Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—10
Bumantara menunggu Arumi di samping pintu apartemen Zelie, bersandar sembari menekuk sebelah kaki nya kebelakang, ia pun sedang menunggu perempuan itu keluar dari apartemen laki-laki yang akan membuatnya merasa kecewa, ia sudah menanti-nanti hal seperti itu, dan sekarang adalah waktu yang tepat. Dan ... Tepat sekali!
Tidak lama berselang, perempuan itu keluar terburu-buru menuju kearah lift, lalu Bumantara mengikuti langkah kaki Arumi, menunduk dengan kepala nya yang tertutup hoodie hitam, ia menyelip, masuk secara bersamaan dan berdiri di belakang Arumi yang sedang berteriak marah.
Entah apa Arumi, memang sudah melihat nya, namun tetap cuek, atau bahkan tidak melihat nya karena terlalu fokus dengan rasa amarah nya, sehingga tidak melihat Bumantara masuk.
"Aku akan mencari laki-laki lain sebagai pengganti mu, Mas Dipta," teriak Arumi, mendesah lelah, lalu menunduk.
"Dan, saya siap jadi lelaki itu Arumi," bisik Bumantara, memeluk Arumi dari belakang, ini seperti rezeki nomplok untuk nya. Sehingga membuat Arumi terkejut, dan menggeliat ingin lepas dari pelukan Bumantara.
"Sstt ... Jangan bergerak Arumi," erang Bumantara, semakin menekan dirinya kearah bokong Arumi.
"Bumantara, lepas," teriak Arumi, sambil memukul-mukul lengan Bumantara yang melingkar di perut nya. Dan karena Bumantara tidak mau kelepasan, maka dia pun melepaskan Arumi. Plak!
Sehingga tamparan manis yang menempel di pipinya, membuat Bumantara menyeringai, sambil menunduk menatap manik hitam Arumi yang gelisah, seakan-akan dia seperti melakukan kesalahan.
"Bumantara, pipi kamu, a — aku ...."
"Saya menyukai nya Arumi," sela Bumantara, tersenyum, lalu mengambil telapak tangan Arumi yang menggantung dan meletakkan di pipi nya yang baru saja terkena cap lima.
Sialnya, setelah pintu lift terbuka, dan Arumi juga langsung keluar pergi, setelah sempat memaki nya. Membuat Bumantara terkekeh, sembari mengusap pipi, lalu melihat telapak tangan nya yang baru saja berhasil memeluk tubuh seksi itu.
Bumantara berjalan keluar, sambil mengetik kan pesan kepada anak buah nya, untuk mengantar kan kepulangan Arumi dengan selamat meski dari jarak jauh. Rencana Bumantara malam ini, ia ingin pulang kerumah ibu nya. Karena saat ini Bumantara merindukan ibu tercinta nya, yang saat ini hanya tinggal bersama pekerja dirumah nya saja. Dan mungkin saja nanti ia akan terkena sindiran lagi, karena baru bisa pulang —menjenguk.
"Bos, Nona Arumi sedang makan di gerobak pinggir jalan."
Mendapatkan notifikasi itu, membuat Bumantara terkekeh, merasa lucu, karena seperti nya perempuan itu sedang merasakan lapar, setelah memaki-maki sepanjang lift turun kebawah. Bumantara menjalankan mobilnya kearah rumah ibu nya, Mawar.
Lalu tidak lama dia pun sampai, bersamaan dengan pesan dari Sean dan juga Brio.
"Bos, Nona Arumi sudah sampai ke kontrakan nya. Tugas selesai." — Sean
"Mas Buma, Mbak Arumi nya sudah sampai dengan selamat." — Brio.
"Awasi selalu Brio, apalagi pria yang baru saja masuk ke kontrakan sebelah nya Arumi."
Bumantara masih berada di dalam mobilnya, sambil membalas pesan dari Brio.
"Pria yang bersama Elena yah, Mas? Apa hubungan nya Mas? Terus Mas Buma, tau dari mana jika ada pria dan wanita yang sedang bicara sama Mbak Arumi?" — Brio.
Dan ... Itu rahasia milik Bumantara.
"Lakukan saja tugas lo, Brio." ketik, balasan dari Bumantara dengan cepat. Bumantara, membuka pintu mobil nya, lalu keluar, dengan masih melihat layar ponselnya.
Bumantara melanjutkan langkah kaki nya kearah rumah ibu nya, yang mungkin saja semuanya sudah beristirahat, karena malam semakin larut. rumah besar itu terlihat sepi.
Bumantara melangkah kearah kamar ibu nya, menggenggam ganggang pintu, yang ternyata terkunci. Namun, ia memiliki kunci cadangan milik kamar ibu nya, perlahan Bumantara memasukkan kunci itu, tapi ternyata tidak bisa.
Bumantara menghela napas dalam, "Kebiasaan ibu, pasti kunci asli nya masih menempel," gumam Bumantara, memperhatikan pintu berwarna coklat itu yang masih tertutup.
Karena Bumantara tidak bisa masuk, dengan terpaksa ia berjalan kearah kamar nya, yang tepat di lantai dua. Di dalam kamar Bumantara, dengan interior dominasi warna hitam, itu seperti terlihat suram, menyeramkan, tapi ia menyukai nya.
Bumantara meletakkan ponselnya di atas nakas, setelah selesai melihat kabar terbaru dari Arumi. "Besok kita bertemu lagi Arumi," kata Bumantara, terkekeh tanpa suara, sambil melepaskan hoodie dan celana jeans nya, ia ingin mandi lalu beristirahat, untuk menyambut hari esok.
Jam 01:15.
Bumantara terbangun dari tidur nya, menguap, menyugar kan rambut nya yang berantakan, lalu mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, sembari mengambil gelas diatas nakas, lalu meneguk nya.
Bumantara tiba-tiba saja merindukan Arumi, sambil kembali meletakan gelasnya tadi, dia juga tidak lupa mengambil ponselnya, lalu membuka rekaman kamera cctv yang saat ini sedang memantau Arumi, tepat di depan pintu kontrakan, dan juga di dalam kontrakan.
Kapan Bumantara melakukan hal seperti itu? Dia bukan lagi hanya sebatas posesif, tapi sudah termasuk penguntit yang mengerikan. Sedangkan Cctv di kamar Arumi, perempuan itu terlihat sedang tidur, dengan gaya yang berantakan.
"Lucu," gumam Bumantara, tersenyum. Lalu Bumantara masuk kebagian cctv luar kontrakan, dimana itu membuat Bumantara mengeratkan rahang nya, dia sedang menahan amarah nya.
"Bajingan!" Bumantara dengan cepat menghubungi ponsel Brio.
"Halo, Mas," sapa Brio dengan nada serak, karena baru bangun tidur.
"Brio, cepat anda keluar dari kontrakan, dan tangkap pria bajingan itu yang ingin membobol pintu kontrakan Arumi. Tanpa ada keributan Brio, lakukan dengan senyap. Cepat!" seru Bumantara, berteriak marah, dia bahkan dengan cepat beranjak mengambil celana training, dan kembali mengambil hoodie nya.
"Ba — baik Mas."
Bumantara langsung mematikan panggilan itu, ia bahkan segera menghubungi Ares. "Ares, cepat berangkat kearah kontrakan Arumi. Aman kan pria bajingan itu yang saat ini ditahan sama Brio, bawa bajingan itu ke markas," perintah Bumantara dengan tegas.
"Siap bos."
Bumantara masih memantau pria bajingan itu, yang saat ini sedang di aman kan Brio, tanpa ada keributan, dan Brio cukup bisa di andal kan.
Bumantara bergegas keluar dari kamarnya, menuruni undakan anak tangga dengan tergesa-gesa. Dia kembali keluar dari rumah tanpa sempat bertemu dengan ibunya, dia kembali menjalankan mobilnya, dan berhenti di depan gerbang yang sedang di buka kan pak Juned.
"Pak Juned, bilang sama ibu jika saya kembali melakukan pekerjaan."
Pak Juned mengangguk, "Siap, Den Buma."
Bumantara kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, dan untungnya perjalanan malam ini terbilang cukup lenggang, ia ingin kearah kontrakan Arumi, meski layar ponselnya selalu menyoroti area kamar Arumi, yang masih tidur tanpa tahu kejadian yang ada di luar kontrakan nya.
"Tidur mu terlalu lelap baby. Sehingga kamu enggak menyadari ada seorang bajingan yang ingin membobol pintu kontrakan mu," gumam Bumantara, andai ia telat mengetahui nya, mungkin Arumi akan mengalami kejadian yang tidak terduga, dan Bumantara jelas tidak menginginkan hal seperti itu.
.
.
Bersambung....