Nella sudah jadi istri, ini ajaib.
Tidak terima dan kecewa adalah kesan pertama tapi, karena ini keputusan keluarganya ia harus terima dengan terpaksa dan siapa suaminya sekarang Nella sama sekali tak kenal.
Kehidupannya berubah drastis saat memilih menerima suaminya menjadi sah untuk dirinya bersamaan dengan rasa kecewa itu.
Selama waktu berjalan Nella akhirnya tahu suami yang menikahi dirinya bahkan seluruh kekurangannya adalah orang yang sama sekali tak pernah Nella bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah tau tapi, tidak mau tahu
Nella akan mengatakan apa yang ia mau mulai sekarang apa Javier punya waktu untuk berdua dengannya ya hari ini. Jalan-jalan atau makan di pinggir jalan malam hari, apa ya dirumah juga aneh rasanya tidak santai malah seperti sedang sangat serius tapi, ini kan pembicaraan serius.
Saat akan berbalik naik setelah selesai menyiapkan sarapan Javier turun dengan cepat dari kamar dengan dasi dan jas belum terpasang.
"Sayang maaf tolong bungkusan makan siang juga ya, aku mau keluar kota ada urusan mendadak hari ini, tolong buatkan kopi ya, tolong pasangkan dasi untukku, tolong ya... maaf terlalu banyak minta."
Nella tersenyum tapi agak kecewa, Javier bisa lihat kalo Nella seperti sedang sedih ia mau mengatakan sesuatu tapi, Javier memang terdesak ini demi kebaikan Nella juga.
Setelah terpasang dasi Javier memakan sarapannya dan Nella bergegas menyiapkan bekal makan siang juga dan menyimpan beberapa buah termasuk makan siang Seam Nella buatkan.
"Berdua sama Seam aja?"
"Bertiga sayang, aku bawa sopir juga disana pasti mereka akan lelah aku kalo gak pulang malem pulang besok pagi."
"Terus makan siangnya?"
"Gak ada istirahat siangnya sayang kalo dari sore sampe malem ada waktu senggangnya nanti makan di luar."
Nella mengangguk segera gerakannya cepat di bantu Shinta saat Roti bakar sudah siap semua dan sudah masuk tas bekal sarapan untuk sopir dan Seam lalu makan siang Javier dan makan malamnya masuk kedalam tas yang sama dan Shinta menuliskan jika ini makan siang makan malam dan buah untuk camilan.
Javier yang sudah menyelesaikan kesibukannya di ponsel dan tablet Seam yang berdiri di sebelahnya. Nella yang hampir selesai.
"Sudah sayang?"
"Aku bawakan bekal makan malam juga semua lauknya di vacum untuk makan malam nasinya aku tidak bawa tapi ada roti dari rumah didalam sana oh ya ini punya kamu dan yang warna coklat buat Seam sama sopir, Seam jangan lupa sarapan ya diatas itu ada sarapan roti bakar ada selainya pisah nanti kamu sarapan sama sopir di mobil, jangan Tuan kalian yang sehat terus.."
Javier memperhatikan sikap Nella yang perhatian dan baik ia jadi merasa bersalah meninggalkannya, pasti Nella mau punya rencana untuknya, memang tidak perhatian dan juga sangat cuek tapi, ekspresi wajahnya selalu bisa mengatakan semuanya dan Javier peka.
"Kamu butuh aku telpon sayang, atau telpon vidio, kamu minta aku pulang aku pulang sekarang atau gak jadi berangkat beneran gak jadi.."
"Apaan sih gak jelas banget, berangkat sana aku mau ngilangin stres kalo gak besok atau lusa baliknya gak papa... Ada kamu stres aku!"
Nella pergi masuk ke kamarnya setelah menaruh apronnya diatas meja dapur. Shinta langsung mengambilnya dan menyimpannya.
"Shinta aku tidak main-main jika sampai ada kesalahan yang sama seperti kemarin." Nella tidak dengar itu ia sudah menutup pintu kamar. Javier yang mengancam Shinta.
"Iyaa Tuan, saya akan bertanggung jawab penuh."
"Berangkat." Seam dan Javier yang pergi melewati Shinta dan Nella yang berdiri di depan kaca jendela melihat keluar Javier yang masuk kedalam mobil dengan wajah yang cukup kaku.
"Javier..." Nella pelan bersuara memanggilnya.
Mobil yang berjalan keluar gerbang.
Setelah Javier benar-benar pergi, rumah kembali sepi. Berbalik badan Nella melihat ada piano besar di sebelah sana ini baru datang kemarin sebelum hari ini tiba.
Kejadian di rumah kaca sudah seminggu berlalu tapi, Javier sama sekali tidak menuntut penjelasan apapun. Selama seminggu itu pun Nella merasa bersalah sikapnya semakin baik bahkan menerimanya dengan begitu baik Nella mau mengambil langkah untuk membuka diri dan hatinya tapi, selama ini tidak bisa bohong kalo setiap pelukan diatas ranjang Javier lebih memperhatikannya walaupun dia sendiri sulit menahan kondisi menggebu-gebu dari tubuhnya.
Tangannya terulur mencoba menekan satu balok piano.
"Seperti apa seorang Javier, apa ia orang seromantis atau seegois apa ya dia, kenapa orang cuek sepertiku di berikan piano, atau ia sedang mengenang masa-masa dimana Maila memainkan piano untuknya, miris dia bahkan masih menyimpan kenangan di cinta pertamanya, penjelasan yang sedikit tentang Maila saja ia terima begitu saja berarti dia tidak mau Maila dan aku bertengkar atau takut Maila terluka karena aku... Dasar bajingan."
Nella semakin penasaran tapi, ia malu mengakui ia juga mau mencoba piano ini.
Shinta didepan ruangan diam-diam mengambil gambar dan mengirimkan pada Tuannya kalo Nyonya asik memainkan piano.
Javier menerima pesan dari ponsel lainnya Shinta mengiriminya gambar.
"Ternyata dia juga suka." Bisiknya. Seam dan sopir makan sambil fokus pada jalanan.
"Lalu apa yang sudah mereka lakukan pada bawahan Serman?"
"Tuan Serman menolak kalo itu bawahannya padahal kenyataannya dia sudah merusak mobil paket pengantar tujuan kerumahnya dan tidak tahu kalo semua barang rusak, ia mau ganti rugi dan juga minta uang pengirimannya di gandakan, karena pelanggannya marah menunggu malah sia-sia."
Mengulang ucapan Seam hanya dengan menyebut nama Serman, suara yang terdengar kesal.
"Pergi langsung kerumahnya, kita belum pernah melihat keluarganya bukan?"
Seam melirik sopir yang segera mengemudikan kearah dimana alamat rumah Serman.
Kantor yang kacau karena tiba-tiba di datangi pihak berwajib, Serman yang baru saja akan panen dari hasil tipuannya sekarang malah melihat kantornya kacau.
"Derel! Kau pikir Javier adalah lawan yang mudah, kau terlalu meremehkannya, sekarang lihat semua yang kau buat merusak semuanya!"
"Ayah, aku sudah membuat semuanya seakan di serang oleh anak buah Ferel tapi, kenapa kantor kita di periksa pihak berwajib."
"Sebenarnya barang apa yang ayah minta dari bajingan itu!"
"Barang ilegal." Derel terdiam kedua tangannya mengepal.
"Untuk apa ayah melakukan semuanya sejauh itu, ayah pikir Javier itu tidak licik, aku kira hanya sebuah barang sepele tapi, ayah malah terlihat bodoh didepannya, ayah mau apa meminta pengiriman itu, meminjam uang dengan bunga besar lalu membuatku merusak semua barang dan ayah juga minta ganti rugi! Ayah! Ini semua tidak waras, jelas Javier melakukan ini juga karena ia tidak mau rugi sendirian dan ayah tau ketika ayah melakukan kerja sama dengannya serapat apapun rahasia ayah akan bisa di temukan orang-orangnya dengan mudah tidak perlu dua puluh empat jam !"
"Diam Derel! Kau pikir aku tak pusing, ia aku tahu aku yang salah tapikan kau bilang memaafkan orang untuk mencari keuntungan."
Derel menghela nafasnya.
"Yaa bukan Javier ayah bodoh!"
Serman kesal hingga tiba-tiba menggebrak meja kerjanya sampai semua barang bergetar diatasnya.
Sedang kacau pikiran dan kantornya di serbu pihak berwenang ia mendapatkan telpon dari rumah.
"Halo?"
"Sayang kamu punya teman kerja, namanya Javier Mascherano ?"
"Apa!"
"Iyaa dia kerumah katanya ingin bertemu denganmu sayang, aku bilang kamu pergi ke kantor sebentar nanti juga akan pulang."
Derel melihat wajah ayahnya semakin pucat penasaran apa yang di bicarakan di telpon itu tiba-tiba ayahnya lemas duduk di kursinya.
"Pulang kerumah sekarang Javier ada dirumah, adik dan ibumu juga sedang bersamanya."
"Apa! Sialan, ayah aku tidak mau membantumu sekarang kau urus semuanya sendirian aku cukup membantumu, aku akan menyelamatkan mereka ayah urus Tuan Javier Mascherano."
Terkejut dengan ucapan putranya yang kesal lalu pergi begitu saja dari hadapannya. Sialannya!
"Semuanya karena hutang mu juga Javier!"