Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Panggilan sayang
Doni menatap Revan yang memeluk pinggang Amel dengan mesra. Doni cemburu, apalagi saat bersalaman tadi, Doni melihat leher merah Amel ada tanda kepemilikan.
Meski berada di leher bagian bawah yang tertutup kerah baju, tapi sepintas tadi Doni bisa melihat dengan jelas tanda itu.
Doni melirik Nita yang berdiri di sampingnya dengan senyum lebar dan bahagia. Doni menghela nafas panjang saat menyadari kebodohannya hingga Amel bisa terlepas dari pelukannya.
Nita memang seksi, lebih seksi daripada Amel, tapi Amel itu cantik dan kulitnya mulus bersih. Matanya yang sipit dengan pipi cubby dan hidung mancung menambah kecantikan Amel.
Apalagi sekarang ini Doni merasa menyesal karena ternyata dia bisa sebodoh itu tergoda oleh Nita yang...ya seperti itu, banyak kekurangannya.
Doni terpaksa menikahi Nita karena kegiatan bercocok tanam mereka ternyata menghasilkan buahnya.
Doni melirik Nita lagi, rasa kesal itu begitu nyata apalagi saat Doni mengingat akan menghabiskan sisa hidupnya bersama Nita.
"Kenapa sih dari tadi ngeluh terus? Kayak kepaksa gitu menjalani pernikahan ini?" Nita kesal karena Doni berulang kali menghela nafas panjang dan pendek, jelas sekali kalau sejak kemunculan Amel tadi, mood Doni langsung berubah.
"Kamu kenapa sih, Don?" tanya Nita saat dia dan Doni duduk di pelaminan untuk jeda sebentar.
Acara pada malam itu memang tidak terlalu mewah tapi banyak tamu undangan yang hadir pada acara tersebut.
"Gue capek, Nit!" Akhirnya hanya itu yang bisa Doni ucapkan untuk meredam segala kecurigaan itu.
***
"Kita mau kemana, Ney?" tanya Revan saat mobil mereka sudah meninggalkan tempat itu.
"Pengen makan yang out off the box gitu sih, yang enak tapi nggak terlalu kaku tempatnya!"
"Mau iga nggak?" tanya Amel.
"Iga apaan?" tanya Amel.
"Ada macem-macem sih, iga bakar, sop iga, gitu-gitu deh!" jawab Revan.
"Hayo aja sih, aku nggak begitu pemilih dalam hal makanan yang penting enak dan tempatnya bersih!"
"Enak kok, tempatnya juga bersih meski hanya warung sederhana aja!"
"Aku call Sasi dulu, dia mau nggak diajakin makan yang kayak begituan!"
Revan mengangguk, Amel menghubungi Sasi tapi Sasi dan pacarnya malah ingin memisahkan diri dari mereka.
"Mereka nggak mau, katanya mau makan seafood aja!" ucap Amel sambil menurunkan ponselnya.
"Ya udah kita aja yang ngedate berdua!" ucap Revan sambil menyembunyikan senyumnya.
Revan sengaja mencari menu makan malam mereka berupa makanan yang terbuat dari daging sapi, karena dari artikel yang Revan baca, daging merah itu bisa meningkatkan stamina.
Revan masih belum puas dengan kegiatan bercocok tanam yang baru dia rasakan nikmatnya pagi tadi. Revan ingin mencoba lagi dan lagi.
"Kenapa senyam-senyum kayak gitu?" tanya Amel menyadari muka Revan yang biasa cool dan datar itu terlihat berbinar.
"Seneng aja karena jalan sama istri aku yang cantik ini!" jawab Revan.
"Gombal ah! Kamu sekarang kok pinter banget ngegombal?" tuduh Amel sambil duduk menyerong dan menatap Revan intens.
"Ngegombalin istri itu besar pahalanya lho, Ney!" ucap Revan santai.
"Mana ada yang kayak begituan!" ucap Amel dengan nada ketus.
"Ngegombal itu termasuk cara memuji istri. Memuji istri itu kan bikin istri bahagia dan membuat istri bahagia itu besar pahalanya!" ucap Revan membuat Amel mengeryitkan keningnya bingung dengan ucapan Revan yang berputar-putar bikin sulit dicerna maksud dari perkataannya itu.
"Pokoknya aku berusaha bikin kamu seneng dan bahagia, itu pahala buat aku!" ucap Revan lagi karena Amel hendak memprotes ucapannya.
"Iya deh iya! Suamiku emang the best banget!" puji Amel.
"Kamu nggak ada niatan manggil aku dengan panggilan sayang gitu, Ney?" tanya Revan membuat Amel menoleh lagi untuk menatap Revan sekaligus mengeryitkan keningnya bingung.
"Kalau orang sayang itu kan pasti manggil pasangannya dengan panggilan sayang, kayak aku manggil kamu Honey gitu!"
Amel tertawa mendengar Revan ternyata bisa sealay itu dan seabsurd itu. Padahal bentukan Revan itu terlihat songong dan judes.
"Apa dong? Jangan malah tertawa mulu!" tegur Revan sedikit memaksa Amel untuk memanggilnya dengan panggilan lain.
"Kalau aku manggil kamu Mas, kamunya lebih muda dari aku. Kalau aku panggil Pipo nanti authornya dimarahi sama pembacanya karena panggilan Pipo itu panggilan Letta ke Devano di novel suami berondongku ternyata CEO. Nanti aja deh aku pikirin nama yang pas buat kamu!" ucap Amel.
"Jangan lama-lama, aku nggak sabar dengernya!" ucap Revan membuat Amel semakin tertawa lebar.
Revan terpaku menatap wajah cantik Amel saat tertawa selebar itu dan hati Revan menghangat melihat pemandangan indah itu.
Mobil masuk ke sebuah tempat makan sederhana yang terlihat banyak pengunjung itu. "Nggak papa kan makan di tempat kayak gini?" tanya Revan sebelum mereka turun.
"Nggak papa lagi, emang kenapa?" tanya Amel sambil melepas sabuk pengamannya.
Revan pun hanya mengangguk dan melepaskan sabuk pengamannya dan menyusul Amel yang telah turun terlebih dulu.
Revan meraih tangan Amel lalu membimbingnya masuk ke warung makan tersebut.
"Pak, iga bakar satu, sop iganya satu, nasi putihnya dua..."
"Aku nggak usah pakai nasi!" potong Amel.
"Nanti aku habisin kalau nggak habis!" ucap Revan.
"Nasinya dua, es tehnya dua!" lanjut Revan.
"Ada lagi, Mas?" tanya si Bapak yang bertugas mencatat pesanan pelanggan tersebut.
"Udah itu aja, Pak!" jawab Revan lalu menerima nomor pesanan mereka dari bapak tersebut.
"Tempatnya nyaman banget lho ini!" puji Amel saat melihat penampakan resto yang terdiri dari ornamen bambu yang dicat pernis itu dan terlihat bersih dan estetis itu.
"Aku sering makan sama Abel sama Eza juga di sini, makanannya enak dan porsinya nendang banget dengan harga yang terbilang murah!"
"Kayaknya kamu kemana-mana seringnya sama Abel sama Eza ya?" tanya Amel langsung menyedot minumannya yang baru saja dihidangkan di hadapannya.
"Hanya mereka yang aku percaya! Sekarang ditambah sama kamu!"
Amel hampir tersedak dengan gombalan Revan itu, sejak tadi pagi Amel merasa dilimpahi gombalan receh yang sayangnya membuat Amel merasa tersanjung dab bahagia.
Pesanan mereka datang dan Amel shock melihat penampakan pesanan mereka yang nyatanya sejumbo itu banyaknya.
"Ini siapa yang mau habisin, Be?" tanya Amel bingung.
Revan menatap mesra panggilan baru Amel terhadapnya itu. "Be???" tanya Revan.
"Bebe, aku panggil kamu Bebe aja!" jawab Amel dengan wajah tersipu.
"Ini siapa yang bakalan ngabisin, Be?" tanya Amel mengulang pertanyaan yang tadi.
"Aku yang bakalan ngabisin semuanya, Ney!" jawab Revan lalu mereka mulai menyantap makanan mereka.
Sepanjang makan itu Revan terus tersenyum karena Amel memanggilnya dengan panggilan manis itu.
Bebe!