Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 : Surat rahasia
Keesokan paginya rapat utama dari pertemuan itu akhirnya diselenggarakan. Semua tamu delegasi sudah berkumpul sejak beberapa menit yang lalu. Tak lama, Louis pun tiba dengan gagah dan penuh wibawa. Wajahnya bersinar cerah dan senyumnya mengembang, seolah kemenangan sudah berada di tangan.
Begitu masuk semua tamu berdiri serempak sebagai penghormatan. Louis mengangkat sebelah tangan ke atas sebagai isyarat, dan semua tamu itu pun duduk kembali.
"Sebelumnya ada yang ingin aku umumkan," ujarnya secara tiba-tiba dan tak lama pintu ruangan diketuk.
"Masuk." Suara Louis begitu lantang dan menggema di ruangan itu.
Pintu ruangan rapat terbuka kembali. Dari luar, seorang wanita tampak berdiri dengan anggun di ambang.
"Silahkan masuk, Ratu Serah."
Begitu mendengar nama Serah disebut semua orang antusias. Grenseal reflek berdiri.
Wanita itu masuk dalam balutan gaun berwarna hijau pastel dengan gaya off shoulder yang memperlihatkan sedikit bagian bahunya dengan bentuk hati di bagian dada pakaian. Meski sedikit terbuka, gaya lengan balon yang dan tumpukan renda pada bagian rok di sisi kiri dan kanan membuat kesan yang elegan. Tak lupa ia menggunakan sarung tangan berwarna putih.
Ia berjalan dengan tatapan lurus ke depan ke arah Louis. Senyumnya tipis namun tetap menawan.
"Yang mulia," ujarnya dengan lembut saat berhadapan dengan Louis lalu membungkuk.
"Hahaha, kemari lah Putri Serah." Louis tertawa tampak senang, dan Serah pun berjalan mendekat. "Saudara sekalian, Ratu Serah, dari Kerajaan Regina," ucapnya sambil menggenggam tangan Serah lalu mengangkatnya sebagai bentuk penghormatan. Louis dan Serah berdiri menghadap ke arah para tamu delegasi.
Grenseal yang tadinya antusias dan penuh harap berubah pandang saat menyadari wanita yang ada di depan itu adalah sosok yang selama dua malam ini ia temui. Ah, seketika ia merasa seperti orang bodoh.
Sorot matanya berubah, pandangannya sedikit beralih ke bawah dengan segurat tipis dan dengusan kecil yang terdengar halus. Ia bertepuk tangan mengikuti ritme tamu lain yang menyambut wanita itu dengan sukacita dengan tanpa minat.
Di sisi lain, Serah menangkap reaksi Grenseal merasa agak bersalah. Ia menyadari kekecewaan Raja muda itu. Sementara Louis yang memperhatikan perubahan Grenseal menerima alarm yang salah. Ia berpikir Grenseal sudah putus harapan dan akan bersedia menerima perjanjian itu. Ia langsung tersenyum lebar.
"Yang mulia, ada apa?" Bisik Carles saat melihat Raja mudanya tampak tak bersemangat.
"Sepertinya, Dewi keberuntungan tidak berpihak kepada kita...," balas Grenseal sambil menatap Serah yang sekarang duduk tepat di sisi kanan bersebrangan dari dirinya.
Carles hanya bisa menautkan alis setelah mendengar jawaban dari Grenseal. Hatinya masih ingin bertanya tapi ditahan karena orang-orang kini kembali fokus.
"Kalau begitu, mari kita mulai rapat ini," ujar Louis membuka pembicaraan yang akan menentukan nasib masing-masing kerajaan. Siapa yang akan berkoalisi, terlihat berambisi, terintimidasi, siapa lawan dan kawan akan jelas.
Setelah rapat dibuka, pria yang memakai pakaian kebesaran kerajaan berwarna kuning langsung angkat bicara.
"Yang mulia, saya mewakili beberapa delegasi lain yang tak bisa hadir dalam rapat ini ingin meminta agar jalur blokade dibuka," ujarnya tanpa ragu. Kata-katanya yang tenang mengandung suatu ketegasan. Hari ini ia datang membawa pesan moral. "Saudara kami yang berada dengan wilayah Duncan ikut terkena dampak blokade itu. Mohon pertimbangannya untuk membuka jalur," lanjutnya dengan menekankan permintaan itu sekali lagi.
"Sebenarnya masalah itu sedang kami cari solusinya," balas Louis ringan meskipun ia tau ini adalah tekanan baginya untuk menghentikan blokade pada Duncan. "Saya sudah mengajukan kerjasama yang memungkinan kebebasan jalur pangan kepada Tuan Grenseal, keputusan ada di tangannya. Apakah ia akan menerima atau tidak?" Louis memang licik, dia tersenyum manis menatap ke arah Grenseal yang sepertinya sudah dapat menebak arah Louis akan memberi tekanan kepadanya.
"Mengenai masalah itu, kami dari pihak Duncan sedang mempertimbangkannya, karena setelah dilihat, perjanjian itu memiliki poin-poin yang sangat merugikan bagi kami," balas Grenseal dengan gesture yang tetap sopan kepada Louis. Cara bicaranya lugas dan penuh ketegasan dalam mengambil sikap.
"Mempertimbangkan? Duncan mungkin bisa bertahan, tapi bagaimana dengan Kerajaan lain yang dikatakan oleh Tuan Anthony?" Louis tampaknya mulai melakukan serangan secara moral.
"Dia....!"
Grenseal mengepalkan tangannya dengan kuat. Dalam hati ia merutuki kelicikan Louis saat sadari. Raja Mathilda itu tidak akan melewatkan kesempatan untuk menekan sampai Duncan setuju dengan perjanjian itu.
"Semua ini tidak akan terjadi kalau anda tidak melakukan blokade kepada Duncan," balas Grenseal dengan emosi tertahan. Bisa-bisanya Louis cuci-tangan, padahal dia lah sumber masalah pangan yang terjadi di wilayah Duncan dan sekitarnya.
"Saya juga tidak akan bertindak kalau Duncan tidak menyerang wilayah Regina terlebih dahulu," jawab Louis sambil tersenyum licik dan langsung memancing reaksi dari Carles.
Pria berusia 30 tahun itu sontak berdiri, dan dengan suara yang agak keras ia berkata, "Anda memutar balik fakta!" Carles menatap Louis dengan penuh emosional. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal.
Kejadiannya tidaklah seperti itu. Duncan memang menyerang wilayah Regina tapi itu karena Louis dan pasukannya berada dekat dengan wilayah perbatasan, sehingga memiliki kesan seolah-olah Duncan yang menyerang. Padahal saat itu Duncan hanya ingin mengamankan wilayahnya dari mata-mata yang berada di kawasan Regina bukan agresi. Tapi justru hal itu malah menjadi bumerang sendiri bagi Duncan saat ini.
Sementara itu Serah terlihat diam. Ia mengamati semua pihak sambil memikirkan cara untuk bertindak.
Semua orang tak ada yang berani ikut campur dalam ranah ini karena tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui pasti apa yang sebenarnya terjadi, termasuk Serah.
Ia sendiri belum berani berasumsi siapakah yang benar karena Louis datang menawarkan bantuan perlindungan saat prajurit Duncan memang berada di sekitar wilayahnya pada saat itu. Namun, ia punya keyakinan sendiri. Louis memang tak bisa dipercaya, tapi Grenseal masih abu-abu baginya. Ia teringat akan ucapan pria itu yang akan mencoba merebut wilayah Regina kalau terpaksa.
"Yang mulia, ijinkan saya berbicara," ujar Serah tiba-tiba memecah ketegangan di antara Louis dengan pihak Duncan.
"Silahkan," balas Louis singkat.
"Mengenai Duncan saya tidak berani untuk ikut campur, tapi untuk masalah beberapa kerjaan lain di dekat Duncan, saya punya solusi." Kata-katanya begitu meyakinkan dan tampak tidak terpengaruh oleh pihak manapun. Louis menatap wanita itu dengan penasaran. "Saya bersedia untuk membantu sebagian pangan ke beberapa kerajaan, berupa gandum dan pangan lain dalam jumlah batas tertentu," ungkapnya yang langsung disambut dengan kelegaan dari beberapa orang termasuk Carles. Keputusan Serah barusan langsung meringankan tekanan yang diberikan kepada Louis.
"Yang mulia, anda sungguh bijaksana!" Ucap Anthony yang terlihat terharu. Ia merasa begitu bersyukur seseorang masih ada yang bertindak atas nurani, bukan politik semata.
"Kalau begitu saya juga bersedia untuk membantu!" Meyer, kerajaan sebelah dekat dengan Regina ikut bersuara dan setelahnya dua orang delegasi lain pun menyatakan kesediaannya untuk membantu.
"Terimakasih kepada anda semua, ini adalah kabar yang sangat menggembirakan!" Wajah Anthony cerah seketika.
"Yang mulia, ini sangat baik untuk kita," ucap Carles diam-diam saat suasana di dalam ruangan sedikit hype.
"Dia membantu kita mengatasi tekanan," balas Grenseal melirik sedikit ke arah Serah yang sedang tersenyum kepada Anthony dan yang lain.
Sementara itu Louis menahan amarahnya yang sudah memuncak dalam dada.Ia nyaris saja berteriak kepada Serah karena melakukan hal bodoh dan membuatnya kehilangan kesempatan emas untuk menundukkan Duncan.
"Apa yang dipikirkannya? Apa dia sedang mencoba untuk menjadi Dewi penyelamat dan bermain-main menjadi malaikat penolong? Dia menghancurkan kesempatan ku untuk mengambil kekuasaan Duncan!"
Louis merasa geram, karena Duncan juga Grenseal yang ada dalam bayangannya hampir terikat dengan rantai perjanjian tapi rantai itu dihancurkan oleh Serah yang datang sebagai sosok Fortuna pelindung. Rantai itu seolah ditebas dengan pedang membuatnya pecah berantakan seperti harapan Louis yang telah pupus.
Pada akhirnya pertemuan rapat itu menghasilkan perjanjian bantuan dari beberapa pihak ke wilayah kerajaan lain. Mereka belum berani bergerak membantu Duncan karena masih ada konflik dengan Louis yang belum jelas.
Louis tentunya tidak mendapatkan tangan kosong. Ia sendiri berhasil membentuk perjanjian pembangunan dan teknologi ke beberapa kerajaan. Meskipun tujuan utamanya tidak membuahkan hasil dengan Duncan.
Louis mengakhiri rapat itu, pura-pura tersenyum dan senang, mengucapkan terimakasih dan berperilaku dengan elegan. Mereka meninggalkan ruangan bersama-sama, namun saat itu Serah berjalan melintas, diam-diam dia menyelipkan sebuah surat kepada Carles.
"Yang mulia ini...." Pria itu terkejut tapi buru-buru menyimpan surat itu sebelum ada yang melihat.
"Buka saat kalian akan pulang," ucap Serah dengan nada suara rendah dan setelah itu ia menyusul delegasi lain.
Carles dan Grenseal saling berpandangan. Penasaran tapi mereka harus mengikuti ucapan wanita itu untuk membacanya nanti saat pulang. Apa isi surat itu?
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib