan penuh kebencian.
"Turun! Orang asing dilarang melintas di sini!" teriak pria berkaus dalam hitam, menghantam kap mobil dengan telapak tangan.
"Tuan, unit keamanan logistik sudah siaga. Biar saya yang tangani," Bayu bersiap membuka pintu kemudi, tangannya sudah menyentuh alat pertahanan diri di bawah kursi.
"Tunggu, Bayu. Ini wilayah Terra. Jangan gunakan kekerasan, biar aku yang memecah ketegangan ini," Arkan menahan tangan Bayu.
Arkan membuka pintu mobil. Saat sepatunya menyentuh tanah merah yang lembap, ia merasakan martabatnya sebagai politisi elit sedang diuji. Tidak ada karpet merah, tidak ada kilatan kamera seperti saat ia berdiri di garis merah konferensi pers kemarin. Hanya ada aroma debu dan tatapan penuh permusuhan dari orang-orang yang merasa dianaktirikan oleh kota.
"Siapa kalian? Orang kota tidak punya urusan di Desa Sunyi," gertak pria yang membawa balok kayu.
"Saya Arkananta. Saya datang ke sini bukan untuk berkuasa, tapi untuk menetap di rumah tua di ujung desa," jawab Arkan dengan suara datar namun mengandung wibawa yang tidak bisa disembunyikan.
"Arkananta? Oh, politisi buangan yang dicoret keluarganya sendiri?" Pria itu tertawa mengejek, meludah ke tanah tepat di depan sepatu mahal Arkan. "Di sini, jas mahalmu tidak lebih berharga dari kotoran kerbau. Bayar uang lewat jika mau mobil rongsokan ini terus jalan."
Arkan merasakan denyut tajam di nadinya. Di dalam mobil, Nayara mencengkeram tasbihnya lebih erat. Ia bisa melihat melalui Truth Eye yang mulai aktif secara samar; energi hitam di sekitar preman ini bukanlah murni kebencian, melainkan rasa lapar dan keputusasaan yang dimanipulasi oleh kiriman uang dari Erlangga.
"Bayu, serahkan kompensasi yang mereka minta. Tapi katakan pada mereka, ini bukan uang lewat, tapi sedekah untuk anak istri mereka," ucap Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari pemimpin preman itu.
Setelah Bayu menyerahkan beberapa lembar uang, blokade itu terbuka. Mobil kembali melaju, meninggalkan debu yang menyesakkan. Namun, Arkan tahu ini hanyalah permulaan. Saat mereka sampai di depan sebuah rumah tua dengan dinding bata merah yang berlumut, hawa dingin yang tidak wajar menyergap. Rumah itu tampak seperti nisan raksasa bagi karier politiknya.
"Ini tempat yang mereka siapkan untuk kita?" Nayara turun dari mobil, menatap atap yang bocor dan pintu kayu yang sudah miring.
"High Council ingin kita menyerah di jam pertama, Nayara. Mereka berharap kau akan menangis dan memohon untuk kembali agar mereka bisa menertawakan kita," Arkan berdiri di samping istrinya, meletakkan tangan di bahu Nayara yang terasa sangat dingin.
"Mereka salah menilai saya, Arkan. Saya tumbuh di panti asuhan yang dindingnya jauh lebih rapuh dari ini. Tapi... bau logam ini... kenapa lidah saya terasa sangat pahit?" Nayara menatap suaminya, matanya berkilat di bawah temaram langit sore.
Nayara melangkah menuju sumur tua di samping rumah. Ia melihat ke dalam lubang gelap itu. Resonansi batinnya berteriak. Ia merasakan lidahnya mendadak pahit, sebuah sensasi yang langsung tersambung ke indra perasa Arkan.
"Jangan sentuh airnya! Menjauhlah sekarang!" Arkan berteriak, menarik tangan Nayara tepat sebelum gadis itu menyentuh timba kayu.
Arkan mengambil timba, menurunkan talinya yang berderit nyaring, lalu mengangkat sedikit air ke permukaan. Bau kimia yang menyengat langsung menyerang penciuman mereka. Air itu jernih, namun di dasarnya terdapat endapan kebiruan yang tidak alami.
"Sumurnya diracun dengan arsenik," Arkan mendesis, wajahnya mendingin sekeras batu marmer. "Bahkan sebelum kita masuk, mereka sudah memutus nadi kehidupan kita di sini."
"Bagaimana dengan anak-anak di desa ini, Arkan? Jika mereka mengambil air dari sumber yang sama..." Nayara menutup mulutnya, matanya mulai berkaca-kaca karena ngeri.
"Ini bukan sekadar sabotase, ini upaya pembunuhan perlahan. Bayu! Ambil sampel air ini untuk audit forensik. Aku ingin tahu jenis racun apa yang Erlangga gunakan," Arkan membuang air itu ke tanah.
Bayu segera bergerak dengan alat deteksi portabelnya. Sementara itu, hujan mulai turun dengan deras, membasahi tanah kering Desa Sunyi. Suara rintik hujan yang menghantam atap seng tua terdengar seperti rentetan peluru yang tidak ada habisnya. Arkan menuntun Nayara masuk ke dalam rumah yang gelap gulita karena tidak ada aliran listrik.
"Duduklah di sini. Jangan menyentuh apa pun yang basah atau berkarat," Arkan membersihkan sebuah kursi kayu tua dengan sapu tangannya yang kini sudah kusam.
Nayara duduk, napasnya terdengar berat. Ruangan itu sangat dingin, jauh lebih dingin daripada kamar ber-AC di High Tower. Ia merasakan suhu tubuh Arkan menurun drastis melalui resonansi. Arkan sedang menggigil, bukan karena kedinginan, tapi karena menahan beban emosional akibat martabatnya yang kini diseret ke lumpur terdalam.
"Anda tidak perlu melakukan ini, Arkan. Anda bisa kembali dan mengatakan bahwa saya yang memaksa Anda," bisik Nayara di tengah kegelapan.
"Diamlah, Nayara. Aku tidak akan kembali ke tempat di mana martabat istriku dianggap sebagai noda. Jika dunia ini harus menjadi sunyi untuk menjaga kejujuran kita, maka biarlah sunyi," Arkan berlutut di depan istrinya, mencoba menggosok kedua tangan Nayara yang sedingin es.
Namun, di tengah kalimatnya, Arkan mendadak terbatuk hebat. Rasa logam yang tadi dirasakan Nayara kini memenuhi kerongkongannya, membuat visinya menyempit sesaat. Ia tahu, pengasingan ini akan jauh lebih mematikan daripada sidang cerai mana pun yang pernah mereka face.
Kegelapan di dalam rumah tua itu terasa pekat dan menindas. Suara hujan yang menghantam atap seng menciptakan kebisingan statis yang mengisolasi mereka dari dunia luar. Tanpa sinyal ponsel, tanpa listrik, High Tower yang megah kini terasa seperti mimpi buruk dari kehidupan lain. Arkananta menyalakan sebatang lilin kecil yang ditemukan Bayu di dapur, cahayanya yang temaram menari-nari, melemparkan bayangan panjang yang tampak seperti monster di dinding bata yang lembap.
"Tuan, arsenik tingkat rendah dicampur tembaga sulfat. Tidak langsung mematikan, tapi merusak saraf," lapor Bayu dengan suara rendah, berdiri di ambang pintu yang miring.
"Erlangga ingin kita mati perlahan di sini. Berapa banyak logistik air bersih yang kita bawa di mobil cadangan?" Arkan menjawab sambil mencoba menyalakan api di tungku tua menggunakan sisa kayu kering.
"Hanya tiga galon cadangan, Tuan. Estimasi ketahanan untuk kita hanya dua hari."
Arkan terdiam, tangannya yang memegang korek api gemetar sesaat. Dilema martabat kembali menghantamnya. Sebagai pria yang pernah memegang kendali anggaran miliaran di parlemen, kini ia harus menghitung setiap tetes air demi kelangsungan hidup istrinya. Ia melirik Nayara yang meringkuk di kursi kayu, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya lilin.
"Dengarkan aku, Nayara. Minumlah ini sedikit demi sedikit," Arkan menyodorkan tutup botol berisi air bersih.
Nayara menggeleng perlahan. "Anda lebih membutuhkannya untuk tetap berdiri, Arkan."
"Ini perintah, bukan tawaran," Arkan menekankan botol itu ke bibir Nayara.
Saat Nayara meminumnya, Arkan merasakan sensasi segar yang aneh di tenggorokannya sendiri—resonansi yang kini mulai bekerja dua arah dengan lebih intens. Namun, rasa segar itu segera digantikan oleh denyut nyeri di telapak kaki Nayara yang mulai membengkak karena perjalanan tadi. Arkan tanpa sadar meraba kakinya sendiri, matanya mendingin saat menyadari betapa rapuhnya kondisi mereka saat ini.
Tiba-tiba, suara deru motor terdengar mendekat, memecah kesunyian hujan. Beberapa sorot lampu senter yang kuat menusuk masuk melalui celah-celah dinding kayu yang bolong. Arkan segera berdiri, menghalangi pandangan mereka dari Nayara.
"Keluar! Kami tahu kalian ada di dalam rumah itu!" teriakan kasar pemimpin preman tadi kembali terdengar, kali ini lebih penuh kebencian.
Arkan melangkah keluar ke selasar rumah yang basah. Di sana, tiga motor besar meraung-raung, memercikkan lumpur ke arah teras. Pemimpin preman itu turun, memegang sebuah jeriken yang baunya sangat tajam.
"Kami dengar kalian membawa banyak uang di mobil itu. Serahkan kuncinya, atau rumah tua ini akan kami bakar bersama kalian di dalamnya!" ancam si preman sambil mulai menyiramkan cairan dari jeriken ke pilar rumah.
"Bau bensin tingkat tinggi, Tuan," bisik Bayu, tangannya bergerak ke arah saku jasnya, siap mengambil tindakan ekstrem.
Arkan menarik napas dalam, merasakan udara Desa Sunyi yang dingin masuk ke paru-parunya. Ia tidak lagi melihat mereka sebagai ancaman fisik, melainkan sebagai bidak-bidak yang digerakkan oleh rasa lapar. Inilah saatnya ia harus menjadi komandan di wilayah Terra.
"Kalian pikir Erlangga akan tetap membayar jika aku mati di sini?" suara Arkan menggelegar, mengatasi deru mesin motor. "Jika rumah ini terbakar, otoritas pusat akan datang dan desa ini akan ditutup. Kalian tidak akan punya tempat sembunyi."
"Kami tidak takut polisi! Di sini kami hukumnya!" balas salah satu preman.
"Tapi kalian takut lapar, bukan?" Arkan melangkah maju satu langkah, meskipun bensin sudah membasahi ujung sepatunya. "Uang Erlangga hanya cukup untuk satu malam. Tapi jika kalian membiarkan kami tinggal, aku pastikan sumur desa tidak lagi beracun dan anak-anak kalian punya sekolah yang layak."
"Jangan dengarkan dia! Bakar sekarang!" teriak preman yang lain.
Tiba-tiba, Nayara muncul di ambang pintu. Tangannya memegang tasbih kayu yang bergetar. Matanya yang abu-abu berkilat aneh dalam kegelapan. Ia melihat benang-benang hitam energi negatif yang menghubungkan preman-preman itu dengan sebuah mobil hitam yang terparkir jauh di kegelapan hutan jati.
"Ada pengkhianatan di sana! Orang-orang itu yang meracuni sumur kalian!" Nayara menunjuk ke arah hutan. "Mereka menunggu kalian membakar rumah ini agar tidak ada saksi mata yang tersisa!"
Para preman itu tertegun, menoleh ke arah yang ditunjuk Nayara. Di saat yang sama, sebuah kilatan cahaya dari jauh—moncong senjata—terlihat membidik ke arah mereka. Arkan dengan sigap menarik Nayara jatuh ke lantai teras tepat saat sebuah peluru menghantam pilar kayu tempat Nayara berdiri tadi.
"Tiarap! Semuanya berlindung!" Arkan berteriak pada para preman yang kini panik.
Suara tembakan kedua menyalak, menghantam jeriken bensin hingga meledak, menciptakan dinding api yang memisahkan mereka dari para penembak misterius di hutan. Dalam kekacauan itu, para preman desa menyadari bahwa mereka hanyalah umpan yang dikorbankan oleh pihak High Tower untuk menciptakan skandal "kematian akibat kerusuhan desa".
"Masuk ke dalam! Cepat!" Arkan menyeret salah satu preman yang gemetar ke dalam rumah. "Bayu, matikan semua lilin! Kita bergerak dalam gelap."
Di dalam rumah yang pengap dan panas karena api di luar, Arkan mendekap Nayara erat. Ia merasakan jantung Nayara berpacu liar di dadanya, sebuah resonansi yang membuatnya merasa seolah jantungnya sendiri akan meledak. Bau asap bensin dan tanah basah menyatu, menciptakan aroma kematian yang sangat nyata.
"Maafkan kami... kami hanya ingin makan," bisik si pemimpin preman, wajahnya kini pucat pasi terkena cahaya api dari luar.
"Jangan minta maaf sekarang. Ambil senjatamu, karena mulai malam ini, musuh kita adalah satu dan sama," Arkan menjawab, matanya berkilat di tengah kegelapan total.
Nayara mencengkeram jas Arkan, jemarinya menyentuh jam tangan perak yang jarumnya kini melambat, seolah waktu sedang menahan napas. "Arkan... mereka benar-benar ingin kita hancur."
"Mereka ingin menghancurkan Arkananta sang politisi, Nayara. Tapi mereka lupa satu hal," Arkan mencium kening istrinya yang berkeringat dingin. "Di tempat yang paling gelap seperti Desa Sunyi ini, integritas tidak butuh lampu untuk bersinar. Kita akan membangun legiun kita dari sini."
Malam itu, di tengah hujan yang menderu dan api yang perlahan padam oleh air langit, aliansi pertama antara "Benua Langit" dan "Benua Rendah" terbentuk secara paksa. Arkananta tahu, ia baru saja kehilangan akses ke kekuasaan formal, namun ia baru saja menemukan karisma aslinya sebagai pemimpin yang berdiri di atas tanah merah.