Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Siang itu, setelah menidurkan Baby Keira, Hana baru sadar jika diapers dan bodycare Keira sudah tinggal sedikit. Hana kembali menutup lemari kaca di sudut ruang.
Rencananya, siang ini Hana akan belikan pakai uangnya terlebih dulu, baru nanti akan meminta ganti pada Bosnya-Danish.
Hana sudah mengganti pakaiannya. Memakai jeans lebar, kaos masuk dipadukan cardi rajut crop panjang. Rambutnya ia ikat asal, sudah bersiap keluar sambil menyelempangkan tas kecilnya.
Sebelum itu, Hana beranjak menuju dapur, untuk menemui Bik Jumi atau pun Bik Inem. Dan kebetulan, Bik Inem baru saja selesai membersihkan dapur.
"Bik...." panggil Hana dengan hati-hati. Begitu Bik Inem menoleh, sambil mencuci tanganya, wanita tua itu segera mendekat setelah mengeringkan tangan. "Bik, Hana mau ijin keluar sebentar, ya! Mumpung Keira lagi tidur. Itu, diapers Keira dan perlengkapan mandinya tinggak dikit."
Bik Inem baru tersadar. Tadi pagi, Bu Ana pun sudah berpesan, dan menitipkan uang kepadanya untuk dikasihkan kepada Hana, karena perlengkapan Keira pada habis.
"Oh ya, Mbak Hana... Kebetulan, tadi Ibu juga sudah berpesan sama saya. Ini...." Bik Inem mengeluarkan 10 lembar uang pecahan seratus dari saku pakaiannya. "Buat beli perlengkapan Non Keira."
Hana tercengang. Pandanganya jatuh pada lembaran uang yang dibawa Bik Inem. "Banyak banget, Bik! Ini... Saya ambil lima ratus saja! Oh ya... Hana titip Keira ya, Bik! Assalamualaikum...."
Setelah itu, barulah Hana pamit untuk keluar.
"Pak, Ojek!" pekik Hana sambil menghentikan ojek di pangkalan depan perumahan.
Perjalanan menuju Supermarket memakan waktu hampir 1 jam, sebab jalanan yang biasanya di lewati, sedang dalam tahap pembangunan.
Ojek tadi sudah berhenti di sebrang jalan, "Ini, Mas. Makasih ya!"
Baru saja Hana akan melangkah, namun dari arah sebrang, ia melihat ibu-ibu yang tasnya baru saja di jambret orang. "Heiii... Tasku... Tolong... itu Jambretttt!!!" pekik Ibu-ibu tadi.
Hana tersentak. Langkah kakinya lebih dulu bergerak daripada cara kerja otaknya. "Hei, jambret, dasar pengangguran cari mati!" umpat Hana sembari mengejar jambret tadi. "Mas... Itu jambret! Tolong ringkus dia!" pekik Hana pada segerombolan anak muda yang baru saja istirahat.
Dengan sigap, beberapa pria muda tadi berhasil meringkus jambret tadi. "A-a... Ampun, Mas! Baik, ini saya balikin tasnya," kata Jambret tadi setelah memberikan tas kepada Hana.
"Huu... Siang-siang bolong gini buat anarkis, cari mati, Mas?" ledek Hana merasa kesal sendiri. Setelah itu Hana menatap ke salah satu pemuda. "Mas, terimakasih ya. Saya balikin dulu tasnya. Permisi."
Hana bergegas kembali ke sebrang jalan. Di sana, Ibu-Ibu berusia 52 sudah menunggu dalam cemasnya.
"Bu... Ini tasnya, tadi Jambretnya sudah di amankan kok!" kata Hana dengan sopan sambil menyerahkan tas branded itu.
Ibu-ibu yang masih begitu cantik dan terlihat muda itu mengulas senyum penuh syukur, lalu memegang lengan Hana. "Nak, makasih ya! Oh ya...." Ibu-ibu tadi tersadar, ia bermaksud ingin memberikan uang sebagai rasa terimakasihnya. "Ini, ambilah!"
Hana terkejut melihat banyaknya uang yang dikeluarkan dari dalam tas. "Bu... Saya ikhlas kok! Nggak usah ya!" tolak Hana sambil mendorong tangan Ibu tadi.
Sementara Ibu-Ibu itu sendiri tetap bersikukuh. "Nggak! Jangan, Nak! Kamu sudah capek ngejar jambret tadi!"
Hana tersenyum lembut. "Nggak papa, Bu... Nggak usah serius!" tolaknya lagi.
Ibu-ibu itu masih kurang puas. Ia menarik tas kecil Hana, lalu segera memasukan beberapa lembar uang kedalamnya. Dan, Hana cukup melongo melihat hal itu. "Eh, Ya Allah... Kalau rezeki nggak kemana ya, hehe...." batin Hana tengah bersyukur merasa bahagia.
"Bu... Makasih, ya!" Hana tertunduk segan.
Ibu tadi tersenyum sambil mengangguk. "Sama-sama, Nak! O ya... Saya Aprilia, siapa namamu, masih muda sekali tapi sangat lincah," kagum wanita bernama Aprilia tadi.
"Saya Hana, Bu!" jawab Hana tersenyum kikuk.
Setelah cukup berkenalan, rupanya tujuan mereka sama, menuju supermarket juga. Aprilia begitu kagum menatap sikap hangat. Lembut. Bahkan, wanita yang tengah berjalan di sampingnya itu memiliki wajah cantik tatapan yang teduh.
"Semoga saja Rangga cocok dengan Hana. Aku rasa... Hana memang perempuan baik-baik," batin Aprilia kala berjalan masuk kedalam bersama Hana.
*
*
Setelah cukup belanja, kedua wanita tadi memang sudah membuat janji, untuk sekedar duduk sebentar, karena ada yang ingin Aprilia ucapkan pada Hana.
"Sudah belanjanya?" tanya Aprilia ketika Hana sudah tiba, dan meletakan dua kantung besar disisi bangku.
Dengan sikap segan, Hana menarik kursi itu, hingga memunculkan kesan gugup tersendiri. "Sudah, Bu... Itu belanjaan buat Majikan saya!" kata Hana bersikap apa adanya.
Aprilia menyipitkan matanya. "Majikan? Kamu kerja dimana, Nak Hana?"
"Saya bekerja menjadi pengasuh bayi, Bu!" Hana menatap kaku.
Aprilia manggut-manggut. Tak ingin mempermasalahkan semua itu. "Oh ya, Nak Hana... Kamu sudah menikah?"
Dengan suara sedikit bergetar nyaris menjadi bisikan, Hana berkata, "Saya janda, Bu! Dan... Saya juga sudah pernah memiliki anak, tapi putri saya meninggal setelah lahir," bibir tipis itu mengulas senyum kecil meskipun bergetar.
Aprilia spontan membekap mulutnya. Bukan karena status Hana, namun ketiadaan bayi kecil itu. Ia rasa, ada guratan luka yang masih memerah dalam sorot mata teduh didepanya.
"Saya ikut perihatin atas meninggalnya putrimu, Nak Hana," katanya. Lalu, Aprilia kembali melanjutkan. Ia tarik dulu napas lirihnya. "Nak Hana... Kebetulan, putra pertama saya belum juga menikah sampai sekarang. Usianya sudah matang, 35 tahun. Bagaimana kalau kamu jadi menantu saya saja?! Nanti saya akan bilang sama putra saya."
Hana sedikit tersentak dengan ucapan gamblang itu. Menikahi anak orang kaya? Bagaimana bisa? Apalagi, ini Ibunya sendiri yang menawarkan? Seolah Hana tengah di sodorkan sebuah bongkahan permata dari Himalaya.
"Bu... Saya ini orang biasa. Saya janda, dan... Dan pekerjaan saya juga hanya sebagai pengasuh. Rasanya, ini seperti mimpi buat saya. Maaf, rasanya itu nggak mungkin," tolak Hana sadar diri.
Aprilia masih saja mencoba manarik umpannya. "Saya tidak pernah mempermasalahkan status sosial, Nak Hana. Yang terpenting, kamu dapat menerima segala kekurangan putra saya. Menurut Dokter, putra saya mengalami gangguan Disfungsi Ereksi pada reproduksinya. Jadi, untuk mengenal wanita saja rasanya begitu sulit. Maaf, jika saya berkata jujur. Tapi... Semoga dengan mengenal Nak Hana... Putra saya dapat lebih semangat," kedua mata Aprilia bahkan sampai berkaca-kaca.
Hana tak sampai hati. Ia usap lembut tangan Aprilia. "Bu... Biar saya pikirkan lebih matang dulu. Lagian, kita juga baru bertemu. Saya nggak ingin, Ibu kecewa terhadap status saya."
Aprilia menggeleng cepat. "Saya akan memberikan apa pun yang kamu mau, asal kamu dapat membuat putra saya kembali mengenal cinta, Nak Hana! Hidupnya selalu murung semenjak Dokter menurunkan vonisan itu."
hellloow
dia adalah manusia manipulatif🤣🤣
selamat menikmati kesengsaraan
perutku mendadak lapar akibat puasa🤣🤣🤣
konyol memang😁
padahal kamu sudah menjatuhkan talak 3
meskipun hukum negara belum resmi cerai
TPI dalam agama kamu cudah cerai , ini talak 3 dzaki
bukan Talak 1atau2 yg bisa rujuk