Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
She Knows Him So Well
Sena terbangun dengan keadaan sedikit linglung. Ia berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya di kamar. Saat matanya penuh terbuka, Sena menemukan Andy tidur lelap di sampingnya, dengan lengan memeluknya. Tanpa berusaha menyingkirkan tangan Andy, dia meraih ponselnya yang terselip di bawah bantal. Betapa terkejutnya ia kala menemukan waktu sudah menunjuk pukul 9 malam.
Gerakan Sena itu, meski sudah sepelan mungkin, ternyata tetap berhasil mengusik Andy. Ia terbangun, menyipitkan mata, dan perlahan menatap Sena.
"Oh, hai," sapanya pelan, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
Sena menoleh ke arahnya dan tersenyum, menepuk pahanya dengan lembut. "Hai," balasnya. "Kita ketiduran cukup lama ternyata."
"Ah, benar. Jam berapa sekarang?" tanya Andy seraya mengusap wajahnya, matanya mencari-cari keberadaan jam dinding di kamar Sena—yang nyatanya tidak ada.
"Jam sembilan."
"Whoa," Andy menghela napas sambil menggosok matanya. "Tidak kusangka sudah selama itu," katanya sambil terkekeh kecil.
Sena mengangguk dan perlahan duduk untuk meregangkan tubuhnya, lalu menguap lebar. Rambutnya terurai berantakan, beberapa helai menempel di pipinya. Dia menyibaknya ke belakang telinga dengan gerakan malas, masih setengah mengantuk. Selimut yang tadinya menutupi tubuhnya melorot ke pinggang, memperlihatkan kaus oversized berwarna navy yang dipakainya.
"Bagaimana perutmu?" tanya Andy dari belakangnya.
"Hmm," Gyuri mengangkat bahu. "Masih sedikit nyeri, tapi jelas jauh lebih baik."
Andy menopang tubuhnya dengan kedua tangan sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur dan mengambil plastik yang ia bawa tadi. Ia mengeluarkan satu kaleng sup cair dan menunjukkannya pada Sena.
"Lapar tidak? Kemarin Taehee memasak sup."
Sena mengangguk. Ia memang sudah mulai merasa ingin makan sesuatu. Sejak merasakan sakit datang bulan, dia hampir tidak bisa makan dengan benar. Perutnya terasa sensitif, dan hampir semua makanan yang dia coba makan kemarin berakhir dengan rasa mual yang mengganggu. Sup terdengar seperti pilihan yang sempurna saat ini—hangat, lembut, dan mudah dicerna.
"Kau bisa berjalan turun? Atau aku siapkan di sini saja makanannya?"
Sena menggeleng pelan. "Kita turun saja. Aku tidak mau kau menyentuh dapurku tanpa pengawasan," guraunya. Cukup tahu bahwa Andy tidak pandai berkutat dengan peralatan dapur. Dalam hal lain, skor Andy selalu nyaris sempurna. Tapi kalau soal memasak... sudahlah, tidak usah ditanya.
"Dude," kata Andy sambil memasang ekspresi pura-pura tersinggung. "Aku tidak seburuk itu, tahu."
"Entahlah, Andy. Aku hanya ingat kau pernah memasak spageti dan pizza yang ... gosong," balas Sena dengan nada sarkastik.
Andy tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya, tersenyum malu. "Ah, benar juga," desahnya sambil mengangguk pasrah.
"Kalau berhubungan dengan memasak, kau memang buruk sekali," ejek Sena. "Tapi kalau soal bermusik ... kau juaranya," lanjutnya.
Andy tersenyum malu-malu mendengar pujian itu. Memang sudah sering mendengarnya dari orang lain, tapi saat Sena yang bilang, rasanya lain. Pipinya sedikit merona, dan dia menunduk sebentar untuk menyembunyikan senyum lebarnya. Jemarinya sibuk meremas-remas plastik berisi kaleng sup, berusaha menghilangkan gugup.
"Ayo kita turun," ajak Sena.
Dia melangkah duluan, Andy mengekor patuh seperti anak anjing yang sangat menyayangi tuannya. Tangga kayu berbunyi pelan di setiap anak tangga yang mereka injak. Sena berpegangan pada pegangan tangga, melangkah hati-hati karena masih sedikit pusing. Andy berjalan tepat di belakangnya, satu tangannya melayang di dekat punggung Sena, siap menangkap kalau-kalau dia kehilangan keseimbangan.
"Oh, satu lagi," kata Sena saat mereka sampai di dapur. "Rap-mu di lagu Reguler masih jadi top 10 dalam list favoritku. Sekadar informasi."
Andy tertawa pendek. "Itu memang keren, sih," balasnya malu-malu.
Sena terkekeh, sambil membuka salah satu kemari dapur dan mengambil panci kecil untuk memanaskan sup. Ia meletakkannya di atas kompor dan menyalakan api, sementara Andy membuka kaleng sup dan menuangkannya perlahan ke dalam panci, mengaduknya perlahan seperti chef profesional.
Sena menyerahkan bagian itu sepenuhnya kepada Andy, dan dia beralih ke kulkas, mengambil jus dalam kemasan. Ia menuangkan jus ke dalam dua gelas, membawanya ke meja dapur sementara menunggu Andy selesai 'memasak'.
"Tapi, dari semua karyamu, aku rasa yang terbaik tetap ada di album solo yang kau kerjakan sepenuh hati itu."
Kepala Andy langsung menoleh, matanya sedikit melebar—terkejut sekaligus terharu. Ia memang mencurahkan banyak usaha ke dalam albumnya, berharap lagu-lagu di dalamnya bisa 'menyentuh' orang-orang yang mendengarkannya. Selama berkarir, Andy belum pernah sejujur dan seterbuka itu sebelumnya. Melalui album pertamanya itu, dia seperti meletakkan versi dirinya yang lain.
"Menurutmu begitu?" tanyanya pelan.
Sena mengangguk, tatapannya terlihat tulus dan ia tersenyum.
"Terima kasih banyak, Lara. Itu berarti bagiku."
"Ya ... Sudah seharusnya begitu," katanya. "Melalui album itu ... aku merasa seperti..." Dia menjeda, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan pendapatnya tentang album solo pertama Andy yang rilis tiga bulan lalu itu. "Seolah aku sedang melihat Andy yang sebenarnya. Bukan Andy Kim yang selama ini tampil di atas panggung sebagai member Elements, tapi benar-benar Andy Kim yang sesungguhnya, yang dikenal oleh orang-orang di real life. Kau seolah ingin mengajak penggemar untuk mengenal dirimu juga, Andy."
Sena mengangkat kepalanya, menemukan Andy ternyata sudah lebih dulu memaku tatap padanya. Ia tahu Andy senang mendengar kata-kata positif dari orang-orang terdekatnya. Karena memang begitulah ia.
"Thanks, Lara." Andy mengatakannya dengan senyum yang tak luntur.
"Tentu, Andy."
Andy memalingkan wajah sebentar, untuk mematikan kompor dan menuangkan sup ke dalam mangkuk. Dengan hati-hati dibawanya sup yang masih mengepulkan asap itu ke meja makan, lalu ia duduk di seberang Sena.
"Untukmu," kata Sena seraya mendorong gelas berisi jus ke hadapan Andy.
Andy menerimanya, menyesapnya sedikit kemudian meletakkannya kembali. Saat ini, ia lebih tertarik dengan sup di hadapannya. Ia memasukkan sendok ke dalam mangkuk, mengeruk dari dasar, membawa hasilnya ke depan mulut. Uap panas terasa menyengat bibir. Andy meniup permukaan sendok pelan, kemudian begitu dirasa cukup aman, dia menyodorkan sendok pada Sena.
Sena langsung membuka mulutnya tanpa banyak drama. Matanya menyipit dan ia terdiam sejenak, menganalisa rasa yang baru saja menyebar di dalam mulutnya.
"Ini enak sekali," katanya. Puas dengan citarasa yang sesuai seleranya. "Aku harus minta resepnya pada Taehee."
Andy terkekeh dan mengangguk. "Nanti aku tanyakan," katanya.
"Benar, ya?"
"Iya," balas Andy cepat. Lalu dia mulai menyuapi Sena lagi. Begitu telatennya ia, seperti sedang mengurus anak sendiri. Sena pun terima-terima saja diperlakukan begitu. Malah tampak menikmati.
Beberapa suap masuk ke dalam mulut. Ketika hendak menyuap lagi, terdengar suara pintu depan terbuka.
Andy dan Sena kompak menoleh, dan....
Bersambung...