Aroma melati yang merebak di gedung itu terasa mencekik paru-paru Rina. Harusnya, hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Namun, di balik riasan bold dan kebaya putih mewah yang melekat di tubuhnya, ada hati yang sedang hancur berkeping-keping.
Di sampingnya, duduk Gus Azkar. Pria itu tampak tenang, nyaris tanpa cela. Dua bulan lalu, saat Azkar datang melamar ke rumahnya, Rina tak punya kuasa untuk menolak keinginan orang tuanya. Azkar adalah menantu idaman—seorang ustadz muda yang dihormati, santun, dan memiliki garis keturunan pemuka agama yang terpandang.
Tapi bagi Rina, Azkar adalah orang asing yang memisahkan dunianya dengan Bian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 Manja Setelah Pulang Sekolah
Tatapan Sang Ustadz
Azkar menutup pintu kamar rapat-rapat. Ia berjalan mendekat, matanya tidak bisa beralih dari sosok istrinya. Seragam SMA yang dikenakan Rina membuat istrinya tampak sangat muda, namun tubuhnya yang sudah kembali berisi memberikan kesan yang sangat dewasa. Perpaduan yang benar-benar menguji iman seorang Gus Azkar.
"Mas... kenapa lihatinnya gitu banget?" Rina mulai salah tingkah, tangannya sibuk merapikan rambut birunya yang mencolok.
Azkar berdiri tepat di belakang Rina, menatap pantulan mereka berdua di cermin meja rias. Kontras sekali; Azkar dengan tampilan religiusnya sebagai ustadz, dan Rina dengan tampilan anak SMA berambut biru yang eksentrik.
"Ternyata benar..." Azkar berbisik sambil meletakkan kedua tangannya di bahu Rina. "Target tiga minggu Mas berhasil. Istri Mas sudah kembali... bahkan lebih cantik dari foto-foto di galeri itu."
Azkar menunduk, menghirup aroma wangi melati yang berasal dari rambut biru Rina. "Rambut ini... Mas baru lihat aslinya sesegar ini. Biru muda, seperti warna kesukaanmu."
Rina menggigit bibir bawahnya—kebiasaan yang sama seperti di foto besar di dinding. "Mas nggak marah kan Rina cat rambut begini? Katanya Gus nggak boleh punya istri yang macem-macem tampilannya?"
Azkar tersenyum tipis di balik cermin. "Di luar, kamu adalah istri Gus yang shalihah dengan hijabmu. Tapi di kamar ini, kamu adalah 'Rina-nya Azkar' yang bebas jadi siapa saja. Dan jujur... Mas lebih suka kepribadian yang ini."
____________________________________________________
Momen ini menjadi sangat intim karena Azkar mulai berani menunjukkan ketertarikannya secara terang-terangan.
____________________________________________________
Gus Azkar masih terpaku menatap pantulan rambut biru istrinya di cermin, namun sedetik kemudian, ia dikejutkan oleh gerakan tiba-tiba dari Rina.
Tanpa aba-aba, Rina memutar tubuhnya dan langsung meloncat ke dalam pelukan suaminya. Kedua kakinya melingkar di pinggang Azkar, sementara tangannya mengalung erat di leher Gus muda itu.
Azkar yang sempat kaget refleks menahan pinggul Rina agar tidak terjatuh. Ia tak menyangka istrinya yang tadi tampak malu-malu, tiba-tiba menjadi begitu agresif dan manja.
"Ih, makin cinta deh sama Mas Gus satu ini!" seru Rina dengan tawa renyah, wajahnya tenggelam di ceruk leher Azkar yang tercium wangi minyak kasturi.
Azkar terkekeh, mengeratkan pelukannya pada tubuh Rina yang kini terasa jauh lebih berisi dan empuk, sangat berbeda dengan raga kurus yang ia gendong di rumah sakit tiga minggu lalu. "Tiba-tiba banget bilangnya? Ada maunya ya?"
Rina mendongak, menatap mata suaminya dengan kerlingan nakal, lalu menjulurkan telapak tangannya di depan wajah Azkar.
"Hehe, tahu aja. Mas, minta uang jajan dong! Rina laper banget nih pulang sekolah, mau beli seblak sama boba yang di depan pesantren," ucapnya dengan nada merayu yang dibuat-buat.
Dompet Sang Gus
Azkar menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang kembali ke mode "anak SMA". Seorang Gus yang biasanya disegani santri dan selalu terlihat berwibawa di depan kitab kuning, kini hanya bisa pasrah menjadi "ATM berjalan" untuk istri berambut birunya.
"Baru saja puji-puji cinta, ternyata ujung-ujungnya minta uang jajan," goda Azkar sambil mencubit hidung Rina yang kini kembali chubby.
"Kan katanya Mas mau tanggung jawab biar Rina nggak kurus lagi? Makan seblak itu salah satu kuncinya, Mas!" jawab Rina tidak mau kalah.