Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!
5. TGD.5
Pagi pertama di kota besar disambut Shelly bukan dengan suara kokok ayam, melainkan deru mesin kendaraan yang sudah mulai memadati jalanan sejak pukul lima pagi. Shelly terbangun dengan perasaan berdebar. Hari ini adalah hari pertamanya menginjakkan kaki di universitas sebagai mahasiswi baru.
Ia mengenakan kemeja putih bersih dan rok hitam yang sudah disetrika rapi oleh Ibunya sebelum berangkat. Setelah merapikan tempat tidur, Shelly duduk sejenak di meja belajar, menatap foto keluarganya seolah meminta restu tambahan. Dengan tas ransel yang terasa berat oleh buku dan harapan, ia melangkah keluar asrama menuju gerbang kampus yang hanya berjarak sepuluh menit berjalan kaki.
---
Gerbang universitas itu berdiri megah dengan pilar-pilar tinggi. Shelly merasa seperti semut kecil yang memasuki istana raksasa. Ribuan mahasiswa dengan berbagai gaya berpakaian berlalu-lalang, berdiskusi dengan semangat, atau sekadar tertawa di bawah pohon-pohon rindang. Shelly sempat merasa minder; sepatunya tidak semahal sepatu mahasiswi lain, dan tasnya tampak begitu sederhana. Namun, ia kembali mengingat pesan Bapak: *"Jangan melihat ke atas untuk urusan dunia, tapi lihatlah ke atas untuk urusan cita-cita."*
Tantangan pertama Shelly dimulai saat ia mencari ruang kuliah "Gedung C, Ruang 302". Kampus itu begitu luas dengan gedung-gedung yang tampak serupa. Shelly sempat tersesat dan berputar-putar di area fakultas teknik, padahal ia seharusnya berada di fakultas kesehatan.
"Permisi, mau tanya... Ruang 302 di mana ya?" tanya Shelly dengan logat desanya yang masih kental kepada seorang mahasiswi yang sedang membaca buku.
Mahasiswi itu menoleh, tersenyum ramah. "Oh, itu di gedung sebelah sana, naik ke lantai tiga. Kamu anak baru ya? Kenalin, aku Hana."
"Iya, aku Shelly. Makasih banyak ya, Hana," jawab Shelly lega. Ternyata, orang kota tidak sedingin yang ia bayangkan.
Tiba di ruang kelas, Shelly memilih duduk di barisan depan. Ia ingin menyerap setiap kata yang diucapkan dosen nanti. Tak lama, kelas mulai dipenuhi mahasiswa. Seorang laki-laki dengan kacamata tebal duduk di sebelahnya.
"Hai, aku bayu. Dari mana?" tanya laki-laki itu santai.
"Aku Shelly, dari Desa Sukamaju," jawab Shelly pelan.
"Wah, jauh ya! Aku asli sini. Santai aja Shel, dosen mata kuliah ini biasanya killer, tapi kalau kita perhatiin, aman kok," bisik Bayu sambil menyiapkan laptopnya. Shelly hanya bisa tersenyum canggung sambil mengeluarkan buku tulis dan pulpennya—ia belum punya laptop seperti teman-temannya.
---
Saat dosen masuk, suasana kelas mendadak hening. Dosen itu mulai memberikan pengantar tentang dunia perkuliahan yang berat. Beliau menekankan bahwa hanya mereka yang memiliki ketekunan yang akan bertahan. Shelly mencatat setiap poin dengan teliti. Tangannya menari di atas kertas, menuliskan janji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menyia-nyiakan beasiswa ini.
Namun, tantangan sebenarnya muncul saat sesi diskusi kelompok dimulai. Shelly merasa sedikit tertinggal karena teman-temannya berbicara tentang istilah-istilah teknologi dan referensi buku bahasa Inggris yang belum pernah ia dengar di sekolah desanya. Ada rasa panik yang merayap di dadanya. *Apakah aku cukup pintar untuk ada di sini?* pikirnya ragu.
Namun, saat dosen memberikan satu pertanyaan logika yang sulit tentang studi kasus kesehatan masyarakat, Shelly teringat bagaimana Bapak sering mengelola air di sawah atau bagaimana Ibu meramu obat herbal di rumah. Ia memberanikan diri mengangkat tangan.
"Menurut saya, pendekatannya bisa dilakukan secara organik dari kebiasaan masyarakat setempat, Pak," ujar Shelly mantap. Ia menjelaskan pendapatnya dengan lugas.
Dosen itu mengangguk setuju. "Jawaban yang sangat membumi. Bagus, Shelly."
Pujian kecil itu menjadi amunisi semangat bagi Shelly. Di akhir kelas, Bayu dan Hana menghampirinya. "Keren juga jawabanmu tadi, Shel. Eh, kita mau ke kantin, ikut yuk? Kita bahas tugas kelompok sambil makan siang."
Shelly sempat ragu, memikirkan uang sakunya yang terbatas. Namun, ia tahu membangun pertemanan juga bagian dari belajar. "Boleh, tapi aku bawa bekal sendiri dari asrama, nggak apa-apa kan?"
"Nggak masalah kali! Malah enak itu, hemat!" seru Hana sambil merangkul bahu Shelly.
---
Sore harinya, Shelly kembali ke asrama dengan kaki yang terasa pegal namun hati yang penuh. Hari pertama kuliah telah mengajarkannya bahwa kota ini memang keras dan penuh persaingan, tapi selalu ada ruang bagi mereka yang berani bersuara.
Ia membuka toples sambal teri dari Ibu, menyuap nasi hangat di kamarnya yang sepi. Rasanya sangat nikmat, seolah membawa sepotong aroma dapurnya ke kota ini. Shelly meraih buku catatannya, menuliskan satu kalimat di halaman paling depan:
Hari Pertama: Aku tidak akan membiarkan sawah Bapak dijual sia-sia. Aku akan bertahan.
Malam itu, Shelly tidur dengan senyum. Ia tahu, perjalanan ini masih panjang dan penuh tanjakan, tapi ia tidak lagi merasa takut. Ia sudah mulai menemukan tempatnya di antara belantara beton ini.