NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Han Lei

Nana menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. Wajahnya terlihat sendu.

“Namun, karena itulah banyak perempuan yang merasa iri padanya. Berkali-kali mereka mencoba membunuhnya.”

Wu Zetian terdiam.

Ada perasaan sedih saat mendengar kalimat itu. Rasa empati perlahan muncul karena ia juga merasakan hal yang sama dengan Dou Yifang karena ia juga mengalaminya sendiri di kehidupan ini. Ia mengepalkan tangannya perlahan.

“Aku mengerti,” gumamnya pelan.

Di kehidupan ini, bahkan di kehidupan sebelumnya, ia pun merasakan hal yang sama. Iri hati, fitnah, niat jahat yang tersembunyi di balik senyum palsu. Dunia tidak pernah ramah pada perempuan yang terlalu bersinar.

Nana menunduk. “Itu saja yang kuketahui tentangnya,” katanya kemudian.

Kau akan mengetahuinya suatu hari nanti. Batin Nana.

Wu Zetian mengangguk kecil. “Baiklah. Terima kasih karena telah memberitahuku, Nana.” Ia menatap ruangan laboratorium itu sekali lagi, kali ini dengan kewaspadaan yang jauh lebih besar. “Mulai sekarang, aku akan lebih berhati-hati saat berada di sini.”

Ia pun beralih pada peralatan yang tersusun rapi di sekelilingnya. Botol kaca, tungku kecil, alat penumbuk, dan berbagai bahan obat tersimpan dengan sempurna. Setelah berpikir sejenak, sebuah ide muncul di benaknya.

“Aku akan membuat pil obat padat,” gumamnya. “Dengan membuat pil obat, maka barang tersebut bi bertahan lama di kiosku.”

Tanpa menunda waktu, Wu Zetian mulai bekerja.

_____________

Waktu berlalu tanpa terasa. Dua jam kemudian, ia akhirnya keluar dari ruang dimensi Lilac. Di tangannya, sebuah tas besar berisi berbagai obat herbal kering dan pil obat yang tersimpan rapi dalam wadah kecil. Wajahnya terlihat lelah, namun sorot matanya terlihat tajam dan puas.

“Baiklah, sudah cukup untuk hari ini,” katanya pelan.

Ia memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan misinya esok hari.

_______________

Keesokan paginya, Wu Zetian bangun dengan semangat baru. Setelah bersiap, ia mengenakan pakaian sederhana dan kembali menutupi wajahnya dengan cadar tipis. Sebuah tas besar penuh obat-obatan tersampir di bahunya, sementara di tangan satunya ia membawa rantang makanan yang cukup banyak. Semua makanan itu adalah hasil kegiatannya di pagi-pagi buta saat berada di dalam ruang dimensi Lilac.

Tanpa ragu, ia memacu kudanya menuju area pasar.

Sementara itu, dari balik semak-semak di pinggir jalan, sepasang mata tajam memperhatikannya. Seorang pria berdiri diam, tubuhnya nyaris menyatu dengan pohon. Angin berputar lembut di sekitar kakinya, memperingan langkahnya tanpa meninggalkan jejak.

“Gadis itu membawa banyak sekali barang. Mau kemana dia pagi-pagi begini?.”

Tanpa mengalihkan pandangan, ia mengikuti arah perginya Wu Zetian dengan bantuan sihir angin.

Lima puluh menit berlalu.

Wu Zetian akhirnya tiba di depan kios miliknya. Ia turun dari kuda, mengikatnya dengan rapi, lalu mengetuk pintu kios tersebut.

Tok. Tok.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Yin muncul dengan wajah terkejut yang segera berubah menjadi senyum lebar.

“Kak Zetian! Kau sudah datang!” serunya.

Wu Zetian tersenyum di balik cadarnya dan melangkah masuk. Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Kios itu kini tampak bersih dan rapi. Lantai disapu bersih, rak disusun teratur, bahkan sudut-sudut yang sebelumnya berdebu kini mengilap.

“Wah…” Wu Zetian menatap mereka berdua bergantian. “Kalian membersihkannya dengan sangat baik.”

Yan tersenyum malu. “Kami hanya melakukan yang kami bisa, Kak.”

Sementara itu, di atas pohon bercabang tak jauh dari kios, pria yang menguntitnya sejak tadi masih setia mengamati. Ia menyipitkan mata, menatap tas besar dan rantang makanan yang dibawa Wu Zetian.

“Apa sebenarnya yang kau bawa, hm?” gumamnya.

Di dalam kios, Wu Zetian menoleh pada Yin dan Yan. “Aku sungguh berterima kasih,” ujarnya tulus. “Kios ini jauh lebih layak dari yang kubayangkan.”

“Kami senang bisa membantu!” jawab mereka hampir bersamaan.

Namun Wu Zetian memperhatikan sesuatu. Wajah kedua kembar itu tampak lesu, mata mereka sedikit sayu.

Ia teringat sesuatu.

“Oh iya,” katanya sambil tersenyum. “Aku membawa makanan.”

Ia menggelar tikar di lantai dan mengajak mereka duduk. Setelah itu, Wu Zetian perlahan membuka cadar yang sedari kemarin menutupi wajahnya.

Begitu kain itu tersingkap, Yin dan Yan membeku. Mata mereka membelalak dengan napas yang tertahan.

“I-ini…” Yan tergagap. “Kak Zetian… kau…”

“Kau cantik sekali... seperti dewi yang baru saja turun dari kahyangan.” lanjut Yin dengan suara jujur tanpa dibuat-buat.

Wu Zetian terdiam sejenak. Pujian itu begitu tulus hingga membuatnya kehilangan kata-kata. Ia berusaha tetap tenang, namun pipinya perlahan memerah.

“Ka-kalian terlalu berlebihan,” katanya sambil memalingkan wajah sedikit. “Aku hanya orang biasa.”

Namun rona merah di pipinya mengkhianatinya.

Di atas pohon, Han Lei, pria yang sedari tadi mengutitnya ikut tertegun. Matanya membelalak saat melihat wajah Wu Zetian tanpa cadar.

“Di, dia..?” gumamnya tak percaya. “Apa itu benar dia? Gadis yang menolongku dua hari lalu…?”

Kecantikannya jauh melampaui bayangannya. Karena terlalu terpaku, ia kehilangan keseimbangan.

“Kyaaaaa!”

Brak!

Tubuh Han Lei terjatuh dari atas pohon dan menghantam tanah dengan cukup keras.

“Aduh… sial!” keluhnya sambil meringis kesakitan.

Mendengar kegaduhan itu, Wu Zetian dan kedua kembar segera keluar dari kios.

Wu Zetian menghampiri pria tersebut. “Apakah kau baik-baik saja, Tuan?” tanyanya lembut.

Han Lei tertegun saat mendengar suara itu. Ia mendongak dan kembali terpaku. Dari jarak sedekat ini, wajah Wu Zetian tampak jauh lebih cantik.

Karena tidak mendapat jawaban, Wu Zetian mengulang pertanyaannya. “Apakah kau terluka?”

“A-ah… aku tidak apa-apa, Nona,” jawab Han Lei gugup. “Tadi hanya… tergelincir... Yaa tergelincir”. Jawabnya gugup.

“Syukurlah,” kata Wu Zetian.

Han Lei berusaha berdiri, namun saat itu juga darah terlihat mengalir dari kakinya akibat goresan dahan pohon.

Wu Zetian mengerutkan kening. “Kakimu sepertinya berdarah. Jika kau berkenan, aku bisa membantumu mengobatinya.”

Han Lei berpura-pura ragu, menggaruk tengkuknya. “Ah… aku tidak ingin merepotkanmu.”

"Tenanglah. Itu tidak merepotkanku sama sekali."

Namun setelah jeda singkat, ia mengangguk. “Tapi.. baiklah.”

Tak lama kemudian, mereka berada di dalam kios.

Wu Zetian kini berada di hadapan Han Lei. Han Lei yang berada di dekat Wu Zetian kini nampak begitu gugup dengan pipi yang sudah memerah.

Wu Zetian dengan telaten membersihkan darah di lukanya. Gerakannya lembut dan hati-hati. Ia mengoleskan obat, lalu membalut luka itu dengan rapi.

Han Lei menatapnya tanpa berkedip.

“Sudah selesai,” ujar Wu Zetian sambil tersenyum kecil.

“Terima kasih, Nona,” jawab Han Lei tulus.

"Terimalah sedikit uang ini. Sebagai hadiah karena telah menolongku". Ucapnya sambil memberikan sekantong uang koin emas kepada Wu Zetian.

"Ah tidak. Tidak. Aku menolongmu dengan ikhlas." ujarnya sambil mendorong sekantong uang tersebut.

"Ambillah nona, aku juga ikhlas memberikanmu." balas Han Lei.

"Sekali tidak, maka tidak. Aku hanya melakukan sesuai dengan kata hatiku. Dan aku tidak menerima uang tersebut dengan alasan sebagai bentuk imbalan dari bantuanku." ucap Wu Zetian tidak ingin dibantah.

"Baiklah. Aku mengerti." Ucap Han Lei pasrah. Kini Han Lei merasa bahwa Wu Zetian tidak seperti gadis pada umumnya yang datang kepadanya untuk hartanya.

Benar-benar gadis yang tulus. Batinnya.

Saat itulah Wu Zetian teringat tujuan utamanya. Ia bangkit, lalu mengambil rantang makanan yang ia bawa. Satu per satu, ia mengeluarkan isinya dan menatanya di atas tikar.

Aroma sedap langsung memenuhi ruangan. Ayam bakar yang menggoda, sayur santan yang harum, telur balado merah menyala, dan cumi asam manis dengan aroma segar. Semuanya berpadu sempurna. Uap nasi putih mengepul hangat.

Yin, Yan, dan Han Lei meneguk liur hampir bersamaan.

“Yan,” kata Wu Zetian sambil tersenyum, “tolong ambilkan peralatan makan dan air dari dapur.”

____________

Yuhuuuu~🌹

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author 💖

See you~💓

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!