Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Jam menunjukkan pukul empat lewat dua puluh ketika ponsel Kaisar bergetar di atas meja kantin.
[Aku ada rapat sama dosen-dosen sore ini. Mungkin pulang agak telat. Jangan keluyuran ya. Pulang langsung ke rumah.]
Kaisar membaca pesan itu dua kali. Biasanya dia akan membalas cepat, menggoda, atau pura-pura protes. Tapi kali ini tidak, entah kenapa, ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman. Rapat Dosen itu artinya Shelina akan bertemu dengan Pak Rangga, pikir Kaisar.
Kaisar menghembuskan napas panjang.
“Rapat doang,” gumamnya pada diri sendiri. “Kenapa jadi kepikiran sih?”
Tapi tetap saja, perasaan itu mengganjal. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu mengetik singkat.
[Iya, hati-hati.]
Setelah itu, bukannya memesan taksi untuk pulang ke rumah mereka, Kaisar justru membuka aplikasi dan memesan kendaraan menuju rumah Pramudya ke rumah orang tuanya.
Mobil taksi online berhenti di depan halte tempat biasa ia turun. Kaisar masuk tanpa banyak bicara. Sepanjang perjalanan, ia menyandarkan kepala ke jendela, memandangi jalanan yang mulai padat oleh kendaraan pulang kerja.
Ingatan semalam melintas begitu saja, tawa kecil Shelina, jari-jari mereka yang saling menggenggam di bawah selimut, bisikan lembutnya saat mengigau.
Mobil berhenti di depan gerbang rumah Pramudya. Bangunan besar itu masih sama seperti dulu dan terasa megah, tapi tak lagi benar-benar ia anggap rumah.
Begitu bunyi bel tak lama pelayan membuka pintu.
“Tuan muda, Kaisar? Kok nggak di rumah istri?” tanyanya polos.
Kaisar menyunggingkan senyum tipis.
“Cuma mampir.”
Ia melangkah masuk, aroma rumah masa kecilnya menyambut, tapi anehnya terasa asing. Beberapa menit kemudian, Kinara muncul dari ruang tengah. Wajahnya terkejut sekaligus senang.
“Kai? Kok ke sini? Shelina mana?”
Kaisar mengalihkan pandangan.
“Dia rapat, pulangnya telat.”
Kinara mengamati wajah anak bungsunya itu. Ia terlalu mengenal Kaisar untuk tidak menyadari ada sesuatu yang disembunyikan.
“Kamu cemburu ya tahu dia rapat bersama dosen-dosen?” tanya Kinara lembut, nyaris seperti bisikan.
Kaisar spontan menggeleng.
“Enggak lah.
Kinara tersenyum tipis.
“Kalau cemburu itu tanda sayang. Tapi jangan sampai kamu malah lari dari rumah.”
Kaisar terdiam, tangannya meremas ponsel di saku. Tiba-tiba ia teringat pesan terakhir Shelina.
Kinara tersenyum kecil melihat perubahan raut wajah anak bungsunya.
“Tadi Aksa chat Mommy,” ucapnya pelan. “Motor kamu sudah boleh dibawa lagi. Kakakmu bilang … kamu sudah cukup belajar dari kejadian kemarin.”
Mata Kaisar langsung berbinar.
“Serius, Mom?”
Kinara mengangguk. “Tapi jangan diulang lagi ya, Kai.”
Tanpa menunggu lama, Kaisar langsung membuka ponselnya. Benar saja, ada pesan dari Aksa.
[Ambil motor kamu di rumah. Jangan bikin masalah lagi.]
Bibir Kaisar terangkat tipis. Ada rasa lega yang aneh. Seolah-olah satu beban kecil terangkat dari pundaknya. Ia menoleh pada ibunya.
“Aku pulang dulu ya, Mom.”
Kinara menatapnya penuh arti. “Pulangnya ke mana?”
Kaisar terdiam sesaat. Lalu menjawab lebih mantap dari sebelumnya.
“Ke rumah.”
Kinara hanya mengangguk dan tersenyum. Kaisar langsung keluar menuju garansi rumah Pramudya.
Perjalanan terasa lebih cepat dari biasanya. Ada perasaan ingin segera sampai. Entah karena motor yang akan kembali padanya, atau karena pesan sore tadi yang belum sempat dibalas panjang.
Langit sudah gelap ketika Kaisar membuka pintu rumah. Lampu ruang tamu menyala, tapi suasananya hening.
Jam dinding menunjukkan pukul 19.05.
“Belum pulang?” gumamnya pelan. Ia meletakkan kunci di meja, melepas jaket, lalu berjalan ke dapur.
Perasaan tidak nyaman mulai merayap.
"Bukannya tadi bilang rapat?" Kaisar mengambil ponselnya dan langsung menekan nama Shelina.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi…” Suara operator itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya.
Kaisar menurunkan ponsel perlahan.
“Kenapa nggak aktif sih…” desisnya, mulai gelisah.
Bayangan buruk langsung berkelebat, rapat sampai malam, parkiran kampus yang mulai sepi. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Tangannya sampai sedikit gemetar.
“Shelin … angkat, dong,” gumamnya hampir seperti doa.
Kaisar berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Setiap suara kendaraan di luar membuatnya menoleh cepat ke arah pintu.
Jam menunjukkan pukul 19.20.
Kaisar menggigit bibirnya, pikirannya sudah jauh ke mana-mana.
“Kalau sampai kenapa-kenapa…”
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.