Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
[Flashback 2 Tahun Lalu]
Notifikasi terkirimnya gaji bulan itu membuat Magenta terjerembab. Dari bar atas, ia melihat nyata angka bernilai dua digit hasil kerja kerasnya tanpa libur selama 30 hari. Seketika ia tersenyum, mulai membagi-bagi berbagai kebutuhan dan disisihkan sedikit untuk tabungan. Diam-diam Magenta menabung demi melamar sang kekasih, yaitu Vira.
Namun, belum sampai lima menit notifikasi itu bertengger di layar ponselnya, lebih dulu sang kekasih mengirim pesan dadakan. Seakan tahu kapan detik dan menit ia menerima gaji. Tidak dibiarkan bernapas dulu, setidaknya membiarkan Magenta menghirup aroma gaji yang hampir tak pernah ia genggam lama-lama.
[Sayang, kata Raka kalian udah gajian, ya?] tanya Vira berbasa-basi, lengkap dengan emoji senyumnya. Magenta tahu ke mana arah pertanyaan itu memilih menghela napas pelan sebelum menjawab.
[Iya, Sayang. Kamu mau apa? Make-up sama jajan masih ada ‘kan? Bulan kemarin aku kasih 5 juta, lho,] balas Magenta.
[Aduh, Beb. Lima juta di tahun sekarang tuh jadi apa coba? Dipake keluar ke mall udah habis. Pokoknya aku gak mau tau. Kamu harus ngasih aku bulan ini lebih banyak lagi. Sepuluh juta kalau bisa.] Magenta ternganga, semakin hari Vira semakin memerasnya seperti ATM berjalan saja.
[Itu kebanyakan. Aku juga banyak yang mau dibayar bulan ini. Masa iya jadi gak ada tanggungan? Aku kasih 7 juta aja gimana?]
Vira mengetik cukup lama, tapi karena saking cintanya, Magenta rela menunggu sampai kapan pun balasan itu.
[Kamu pelit banget, sih. Perhitungan banget sama pacar sendiri. Kan demi kamu juga biar gak malu-maluin pas jalan sama aku. Baju, tas, make-up semuanya mau beli baru!] desak Vira. Genta menghela napas panjang menatap isi saldo di rekeningnya yang baru bertambah.
“Belum sempat dipakai apa-apa padahal,” batinnya mengeluh tanpa suara. Namun, lagi-lagi karena dibutakan cinta, Magenta tak kuasa menolak.
[Iya, kirim nomor rekening. Atau masih yang kemarin?] ketiknya.
[Nah, gitu dong. Iya, masih sama kayak kemarin, Sayang. Makasih banyak, ya! Love you!]
Begitulah siklus setiap tanggal 28, setiap bulan. Belum lagi setiap harinya Vira selalu meminta dikirim makanan dan uang jajan. Jalan-jalan saja selalu Magenta yang mengeluarkan uang, tidak pernah Vira inisiatif membayar parkiran. Baginya uang yang ia mililki adalah hak diri sendiri, sedangkan uang Magenta ya uang Vira juga.
Tidak salah jika mereka sudah menikah. Masalahnya ikatan itu masih stuck di status pacaran.
[Ini terakhir. Bulan depan aku nggak bisa ngasih kamu lagi. Aku banyak keperluan. Laptop aku mau diservis juga.] Magenta mengirim pesan itu di bawah screenshot transferan ke akun rekening Vira.
Biarpun gajinya 25 Juta, Magenta juga punya banyak keperluan. Belum bayar IPL apartemen, service mobil, bensin, dan memberikan ke orangtua.
Seketika kalimat yang semula manis pun berubah dingin sedingin es beku di freezer lemari es.
[Lah, kok gitu, sih? Kalau kamu sayang aku, masa segitu aja pelit banget? Aku ‘kan gak minta banyak, Gen!] protes Vira.
[Gak banyak katamu? Itu banyak banget. Harusnya tabungan aku genap 500 juta buat nikahin kamu, tapi selalu kekuras karena setiap hari minta duit terus. Kamu ‘kan juga kerja.]
[Sumpah, jahat banget kamu, Genta. Jadi selama ini kamu gak ikhlas ngasih aku duit itu? Kenapa jadi berubah gini? Apa jangan-jangan kamu ada selingkuhan makanya gak mau biayain aku lagi?]
Tertuduh seperti itu jelas membuat hati Genta mencelos. Ia meremas rambut frustrasi, lalu menggeram kesal karena ingin mengacak-acak wajah gadis ini. Sayangnya karena terlalu cinta, emosinya lagi-lagi kalah oleh logika.
[Nggak gitu, Sayang ... aku ikhlas, aku juga gak ada selingkuhan. Yang jadi masalah itu kamu terlalu foya-foya pakai duit aku. Mending kamu simpen, jangan boros banget,] lanjut Magenta lembut.
[Serah deh, males. Bilang aja kalau kamu selingkuh karena aku banyak mau. Dasar cowok mokondo!]
Kalimat itu berhasil membuat Magenta merasa bersalah dan … ya lagi-lagi ia mengalah. Ia tunduk pada cinta yang membutakan mata dan hatinya.
Sampai suatu ketika, segalanya runtuh tak tersisa. Di hari ulang tahun Vira, Magenta berniat memberi kejutan di apartemennya. Saat itu Vira mengaku libur dan menghabiskan waktu di apart, menjadi kesempatan bagi Genta untuk datang memberi kejutan.
Tanpa memberi kabar, Genta datang membawa makanan, kue, dan buket uang untuknya. Ia membuka pintu dengan kunci cadangan yang pernah Vira berikan.
“HBD, Sa ….” Langkahnya seketika terhenti. Matanya dengan jelas menangkap wujud seorang pria dengan jas hitam dan topi putih sedang berciuman mesra dengan kekasihnya. Magenta memicing, memastikan siapa di sana. Benar saja, tidak sesuai dugaannya.
Vira.
Dengan handuk yang masih melingkar di kepala, gadis itu membalas pagutan pria di depannya. Si pria tampak lihai dan menikmati, mencium sambil meremas dada Vira. Hati Magenta memanas, ingin menyeret paksa pria asing itu yang ternyata seorang pilot. Ia lupa bahwa yang tengah berkhianat saat ini adalah Vira.
“Itu siapa, Honey? Kurir makanan?” tanya si pilot menghentikan ciumannya menyadari kedatangan Magenta. Sontak Vira membuka mata dan terdiam membeku tatkala matanya bertemu dengan pria itu.
“Genta?”
“Wow, apa … apa ini, Vir?” Napasnya tercekat, mengucap kalimat saja ia tak sanggup. Vira berdiri, berjalan mendekati Magenta di ambang pintu.
“Sayang, kamu kok ke sini gak ngabarin aku dulu?” tanya Vira panik.
“Dia siapa?”
“Sayang, dengerin aku dulu ….”
“Dengerin apa?! Hah? Udah jelas-jelas kamu bawa cowok dan ciuman sama dia! Apa jangan-jangan kamu udah tidur sama dia juga?!” teriak Magenta murka. Pria yang masih menyimak di sofa pun akhirnya bangkit dan menyusul Vira.
“Gue Arga, pilot. Kenal Vira dua bulan lalu. Lo siapa?” ucap pria tersebut tanpa merasa bersalah.
Ah, hebat sekali. Baru dua bulan jumpa sudah berhasil memenangkan hati Vira. Sementara Magenta yang bertahun-tahun berjuang itu tak dilihat lagi sebagai manusia.
“Jadi selama ini aku yang bayarin hidup kamu, kamu selingkuh? Ini balasan kamu?” Genta tertawa pahit. Vira menangis, langsung memeluk lengannya.
“Genta, sumpah ini cuma salah paham! Aku kesepian, kamu sibuk kerja terus!”
“Kesepian sampai tidur sama cowok lain? Kesepian atau apa?!” balas Magenta tak kalah kasar.
“Astaga, nggak gitu! Kami gak ada sejauh itu!” kilah Vira masih tak mau mengaku.
“Tolol, lo pikir gue bego? Lo aja habis keramas gitu. Apa lagi kalau bukan having fun? Dasar binatang!”
“Jangan putusin aku, Gen. Aku sayang banget sama kamu,” ujar Vira memelas, matanya berkaca-kaca. Dan di saat itu pula, Genta terdiam.
Emosinya memang membuncah, tetapi cintanya terlalu besar. Hatinya hancur, tapi tidak dengan harapan.
Ia masih berharap Vira berubah.
“Ok aku kasih kesempatan terakhir, Vir,” ucapnya lelah.
“Kalau kamu ngulangin, aku beneran pergi.”
“Iya, aku janji.”
Sayang sekali, janji itu sekadar janji. Bodohnya ia percaya, padahal setengah mati juga Vira mengkhianati cintanya berkali-kali.
Tepat tiga bulan berlalu sejak kejadian perselingkuhan itu. Magenta dan Vira menjalani kisah cinta mereka seperti biasa. Namun, Magenta heran karena Vira sedikit berbeda dari biasanya. Ia lebih manis, perhatian, dan penuh kasih sayang. Tanpa dikirim uang pun, Vira tak menunjukkan emosi berlebihan seperti bulan-bulan lalu.
Di sana Genta merasa hubungannya membaik. Niatnya untuk melamar pun semakin kuat.
Hingga suatu hari di kantor, Genta dikejutkan oleh Raka yang tiba-tiba datang sambil menunjukkan ponselnya.
“Mas, ini pacar lo, bukan? Atau gue salah orang?” tanya Raka.
Di layar terpampang foto Vira memakai gaun pengantin putih, bergandengan dengan pria bertubuh tegap tinggi yang jelas ia kenali.
Arga.
“Apa? Apa lagi ini? Ini cuma akting, ‘kan?” batin Magenta lemas, tidak bertenaga. Ia menggulir layar itu sampai ke komentar paling bawah. Penuh ucapan selamat dan doa-doa untuk pasangan baru itu.
“Anjing! Vira anjing! Argh!” Magenta berteriak frustrasi, menatap akun itu lagi menggunakan ponselnya sendiri. Vira bahkan rela membuat akun IG baru agar tidak ketahuan olehnya, tetapi tetap saja tertangkap basah sangat cepat.
Ya, Raka juga tidak sengaja menemukan saran akun ketika sedang membuat konten.
“Sabar, ya, Mas. Gue tau banget lo cinta mati sama dia, tapi apa yang lo harap dari lonte kayak gitu? Lo berharap dia tobat setelah selingkuh berkali-kali?” ucap Raka.
“Gue bodoh banget emang, Rak. Gue terlalu bucin dan … semua duit gue, kerja keras gue, itu gak ada apa-apanya! Dia milih pilot bajingan itu. Selama ini dia meras duit gue doang!”
“Jadiin pelajaran aja, Mas.”
“Oh my God. Gue udah rencana lamar dia bulan depan. Tabungan gue udah genap 500 juta, tapi apa? Dia milih kawin sama orang lain tanpa kabar. Sakit hati gue, Rak!” pungkas Magenta menahan sesak di dada.
“Lagian lo kebucinan banget, Mas. Dari awal lo cerita dia sering minta duit aja gue udah mikir lain-lain. Lo terlalu royal sama cewek yang gak tau diri,” balas Raka geleng-geleng kepala heran.
“Gue gak pernah sesayang ini sama cewek, Rak. Gue pernah ditinggal karena miskin dan gak punya apa-apa. Makanya gue takut dan mati-matian bahagiain dia. Tapi apa yang gue dapet?”
“Udah, Mas. Lain kali lihat-lihat dulu. Pantes gak cewek itu menerima semua effort lo. Yang kemarin anggap aja sedekah ke fakir miskin.”
Magenta tertunduk, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis, bukan karena sedih ditinggal menikah, tetapi karena tak pantas dikhianati sebegitu dalamnya oleh seorang Vira. Keterlaluan dan tidak punya hati. Apa susahnya mengucap pisah jika memang terpincut lelaki lain?
***
[Flashback Selesai]
Pesan dari Cyan hampir aja bikin handphone orange merek apel digigit itu kelempar di udara. Magenta nggak berhenti tersenyum. Whatsapp dari singa hutan kesayangannya.
“Genta, jangan lupa yang kunciranku kamu rusakin kemarin itu diganti”
[Cyan kasih foto kunciran beserta screenshot tokonya.]
“Ini ya, harus kayak gini. Aku nggak mau tau. Itu kunciran kesayanganku.”
Handphone itu terus bergetar dengan banyak pesan Cyan yang isinya marah-marah nggak jelas. Cyan itu, hobby enter kata-perkata, bikin chat nya keliatan numpuk.
“Harus banget di Miniso?” Gumam pria itu tersenyum.
Balasannya lain lagi, ia menyanggupi permintaan atasan cerewetnya itu.
“Siap paduka ratu akan hamba laksanakan… hehe. Sekalian nonton bole\~?”
Balasan Cyan datang secepat petir. “Ga. Kamu tukang nyium terus. Inget ini bulan puasa.”
[Cyan mengirimkan link video di aplikasi YT tentang dosa besar bersentuhan fisik yang bukan muhrim.]
“Kamu harus banyak nyebut, Gen. Solat tobat. Dosamu banyak.” Ketus Cyan mengakhiri pesan singkat barusan dengan emot marah.
Magenta tertawa gemas. Dia malah membalas pesan itu dengan emot cium yang banyak dan beberapa kalimat random lanjutan.
“Ternyata gue baru sadar, ya. Vira dan Cyan bener-bener beda dari segi apa pun. Selama gue deket sama Cyan, dia gak pernah minta duit,” batin Magenta membandingkan setelah mengingat flashback hubungan toxic-nya dengan Vira.
Malam itu, Genta duduk sendiri di apart kecilnya, bernostalgia. Sengaja mematikan lampu karena kepalanya mulai nyeri memandang cahaya terlalu terang. Sambil menunggu balasan chat dari Cyan, ia menikmati segelas cokelat hangat resep dari gadis itu.
Tiba-tiba, notifikasi masuk lagi. Tapi senyum yang terkembang luntur. Nama yang terpampang di layar membuat jantungnya berdegup kencang.
Ah, wanita bajingan itu lagi. Setelah sekian lama, ia kembali datang. Kira-kira apa niatnya kali ini? Apakah ingin mengusik hubungan Magenta dengan Cyan?
[Vira]
“Gen, kita harus ketemu besok. Aku mau ngomong penting,” ucap Vira yang membuat mata Magenta memicing tajam.
“Ah sialan! Ganggu weekend gue yang ceria sama Syan aja!”
Masing2 ud ad pasangan masih aj ganggu Genta n Cyan hih 😤
ada2 aja,, cyan.. blh jg ngga baper2 club. cm jwb,
"ngga biasa aja, ud prnh lbh dr itu" 🤭
jd gk sabar war takjil 🔪