NovelToon NovelToon
Ibu Susu Berdarah Dingin

Ibu Susu Berdarah Dingin

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Cintamanis / Ibu susu / Balas Dendam / Transmigrasi / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:612.4k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.

Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.

______________________________________________

"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.

"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIAM-DIAM KHAWATIR

"Semuanya sudah di penjara bawah tanah, kamu menang, Calista, dan sepuluh menit mu berhasil menyelamatkan harga diri pasukanku dan nyawa Lorenzo," jawab Jayden, menatap Calista dengan pandangan yang sulit di jelaskan.

Calista mencoba tersenyum, meskipun itu terlihat lebih seperti rintihan kecil karena rasa perih di punggungnya kembali menyerang.

"Bagus! Sekarang, mana kunci gudang senjatamu?" ucap Calista, menagih janji Jayden.

"Dalam keadaan hampir mati seperti ini, kamu masih memikirkan senjata? Kamu ini sebenarnya apa? Manusia atau mesin perang?" tanya Jayden berdecak kesal.

Calista sedikit memiringkan kepalanya, menatap Jayden dengan sorot mata yang dalam.

"Di duniaku, maksudku, di desa tempat ku tinggal, jika kau tidak memegang senjata, kamu adalah sasaran empuk, dan aku tidak suka menjadi sasaran empuk, Jayden," jawab Calista, menggeleng kan kepala nya keras.

"Siapa kau sebenarnya? Calista yang aku kenal tidak mungkin bisa tahu tentang perdagangan rempah-rempah ibuku, atau cara menyergap dengan minyak lampu," tanya Jayden, penuh selidik.

"Anggap saja aku adalah sesuatu menguntungkan mu, bukankah lebih baik punya sekutu yang pintar daripada pelayan yang hanya tahu cara mengganti popok?" jawab Calista tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering.

"Sekutu yang pintar biasanya juga sekutu yang paling berbahaya untuk dikhianati," ucap Jayden dingin.

"Benar sekali," jawab Calista tanpa ragu.

"Maka dari itu, jangan pernah mengkhianati ku, Jayden, karena jika aku bisa meruntuhkan Isabella, aku juga bisa melakukan hal yang sama padamu," lanjut Calista, dengan aura yang begitu dingin.

Tok

Tok

Tok

Tepat saat itu, pintu kamar diketuk, Tabib Tua yang dipanggil Owen akhirnya datang.

"Yang Mulia, Tabib sudah sampai," suara Owen terdengar dari luar.

Jayden berdiri, merapikan sedikit pakaiannya yang berantakan.

"Masuk."

Tabib itu masuk dengan gemetar, kaget melihat Grand Duke-nya sendiri sedang menemani seorang wanita di kamarnya.

Namun, melihat tatapan tajam Jayden, tabib itu langsung bekerja tanpa banyak tanya.

"Saya ijin memeriksa Nona Calista, Yang Mulia," ucap Tabib Tua, itu pelan.

"Lakukan," jawab Jayden, dingin.

Saat tabib mulai membersihkan luka di punggung Calista, Jayden berdiri di dekat jendela, memandang ke arah kegelapan malam.

"Jayden," panggil Calista lagi di sela-sela perawatan lukanya.

"Apa?" jawab Jayden, tanpa mengalihkan pandangan nya dari luar jendela.

"Besok pagi, saat kau menemui ibumu, bawa aku. Aku ingin melihat wajahnya saat dia sadar bahwa kerikil di sepatunya ini ternyata adalah batu karang yang akan menghancurkan kakinya," ucap Calista, dengan seringai licik yang membuat Tabib tua itu bergidik ngeri.

Jayden tidak langsung menjawab, dia mengepalkan tangannya di balik punggung nya.

"Istirahatlah dulu, jika besok kamu sudah bisa berjalan, aku akan membawamu. Tapi jika tidak, kau akan tetap di sini dengan penjagaan Owen," jawab Jayden, tegas.

"Aku akan bisa berjalan, Jayden, bahkan jika aku harus merangkak ke Paviliun Pengasingan itu, aku akan tetap datang," gumam Calista menutup matanya kembali, membiarkan tabib mengoleskan ramuan penenang.

Jayden menoleh sekilas, melihat Calista yang mulai kembali tertidur karena efek ramuan.

Di dalam hatinya, Jayden mulai menyadari bahwa kehadirannya bukan lagi sekadar urusan melindungi Lorenzo, Calista telah menjadi sesuatu yang tidak bisa dia lepaskan dari hidupnya, baik sebagai pelindung, sekutu, atau mungkin sesuatu yang belum bisa dia namai.

Tabib tua itu bergerak dengan sangat hati-hati, tangannya yang keriput sedikit gemetar saat mengoleskan salep herbal berwarna hijau pekat ke punggung Calista. Aroma tajam mentol dan akar-akaran memenuhi udara kamar yang biasanya hanya berbau maskulin khas kayu cendana dan kulit.

Jayden masih berdiri di dekat jendela, namun bayangannya yang panjang di lantai menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak tenang, mata tajam nya terus memperhatikan pantulan aktivitas di ranjang melalui kaca jendela yang gelap.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Jayden tiba-tiba, suaranya memecah keheningan yang mencekam.

"Luka bakarnya cukup dalam di beberapa titik, Yang Mulia. Beruntung Nona ini memiliki ambang batas nyeri yang luar biasa, jika ini wanita lain, mereka pasti sudah pingsan karena syok sejak awal serangan tadi. Tapi..." jawab Tabib itu ragu untuk mengatakan nya.

"Tapi apa?" tanya Jayden berbalik, matanya berkilat tajam.

"Nona Calista sepertinya mengalami kelelahan fisik yang kronis, tubuhnya sangat tipis, hampir seperti tidak mendapat asupan nutrisi yang layak selama bertahun-tahun. Luka ini akan sembuh, tapi dia membutuhkan istirahat total. Jika besok dia memaksa pergi ke Paviliun Pengasingan-"

"Dia akan pergi," potong Jayden sambil berjalan mendekat.

"Dia adalah tipe orang yang akan membakar dirinya sendiri hanya untuk memastikan musuhnya ikut hangus. Laranganmu tidak akan mempan padanya," lanjut Jayden, yang seolah paham dengan sifat Calista yang baru.

Jayden berhenti tepat di samping ranjang, dia menatap wajah Calista yang kini tampak lebih tenang karena pengaruh ramuan tidur.

Rambut hitam Calista yang berantakan tersebar di atas bantal sutra milik Jayden, menciptakan kontras yang aneh namun memikat.

"Owen!" panggil Jayden dengan suara rendah namun bertenaga.

"Saya di sini, Yang Mulia," jawab Owen muncul di ambang pintu dalam hitungan detik.

"Bawa Tabib ini ke ruang bawah tanah. Berikan dia bayaran tiga kali lipat dan pastikan dia tidak membuka mulutnya pada siapapun tentang apa yang dia lihat di kamar ini!" perintah Jayden, tegas.

"Baik, Yang Mulia," jawab Owen, mengangguk paham.

Setelah Owen dan Tabib pergi, Jayden kembali sendirian di kamar itu bersama Calista yang terlelap.

Keheningan malam kembali menyelimuti mereka, Jayden menarik sebuah kursi kayu berukir dan duduk di samping ranjang, entah apa yang ada di pikiran Jayden, dia tidak pernah membayangkan akan menghabiskan malam dengan menjaga seorang wanita yang beberapa hari lalu hanyalah seorang pelayan yang ia curigai.

Tangan Jayden bergerak ragu, namun akhirnya dia menyisihkan sehelai rambut yang menutupi dahi Calista, kulit wanita itu terasa panas karena demam ringan akibat luka-lukanya.

"Siapa kau sebenarnya, Calista?" bisik Jayden pelan, hampir seperti desahan.

Tiba-tiba, dalam tidurnya, Calista menggumamkan sesuatu, membuat Jayden mendekatkan telinganya ke bibir Calista yang pucat.

"Kuncinya..." gumam Calista lirih.

"Jangan lupa... kunci gudang... bajingan..."

Jayden hampir saja tertawa jika kondisinya tidak seserius ini, bahkan dalam pengaruh obat bius dan demam, wanita ini masih sempat mengatainya bajingan dan menagih hutang senjata.

"Dasar wanita gila," batin Jayden, tersenyum geli.

Jayden meraih tangan Calista yang berada di atas selimut, jemari wanita itu kasar di beberapa bagian, bukti kerja keras yang telah dia lalui selama ini, namun bentuknya tetap elegan.

Jayden menggenggam tangan itu dengan perlahan, seolah sedang memegang porselen retak yang bisa hancur kapan saja namun memiliki ketajaman yang sanggup melukai siapa pun yang meremehkannya.

"Kau akan mendapatkan kuncimu, Calista," ucap Jayden dengan nada yang berat.

"Tapi sebagai gantinya, kau harus tetap hidup untuk melihat bagaimana aku menghancurkan mereka semua bersamamu," lanjut Jayden.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
🤣🤣🤣 Calista kayak Penampakan, datngnya tiba² tanpa suara.👍🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
🤣🤣🤣 Owen saja Syookk ya lihat jiwa Iblisnya Calista kalau jiwa Yura sudah bangkit.. apa lagi orang lain.👍🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Nurut saja Calista, jangan ngeyel.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
jadi ikutan Ngilu bacanya, ya ampuunn..🫣🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
di semprot makanya pake Baygon istananya Cal, biar ga terus di masukin lagi Para tikus kecilnya.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Calista versi Yura memang Mengerikan.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hama datang lagi minta di semprot obat pestisida rupanya.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
guliran sudah sadar malah kumat arogannya...🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Emosimu belum bisa terkontrol Jay
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Emosionalku di buat naik turun bacanya, bentar² biasa, bentar lagi ngakak terus di bikin mewek sama Authornya... untung ga sampe meraung² Nangisku.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kalau Jayden tetap meminta mu untuk mengakhiri nyawanya, coba pancing emosionalnya Owen... bilang kalau seandainyapun Jayden meninggal dan Calista selamat, pasti Calista bakal lanjutin hidupnya dan bakal jadi milik laki² lain dan hidup bahagia tanpa Jayden biar dia mikir² lagi buat ga nyakitin dirinya sendiri.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Bangkit Jay, lawan trauma mu... Ingat Keponakanmu ga punya siapa² lagi kalau kamu pergi terus Calista lagi berjuang buat bertahan hidup, harusnya kamu bisa lawan paranoidmu dengan melihat perjuangan Calista.

karna kalau kamu beneran pergi tar Calista bangun otomatis bakal kepincut lagi sama Owen dan artinya kamu kalah.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Jayden di hajar mentalnya bertubi² sedari kecil, di racuni otak dan pikirannya dengan hal negatif, di jadikan umpan hanya untuk kekuasaan yang di inginkan Ibunya dan sekarang dibsaat sudah mulai bisa bahagia dengan adanya Calista dan mulai tenang malah ujian datang lagi jadi berat banget jadi kamu Jay... Ayo Calista bangun dan cepatlah sadar kasian Jayden dan Lorenzo membutuhkanmu.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Itu yang jatuh kepala manusia apa kepala Ayam Jay, enteng banget tebasnya.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Perasaan Jantung itu posisinya di dada sebelah Kiri deh Thor, bukan sebelah Kanan.🤔🤔🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Hahh.. akhirnya Jayden ga terbawa esmosi juga karna Calista sudah menyembunyikan rahasia penyebab Ayahnya meninggal karna racun yang di berikannya...

tikus berjubah sudah mau met0ng saja terus berulah...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Bahagia selalu buat kalian bertiga.👏👏👏👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Itu para tikus berjubah gimana ga kaget lihat Calista mayat tiba² hidup lagi, orang normal sajanpasti kaget dan syok apalagi mereka penjahatnta... 🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
GOoo... beraksi basmi tikus berjubah.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Masih banyak tikus kecil di Istana ternyata.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!