Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Media Menyorot
Tangan itu mencekik lebih kuat.
Mahira tidak bisa bernapas—paru-parunya terbakar—pandangannya mulai kabur. Ia mencoba meronta tapi tubuhnya lemas. Tasbih Cahaya jatuh dari genggamannya, berguling entah ke mana di lantai gelap.
"MAHIRA!" suara Zarvan terdengar panik. Dekat. Sangat dekat. Ada suara benda jatuh—meja? Kursi? Orang berlarian mencari pintu keluar dalam kegelapan total.
Lalu—cahaya. Cahaya terang menyilaukan dari arah pintu.
"ALLAHU AKBAR!"
Suara Ustadz Hariz menggelegar—lebih keras dari yang pernah Mahira dengar. Dan tiba-tiba tangan yang mencekiknya terlepas. Mahira jatuh ke lantai, batuk-batuk keras sambil memegangi leher yang sakit.
Lampu menyala kembali—generator cadangan menyala.
Dan pemandangan yang Mahira lihat membuatnya ingin muntah.
Khaerul tergeletak di lantai—matanya menutup, tubuhnya kejang-kejang. Damian berdiri di sudut ruangan dengan mata hitam legam, berteriak-teriak dalam bahasa yang... yang bukan bahasa manusia. Suara yang membuat telinga sakit. Suara yang membuat jiwa bergidik.
Ustadz Hariz berdiri di tengah dengan tangan terangkat—membaca ayat Kursi dengan suara keras dan jelas. Di tangannya, sebuah tasbih besar berwarna cokelat tua yang bercahaya.
"Keluar dari tubuh mereka!" teriak Ustadz Hariz. "Dengan nama Allah Yang Maha Kuasa, aku perintahkan kalian—jin laknat—keluar dari tubuh hamba-hamba-Nya!"
Damian—atau apapun yang di dalam tubuhnya—tertawa. "Kau pikir doa-doamu bisa usir kami, ustadz tua? Kami sudah bersarang di tubuh ini selama puluhan tahun! Kami—"
"KALIAN TIDAK PUNYA HAK ATAS TUBUH INI!" Ustadz Hariz melangkah lebih dekat—tanpa rasa takut. "Tubuh ini milik Allah! Dan kalian—makhluk laknat—harus kembali ke neraka kalian!"
Ia menyentuh dahi Damian dengan tasbihnya—dan pria itu berteriak. Teriak yang bukan teriak manusia. Teriak yang membuat jendela-jendela ruang rapat bergetar.
Lalu—Damian pingsan.
Jatuh seperti boneka yang talinya diputus.
Keheningan. Semua orang terdiam—shock—tidak ada yang bergerak.
"Mahira..." suara Zarvan pelan. Ia berlutut di samping Mahira, tangannya gemetar menyentuh leher yang memar. "Ya Allah... lehermu—"
"Aku... aku baik." Mahira berbohong. Lehernya sakit sekali tapi dia harus bilang baik-baik saja karena kalau dia bilang sakit, Zarvan akan—entahlah—mungkin balas dendam atau apa dan itu tidak boleh terjadi. "Khaerul... gimana Khaerul?"
Raesha sudah berlutut di samping sepupu mereka. "Dia napasnya lemah. Kita harus bawa ke rumah sakit—"
"Jangan." Ustadz Hariz berjongkok di samping Khaerul. "Rumah sakit tidak akan bisa bantu dia. Ini bukan sakit fisik. Ini... ini pertarungan spiritual di dalam tubuhnya. Antara jiwa asli Khaerul dan fragmen jiwa Khalil yang mencoba mengambil alih."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?!" Irfash berlutut juga—wajahnya pucat melihat keponakannya kejang-kejang.
"Ruqyah intensif. Minimal tiga hari tiga malam. Dan—" Ustadz Hariz menatap Mahira, "—kamu harus ikut. Karena kamu adalah kunci. Pengampunan harus datang dari kamu. Dari Aisyara yang di dalam dirimu."
"Tapi aku... aku nggak tahu caranya—"
"Nanti aku ajari." Ustadz Hariz berdiri. "Sekarang, kita bawa Khaerul dan Damian ke rumahku. Kita lakukan ruqyah massal. Kita usir semua jin dan fragmen jiwa laknat yang mencoba merusak takdir kalian."
"Dan merger?" tanya salah satu anggota dewan—Pak Hartono—dengan suara gemetar. "Apa yang harus kita lakukan dengan—"
"Merger ditunda," jawab Irfash tegas. "Sampai situasi ini selesai. Sampai keluarga kami... utuh kembali."
Zarvan berdiri. "Saya setuju. Dan saya akan bantu. Apapun yang kalian butuhkan."
"Zarvan—" Mahira menatapnya. "Kamu nggak harus—"
"Aku harus." Pria itu menatap balik dengan mata yang—yang penuh tekad. Dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat jantung Mahira berdetak tidak teratur. "Karena ini juga pertarunganku. Bukan cuma kamu yang terikat kutukan. Aku juga. Dan aku nggak akan biarkan kamu berjuang sendirian."
***
Tiga hari berlalu dalam kabur.
Mahira nyaris tidak tidur. Ruqyah untuk Khaerul dan Damian berlangsung tanpa henti—Ustadz Hariz dibantu lima ustadz lain yang datang dari berbagai daerah. Mereka membaca Alquran bergiliran. Membacakan doa-doa. Menyentuh dahi kedua pria itu dengan air zamzam dan minyak zaitun yang sudah dibacakan ayat.
Dan setiap kali mereka membaca ayat tertentu—terutama ayat-ayat tentang keadilan dan pengampunan—Khaerul dan Damian berteriak. Berteriak dalam bahasa aneh. Berteriak dengan suara yang bukan suara mereka.
Mahira duduk di pojok ruangan—dipaksa duduk oleh Ustadz Hariz—sambil memegang Tasbih Cahaya dan membaca doa yang diajarkan. Doa untuk membebaskan jiwa yang terikat. Doa untuk mengampuni dosa masa lalu.
"Ya Allah," bisiknya berulang kali, "ampuni Khalil atas dosa yang dia lakukan 300 tahun lalu. Ampuni Danial atas pengkhianatan yang dia lakukan. Dan bebaskan jiwa Khaerul dan Damian dari belenggu masa lalu. Bebaskan mereka... dan bebaskan aku."
Di hari ketiga—subuh—sesuatu berubah.
Khaerul membuka matanya. Mata yang normal. Bukan hitam legam. Dan ia menangis.
"Mahira..." suaranya serak. "Maafin... maafin aku..."
Mahira berlari mendekat—berlutut di samping sepupunya. "Khaerul? Kamu... kamu sadar?"
"Aku... aku inget semuanya." Air mata mengalir deras di pipinya. "Aku inget apa yang Khalil lakuin. Aku inget gimana dia bunuh kalian. Dan aku... aku nggak bisa hentikan. Aku coba tapi dia terlalu kuat. Dia—" ia terisak, "—dia pakai tubuhku untuk nyakitin kamu. Dan aku nggak bisa apa-apa."
"Sudah. Sudah." Mahira memeluknya—memeluk sepupu yang selama ini dia takuti. "Kamu sekarang bebas. Khalil sudah pergi. Kamu Khaerul. Cuma Khaerul."
"Tapi aku udah ngrusak hidupmu. Aku udah—"
"Semua bisa diperbaiki." Mahira menarik dirinya, menatap mata sepupunya yang penuh penyesalan. "Yang penting sekarang, kamu hidup. Kamu selamat. Dan kita... kita bisa mulai lagi. Dari awal."
Khaerul mengangguk—masih menangis. Dan untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, Mahira tidak merasakan ancaman darinya. Tidak ada aura gelap. Tidak ada kebencian.
Hanya... manusia yang rusak yang sedang mencoba memperbaiki dirinya.
Damian juga sadar beberapa jam kemudian. Tapi reaksinya berbeda. Ia tidak menangis. Ia hanya... diam. Menatap kosong. Dan saat Mahira mencoba bicara dengannya, ia hanya bergumam, "Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku," berulang-ulang seperti rusak.
"Dia akan butuh waktu lebih lama," kata Ustadz Hariz. "Jiwa Danial di dalam dirinya lebih kuat. Lebih mengakar. Tapi Insya Allah, dia akan pulih. Perlahan."
---
#
Hari keempat setelah insiden ruang rapat, Mahira terbangun dengan ponselnya berbunyi tidak berhenti.
Puluhan—tidak, ratusan—notifikasi. Dari media sosial. Dari aplikasi berita. Dari grup keluarga yang jarang aktif tiba-tiba ramai.
Ia membuka salah satu notifikasi—dan jantungnya berhenti.
Judul berita di portal utama:
**"PEWARIS QALENDRA GROUP TERLIBAT SKANDAL DENGAN CEO ASING - CINTA ATAU KONSPIRASI BISNIS?"**
Di bawahnya, foto. Foto Mahira dan Zarvan di musholla yayasan—diambil dari jarak jauh, tapi jelas. Mereka berdua duduk berhadapan, tangan hampir menyentuh di atas meja. Ekspresi intim yang—yang diambil di luar konteks jadi terlihat seperti... seperti pacaran rahasia.
"Ya Allah," gumam Mahira sambil scroll ke bawah. Lebih banyak foto. Foto mereka di mansion. Foto Zarvan membawa Mahira keluar dari kantor setelah insiden (yang entah bagaimana wartawan bisa masuk gedung dan foto). Foto mereka berdua di berbagai tempat yang Mahira bahkan tidak ingat kapan difoto.
Dan artikel-artikelnya—kejam.
*"Sumber dekat keluarga Qalendra mengungkapkan bahwa Mahira Qalendra, putri bungsu dari Irfash Qalendra, diduga menjalin hubungan terlarang dengan CEO muda Al-Hakim Corporation. Hubungan ini dimulai bahkan sebelum merger resmi dibahas—menimbulkan pertanyaan: apakah merger ini murni bisnis atau ada agenda pribadi?"*
*"Mahira Qalendra, yang baru-baru ini tersandung kasus dugaan korupsi dana perusahaan senilai 500 juta rupiah, terlihat sangat dekat dengan Zarvan Mikhael Al-Hakim. Beberapa saksi mata mengklaim melihat mereka berdua di berbagai lokasi romantis—mulai dari restoran mewah hingga mansion pribadi Al-Hakim. Apakah ini cinta sejati atau perhitungan bisnis yang licik?"*
Mahira melempar ponselnya ke kasur. Tangannya gemetar. Dadanya sesak.
Ini tidak adil. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak tahu soal kutukan. Soal reinkarnasi. Soal perjuangan mereka melawan dendam berusia 300 tahun.
Tapi dunia tidak peduli dengan itu semua. Dunia cuma peduli gosip. Cuma peduli skandal.
Ponselnya berbunyi lagi—kali ini telepon dari Mama.
"Mahira, kamu lihat berita?" suara Syafira tegang.
"Iya, Ma. Aku... aku nggak tahu harus bilang apa. Itu semua salah konteks—"
"Aku tahu, sayang. Aku tahu." Mama menghela napas panjang. "Tapi keluarga besar lagi ribut. Tante-tante dan om-om pada nelpon Papa. Mereka bilang ini memalukan. Bilang kamu merusak nama keluarga. Bilang—" suaranya bergetar, "—bilang kamu harus putus dari Zarvan kalau nggak mau merger dibatalkan dan keluarga kita jadi bahan tertawaan."
"Tapi aku dan Zarvan bahkan belum resmi pacaran! Kami cuma—"
"Aku tahu, Mahira. Tapi media dan keluarga besar nggak peduli detail. Mereka cuma liat permukaan. Dan permukaannya... tidak bagus." Mama diam sebentar. "Papa lagi meeting sama keluarga besar sekarang. Kamu harus datang. Mereka mau denger penjelasan langsung dari kamu."
"Aku... aku nggak siap—"
"Kamu harus siap. Karena kalau kamu nggak datang, mereka akan bikin keputusan tanpa kamu. Dan keputusan itu... mungkin nggak akan kamu suka."
***
Rumah besar keluarga Qalendra—rumah nenek yang sekarang jadi tempat berkumpul keluarga besar—penuh sesak sore itu.
Mahira datang dengan Raesha yang langsung pegang tangannya begitu mereka masuk. Di ruang tamu besar, ada belasan orang. Om, tante, sepupu-sepupu dari berbagai cabang keluarga. Semua menatap Mahira dengan tatapan yang... judgemental.
"Mahira." Papa berdiri dari kursinya. "Duduk."
Mahira duduk di kursi yang terasa seperti kursi interogasi. Raesha duduk di sampingnya—loyal seperti biasa.
"Baik," Papa membuka, "kalian semua sudah baca berita. Sudah liat foto-foto. Sekarang, Mahira akan jelasin."
"Jelasin apa?" salah satu tante—Tante Rina—langsung menyerang. "Jelasin kenapa dia ketemu pria asing di tempat-tempat mencurigakan? Jelasin kenapa merger tiba-tiba jadi personal?"
"Ini bukan personal—" Mahira mulai.
"Lalu kenapa kamu ke mansion dia?!" Om Hadi—kakak Papa—berdiri dengan wajah merah. "Kamu tahu itu berapa keterlaluan? Perempuan baik-baik nggak datang ke rumah pria sendirian! Apalagi pria yang bahkan bukan muhrim!"
"Kami cuma—"
"Cuma apa? Cuma ngobrol?" Tante Rina tertawa sinis. "Mahira, kamu pikir kami bodoh? Foto-foto itu jelas. Kamu dan dia terlalu dekat. Terlalu intim. Dan sekarang seluruh Jakarta ngomongin keluarga kita!"
"Kalian nggak ngerti situasinya!" Mahira berdiri—nggak tahan lagi. "Kalian cuma liat dari luar. Kalian nggak tahu—"
"Kami nggak perlu tahu detail!" Om Hadi memotong. "Yang kami tahu, kamu memalukan keluarga. Dan solusinya cuma satu: kamu harus putus dari pria itu. Sekarang."
"Aku bahkan belum pacaran dengannya!"
"Tapi media bilang kalian pacaran. Keluarga besar bilang kalian pacaran. Klien-klien perusahaan mulai tanya-tanya. Dan itu cukup untuk rusak reputasi kita!" Om Hadi menatap Irfash. "Irfash, kamu sebagai kepala keluarga harus tegas. Putuskan hubungan ini. Batalkan merger. Dan jauhkan Mahira dari pria itu."
"Tidak." Suara Zarvan tiba-tiba terdengar dari pintu.
Semua orang menoleh. Zarvan berdiri di sana—dengan jas hitam formal, rambut rapi, postur tegap. Di belakangnya, ayahnya—Sheikh Abdul Hakim—pria berusia 70-an dengan jenggot putih dan jubah putih yang megah.
"Permisi," kata Zarvan sambil masuk tanpa diundang, "tapi saya dengar nama saya disebut-sebut. Dan saya rasa saya punya hak untuk bela diri."
"Kamu—" Om Hadi hampir maju tapi Papa mengangkat tangan—signal untuk tenang.
"Zarvan," Papa menatapnya, "ini urusan keluarga internal—"
"Dengan respect, Pak Irfash," Zarvan memotong sopan tapi tegas, "ini juga urusan saya. Karena media menyeret nama saya. Dan lebih penting lagi—" dia menatap Mahira, "—karena saya peduli dengan Mahira. Sangat peduli."
Keheningan.
"Saya tahu foto-foto itu terlihat buruk," lanjut Zarvan. "Saya tahu konteksnya hilang. Tapi saya di sini untuk klarifikasi: saya dan Mahira tidak melakukan apapun yang melanggar norma atau agama. Kami bertemu untuk bahas project yayasan. Untuk bahas merger. Dan ya—" dia tidak menyangkal, "—kami juga ngobrol personal. Karena kami... kami merasa ada koneksi."
"Koneksi?" Tante Rina menyeringai. "Koneksi macam apa yang buat kalian ketemu tengah malam di mansion?"
"Koneksi spiritual." Sheikh Abdul Hakim akhirnya angkat bicara—suaranya berat, penuh wibawa. "Koneksi yang sudah tertulis jauh sebelum mereka lahir."
Semua orang menatap sheikh tua itu dengan bingung.
"Apa maksud Bapak?" tanya Papa.
"Cucu saya—Zarvan—dan putri Anda—Mahira—adalah jiwa yang ditakdirkan bertemu. Bukan karena bisnis. Bukan karena kebetulan. Tapi karena Allah sudah tuliskan sejak 300 tahun lalu." Sheikh Abdul Hakim melangkah masuk dengan tongkat kayunya. "Saya tahu ini terdengar gila. Tapi keluarga Al-Hakim menyimpan catatan. Catatan tentang Pangeran Dzarwan yang meninggal tragis karena cinta. Dan roh beliau—menurut ulama-ulama keluarga kami—bersumpah akan kembali. Akan menemukan cinta yang tertunda. Dan cucu saya—" dia menatap Zarvan dengan mata berkaca-kaca, "—adalah perwujudan sumpah itu."
"Bapak..." Zarvan menatap kakeknya dengan shock. "Bapak percaya?"
"Tentu aku percaya. Karena aku juga mengalami hal yang sama." Sheikh tua itu tersenyum sedih. "Nenekmu—istriku yang sudah meninggal—juga reinkarnasi. Dan kami menikah karena takdir. Bukan karena pilihan. Tapi kami bahagia. Sangat bahagia."
Mahira merasakan air mata mengalir. Ada orang lain yang mengerti. Yang percaya. Yang tidak bilang mereka gila.
"Jadi," Sheikh Abdul Hakim menatap seisi ruangan, "saya di sini bukan untuk minta maaf. Saya di sini untuk minta restu. Restu untuk cucu saya melamar putri Anda. Secara resmi. Secara islami. Dengan mas kawin yang pantas dan pernikahan yang diridhai Allah."
WHAT.
Mahira hampir jatuh dari kursinya. Raesha langsung pegangi.
"Kakek—" Zarvan menatap kakeknya dengan mata terbelalak, "—aku belum sempat—aku bahkan belum nanya Mahira—"
"Kalau kamu nunggu waktu yang 'sempurna', kamu akan tunggu selamanya." Sheikh tua itu menatap cucunya dengan pandangan tegas. "Takdir tidak menunggu. Dan media sudah bikin kalian berdua jadi bahan gosip. Satu-satunya cara membersihkan nama kalian adalah dengan nikah. Secara sah. Secara halal."
"Tapi—" Mahira akhirnya nemuin suaranya, "—tapi kami bahkan belum—kami nggak—"
"Kamu mencintainya?" Sheikh Abdul Hakim menatap Mahira langsung. "Jujur. Di hadapan Allah dan semua orang di sini. Kamu mencintai cucuku?"
Mahira menatap Zarvan. Pria yang telah mati untuknya 300 tahun lalu. Pria yang kembali mencarinya di kehidupan ini. Pria yang berdiri membela dia di hadapan keluarga besarnya meskipun bisa saja dia kabur dan pilih wanita lain yang lebih mudah.
"Iya," bisiknya. "Aku... aku mencintainya."
"Dan kamu?" Sheikh menatap Zarvan. "Kamu mencintai dia?"
"Lebih dari apapun di dunia ini." Zarvan tidak ragu. Tidak gemetar. Hanya... jujur.
"Maka sudah jelas." Sheikh mengetuk tongkatnya ke lantai. "Ini takdir Allah. Dan kita—sebagai hamba—tidak boleh menolak takdir. Kita hanya bisa terima dan jalani dengan penuh iman."
Om Hadi masih ingin protes. Tante Rina masih ingin bilang ini gila. Tapi Irfash—Papa—berdiri.
"Saya setuju," katanya. Semua orang shock. "Saya setuju dengan Sheikh Abdul Hakim. Ini takdir. Dan sebagai ayah, saya akan dukung putri saya. Apapun keputusannya."
"Irfash!" Om Hadi berteriak. "Kamu gila?! Ini—"
"Ini keluarga saya. Putri saya. Dan keputusan saya." Papa menatap saudara-saudaranya dengan tatapan yang tidak bisa dibantah. "Kalian boleh tidak setuju. Boleh tidak datang ke pernikahan nanti. Tapi saya—sebagai ayah—akan berdiri di samping Mahira. Selalu."
Mama berdiri juga. "Saya juga. Apapun yang terjadi."
Raesha berdiri. "Gue juga. Adek gue nggak sendirian."
Satu per satu keluarga yang lebih muda—sepupu-sepupu seusia Mahira—berdiri. Menunjukkan dukungan.
Dan Mahira menangis. Menangis karena meskipun media kejam, meskipun dunia menghakimi, dia punya keluarga yang percaya. Yang cinta. Yang akan berdiri bersamanya melawan apapun.
Bahkan melawan kutukan berusia 300 tahun.
---