NovelToon NovelToon
Little Fairy Tale

Little Fairy Tale

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Karir / PSK
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Baginda Bram

Luka.

Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.

Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.

Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.

Luka adalah bukti.

Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.

Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.

Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.

*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecamuk dalam dada

Bagas masih belum bisa melupakan kejadian kemarin. Meski ia mendapatkan informasi itu dari orangnya sendiri, otaknya masih enggan untuk percaya.

Bahkan seharian ini, ia masih tak melakukan apapun karena pikirannya masih disusupi banyak hal. Ia hanya berbaring sembari menatapi langit-langit sedari tadi.

Lamunannya itu buyar setelah mendengar suara nyaring dari ketukan pintunya.

"Gas, kita ke psikiater yuk!" ajak suara dari luar.

Kalimat barusan juga membuatnya sadar betapa lamanya ia tak memeriksakan diri. Terlalu banyak hal yang terjadi belakangan ini, membuatnya lupa akan hal sepenting itu.

Karena itu, tanpa pikir panjang, ia langsung setuju tanpa kompromi.

Hanya butuh lima menit baginya untuk bersiap. Bagas dan ayahnya langsung menuju ke rumah sakit yang rutin mereka kunjungi.

Setelah menunggu hampir setengah jam, barulah mereka bisa memasuki ruangan tempat psikiater berada.

Di dalam ruangan pun, mereka harus menunggu kembali. Namun hanya sesaat. Sebelum akhirnya mereka didatangi seseorang,

"Pak, maaf sebelumnya. Dokter yang biasanya sedang cuti, hari ini hanya ada dokter Kirana. Bagaimana?" jelas seorang yang datang.

"Aduh, bagaimana, Gas?"

Bagas semakin bingung ketika pertanyaan itu dilayangkan untuknya. Nama dokter yang ia dengar barusan jelas-jelas nama seorang perempuan.

Sementara dokter yang biasa ia temui adalah dokter laki-laki. Kalau ia malah kesulitan menghadapi dokternya, kedatangannya kemari akan jadi percuma.

Namun, ia juga terlanjur datang. Ia merasa sayang jika harus pergi tanpa mendapat hasil apa-apa.

Coba dulu deh.

"Tidak apa-apa, Yah."

Mereka pun sepakat untuk tetap melanjutkan apa yang sudah mereka mulai.

Tak begitu lama, datanglah seorang wanita. Duduk di hadapan mereka. Menyuguhkan senyum ramah,

"Maaf sebelumnya ya, Dok. Anak saya pengidap ginofobia. Jadi kalau sekiranya tingkahnya menyinggung dokter, saya mohon dimaklumi." ayahnya sigap memberi tahu.

"Oh begitu ya, Pak. Baiklah."

Wanita itu memandangi Bagas yang sedang menatap ke bawah.

"Sebelumnya perkenalkan saya Kirana."

"Saya Fajar, ini anak saya, Bagas. Kami sebelumnya sudah beberapa kali kemari, nah dokter yang biasanya memvonis kalau dia ini ginofobia."

"Baik, Bagas tadi ya?"

Bagas menjawab dengan sebuah anggukan.

"Sudah berapa kali kamu konsultasi?"

"Empat kali, Dok."

"Lalu apa ada perubahan dengan yang kamu rasakan?"

"Awalnya sama seperti sebelumnya. Tapi, belakangan ini saya merasakan perubahan."

"Perubahan seperti apa?"

"Ada gadis yang tidak membuat saya takut."

"Baik, kalau dibandingkan, rasa takutmu dulu dan sekarang, apa ada perubahan? Seperti berkurang atau malah sebaliknya?"

"Kalau itu masih sama."

"Baik, apakah ada ciri tertentu dengan gadis yang membuat fobiamu tidak bereaksi?"

"Sejauh ini, cuma ada satu gadis saja. Cirinya ...."

Bagas bingung harus menjelaskan seperti apa.

"Contohnya seperti fisiknya atau sikapnya." ujar dokter yang seolah memahami kegundahan Bagas.

"Menurutku dia gadis yang menggemaskan dan ... aneh."

Bagas merasa "aneh" adalah kata yang layak disematkan padanya.

"Seaneh apa?"

"Mungkin seperti ... dia tidak minder walaupun punya bekas luka di wajah."

"Hmm ... begitu, kapan kamu sadar kalau dia tidak menakutkan?"

Bagas baru sadar kalau sebelum bertemu Renata di panti asuhan, ia sudah bertemu dengannya di laboratorium. Namun, ia tidak tidak tahu. apakah fobianya bereaksi atau tidak padanya kala itu.

Yang masih ia ingat dengan jelas adalah saat ia melihat foto Rena. Yang ternyata orang yang sama dengan Renata.

Ia memang tidak melihat langsung sosok Rena. Itupun ia lakukan bukan karena terlalu takut, namun karena ia terlalu gugup. Al hasil, ia tidak bisa memastikan apapun saat itu.

"Awalnya saya sadar ketika melihat foto gadis itu. Lalu ketika bertemu, ternyata saya bisa melihat bahkan berbincang dengan normal kepadanya."

"Berarti bukan saat pertama kali bertemu?"

"Seingatku, kami pernah bertemu sebelumnya, tapi, aku menghindar karena sudah kebiasaan."

"Baik."

Tangan sang dokter bergerak, mengisi lembaran kosong dengan tinta.

"Sekarang, apa yang kamu rasakan saat berbincang denganku barusan? Apa kamu merasa takut?"

Bagas mencoba merenungkan perasaannya. Ia merasakan debaran yang tak wajar. Namun ia tak ingin menghindar. Mungkin itu adalah pertanda takut tapi ia tak bisa menyangkal kemungkinan lain seperti gugup.

"Iya, saya masih merasakan takut."

"Kalau semisal aku memintamu untuk melihatku, bisa?"

Bagas terdiam. Debaran dadanya kian mengencang.

"Sebentar saja, beberapa detik saja, tidak apa-apa." Dokter kembali menenangkan.

Bagas merasa ini adalah kesempatan yang bagus karena ia tidak selalu bisa memastikan sejauh mana fobianya.

Karena ia tidak bisa memastikannya di sembarang tempat apalagi di tempat umum. Ia khawatir kalau responnya membuat orang lain risih atau bahkan membencinya.

"Akan saya usahakan, Dokter."

Perlahan pandangannya terangkat. Sedikit demi sedikit ia pandangi sosok wanita yang memandanganya dengan tatapan lembut. Hingga akhirnya ia memandang penuh wanita di hadapannya.

Ia sadar ada yang aneh kali ini. Sosok menakutkan tak ia dapati, malah mendapati kecantikan yang membuat hatinya berdesir. Senyum manis yang sempat membuatnya berkedip untuk sesaat, tak mungkin bisa membuatnya takut.

"Apa kamu merasa takut?"

Pertanyaan itu menyadarkannya, membuatnya tertunduk dengan cepat. Bukan karena takut, namun karena tersipu.

"S-sepertinya masih."

Ia benar-benar tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sekarang. Kalau ditanya, jelas ketakutan masih terasa, namun takut jatuh hati adalah kalimat yang tidak bisa ia utarakan.

Ia malah semakin bingung dengan perasaannya sendiri.

"Baik, aku bisa simpulkan kalau ini adalah sinyal baik. Lalu cobalah sering-sering berinteraksi dengan perempuan meski sulit. Jika kamu merasa ketakutan, cobalah menganggap kalau perempuan itu makhluk indah yang sama sekali tidak layak ditakuti."

Bagas mengangguk paham berkat percobaannya barusan. Ia sadar kalau tidak semua perempuan itu kayak ditakuti.

Jika rasa takut menyerangnya, ia bertekad untuk melawannya dengan logika itu. Suatu saat nanti.

...----------------...

Punggung Linda mulai terasa nyeri. Ia merasa tidak menambah apapun dalam tasnya, namun ia merasa bebannya seolah bertambah.

Pikirannya tersendat sedari tadi karena terngiang oleh kata-kata kakak kelas yang ia dengar di ruang ekskul.

Meski ia mencoba mengabaikannya, kata-katanya tak kunjung keluar dari dalam kepalanya. Bahkan, terulang kembali untuk ke sekian kalinya.

"Lin, aku berhasil!"

"Berhasil untuk?" beberapa orang menyahut serempak.

"Dengarkan ya! Aku sudah jadian dengan adik kelas yang aku suka kemarin loh!"

"Hah? Kok bisa?"

"Iya, awalnya aku ragu. Tapi, kemarin kutembak saja dia. Di luar dugaan, dia mau jadian denganku."

"Bukannya aneh kalau cewek yang mengajak jadian duluan?" tanya Linda keheranan.

"Memang. Awalnya aku merasa begitu. Tapi saat aku membayangkan dia dekat dengan seseorang, rasanya ada yang berkecamuk dalam dadaku. Aku putuskan untuk mencobanya. Eh ternyata dia mau."

"Iya, enak kalau skenarionya sama seperti yang terjadi denganmu. Kalau tidak, bagaimana?" Linda membantah.

"Kakak kepikiran tidak? Kalau seandainya kakak ditolak, bagaimana?" lanjutnya.

"Lin, cowok itu makhluk yang simpel. Cukup buktikan saja cintamu itu lebih besar daripada apapun, yakin deh, kamu pasti akan meluluhkan hatinya. Yang penting dia sadar dengan yang kamu lakukan."

"Kalau dia tidak sadar?"

"Ya ... mau bagaimana lagi?"

Bahkan sebelum tidur pun, kata-kata dari kakak kelasnya masih terngiang jelas.

Ia sadar. Belakangan ini ada yang salah dengan dirinya. Dalam dadanya ada sesuatu yang berkecamuk saat lelaki yang ia pikir sulit untuk dekat dengan seorang gadis, kini akrab dengan seseorang.

Ia tidak mengerti sebelum kakak kelasnya bercerita. Lalu ia baru sadar kalau ia harus melakukan sesuatu agar perasaan itu hilang.

Tidak bisa jika hanya mengabaikan. Tidak cukup juga disangkal.

Saat ia membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, rasanya ia kesal hingga tak akan bisa menerimanya. Bagaimana pun alasannya.

Malam itu, sebelum kesadarannya dibawa mimpi, ia sudah membuat sebuah keputusan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!