NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Pelukan di Tengah Hujan

#

Jam 11 malam.

Aku belum tidur. Duduk di emperan kontrakan sambil natap langit gelap. Mendung tebal. Angin kenceng. Kayaknya sebentar lagi ujan.

HP ku di tangan. Layar retak nunjukin chat terakhir dari Arkan—dua jam yang lalu:

**Arkan Alexander:**

*"Zahra, aku... aku udah keluar dari rumah. Mama ngusir aku. Tapi... tapi aku nggak nyesel. Karena aku... aku pilih kamu."*

Pilih aku.

Dia bilang dia pilih aku.

Padahal aku... aku siapa? Cuma buruh cuci miskin yang nggak punya apa-apa. Yang nggak pantas buat orang kayak dia.

"Ya Allah... kenapa dia sebodoh itu?"

Air mata keluar. Lagi. Entah udah berapa kali minggu ini aku nangis.

Dia kehilangan keluarga nya.

Gara-gara aku.

Gara-gara... gara-gara perasaan yang... yang aku sendiri nggak tau bener atau nggak.

"Zahra... kamu nggak boleh... kamu nggak boleh bikin dia sengsara..."

Aku harus akhiri ini. Sekarang. Sebelum makin parah.

Aku buka keyboard. Mau ngetik pesan perpisahan yang... yang final. Yang bener-bener akhir.

Tapi jempol ku nggak bisa gerak.

Kenapa... kenapa aku nggak kuat?

TIIING!

Pesan masuk.

**Arkan Alexander:**

*"Zahra, aku sekarang di depan gang kamu. Boleh ketemu sebentar? Please. Aku... aku butuh ngomong sama kamu."*

Jantung ku berhenti.

Dia... dia disini?

Aku langsung berdiri. Lari ke ujung gang. Ngintip keluar.

Dan...

Arkan.

Arkan berdiri di pinggir jalan. Di bawah lampu jalan yang redup. Pake kemeja putih yang basah—mungkin keringet atau... atau mulai gerimis. Rambut nya acak-acakan. Muka nya pucat. Mata nya... merah. Kayak abis nangis.

Di tangan nya ada tas ransel hitam. Cuma itu. Nggak ada koper. Nggak ada barang lain.

"Mas... Mas Arkan..."

Dia nengok. Liat aku.

Dan... dan dia senyum. Senyum yang lemah. Tapi... tulus.

"Zahra... makasih... makasih udah mau keluar..."

Aku jalan deket. Pelan. Kaki ku gemetar.

"Mas... Mas kenapa... kenapa kesini? Kenapa... kenapa Mas nggak pulang?"

"Aku... aku udah nggak punya rumah, Zahra." Suaranya serak. "Mama... Mama ngusir aku. Dia... dia bilang selama aku masih mikirin kamu, aku nggak boleh pulang."

"Mas... kenapa... kenapa Mas nggak dengerin Mama Mas? Kenapa Mas... kenapa Mas memilih aku?" Suara ku pecah. "Aku... aku nggak pantas buat Mas korbanin semuanya!"

"Kamu pantas." Dia jalan deket. "Kamu... kamu lebih dari pantas, Zahra. Kamu... kamu orang yang paling tulus yang pernah aku kenal. Kamu... kamu berjuang sendiri buat Bapak kamu. Kamu... kamu nggak pernah ngeluh meskipun hidup kamu susah. Kamu... kamu kuat. Dan aku... aku kagum sama kamu."

"Mas jangan ngomong kayak gitu... Mas bikin aku... bikin aku makin bersalah..." Aku nunduk. Air mata jatuh. "Mas... Mas harusnya... harusnya dengerin keluarga Mas. Harusnya... harusnya Mas ninggalin aku..."

"Aku nggak bisa." Dia pegang kedua bahu ku. "Aku... aku udah coba, Zahra. Aku udah coba lupain kamu. Tapi aku nggak bisa. Tiap kali aku tutup mata, yang aku liat cuma wajah kamu. Tiap kali aku bangun pagi, yang aku pikirin cuma... 'Zahra udah makan belum? Zahra sehat nggak? Zahra... Zahra butuh aku nggak?'"

"Mas... Mas harus berhenti... harus berhenti mikirin aku..."

"Aku nggak bisa berhenti!" Suaranya naik. Emosi keluar. "Aku... aku suka sama kamu, Zahra! Aku... AKU CINTA SAMA KAMU!"

Deg.

Cinta.

Dia bilang... cinta.

"Mas... jangan..."

"Kenapa aku nggak boleh jujur? Kenapa aku nggak boleh ngungkapin perasaan aku?" Dia pegang wajah ku. Lembut. "Zahra, aku cinta sama kamu. Dari pertama kali aku liat kamu jatuh di tengah ujan. Dari pertama kali aku liat kamu nangis sambil megang baju-baju kotor. Dari saat itu... aku tau... aku tau kamu beda."

"Mas... kita... kita nggak bisa..." Aku geleng-geleng kepala. "Kita beda agama... Bapak aku nggak setuju... keluarga Mas nggak setuju... ini... ini nggak mungkin..."

"Kalau aku masuk Islam?"

Hening.

Dunia berhenti berputar.

"...apa?"

"Kalau aku masuk Islam. Kalau aku... kalau aku mualaf. Kita... kita bisa bersama kan?"

Aku nggak bisa ngomong. Mulut ku kebuka tapi nggak ada suara keluar.

"Zahra, aku... aku udah mikirin ini. Dari kemarin. Aku... aku mau belajar Islam. Aku mau... aku mau jadi muslim. Buat kamu. Buat... buat kita."

"MAS JANGAN!" Aku teriak. "Mas... Mas nggak boleh masuk Islam... kalau... kalau cuma buat aku! Masuk Islam itu... itu keputusan besar! Itu soal iman! Soal keyakinan! Bukan... bukan soal cinta!"

"Tapi aku—"

"Mas dengar aku!" Aku pegang kedua tangannya. Erat. "Kalau Mas masuk Islam tapi hati Mas nggak yakin... Mas cuma... cuma jadi munafik! Mas... Mas bakal nyesel! Dan aku... aku nggak mau Mas nyesel gara-gara aku!"

Arkan diam. Napasnya ngos-ngosan. Mata nya berkaca-kaca.

"...terus gimana? Kita... kita nggak bisa bersama?"

Aku nunduk. Nggak sanggup natap mata dia.

"...iya. Kita... kita nggak bisa."

"KENAPA?!" Dia teriak. "Kenapa cinta kita harus kalah sama agama?! Kenapa... kenapa Tuhan ngasih kita perasaan ini kalau kita nggak bisa bersama?! KENAPA?!"

"Mas... Tuhan... Tuhan punya rencana sendiri... mungkin... mungkin kita memang nggak ditakdirkan—"

"AKU NGGAK PERCAYA TAKDIR YANG KAYAK GINI!" Dia jalan mundur. "Aku... aku udah korbanin semuanya, Zahra! Aku kehilangan keluarga! Aku kehilangan pekerjaan! Aku... aku cuma punya kamu sekarang! Dan kamu... kamu bilang kita nggak bisa bersama?!"

"Mas... maafin aku... maafin aku..." Aku nangis sejadi-jadinya. "Aku... aku juga sayang sama Mas... aku... aku juga nggak mau kehilangan Mas... tapi... tapi aku takut... aku takut kalau kita terus kayak gini... nanti... nanti salah satu dari kita bakal... bakal kehilangan iman..."

"Zahra—"

"Aku takut Mas bakal nyesal masuk Islam! Aku takut Mas bakal benci aku suatu hari nanti karena Mas ngerasa aku maksa Mas! Dan aku... aku takut... aku takut aku bakal kehilangan Bapak kalau aku terus deket sama Mas..."

Arkan diam. Lama.

Terus...

Terus dia jalan deket. Peluk aku. Erat. Erat banget.

"...Zahra... aku nggak mau kehilangan kamu..."

Dan saat itu... langit mulai turun.

Hujan.

Deres. Deras banget.

Kami berdua basah kuyup dalam hitungan detik. Tapi nggak ada yang gerak. Cuma pelukan. Di tengah hujan. Di tengah gang becek. Di tengah... di tengah perasaan yang nggak bisa kami ungkapin dengan kata-kata.

"Mas... lepas... orang-orang liat..." Aku coba lepas. Tapi Arkan makin erat.

"Biar. Aku nggak peduli."

"Mas... please..."

"Zahra..." Dia bisik di telinga ku. "Aku... aku nggak mau lepas... aku takut... aku takut ini terakhir kalinya aku bisa peluk kamu..."

Dan aku... aku nggak kuat lagi.

Aku peluk dia balik. Erat. Sambil nangis di dadanya yang basah.

"Mas... aku... aku juga sayang sama Mas... aku... aku nggak mau kehilangan Mas... tapi... tapi aku nggak tau harus gimana..."

"Kita... kita cari jalan. Pasti ada jalan."

"Jalan apa, Mas? Kalau Mas masuk Islam tapi nggak yakin... itu bohong. Kalau aku ikut Mas jadi Kristen... itu... itu dosa besar buat aku. Dan... dan Bapak aku bakal mati ketakutan..."

Arkan lepas pelukan. Natap aku. Wajah kami basah—entah air hujan atau air mata.

"...Zahra, aku mau bilang sesuatu."

"Apa, Mas?"

"Aku... aku beneran tertarik sama Islam. Bukan cuma karena kamu. Tapi... tapi karena aku penasaran. Aku... aku udah mulai baca-baca tentang Islam. Aku... aku ngerasa... ngerasa ada sesuatu yang... yang narik aku."

Aku diam. Dengerin.

"Tapi... tapi aku juga nggak bisa bohong. Aku... aku masih cinta sama Yesus. Aku masih percaya... Dia Juru Selamat ku. Aku... aku bingung, Zahra. Aku... aku nggak tau mana yang bener..."

Aku pegang wajah dia. Lembut.

"Mas... kalau Mas bingung... jangan dipaksain. Iman itu... itu nggak bisa dipaksa. Harus datang dari hati. Dari... dari keyakinan yang tulus."

"Tapi... tapi aku pengen sama kamu..."

"Mas..." Aku senyum pahit. "Kalau kita memang jodoh... Tuhan bakal kasih jalan. Tapi kalau nggak... kita harus... kita harus ikhlas."

"Aku nggak bisa ikhlas kehilangan kamu..."

"Mas harus coba."

"ZAHRA—"

"MAS, TOLONG DENGERIN AKU!" Aku teriak. "Kalau Mas beneran sayang sama aku... Mas harus lepas aku! Karena... karena aku nggak mau Mas sengsara! Aku nggak mau Mas kehilangan keluarga, kehilangan iman, kehilangan semuanya... gara-gara aku! Aku... aku nggak seberharga itu!"

"KAMU BERHARGA! KAMU... KAMU LEBIH BERHARGA DARI APAPUN!"

"Mas... please..." Aku mundur. Pelan. "Mas... Mas pulang ya. Cari tempat tinggal yang bener. Jangan... jangan pikirin aku lagi. Mas... Mas punya masa depan yang cerah. Jangan... jangan rusak gara-gara cewek kayak aku..."

"Zahra—"

"Aku... aku harus masuk. Bapak... Bapak nunggu." Aku mundur lagi. "Mas... makasih buat semuanya. Makasih udah... udah bikin aku ngerasain... ngerasain dicintai. Meskipun sebentar. Itu... itu cukup buat aku."

"ZAHRA JANGAN PERGI!"

Tapi aku udah lari.

Masuk gang. Masuk kontrakan. Tutup pintu.

BLAM.

Dan aku jatuh di belakang pintu itu. Nangis sejadi-jadinya.

Dari luar, aku denger suara Arkan.

"ZAHRA! ZAHRA PLEASE! BUKAIN PINTUNYA! ZAHRA!"

Dia ketok-ketok pintu. Keras. Berkali-kali.

TOK TOK TOK TOK!

"ZAHRA! AKU MOHON! JANGAN KAYAK GINI! KITA... KITA BISA CARI JALAN! PLEASE!"

Aku nutup telinga. Nangis makin keras.

"Ya Allah... tolong... tolong kuatkan aku..."

Suara ketukan mulai pelan. Terus berhenti.

Aku ngintip dari celah pintu.

Arkan masih berdiri disana. Di tengah hujan. Basah kuyup. Berdiri kayak patung. Natap pintu kontrakan ku.

Terus...

Terus dia duduk. Di tanah becek. Di depan pintu ku.

Duduk sambil meluk lututnya sendiri.

Kayak... kayak dia nyerah.

"Mas... pulang... please... jangan kayak gini..." Aku bisik sendiri.

Tapi dia nggak gerak.

Cuma duduk disana. Di tengah hujan yang makin deres.

---

Sejam kemudian, aku denger suara Bu Ria.

"Mas? Mas Arkan? Mas kenapa disini?"

"...Bu... aku... aku tunggu Zahra..."

"Zahra udah tidur, Mas. Mas... Mas pulang dulu. Nanti sakit."

"...aku nggak bisa pulang, Bu. Aku... aku nggak punya rumah."

"Hah? Nggak punya rumah? Maksudnya?"

"Mama ku... Mama ku ngusir aku. Karena... karena Zahra."

Hening.

"...Mas... Mas serius sama Zahra?"

"Serius, Bu. Sangat serius. Tapi... tapi Zahra nggak mau. Dia... dia bilang kita nggak bisa bersama."

"Karena beda agama?"

"...iya."

Bu Ria napas panjang. "...Mas, dengerin Ibu. Ibu tau Mas sayang sama Zahra. Tapi... tapi cinta itu nggak cukup. Apalagi kalau beda keyakinan. Mas... Mas harus realistis. Mas harus... harus mikirin masa depan Mas sendiri. Jangan... jangan rusak hidup Mas gara-gara cinta yang... yang nggak mungkin."

"Bu... aku... aku nggak bisa lupain dia..."

"Mas harus coba. Demi kebaikan Mas sendiri. Dan... dan demi kebaikan Zahra."

Arkan diam lama.

"...iya, Bu. Ibu benar. Aku... aku harus pergi."

Dan aku denger suara langkah kaki menjauh.

Makin jauh.

Makin jauh.

Sampe hilang.

Aku buka pintu. Ngintip.

Arkan udah nggak ada.

Cuma bekas dudukannya di tanah becek. Dan... dan payung hitam—payung yang dia kasih ke aku waktu pertama kali ketemu—tergeletak disitu.

Aku ambil payung itu. Peluk.

Dan nangis lagi.

"Mas... maafin aku... maafin aku..."

---

**BERSAMBUNG KE BAB 11...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!