Dua bulan lalu, Luella Brynn dipaksa menikah dengan seseorang Bernama Edric Alton yang tidak ia inginkan dan tidak ia kenal. Hanya untuk mengikuti permintaan mendiang orangtua Edric. Pernikahan hanya sebatas formalitas di hadapan orangtua Edric, dan begitu orangtua Edric meninggal. Luella di ceraikan begitu saja oleh Edric. Tidak ada kata perpisahan, hanya ada selembar cek dengan nominal fantastis sebagai rasa terimakasih karena Luella bersedia membantu Edric. Lalu bagaimana dengan kehidupan Luella dan Edric pasca bercerai? Dengan status baru yang akan mereka bawa satu sama lain, sedangkan usia Luella terbilang masih sangat muda bahkan usianya terpaut 15 tahun dengan Edric.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
“Selamat malam Luella” sapa Alex dengan ramah
“Selamat malam Pak Alex, silahkan duduk Pak” jawab Luella.
“Terimakasih. Sudah lama ya, maaf saya tadi terjebak macet”
“Tidak Pak, saya baru tiba 10 menit yang lalu. Maaf ya Pak jadi terjebak macet”
“Tidak apa-apa Luella, saya besok pagi kebetulan ada perlu di sini. Jadi sekalian saja”
“Baik Pak, kalau begitu bis akita mulai Pak?”
“Tentu, silahkan”
Luella mulai menjelaskan beberapa desain barunya kepada Alex, dan juga ia menjelaskan tentang desain lama dengan denah ukuran yang dimiliki oleh kantor Alex.
Penjelasan Luella sangat mudah di mengerti oleh Alex meskipun Alex tidak begitu memperhatikan penjelasan tersenut, melainkan fokus dengan wajah cantik yang dimiliki oleh Luella.
“Pak Alex ada pertanyaan?” tanya Luella.
“Tidak ada, penjelasan kamu sudah bisa saya pahami. Jadi kapan ma uke kantor saya?”
“Saya mengikuti jadwal Pak Alex saja”
“Oke, kalau besok pagi?”
“Bisa Pak, saya akan izin untuk datang ke kantor Pak Alex”
“Kalau butuh bantuan, kamu bisa hubungi saya Luella”
“Baik Pak, terimakasih tawarannya”
“Sama-sama. Oh kamu minum kopi malam hari?”
“Iya Pak”
“Kalau kamu tidak bisa tidur bagaimana?”
“Tadi memang saya sedikit ngantuk Pak, jadi saya sengaja memesan kopi untuk tetap terjaga”
“Luella kamu terlalu berbahaya hahaha”
“Hehehe”
Keduanya terlihat begitu akrab, obrolan yang tadinya hanya obrolan tentang seputar pekerjaan, kali ini sudah mulai merembet ke kehidupan pribadi. Dan untuk pertama kalinya, Luella bercerita tentag keadaan yang sebenarnya jika ia adalah seorang janda.
Alex mengangguk perlahan, bukannya semakin menjauh, Alex justru semakin penasaran dengan kehidupan Luella saat ini. Karena Alex tahu jika Luella adalah korban keegoisan Ibu dan pria yang menjadi mantan suaminya tersebut.
“Luella, kadang kehidupan memang tidak berpihak kepada kita. Tapi tidak perlu hawatir, sejauh ini kamu hebat. Dan selagi kamu bisa berdiri diatas kakimu sendiri, semua akan baik-baik saja” ucap Alex.
“Pak Alex, saya minta maaf karena saya jadi bercerita kemana-mana” ucap Luella.
“Luella, kita memang ada kerjasama soal design interior. Tapi diluar itu kitab isa berteman. Saya sama seperti kamu, tidak begitu punya banyak teman. Saya hanya bekerja, menghabiskan waktu di kantor”
Luella masih tidak bisa berfikir dengan jernih. Kenapa seorang direktur seperti Alex bahkan ingin berteman dengannya yang hanya seorang staff biasa.
Luella tidak menolaknya, dia menerima tawaran Alex, namun tetap saja Luella akan membuat batasan meskipun mereka berteman.
“Baik Pak, kitab isa berteman” ucap Luella.
“Thank you Luella”
“Sama-sama Pak”
“Kita makan dulu saja, sudah jam 9.30 kamu juga harus istirahat”
“Terimakasih pak”
“Luella, bisa panggil saya Alex saja?” ucap Alex
Luella tidak menjawab dengan langsung, matanya hanya menatap mata Alex dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Pak, tapi itu berlebihan” jawab Luella
“Hahaha, panggil saya Alex ketika kita hanya berdua seperti ini” jelas Alex.
“O-oh… Baik Pak. Eh Alex”
“Kita santai aja lah ya ngobrolnya, kita hanya berdua disini. Tidak ada Pak Willy atau siapapun”
“Iya, boleh” jawab Luella dengan canggung.
Luella dan Alex saat ini tengah menikmati makan malamnya, tidak banyak yang mereka bicarakan saat makan. Hanya sedikit menilai cita rasa makanan tersebut.
Dari jauh, ada mata yang sedang menatap kearah Alex dan juga Luella. Tangannya mengepal, matanya menatap tajam. Dia tidak menghampiri keduanya, melainkan langsung menuju lift dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Setelah makan malam, Luella segera berpamitan kepada Alex untuk pulang karena waktu sudah mulai larut.
“Luella kamuy akin pulang sendiri?” tanya Alex
“Iya. Kenapa?”
“Gak mau diantar sopir aja? Mobil kamu biar disini, besok kamu dijemput sopir lagi untuk ambil mobil disini”
“Oh, jangan. Gak suah repot-repot. Aku biasa kok pulang jam segini”
“Hmm. Kabarin kalau kamu sudah dirumah”
“Okey Alex, see you”
“Careful Luella”
Luella menuju basement untuk mengambil mobilnya kemudian meninggalkan hotel dan segera pulang.
Dalam perjalanannya, dia memutar lagu favoritnya sambil menikmati suasa malam ibukota. Suasana jalan yang tidak lagi macet, tapi masih ramai dengan lalu Lalang kendaraan.
Cuaca hari ini sangat cerah, bintang-bintang di langit yang biasanya tidak terlihat, mala mini terlihat begitu jelasnya.
Hingga Luella menyadari jika lagu yang ia putar tiba-tiba berhenti. Dia menatap layar ponselnya, dan melihat ada panggilan masuk dari nomor baru yang tidak ia kenal.
“Halo” – Luella
“Luella” – Edric
“Iya, dengan siapa?” – Luella
“Edric” – Luella
DEG!